
...««Selamat membaca!!»»...
...¦¦¦...
Pesawat yang ditumpangi Indah berserta Agung sudah mendarat dengan selamat di bandara Soekarno Hatta, yang menandakan mereka juga sudah sampai di Jakarta.
Mereka langsung turun dari pesawat, menuju tempat pengambilan koper, Indah sempat mengeluh karena koper mereka lama keluar gilirannya.
"Sabar Ndah," ucap Agung.
"Tapi lama yah, kita tinggal aja ya,"
"Heh! Sembarangan aja, sabar Ndah," Lolita mengelus bahu Indah pelan. Indah hanya cemberut, ia sangat tidak sabar ingin bertemu Ghazel.
Setelah lama menunggu akhirnya koper mereka sudah dikeluarkan, hanya tinggal menunggu giliran koper mereka lewat saja lagi.
Melihat jika koper Indah sudah muncul dengan cepat Agung mengambilnya, Indah yang sejak tadi duduk menunggu sudah merasa jengah.
"Ayok!," Agung menghampiri Indah dan Lolita sambil membawa koper Indah, "Udah yah?," tanya Indah beranjak dari duduknya, tangannha menenteng dua paper bag berisikna kue dari bunda-nya tadi.
"Sudah," jawab Agung, mereka pun menuju pintu keluar, tak lupa mereka memperlihatkan kertas bagasi pada staff bandara sebelum keluar.
Setelah diperiksa mereka diperbolehkan untuk keluar.
...«««...
Ghazel memasuki ruangan rapat diikuti oleh Han dan dua karyawan lain, yang bernama Asri dan Genas. Hari ini mereka akan melakukan rapat untu produk kalung yang mereka kerjasamai dengan Huang Zi Hao.
Asri dan Genas adalah ketua marketing dan keuangan di GRE company utama, jadi wajar mereka diikut sertakan dalam rapat ini.
Memasuki ruangan rapat, Ghazel melihat sudah ada beberapa pihak yang sudah duduk manis,
"Bahkan komisaris juga ada?," bisik Asri pada Ganes.
"Kau seperti tidak tau saja," balas Ganes.
Han menarikkan kursi untuk Ghazel, "Silahkan tuan," ucap Han. Ghazel mengangguk ia langsung mendudukan dirinya di kursi pemimpin.
Meja panjang diisi oleh kursi yang berjejer disisi kiri-kananya diduduki oleh pihak yang berkerjasama dengannya.
Han duduk di sebelah kanan Ghazel, sedangkan Asri dan Ganes duduk disamoing kiri Ghazel.
Ghazel menampilkan wajah dingin, tegas penuh wibawanya, tidak ada yang berani membuka suara, bahkan kedatangan Ghazel tadi mereka hanya berdiri membungkuk untuk memberi hormat tanpa suara.
"Tuan Huang Zi Hao, sedikit telat." bisik Han mengabarkan.
"Why?,"
"Mereka ada masalah sedikit dalam perjalanan," jelas Han.
"Rapat kita tunda selama 10 menit, jika Huang Zi Hao tidak datang selama 10 menit tersebut, kita batalkan pertemuan ini," ucap Ghazel jelas.
__ADS_1
Mereka semua saling pandang, dan akhirnya mengangguk patuh.
...««...
"Gak bisa gitu dong, ini taxi kita yaang duluan stopin!," omel Lolita tak terima saat taxi yang ia mau tumpangi di rebut begitu saja sama orang yang tidak ia kenali.
"Maaf, tapi kami sedang buru-buru," ucap orang tersebut.
"Kita juga buru-buru, keluar ngak!" Lolita membuka paksa mobil tersebut, dan sialnya dikunci dari dalam.
"Kak Loli, udah disini juga banyak taxi kok," ucap Indah menenangkan Lolita.
"Tau Ndah!, tapi kesal loh! Main nyelong aja! Pelan-pelan kan bisa,"
"Udah, lagian nih kayaknya mereka bukan orang Indo deh,"
"Justru itu! Bertamu di Negara orang ngak ada sopan satunya sama sekali!" cerca Lolita.
"Indah, Lolita masuk!," ucap Agung, sudah berdiri disamping taxi, Agung sangat malas mendengar omelan Lolita.
Indah dan Lolita masuk ke-taxi yang sudah di pesan Agung.
"Pak, kita ke Jl. Abdi mansion Erlangga ya," Indah memberitahukan alamat rumah Ghazel pada pengemudi taxi tersebut.
"Baik mba," taxi pun bergerak meninggalkan bandara menuju alamat yang disebutkan oleh penumpangnya tadi.
Indah menatap kearah luar jendela mobil taxi, ia selalu menyukai dengan pemandangan kota yang tersajikan di Jakarta ini, meski padat akan penduduk tapi kota ini sangat bagus menurut Indah.
Ia selalu kagum dengan bangunan yang menjulang tinggi, seakan menambah kesan kota metropolitannya, tak heran jika Jakarta menjadi salah satu kota yang banyak ingin orang tinggali.
...«««...
Sudah memasuki kawasan rumah Ghazel, mobil taxi dihentikan oleh salah satu pengawal Ghazel, "Ada yang bisa kami bantu?, ada perlu apa?" tanya pengawal tersebut.
"Pak, ini saya Nyonya Indah," jawab Indah, ia menurunkan kaca mobil taxi untuk memperlihatkan wajahnya.
"Nyonya muda, maafkan saya, silahkan masuk." mereka pun diberikan akses lewat, sudah memasuki jalanan menuju mansion, disepanjang jalan, ada hamparan perpohonan dan dihiasi taman.
Tak lupa kolam mini, yang didesain secantik mungkin, dan jangan lupakan para penjaga rumah yang berjejer rapi di sepanjang jalan menuju mansion utama.
"Pencuri akan berpikir seribu kali untuk masuk kesini," ujar Lolita melihat betapa banyaknya penjaga berbadan kekar disini.
"Kau benar kak," balas Indah, bahkan untuk keluar dari sini saja harus berpikir matang-matang,sambung Indah membatin.
Karna dulu awal pernikahan mereka, Indab selalu menyusun rencana untu kabur, tapi belum apa-apa ia sudah gagal lebib dulu. Ntah itu kesialan atau apa, Indah cukup bersyukur ia selalu gagal kabur, kalau dia berhasil dulu mungkin dia tidak bisa mencintai Ghazel.
"Sudah sampai mba," lamunan Indah terhenti dengan ucapan taxi tersebut.
"Oh, terima kasih, ayo yah, kak." Indah keluar lebih dulu dari taxi, senyumnya mengembang saat melihat bangunan yang sudah menjadi rumahnya itu sudah ada dihadapannya.
"Pak, jangan pergi dulu, tunggu kami sebentar ya," ucap Agung pada pemilik taxi, agar menunggunya. Ia hanya khawatir jika putrinya diusir mereka bisa langsung pergi mengunakan taxi tersebut.
__ADS_1
Agung berdiri berdampingan dengan Lolita, mereka saling pandang, setelah itu mengangguk. Indah sudah langsung melangkah masuk, di ikuti oleh Agung dan Lolita.
Setiap langkahnya Indah selalu tersenyum, bahkan saat ada pelayan ia memberikan mereka sapaan dengan tersenyum.
Sampai didalam mansion, Indah menatap sekeliling ruangan tersebut, "Indah,"
Indah langsung menoleh keasal suara, senyumnya mengembang,"Mba Zahra," Indah menghampiri Zahra, langsung memeluknya, "Maafin Indah mba," isak Indah yang sudah menanggis.
"Mba, ngak pernah marah sama kamu," balas Zahra, seraya melepaskan pelukan mereka.
Indah menghapus airmatanya, "Dimana mas Ghazel?," tanya Indah.
"Dikantor, sebaiknya kita duduk dulu, kasian ayah kamu pasti cape," balas Zahra.
"Maaf mba, Indah harus bertemu mas Ghazel segera. Indah mau jelasin semuanya pada mas Ghazel," ucap Indah.
"Ngapain kamu kesini!" Naysa berjalan menghampiri Indah dengan raut wajah angkuhnya.
"Bukan ururan mba," balas Indah cuek.
Naysa menatap tajam Indah, "Kamu sudah ngak diterima disini!, mending pergi!" usir Naysa.
Indah tersenyum kecut,"Mba Nay lupa, aku juga istri mas Ghazel, jadi aku berhak berada disini, hanya mas Ghazel yang berhak usir aku mba," balas Indah.
Indah sangat tau, jika sejak awal memang dasarnya istri pertama suaminya ini tidak menyukainya. Bahkan Indah yakin jika Naysa lah pihak yang paling diuntungkan dari masalah ini.
"Kau--"
"Mba Zahra, Indah kekantor mas Ghazel dulu, tolong titip Ayah dan kak Lolita ya," Indah langsung berlari melewati ayah dan Lolita. Keluar dari mansion.
Indah tersenyum lega saat, melihat taxi yang ia tumpangi tadi masih berada didepan mansion Ghazel.
"Indah! Ayah ikut!," Agung berlari menghampiri Indah yang hendak masuk kedalam taxi.
"Aku juga!" teriak Lolita.
"Tapi yah...."
"Udah ayok!," Agung mendorong tubuh Indah masuk kedalam taxi, disusul oleh Lolita. Sedangkan dirinya duduk disamping pengemudi.
"Kantor GRE company utama pak," ucap Indah pada taxi tersebut.
"Baik mba," taxi tersebut melaju kealamat yang disebutkan.
Memakan waktu sekitar 25 menit menuju kantor utama, itupun jika tidak macet.
...««Bersambung»»...
Jangan lupa; Like, komen, dan masukin ke-RAk kalian ya!
Aku ngerasa sepi banget loh:(
__ADS_1
Ceritanya garing ya?,
Yaudah deh, bentar lagi END kok≥﹏≤