
...49| Kak Ryn dan Aurel pulang...
Tak terasa sudah 3 hari Airyn dan Aurel menginap di kediaman Ghazel. Dan sekarang saatnya mereka untuk balik ke- Bali. Indah sejak pagi merenggut rasanya tidak rela kakak dan adiknya akan pulang.
" Muka kamu jangan di tekuk gitu, lainkali kan kamu bisa main di rumah." ucap Airyn, menenangkan adiknya itu.
Jujur Airyn juga sedih harus meninggalkan Indah, tapi mau gimana lagi adiknya itu sudah menikah dan artinya dia sudah punya tanggung jawab sebagai soerang istri. Airyn cukup lega meninggalkan Indah karna adanya mama Karlina dan Zahra yang sayang sama adiknya itu, kecuali istri pertama Ghazel.
" Lo jelek sumpah muka kayak gitu." ejek Aurel pada Indah, dan alhasil mendapatkan lemparan bantal dari Indah.
" Sedih aja ngak ada teman lagi." ucapnya sedih, matanya sudah berkaca-kaca. Airyn menatapa sendu adiknya itu.
" Ndunn..ndun sayang, kakak gue yang kesepian." ucap Aurel sedikit mengejek melangkah ke arah Indah, memeluknya erat. Dan di Indah hanya mendengus kesal, tapi masih membalas pelukan adiknya itu.
Aurel sejak pagi sudah menangis di kamar mandi, ia merasa sedih karna akan meninggalkan kakak absrudnya itu.
" Ayok, taksi nya udah di depan." ucap Airyn, mengambil kopernya. tak lupa tas-nya yang berada di atas sofa kamar Indah.
Indah berserta Airyn dan Aurel, melangkah keluar dari lift, berjalan kearah ruang tamu tempat mama mertuanya dan Naysa dan Zahra duduk.
Karlina melihat kehadiran ketiganya berdiri menyanmbut mereka.
" Berangkat jam berapa?." tanya Zahra, seraya melihat kedatang Airyn dan Aurel.
" Jam 9 ini mba." jawab Airyn tersenyum lembut.
" Ya bagus deh, cepat-cepat sana pergi" sarkas Naysa. Semuanya hanya terdiam mendengar ucapan Naysa, engan untuk meladani istri pertama dari Ghazel itu.
" Indah nanti kamu kekantor Ghazel ya." perintah Karlina pada menantunya itu.
" Kalau begitu kami permisi dulu ya tante, mba Zahra/Naysa" pamit Airyn sambil menyalami tante Karlina dan memeluknya. tak lupa ia memeluk kembali adiknya itu dan membisikan kata, " jangan lupa rencananya di lakuin." Indah hanya mengangguk patuh di dalam pelukan kakaknya.
Indah menantap sendu kepergian kakak dan adiknya, memeluk erat kedua saudaranya itu. mereka berjalan mengatar hingga kedepan pintu utama.
" Nanti telpon kalau udah sampe kak" ucap Indah mata tidak bisa bohong, dia sedih akan di tinggal sendiri disini.
" Oke, daaaa...pamit dulu nya." taksi tersebut mengitari halaman, dan keluar meninggalkan kedian mansion Ghazel.
Karlina, Neysa, Zahra, dan Indah, berbalik masuk ke dalam rumah, Zahra merangkul pundak Indah seakan-akan memberika kekuatan. Indah tersenyum melihat perlakuan Zahra,
__ADS_1
" Ma, kok mama, Indah yang kekantor Ghazel, biasanya Neysa." Karlina hanya diam mendengar penuturan menantu tua nya itu.
Sedangkan Indah, diam.
" Orang kantor semua sudah tau kau istrinya Ghazel, dan kau juga sudah sering berkunjung, sedangkan Indah?, belum pernahkan?, setidaknya biarkan dia tau kantor Ghazel dan para staff nya, mereka juga harus melihat boss nya kan." jelas Karlina, jika Karlina sudah bicara tidak ada yang membatah termasuk Ghazel.
Neysa hanya merengut kesal, dia tak terima, sangat tidak terima, dia menatap nyalang Indah. mba Zahra yang sudah tau sifat Neysa hanya mengeleng.
" Indah, sekarang kamu ganti baju, dan pergi kekantor Ghazel ya, nanti pak Lukman yang memgantarkan kamu." Indah hanya mengangguk, dia pun langsung pamit berganti pakaian.
Rencana di mulai - batin Indah.
..
Indah sudah siap. dia mengenakan dress berwarna coklat muda, di padankan dengan tas coklat dan sepatu flat.
Hari ini dia di antar pak Lukmam supir pribadi mama mertuanya. sepanjang jalan Indah hanya melihat keluar jendela, sambil melihat jajaran gedung yang berjulang tinggi itu.
Hingga tak sadar jikalau nya, mobil mereka sudah berhenti di depan gedung yang sangat besar dan tinggi. " Nyonya, kita sudah sampai." ucap pak Lukman.
Indah kaget, " Oh, iya pak, makasih ya." ia pun langsung keluar. tapi mata nya terbelalak saat melihat gedung pencakar langit yang berjulang tinggi di depanny itu.
Omaygatttt.. ini gedung atau menara menuju surga? tinggi banget - batin Indah.
" Nyonya, ruangan tuan berada di lantai 65 ya." ucap pak Lukman memberitahu. Indah tersenyum dan berkata " makasih ya pak." Indah langsung melangkah masuk.
saat di loby, Indah lagi-lagi di buat terpada dengan dekorasi dalam kantor suaminya itu. Eh suami?
tak ingin di lihat sebagai cewek norak, Indah langsung pergi ke arah Resepsionis (Tempat menanyakan informasi, tapi author ngak tau cara nulisnya😢)
Saat sampai di depan, Indah tersenyum sebagai sapaan awal. " selamat pagi, mmm..maaf mba, bisa bertemu dengan pak Ghazel." tanya Indah sesopan mungkin.
" Siapa ya? dan ada perlu apa?." tanya wanita itu judes, tanpa melihat Indah.
" Saya Indah, ingin bertemu." jawab Indah, masih sopan, ingat masih SOPAN.
" Anda siapa pak Ghazel?, sudah punya janji emang?!."
" Oh, saya Istri nya." senyum Indah sedikit di paksakan.
__ADS_1
Hahahahahaha....
Wanita itu tertawa, mengejek, dia memperhatikan penampilan Indah dari atas sampai bawah, dan berdecik.
" Jangan bohong ya, gadis baru gede aja ngaku-ngaku, istri pak Ghazel itu mba Neysa dan mba Zahra, dan gue akan menjadi istri ketiganya, istri kesayangannya." ucap wanita itu menghalu.
Jadi dia hanya mengakui mba Ney sama mba Zahra aja.- batin Indah.
Ntah kenapa Indah tidak suka mendengar ucapan dari wanita halu dan menor di depannya itu, apa berita penikahannya tidak tersebar?, " aishhh kok kesal sih" gumannya pelan.
" Saya hanya ingin bertemu dengan Ghazel, tolong sampaikan , terima kasih." Indah langsung menyelonong berjalan menuju lift saat tangannya ingin menekan tombol lantai 65, tangannya di tahan dan di sentak kuat, hingga dirinya terhuyung kebelakang.
" Eh, dasar ngak punya sopan santun!, saya belum mengizikan kamu naik ya!, jangan sok kenal sama pak Ghazel!, ngaku-ngaku istrinya lagi!, dasar murahan!." ucapnya keras. tentu saja aksi mereka menarik perhatian para karyawan di sana.
Mereka semua terbelalak kaget, saat aksi Laura, karyawan baru itu menyeret kasar tangan Indah.
" Dia ngak itu istrinya tuan?" bisik salah satu karyawan di sana.
" Anak baru." karyawan yang lain ikut berbisik.
Ya. Laura adalah karyawan baru, perusahaan Ghazel. pertama kali melihat Ghazel, Laura langsung jatuh hati, bahkan di tidak masalah menjadi istri Ghazel yang keberapa pun. dan sejak itu dia meng-ngaku-ngaku sebagai calon istri Ghazel. baru 4 bulan berkerja dia sudah berhasil membuat seisi kantor tidak menyukainya.
" Aww.." pekik Indah, tangannya sakit di tarik paksa.
"Ck!, sana keluar, gadis kampungan!" mendorong Indah dia pun menatap remeh kearah Indah.
Indah terhuyung kebelakang.
Indah bisa saja membalas, tapi dia ingat pesan Ghazel, untuk tidak membuat malu namanya keluarga suaminya itu.
" APA YANG KAU LAKUKAN?!" semua di sana berdiri ngeri mendengar teriakan ganas sang tuan. semuanya tertunduk takut.
Ghazel melangakah cepat, menghampiri Indah dan Laura. Indah meringis memegang pergelangan tangannya yang sakit ulah Laura.
Laura tersenyum manis melihat Ghazel, bahkan dia tidak sadar dengan tatapan membunuh Ghazel, dan aura dari sang tuan. berdiri menatap nyalang Laura.
" Saya ulangi, apa yang kau lakukan!" ucap Ghazel. menatap Laura tajam, dengan napas mengebu.
" Sa-saya ha-nya...
__ADS_1
**Next.......
Jangan lupa berikan ❤ pada cerita ini, beri dukungan dong**.