IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER 114


__ADS_3

Ghazel memarkirkan mobilnya tepat didepan rumahnya, dia keluar, dan masuk dengan langkah cepat Ghazel sudah tak sabar untuk mendengar kabar calon anaknya.


"Mas," Zahra menghampiri Ghazel, dan mencium tangan Ghazel.


"Dimana Indah?" tanyanya.


Zahra tersenyum, "Indah di kamar, dia kelelahan karena di ajak mama berbelanja. Mau ku buatkan teh?"


"Tak perlu Zahra, kau juga istirahat.. aku tahu kau tak cukup tidur karena El yang rewel tadi malam" ucap Ghazel menatap perhatian pada istrinya itu.


Tadi malam El mendadak panas, ia rewel minta di gendong terus. Hal itu membuat Zahra harus bergadang, Ghazel tahu itu semua karena dia yang mengantikan Zahra tadi subuh.


"Aku baik-baik saja mas, kalau begitu aku ke kamar dulu, takutnya El bangun dan mencari ku,"


"Apa dokter keluarga sudah memeriksa nya?"


"Sudah, beberapa menit yang lalu baru saja pulang, dokter mengatakan jika El hanya kelelahan akibat bermain,"


Ghazel bernapas lega, dia sangat takut jika ada penyakit serius, "Syukurlah, kalau begitu aku keatas dulu"


"Iya mas," Melihat suaminya sudah pergi Zahra pun ikut masuk kamarnya.


Ghazel membuka pintu sangat pelan, ia takut Indah sedang tidur.


"Sudah pulang?" tanya Indah saat melihat suaminya masuk. Ghazel sedikit terkejut tapi dengan cepat ia menetralkan keterkejutan nya.


"Apa aku menganggu istirahatmu?"


"Tidak," jawab Indah sekedarnya, Jangan lupa Indah masih kesal karena Ghazel tidak mau menuruti permintaannya.


Ghazel menghampiri Indah, ia naik duduk di sisi ranjang "Aku dengar kamu baru cek kandungan, bagaimana kabarnya?" tanya Ghazel lembut.

__ADS_1


"Mereka baik tak sepertimu" jawab Indah, kening Ghazel mengkerut mendengar jawaban tak masuk akal istrinya itu.


"Maksudnya bagaimana?," tanya Ghazel yang kurang peka.


Indah bangun dari tidurnya, menyadarkan diri di kepala ranjang mereka. Ia menatap Ghazel dengan tatapan permusuhan, "Mas, masih nanya maksud aku gimana?, mas maksud aku masih sama dengan pembahasan kita tempo hari ya," ucap Indah kesal.


"Soal Naysa?" tanya Ghazel memastikan.


"Siapa lagi, masa soal pak amat!" jawab Indah ketus, hormon ibu hamil kadang sangat mengerikan pikir Ghazel.


Ghazel menarik tangan Indah pelan untuk ia genggam, tangan yang satunya ia gunakan untuk mengelus perut Indah, "Aku dengar dia perempuan" ucap Ghazel lembut. Indah hanya diam, tidak ada reaksi apapun.


"Aku tahu kau begitu mengkhawatirkan Naysa, bukan hanya kamu saja aku pun sama." Ghazel memulai obrolan. "Aku dan Naysa sudah sangat lama bersama Ndah, dia ada di saat aku terpuruk, dia ada di saat dunia ku hancur, dia selalu ada dalam keadaan apapun dalam hidupku. Bohong jika aku tidak peduli lagi, dan bohong juga jika aku tidak kecewa kan?.."


"Setiap tindakan akan ada balasan, kau gigih akan berhasil, kau sedih akan bahagia..jika kau bersikap jahat kau yang akan menyesali itu, dan Naysa sedang dalam tahap menyesali."


"Aku gagal menjadi suami yang baik untuknya, semua tindakannya karena rasa cemburu dan iri. Dan aku hanya diam saat itu, kau tahu Naysa punya tempat sendiri di hati dan hidupku Ndah, jika aku tidak bertindak tegas dia akan semakin tersesat, aku bertanggung jawab atas kalian, mau itu Naysa, Zahra, dan kamu. Aku hanya ingin Naysa menyesali dari semua yang telah dia lakukan, dan tempat itu adalah tempat yang tepat untuk dirinya," jelas Ghazel. Indah menatap sendu suaminya itu, entah seberapa berat beban yang suaminya itu pikul.


Indah merasa sangat egois, seharusnya dia memahami hal itu. Tapi lihat, dia malah menambah beban suaminya. "Maafkan aku, aku hanya berpikir pendek." ucap Indah sambil menahan tangisnya.


"Kau tahu," Indah meregangkan pelukan mereka, "Mama banyak sekali belanja. Aku sampai lelah mengikutinya" cerita Indah.


Ghazel tersenyum, mood istrinya ini cepat sekali berubah pikirnya. "Bagus kalau begitu, belilah semua yang diperlukan calon anak kita. Uangku tidak akan habis" ujar Ghazel sedikit sombong.


Indah mendelik, "Kau terlalu sombong, itu ngak baik. Lagian itu satu ruangan udah full barang dedeknya, mau simpan dimana lagi, itu juga udah cukup"


"Rumah ini besar, bahkan seluruh pakaian bayi di mall itu masih sangat muat untuk disimpan disini,"


Indah menarik napas, "Sudahlah, besok aku akan borong semuanya puas!" Indah kembali merebahkan tubuhnya. Ghazel terkekeh geli, menggoda Indah sangat menyenangkan pikirnya.


"Kalau perlu akan ku buatkan store khusus untuk perlengkapan anak kita biar Han yang urus"

__ADS_1


"Jangan gila mas!," ancam Indah.


Tapi Ghazel merasa itu ide yang bagus, store perlengkapan untuk anaknya..Ghazel sungguh otak cemerlang pikirnya.


"Ide yang bagus" guman nya, sebelum ikut berbaring dan tidur.


Naysa baru saja selesai bersih-bersih, perayaan ulang tahun Asima selesai lima belas menit yang lalu. Acara sederhana tapi sangat berkesan untuk Naysa. semua anak panti sangat menikmati acara tersebut.


Asima sendiri sampai kehabisan kalimat untuk di lontarkan karena saking syoknya. Mengingat wajah cengo Asima tadi membuat Naysa kembali terkekeh geli.


"Besok jadwal untuk mengajari mereka bikin pot dari tanah liat" ucap Naysa, ia menarik bangku meja riasnya. Memakai cream pelembab wajah. meski pun dia di asingkan di sini, tapi perlengkapan perawatan Naysa selalu tersedia. Ghazel selalu mengirimi kebutuhannya melalui anak buahnya.


Dengan itu, Naysa tidak terlalu merasa di buang. Meski dalam sudut mana pun dia pantas untuk mendapatkan penderitaan ini.


"Ini bukan hukuman, tapi kehidupan baru. Terima kasih Ghazel" ucap Naysa tersebut sambil menatap pantulan wajahnya di kaca. Kesibukan hari ini membuat Naysa mengantuk lebih awal.


Beranjak dari duduknya, Naysa berjalan menuju kasurnya. "Enak sekali," gumamnya saat tubuhnya terbaring nyaman di kasur.


tak menunggu lama matanya mulai meredup.


Seorang wanita paruh baya menatap sebuah amplop coklat dengan tatapan bingungnya. Bibi Jen, ya dia baru saja mendapatkan kiriman amplop berukuran sedang. Dirinya merasa bingung karena tidak merasa ada memesan sesuatu.


Tapi, tingkat rasa penasarannya tidak bisa di bendung. Dengan cekatan ia membuka, dan menemukan sebuah foto yang berhasil membuat pupil matanya melebar, "To-tora," ucapnya terbata-bata. Di balik foto tersebut terdapat sebuah pesan.


*Pohon yang kalian tanam, sudah saat di petik buahnya. Lihat bagaimana wajah putramu sangat mengenaskan bukan, aku mencoba mengukir banyak hal di tubuh ya. Tapi aku takut dia m*ti*.


Bersiaplah menunggu giliranmu!


Bi Jen melempar foto itu, wajahnya berubah pias. Rasa cemas dan takut bergabung menjadi satu, dia benar-benar hilang arah. "Bagaimana ini bisa terjadi?," tanya pada dirinya sendiri.


Bi Jen merasa rencana mereka sudah sangat matang, tidak ada celah untuk gagal. Tapi, apa ini. Putranya tersayang dalam keadaan mengenaskan, wajahnya babak belur dan penuh luka. Tanpa sadar air mata bi Jen keluar membasahi pipinya.

__ADS_1


"Aku harus cari cara untuk membebaskan Tora, Mereka sudah mulai bergerak ternyata," geram bi Jen.


Apa bi Jen berhasil membebaskan Tora.


__ADS_2