IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter- 98


__ADS_3

...Menurunkan ekspetasi dari sebuah harapan adalah pilihan yang terbaik untuk mengurangi rasa sakit hati....


...-Indah-...


...««Selamat membaca!!»»...


Indah turun dari ruangan Ghazel menuju loby kantor Ghazel dengan keadaan yang kacau, mata sembab, hidung merah membuat siapa saja tau jika istri dari bos-nya ini habis menangis.


Beberapa karyawan hanya melihat Indah, mereka hanya membungkuk kecil sebagaj bentuk hormat mereka, ingin menyapa tapi mereka tidak enak, terlebih kondisi Indah tidak baik.


Indah melihat ayah dan Lolita sedang duduk disalah satu sofa loby kantor Ghazel, ia menghapusn kasar airmatanya yang menetes sesuka mereka.


"Ayah!, kita pulang sekarang," Indah langsung pergi setelah mengatakan hal tersebut. Agung dan Lolita dengan keterbingungannya mengejar Indah yang sudah dulu keluar dari kantor Ghazel.


"Indah! Tunggu" Agung menghentikan langkah Indah, ia menatap lekat putrinya itu, satu yang Agung sadari putrinya menangis.


Agung menerka-nerka apakah putrinya diusir lagi?, apakah putrinya sudah tidak diterima? Apakah putrinya gagal menjelaskan kebenarannya?, itulah pemikiran Agung saat ini.


"Apa yang terjadi?, apakah kau tidak bisa menyakinkan Ghazel?, apa ayah perlu membantumu?" tanya Agung bertubi-tubi.


"Iya Indah, apa yang terjadi?" sambung Lolita.


"Kita pulang ke Bali SEKARANG!" tekan Indah, dengan cepat ia berjalan mencari taxi.


"Tapi kenapa?," Agung kembali mencegah jalan Indah.


"Ayah! Indah mohon dengarkan Indah, kita pulang sekarang juga, Indah sudah tidak mau bertemu denganya," ucap Indah menatap Agung dengan mata yang sudah berkaca-kaca ingin menangis.


Agung dan Lolita saling tukar tatap, mereka sangat bingung dan penasaran, apa yang terjadi sebenarnya? Tadi pagi Indah sangat tidak sabaran bertemu suaminya, dan sekarang memaksa pulang. Apa yang terjadi?.


Lolita masih diam, dia berpikir akan menanyakan langsung pada Han nantinya, dia harus tau apa penyebab perubahan dari Indah.


"Lolita pesan tiket kembali ke Bali!" pinta Indah. Lolita menatap Agung sesaat, Agung mengangguk kecil, sebagai persetujuannya


"Emm...baiklah" Lolita mengambil ponselnya, membuka aplikasi pemesan tiket, segera melakukan proses pemesanan dan pembayaran lewat vie E-baking.


Indah memberhentikan taxi, langsung masuk disusul Agung dan Lolita, "Bandara sekarang pak," ucap Indah.


"Baik," balas si supir taxi.


"A--"


"Indah sedang tidak ingin bicara yah," potong Indah.


"Baiklah," balas Agung. Ia pikir nanti saja menanyakan apa yang sebenarnya terjadi saat keadaan Indah sudah membaik.

__ADS_1


Indah menatap luar jendela kaca mobil dengan pandangan sendu, tadi ia datang dengan keadaan tersenyum senang, sekarang dengan cepat keadaan membuatnya berubah menjadi menyedihkan seperti ini.


Kesalahan apa yang ia perbuat hingga mendapatkan hukuman sesakit ini?, apa dia tidak ditakdirkan bahagia?, apa ini resiko dari mencintai seorang Ghazel? Lantas kenapa Naysa dan Zahra tidak seperti ini? Apa yang salah dengan dirinya.


Apa ini hadiah dari ulangtahun nya?, jika iya bolehkah Indah menolak hadiah ini, Indah tidak sanggup menerima semua ini, bisakah ia meminta hadiah yang lain?.


Apakah ini sebagai tanda bahwa ia harus menyerah?, jika iya Indah akan pikirkan lagi.


"Indah, kita sudah sampai" ucap Lolita, meyadarkan Indah dari lamunannya.


Indah tersentak, dengan cepat ia menghapus airmatanya, "Iya kak," balas Indah, ia pun keluar dari taxi.


"Penerbangan akan dilakukan dua jam lagi, apa sebaiknya kita mencari makan dulu?, atau langsung masuk check-in?" tanya Lolita.


"Kita check-in sekarang, Makan didalam bisakan?," jawab Indah.


"Tentu.."balas Lolita.


Tak ingin membantah keinginan Indah, Lolita dan Agung hanya mengikuti apa yang Indah mau. Keduanya tau jika Indah sedang tidak baik-baik saja.


...«««...


Telah sampai di kediamannya, Ghazel langsung melangkah masuk, tak lupa beberapa pelayan yang sudah berjejer menyambut kedatangannya.


Jika dulu saat ia pulang akan ada mama, berserta istrinya yang tersenyum menunggu kedatangannya, tapi sekarang, tidak ada lagi hal seperti itu. Semenjak kepulangan mereka dari Bali sang mama berubah menjadi sosok yang lebih suka berdiam diri dikamar, dari pada mengobrol dengan mereka.


"Mas, sudah pulang?, Indah mana?" tanya Zahra celingukan mencari Indah.


Ghazel menatap Zahra, "Tadikan Indah bilang mau ketemu mas, Zahra pikir kalian bertemu dikantor, dan akan pulang bareng," ucap Zahra menjelaskan.


"Tidak ada Indah," balas Ghazel berlalu meninggalkan Zahra sendirian dengan pikirannya.


"Mas Ghazel, ngak ketemu sama Indah?," tanya Zahra pada dirinya sendiri.


...«««...


Ghazel memasuki kamarnya yang ia tempati bersama Indah, selalu saja Ghazel dapat merasakan kehadiran Indah, seakan-akan sosok itu memang nyata ada disisinya. Padahal itu hanya bayangan dari ingatan Ghazel.


Ghazel sempat berpikir untuk menyingkirkan barang-barang Indah, tapi ntah kenapa ia selalu tidak bisa, Ghazel ingat bagaimana Indah selalu menjaga barang-barangnya, jika Ghazel singkirkan apa Indah akan marah?.


"Aku benar-benar sudah gila!" ucap Ghazel frustasi.


...«««...


"Rekaman itu akan berguna untuk tuan Ghazel, aku harus memikirkan hadiah apa yang akan aku minta nanti," kekeh Sans.

__ADS_1


Sans merupakan salah satu bawahan terpercaya Han, ia ditugaskan di Bali untuk mengontrol perusahaan Ghazel dan menjadi bayangan Han.


Dialah yang selama ini memberitahukan Han tentang siapa saja dan apa saja masalah yang akan menghampiri Ghazel, karna sudah menjadi mata-mata handal, membuat Sans menjadi orang yang cukup disegani apalagi di dunia perbisnisan gelap.


Setiap detik ia akan memantau setiap musuh dari Ghazel, jaringan yang kuat membuat Sans dapat dengan mudah melaksanakan tugasnya.


Tapi tentang bagaimana ia bisa merekam obrolan dari Naysa dan Airyn tempo hari di cafe, merupakan kejadian yang tak terduga. Anggap saja itu sebagai keberuntungan dirinya.


"Istri utama tuan Ghazel, sangat licik!, sesuai perintah Han, aku akan menyingkirkan setiap hama yang merusak kenyaman dari tuan Ghazel."


"Dan untuk Pandu, aku sudah menemukannya," ucap Ray.


"Bukankah dia sudah mati sans?,"


"Itu kembarannya Panji!, bedebah itu berhasil mempermainkan kita, segera hubungi Enzy aku yakin dia akan mengila jika mengetahui kebenaran ini."


"Fiki, bagaimana resto dari Agung, apa kamu sudah mengalih namanya atas nama Agung?, Han meminta kita memindahkan semua aset yang kita ambil menjadi milik Agung,"


"Sudah, besok aku sendiri yang akan kekantor Agung itu,"


"Kerja bagus! Pastikan semuanya beres dengan cepat, karna kita akan menghadapi musuh yang sebenarnya sebentar lagi,"


"Bagaimana dengan nenek sihir Jen, Sans?"


Menyeringai,"Dia akan menjadi penutup nantinya, aku penasaran bagaimana wanita tua itu dengan PD-nya berkeliyaran di Mansion tuan Ghazel, apa dia pikir selama ini kita tidak tau niatnya,"


"Tidak sia-sia kita memasang peyadap suara di setiap sudut kediaman Ghazel, termasuk rumah para pelayan dan Jen itu," kekeh Ray.


"Bagaimana dengan nyonya Naysa?" tanya Fiki.


"Itu urusanku," jawab Sans.


Mereka bertiga tersenyum memikirkan rencana apa yang akan mereka berikan pada semua yang sudah ditargetkan, dan mengembalikan semuanya pada tempat semula.


...«««...


Ghazel sudah selesai membersihkan tubuhnya, ia langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur king size miliknya, sepertinya ia akan tidur siang sebentar sebelum menghadapi masalah yang belum sesikitpun memiliki titik terang itu.


...««Bersambung»» ...


Jangan lupa; Like, komen dan masukin di RAK kalian ya.


Oh ya, Uci mau ngucapin terima kasih banyak atas partisipasi kalian audah mau membaca cerita ini.


Dan maaf jika selama pembuatan cerita ini Uci sering bikin kalian lama nunggu update-nya.

__ADS_1


Thanks udah stay lama di lapak uci..


Love youu all


__ADS_2