IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 67


__ADS_3

Haii..im back, terima kasih sudah mau mampir♡♡


Setelah selesai memakan sarapan yang dibawakan pelayan tadi, Indah langsung turun kebawah, sekalian mengantar piring bekas dia tadi.


Sampai dilantai dasar, Indah dikejutkan dengan sosok wanita yang sudah dianggap mama sendiri olehmya itu, "Mama!" serunya, wanita tua itu menoleh tersenyum, "bentar Indah simpan piring ini dulu" ia bergegas kedapur untuk menyimpan piring bekasnya, padahal disana banyak pelayan yang berlalu lalang.


"Mama kapan pulang?" tanya Indah, ia sudah berada disamping mama mertuanya itu. memeluknya erat.


"Tadi pagi, gimana tidurnya nyenyak?"


"Kenapa ngak bangunin Indah," cemberutnya.


"Mama ada bawa oleh-oleh buat kamu sayang" ujar mama Karlina tersenyum lembut.


"Serius?!, asikkkk!" seru Indah senang.


...•••...


Indah duduk ditaman samping mansionnya, itu sudah menjadi tempat favorit Indah, karna banyak bunga kesukaannya. hembusan angin di sore hari menambah rasa nyamannya.


"Aku merindukan bunda" gumannya pelan, matanya memandang lekat kearah depan. padahal baru tadi mereka saling mengobrol lewat ponsel.


"Aku sudah nyaman disini, dan tentang Ghazel aku harap semuanya baik-baik saja." Indah tersenyum, ia belum mencintai Ghazel, tapi ia sudah mulai nyaman akan keberadaan suaminya itu, dan menerima statusnya dengan ikhlas.


"Indah!" sapa Naysa yang ikut duduk disampingnya.


"Eh mba Nay," serunya tersenyum.


"Maaf. maaf sudah membuatmu dimarahin oleh Ghazel saat itu, aku..aku hanya-" ucap Naysa terpotong.


"Indah sudah memaafkan mba kok, lagian itu udah lama banget" senyum memandang kearah Naysa.


"Kau tau, sejak dulu aku menjadi prioritas Ghazel, bahkan setelah menikahi mba Zahra, Ghazel tetap menjadikan ku yang utama, segalanya hanya aku, tapi saat kedatangan kamu, haluan Ghazel berubah kekamu, meski kau membencinya dia selalu memperhatikan mu, dan aku, perhatian dan segalanya berkurang Ndah, " menarik napas pelan, Naysa melanjutkan omongannya,


"Aku hanya takut dia melupakanku, aku istri pertama dulu hanya ada aku nyonya dirumah ini, menemaniya dari ia terpuruk, hingga bangit lagi, aku menjadi sahabat dan istrinya saat bersamaan saat itu, meski tidak pernah ada kata cinta, tapi aku sangat menyayanginya, kau tau saat aku mengetahui ia ingin menikah saat itu rasanya duniaku hacur, bagaimana bisa aku membagi suamiku?, tapi Ghazel mengatakan aku akan selalu utamakan, tapi hari itu aku melihat tatapan yang berbeda saat dia melihat kamu ndah, tatapan yang tidak pernah ia berikan kepada aku maupun mba Zahra, dan itu membuatku takut, aku takut kau merebutnya dariku, hikkss!." Naysa menangis mencurahkan isi hatinya.


Indah termenung mendengar apa yang baru saja Naysa sampaikan. satu hal yang baru ia ketahui jika Naysa memiliki hati yang rapuh dan ia sangat mencintai Ghazel.


"Kenapa mba berpikir seperti itu, mba tau sendiri pernikahan ku dan mas Ghazel hanya keterpaksaan, mba akan selalu jadi yang utama" ujar Indah.


"Indah berjanjilah, kau tidak akan mengambilnya dariku" Indah terdiam, ntah kenapa seketika bibirnya menjadi kelu untuk mengatakan IYA, "Berjanjilah Indah" Naysa berucap sambil mengenggam tangan Indah, air matanya sudah membasahi pipinya.


"I-iya mba" ada rasa tidak nyaman saat Indah mengucapkan hal itu.

__ADS_1


"Terima kasih Indah" Naysa langsung memeluk Indah, Tidak sia-sia air mata ku, jika dengan cara keras aku tidak bisa menyingkirkan mu, maka dengan cara halus biar kau pergi- batin Naysa, seringainya terbit disudut bibirnya.


Setelah selesai berpelukan, keduanya asik mengobrol membahas hal-hal ringan.


...•••...


Mobil Ghazel memasuki mansion, Han keluar dari mobil membukakan pintu untuk tuannya itu, Ghazel keluar dan diikuti Han berjalan masuk ke mansion mewahnya itu.


Pelayan berjejer menyambut kedatangan mereka, begitupun mama dan istrinya, Ghazel menhampiri mama-nya menyalami tanganya, setelah itu ketiga istrinya, saat berhadapan dengan Naysa Ghazel buang muka, ia masih marah. ia melewati Naysa begitu saja saat Naysa ingin menyalaminya, dan itu tak luput dari pandangan mereka semua.


Naysa tersenyum, ia langsung pergi menuju kamarnya.


"Azel, kau kenapa begitu dengan Naysa?" ucap mamanya duduk di sofa sampingnya.


"Biarkan saja, Azel lelah" ucapnya, ia menyandarkan kepalanya di sofa memejamkan matanya sejenak.


"Ini tehnya mas" Indah meletakan teh melati dimeja depan Ghazel.


"Papa capek?, El pijit mau?" seru El menatap papanya itu.


Ghazel membuka matanya, ia membenarkan posisi duduknya, "Tidak nak, papa oke" ucapnya tersenyum lembut kearah anak sulungnya itu.


"Sekretaris Han dimana?" tanya Ghazel saat tak melihat batang hidung dan rekan kerjanya itu.


"Biarkan dia istrirahat, mama suruh dia kekamarnya,"


"Azel, semuanya baik-baik saja kan?" tanya mamanya, ia khawatir sangat jelas diwajah Ghazel jika ada yang tak beres.


"Baik ma, Ghazel kekamar dulu" Ia langsung bangun meninggalkan ketiga wanita yang menatapnya semdu itu.


"Indah siapkan air mandi mas Ghazel dulu ma, mba" Indah meranjak dari sana menuju kekamar Ghazel, sudah tugasnya mengurus keperluan Ghazel.


"Mama senang, Indah sudah mulai luluh dengan Ghazel," seru mama Karlina.


"Lebih tepatnya Ghazel yang luluh sama Indah ma" senyum Zahra.


...••...


Indah sudah berada didepan kamar Ghazel, ia memgetuk sebelum masuk, dan membuka pintu kamar Ghazel, pandangannya tertuju pada sosok yang sedang berdiri diluar balkon kamarnya.


"Mas" panggil Indah, Ghazel hanya menoleh tanpa menyahut panggilan Indah.


Indah berjalan kearah Ghazel, "Ada masalah?" tanya Indah dengan nada lembut keluar dari mulutnya.

__ADS_1


"Tidak"


"Kau bisa cerita jika ingin" ucap Indah lagi.


"Siapkan air mandi ku Indah"


"Baiklah," Indah langsung pergi kekamar mandi untuk menyiapkan air hangat untuk Ghazel, tak lupa aroma terapi supaya suaminya itu rileks pikirannya. Indah tau jika Ghazel sedang tidak baik-baik saja.


"Sudah" seru Indah, setelah selesai menyiapkan semuanya, dan Ghazel langsung berlalu kekamar mandi tanpa ada suara apapun.


Indah duduk dikasur Ghazel, menunggu laki-laki itu selesai mandi, ntah kenapa ia enggan untuk meninggalkan laki-laki yang berstatus suaminya itu sendirian.


Pintu kamar mandi terbuka menampilkan sosok yang Indah tunggu, Ghazel sempat terkejut melihat Indah masih dikamarnya, tapi ia cepat menetralkan raut wajahnya kembali.


"Baju mu sudah ku siapkan mas" seru Indah tersenyum.


"Hmmm..kau bisa keluar" Ghazel langsung masuk keruangan ganti pakaiannya.


seperti tuli Indah tidak mnghiraukan ucapan Ghazel tadi.


"Kau masih disini?" tanya Ghazel saat kelaur masih melihat sosok istrinya itu.


Indah tersenyum, ia merintangkan kedua tangannya, "Kemari. sini!" serunya. Ghazel tak mengerti, tapi ia pergi kearah Indah.


"Sini mas" seru Indah lagi, saat Ghazel sudah duduk tepat dihadapanya, Indah semakin meminta Ghazel memdekat dan..


HUP....!


DEG!..


Indah membawa Ghazel dalam pelukannya, seperti bayi kecil Ghazel hanya diam mencerna segala, kepala tampak nyaman di dada Indah, "Kata bunda, kalau kita ada masalah, pelukan adalah obat yang paling mujarab" seru Indah pelan, ia mengelus kepala Ghazel pelan.


Nyaman. itulah yang dirasakan Ghazel, rasanya bebannya terangkat semua, ia semakin mengeratkan pelukkannya.


Detak jantung Indag berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, ntah kenapa ia menyukai detak itu.


Ghazer berangsur membaringkan tubuh Indahz dengan posisi masik berpelukan. dan dengan perlahan mereka sudah dengan posisi tiduran sambil berpelukan.



...Foto : By @Portalkuning.com...


Anggap aja ini posisi Ghazel dan Indahh yaa♡♡(灬♥ω♥灬)

__ADS_1


Jadi maluu😳😳


Jangan lupa, beri reting, like, komen dan (+) favorit kalian.


__ADS_2