
...««Selamat membaca»»...
Ghazel berserta keluarga sudah sampai dijakarta, setelah dari kediaman Agung tadi, mereka langsung menuju bandara, dan pulang ke Jakarta.
Sampainya di mansion, Ghazel langsung masuk kamar, ia masih sangat kecewa dengan fakta yang ia dengar tadi.
"Indah!," guman Ghazel.
Arghhh.... Ghazel melempar semua bantal yang ada dikamarnya.
Ghazel teringat dengan, omongan Zahra tadi, sebelum memasuki pesawat, Zahra sempat menasehati Ghazel, "Dengar hati mas, pikiran terkadang selalu salah mas, jika hati mas, mengatakan itu tidak benar, percayalah," ujar Zahra.
"Sialnya hati saya, sudah mati Zahra,"
"Kalau mati, kenapa Abang merasa kecewa dan sedih?," tanya Lydia, yang sejak kapan sudah berada diambang pintu kamar Ghazel.
"Diam Lydia!, keluar!." usir Ghazel.
"No!, bang, kalau berat jemput kak Indah sana, lagian Lydia ngak percaya sama rekaman tadi," ujar Lydia.
"Abang mau, kak Indah pergi benaran?," tanya Lydia.
"Saya tidak peduli!,"
"Oh, yaudah, berarti cowok yang tadi punya kesempatan dekatin kak indah, soalnya keliatan banget cowok yang dipesta tadi kayak suka sama kak Indah, ya wajar sih, orang Indah cantik gitu, misalpun jadi JANDA paling ngak lama, siapa sih yang ngak mau sama kak Indah, hanya orang BODOH yang mau ninggalin Indah gitu aja" ucap Lydia mengompori Ghazel.
"Saya akan hancurkan cowok tadi!, kau keluar!," bentak Ghazel mengusir Lydia.
Lydia pun langsung keluar, "Cinta ya cingta aja kali," guman Lydia menatap pintu kamar abangnya.
.........
"Gimana Lydia?," tanya Zahra.
"Tenang aja, bentar lagi balik, udah cinta tu orang," kekeh Lydia.
"Mba harap begitu, pasti Indah terluka banget," ucap Zahra sedih.
"Anggap aja ini ujian cinta mereka," Lydia tersenyum.
.........
Indah duduk termenung menghadap kearah luar balkonnya, airmata nya tak henti-hentinya keluar. hari ini,dia seharusnya terbang pulang ke Jakarta, tapi rencana itu gagal, saat Ana mencegah ia pergi dengan mengancam akan bunuh diri.
"Mas, balas pesan aku," ucap Indah, menatap layar ponselnya, disana terdapat beberapa pesan dari Indah, yang tak kunjung Ghazel balas, bahkan membukanya saja tidak.
Cklek..
Pintu kamar Indah terbuka, "Non, makan dulu, bibi bawain sambal kacang kesukaan non." pelayan tersebut membawakan makanan untuk Indah.
"Keluar!, saya ngak nafsu makan," ucap Indah, tanpa menoleh kearah pelayan tersebut.
"Tapi non tadi pagi juga tidak makan, nanti sa--"
"Saya bilang keluar!, ya keluar!," bentak Indah.
"Ba-baik non," dengan takut pelayan tersebut keluar, membawa nampan yang masih terisi makanan.
"Bagaimana bi?," tanya Ana.
"Non, Indah tidak mu bu," jawab bibi Mida.
"Yasudah, biar saya aja, terima kasih bi," Ana langsung mengambil alih nampan dari tangan bi Mida, dan langsung naik menuju kamar Indah.
"Sayang, bunda masuk ya," Ana membuka pintu kamar Indah perlahan, ia menatap sendu putrinya yang memeluk baju Ghazel sambil menatap kosong kearah luar.
Sayang," panggil Ana, sambil memegang bahu Indah.
hah!, Indah tersentak kaget, "Bunda."
"Makan dulu yuk!," ucap Ana tersenyum menatap Indah.
__ADS_1
"Indah ngak laper bun, bawa pergi aja makanan itu," ucap Indah.
Ana mengelus pelan kepala Indah, "Kalau ngak makan, nanti sakit nak," ujar Ana.
"Biarin!, Bun, Indah mau sendiri dulu," Indah beranjak dari duduknya, dan menidurkan dirinya dikasur.
"Yaudah, nanti bunda masakin lagi makanan kesukaan kamu, istirahat ya," Ana pun langsung keluar, sebelum menutup pintu ia memandangi Indah dengan tatapan nanarnya.
"Indah mana?" tanya Agung ketika memasuki ruangan makan.
"Masih dikamarnya, udah ngak tau mau pakai acara apa untuk bujuk dia makan Yah" jawab Ana, ketika menyiapkan makanan untuk suaminya Agung, terdengar jelas kesedihan dan keputusasaan dari ucapan Ana.
"Siapkan makanan untuk Indah," pinta Agung, Anna pun langsung menyiapkan makanan Indah, ia memasukan beberapa sayur dan lauk pauk disana.
"Ini yah," Ana meletakan piring berisi makan tersebut disamping piring suaminya.
Agung berdiri mengambil piring makanan yang disiapkan untuk Indah,"Makanlah kalian dulu," Agung langsung pergi dengan tujuan dikamar Indah.
Sampainya didepan pintu kamar Indah, Agung mengetuk pelan pintu tersebut dan langsung membukanya, untuk tidak dikunci.
"Indah," panggil Agung.
Indah menoleh sekilas kearah ayahnya, setelah itu kembali menatap kosong kearah lukisan yang terdapat didinding kamarnya, pakaian Ghazel berserakan diatas kasur Indah, dan ada juga yang berada dipangkuan Indah.
Agung sangat tersiksa melihat bagaimana Indah putrinya sekarang, keceriaan dan senyuman manis putrinya sudah seharian ini tidak ia lihat. Ia mendudukan dirinya tepat disamping Indah duduk saat ini.
"Indah," mengelus pelan kepala Indah.
"Ngak mau makan lagi?" sambungnya.
"Ngak laper yah," jawabnya lesu.
"Mas Ghazel ngak balas chat Indah, Indah bingung harus apa," Indah kembali menangis.
Agung meletakan piring berisi makana dimeja samping tempat tidur Indah, ia langsung memeluk Indah,"Mungkin Ghazel lagi sibuk, kamu makan ya," bujuk Agung.
"Indah ngak lap--"
"Maksud ayah?," mata Indah melebar menatap ayahnya untuk lebih menperjelas ucapannya tadi.
Agung tersenyum melepaskan pelukannya, "Lusa ayah akan mengantar kamu pulang, kamu pasti mau merayakan ulang tahun kamu sama suami kamukan?" tanya Agung, Indah masih mencerna kata ulang tahun.
"Jangan bilang, kamu lupa dengan ulang tahun kamu lagi?" sambung Agung, menatap Indah menyelidik.
Indah tersenyum kecil,"Tapi ayah benarkan mau antar Indah pulang?, janji loh ya, bohong dosa!," ucap Indah menatap Agung.
"Iya, kapan ayah ngak depatin janji?, tapi ada syaratnya."
"Apa?," tanya Indah.
"Kamu harus makan!," ucap Agung, ia menyodorkan makanan didepan Indah.
"Oke!," Indah mengambil piring tersebut dan memakan makanananya.
Agung tersenyum melihat Indah yang mau makan, meski dia harus terpaksa membiarkan Indah pulang kembali kerumah Ghazel, yang penting putrinya mau makan dan kembali seperti dulu. Hanya satu yang Agung takutkan sekarang, ia takut jika putrinya itu tidak diterima lagi disana.
Jika itu terjadi, apa yang harus ia lakukan?, ditinggal pulang aja Indah sudah seperti ini, apalagi jika dia tidak diterima, seperti apa jadinya putrinya itu.
"Ini yah," Indah memberikan piring bekas makannya, makanannya sudah ludes tanpa sisa, Indah lapar, sangat lapar hanya saja perasaannya lebih mendominan dari pada rasa laparnya.
"Ayah keluar dulu, kamu istirahat" Agung beranjak dari duduknya, sebelum keluar ia mengelus kepala Indah, setelah itu ia langsung keluar dan menutup pintu kamar Indah.
"Aku akan jelasin semuanya sama mas Ghazel, apapun akan aku lakuin supaya dia percaya sama aku," ucap Indah memeluk baju Ghazel erat.
...
Hahaha....
Suara wanita itu mengema, "Kehancuran keluarga Erlangga akan dimulai dari Indah sendiri, dengan begini aku hanya tinggal menyingkirkan parasit yang lainnya," ucap bibi Jen dengan senang, raut matanya menjadi tajam.
"Akan ku pastikan Indah tidak akan kembali."
__ADS_1
"Kau terlihat sangat senang hari ini ma?, ada apa?," tanya Tora saat memasuki kamar mamanya.
Jen menatap kearah Tora dengan wajah tersenyum penuh, "Tentu aku sangat senang," ucap bibi Jen.
"Why?"
"Sebentar lagi, tujuan kita berhasil, dan Ghazel sepertinya akan menyingkirkan istri mudanya itu," ujar bibi Jen.
"Benarkah?, wow! Luar biasa, kita harus merayakan ini ma," ucap Tora senang.
"Tentu!"
...«««...
"Aneh sekali tuan, seharusnya produk ini dipasarkan dengan harga yang murah, kenapa saat saya memeriksa dilapangan harganya sangat mahal," ucap Han dengan tangan memegang berkas pendataan dari produk herbal yang mereka pasarkan.
"Apa Huang zi hao, ada menelpon mu Han?," tanya Ghazel tanpa memelepaskan pandangannya dari kertas putih yang sejak semalam ia kerjakan.
"Belum tuan, saya sudah menanyakan ini pada sekretarisnya, tapi mereka mengabarkan jika produk ini di China dijual sesuai harga yang kita tentukan,"
Ghazel menyadarkan kepalanya dibahu kursi, kepalanya rasanya sangat pening, masalah dikantor tak pernah habisnya, ditambah masalah keluarganya, bahkan untuk bermain ponsel saja ia tidak sempat, apalagi untuk menyelesaikan masalahnya dengan Indah, Ghazel ingin mati rasanya.
Ponsel Han berdering menandakan adanya panggilan masuk, Han memeriksa siapa yang sekiranya sedang menelponya.
"Tuan, pak Agung menelpon, apakah perlu diangkat?," tanya Han pada Ghazel.
"Fokus dengan masalah kantor Han, masalah pribadi saya sendiri yang akan menangani," ucap Ghazel.
"Baik tuan," Han memutuskan untuk tidak mengangkat panggilan dari Agung.
'Semoga nyonya muda baik-baik saja,' batin Han.
...«««...
"Bagaimana ayah?," tanya Indah pada Agung.
"Tidak diangkat nak," jawab Agung.
Indah langsung pergi dari taman rumahnya, memasuki kediamannya, terlukis jelas wajah tak bersemangatnya, pandangan selalu kosong.
"Indah," panggil Airyn yang sedang duduk minum susu di ruangan keluarga.
Tanpa minat Indah tidak mengubris panggilan dari Airyn, bahkan dia engan berhenti hanya untuk sekedar tersenyum, dia masih marah dan kecewa dengan sosok yang memanggilnya tadi.
Kaki Indah melangkah setapak demi setapak untuk naik menuju kamarnya, Aurel yang baru akan turun tersenyum senang melihat Indah, "Kak Indah," ucapnya menghentikan langkah Indah.
"Eeh, Aurel," balasnya.
"Jangan naik dulu, ayok kita duduk di taman belakang, ada bunga baru loh," seru Aurel antusias, ia berharap kakaknya mau, biar sedikit menghibur.
"Lo aja, gue kekamar dulu," tolak Indah, ia kembali melanjutkan langkahnya nenaiki setiap tapak anak tangga tersebut.
Tak ingin memaksa Indah, Aurel langsung melangkah turun, dan membiarkan Indah istirahat.
...«««...
"Jika rekaman ini aku kirimkan pada salah satu dari mereka, pasti wanita itu yang akan diusir,"
"Baiklah, mari kita berbuat baik pada Ghazel, hahaha!"
...««Bersambung»»...
Bagaimana chapter ini?
Konflik cerita ini ngak bakal lama, karna uci juga ngak mau..
Jangan lupa; Like, komen, dan masuk Rak ya.
Note: Kalian juga bisa kok rekomendasiin cerita ini pada teman, saudara hiya2, biar ramee♡♡
See you..
__ADS_1