
...Sekarang aku tau kenapa Ghazel sangat menginginkan nya _Tamara...
•
•
"Nghhhhh..." erak wanita dibalik selimut, sambil mencari posisi nyamannya kembali, bukannya bangun tapi semakin nyenyak.
Sedangkan mama Karlina sudah beberapa jam yang lalu sampai dirumah, dan Han. mengatar pulang Tamara itupun dengan TERPAKSA. Yakin Han?,
"Kau mau mampir dulu Han?" tawar wanita yang diantar pulang,Tamara.
"Tak perlu, saya ada urusan" Han langsung masuk kemobilnya, meninjak pedal gas dan menjauh dari perkarangan rumah Tamara.
"Han, aku menyukaimu, tak bisakah kau biarkan ku masuk?" Tamara berguman sediri, rasa kagumnya dulu sekarang menjadi rasa cinta.
Ia teringat pertemuan pertamanya dengan Han, yaitu di tempat lelang barang antik di Korea, saat itu dia duduk bersebelahan dengan Tamara, bagaimana cara bicara, kesopanan, disiplin, rapi, tampan paket komplet yang tamara suka dari Han.
Setelah tidak melihat wujud dari mobil Han lagi, Tamara berjalan masuk kedalam rumahnya, rumah yang sudah sebulan ini ia tinggalkan.
Tamara menarik napas pelan saat memasuki rumahnya cukup rapi, sepi dan hampa tidak ada siapapun, bahkan pelayan rumahnya tak terlihat,
orang tua?, mereka lebih sibuk berbisnis.
"Sendiri lagi" ucapnya sendu, langsung naik kelantai atas menuju kamarnya.
•••
Pukul 12 siang. Jam makan siang yang harusnya Imdah sudah membawakan bekal untuk Ghazel, tapi wanita itu masih tidur. Karlina-mama Ghazel sendiri tak tega untuk membangunkan menantunya itu, terlebih kata pelayan tadi jika Ghazel sendiri yang melarang membangunkan Indah, Karlina pun berpikir jika Ghazel dan Indah sudah melakukan hubungan suami-istri yang mengakibatkan menantunya itu kelelahan,"Aishh...tidak sabar menimang cucu" ujarnya senang. tak tau saja jika menantunya itu telat bangun karna begadang.
Ghazel ingin sekali menelpon orang rumah sekedar ingin menanyakan apakah Indah sudah bangun apa belum, tapi niatnya ia urungkan karna gengsi yang terlalu besar.
"Sebaiknya aku makan diluar saja" ujar Ghazel, ia memasukan kembali ponselnya disaku jasnya. biasanya dia makan bekal yang dibawa oleh Indah tapi hari ini. tidak.
Han sejak tadi sibuk menelpon para klien yang akan mengajukan kerja sama dengan perusahaannya, gara-gara itu ia menjadi kurang memantau tuannya itu, Han hanya ingin memastikan sekitar tuanya baik-baik saja.
"Perusahaan cangkang minyak yang mengajukan proposal kepada kita, ternyata itu tambang minyak ilegal tuan" lapor Aan-karyawan kantor Ghazel.
"Itu biar saya yang mengurus" ucap Han, dia sibuk memeriksa beberapa dokumen kerjasama oleh beberapa kliennya.
Ghazel telah sampai keruangan dimana Han sejak tadi berkutat dengan beberapa berkasnya. karyawan yang melihat keberadaan Ghazel langsung memberi hormat.
"Han!, temani saya makan siang" ujar Ghazel, setelah itu langsung berbalik keluar.
Dengan cepat Han mengikuti Ghazel, tak lupa ia berpesan kepada karyawan yang tetap disana untuk melanjutkan tugas mereka.
Sampai di basment(tempat pakir) didepan mobil Ghazel, Han langsung membukakan pintu mobil ghazel. setelah Ghazel masuk Han langsung menutup kembali pintu mobil, dan dia langsung menuju kepintu pengemudi membuka pintu lalu masuk.
"Kita makan dimana tuan?" tanya Han,
"Restoran biasa" jawab Ghazel.
__ADS_1
Han langsung meyalakan mesin mobil, menginjak pedal gas, melaju keluar basmen menuju restoran lanngganan mereka.
••
Semenjak pagi selesai sarapan tadi Naysa memgurung diri dikamarnya, ia enggan keluar. Naysa tentu merasa sedih pasalnya, Ghazel tak pernah bicara dengan nada dingin pada dirinya, tapi tadi pagi?, bahkan dia dilarang untuk keluar bergabung sarapan lagi. kesal, sedih, marah ntahlah yang mana saat ini lebih mendominan dirinya.
"Ghazel, apa aku bukan lagi proritas mu?" menolog nya, selama ini dia di treat sebagai ratu oleh Ghazel tapi liat sekarang dia bahkan tak dilirik.
•••
Pukul 14:10 "Nngh..." erak seseorang dibalik selimut, matanya secara perlahan terbuka, menyesuaikan dengan cahaya dikamarnya. "Jam berapa ya?" tanyannya dengan suara seraknya
"Jam 14:10" jawab orang yang duduk disofa kamar Indah, tangannya memegang segelas anggur.
"Ohh..." guman Indah.. 1 detik..2 detik..3 detik...
"APA?! JAM DUA!" teriaknya langsung bangun.
"Aww" rasa pusing langsung menyerang kepalanya, bagaimana tidak pusing bangun tidur langsung duduk.
"Tidur jam berapa?"
"Ehh mas Ghazel, kok bisa disini?" tanya Indah, tangannya sibuk merapikan rambutnya, dan tersenyum seperti orang bodoh.
"Tidur jam berapa Indah?" tanya Ghazel lagi, bahkan dia tak menjawab pertanyaan dari Indah.
Indah berpikir sesaat, tak mungkinkan ia bilang kalau dia tidur jam 3 subuh, bisa-bisa kena smeckdon sama Ghazel.
"Tadi malam bergadang terakhir kamu, besok harus tidur awal" ucap Ghazel menatap lekat Indah.
Karna di lihat terus Indah menjadi salting dia tuh, "O-oke mas" ucapnya pelan, menurut adalah jalan ninja terbaik dari pada di amuk pikir Indah.
Indah hendak turun, ingin mencuci wajahnya, tapi saat ingin berdiri rasa pusing memjalar di kepalanya "Aww..." ringis nya sambil memegang kepalanya.
Dengan cepat Ghazel berjalan kearah Indah, memegang kedua bahu Indah, "Ini akibatnya bergadang" imbuh Ghazel datar, "pusing mas" adu Indah, bahkan sekarang ia sudah bersandar didada Ghazel.
Hupp..Ghazel mengendong Indah, "Jangan marah dan Geer, saya hanya menolong kamu sebagai manusia yang baik" ujar Ghazel, ia berjalan kearah kamar mandi tanpa dibilang ia sudah tau tujuan Indah.
"Siapa juga yang geer." ucap Indah sedikit kesal.
Sampai dikamar mandi, Ghazel menurunkan Indah tepat di depan wastafel,"Kalau sudah panggil saya" Ghazel langsung keluar, ia menunggu didepan kamar mandi.
Dengan pelan Indah mencuci mukanya, menyikat gigi dan membuang cairan tubuhnya (pipis)
"Mas udah!" teriak Indah. Ghazel langsung masuk.
"Ngak usah teriak-teriak, ini bukan hutan, saya masih dengar!" ucap Ghazel,
"Maaf"
Ghazel kembali megendong Indah, sebenarnya Indah sudah tidak terlalu merasa pusing, tapi entah kenapa di dalam gendongan Ghazel ia merasa nyaman, menyadarkan kepalanya di deda bidang Ghazel.
__ADS_1
Ia menurunkan ia diatas kasur dengan pelan, "terima kasih" ucap Indah,
"Hmm.."
Ghazel langsung beranjak keluar, tak lupa ia mengambil sesuatu yang bisa dibilang hidup Indah
"Mas kok laptopnya diambil?" ucap Indah sedikit keras,
"Ini saya sita, gara-gara ini kepala kamu pusing, saya akan minta pelayan mengantarkan makanan untuk kamu" setelah mengatakan itu Ghazel langsung kelaur, bahkan dia tidak peduli dengan omelan Indah setelah nya.
...°°°...
**Allhamdullilah, selesai chapter ini
Happy new year!👏👏👏
Karna tahun baru, author mau bilang kalau author ada bikin cerita baru nih**
Pas malam tahun baru tiba-tiba aja ada ide bikin cerita ini, yaudah author tulis aja, "padahal cerita ini aja belum tamat😑",
**Ngak apalah, soalnya ide itu ngak setiap hari muncul kan, ini ceritanya ringan, in sya Allah kalian suka,
spoiler:
DISKRIPSI
"restuin gue dong jadi nyokap lo" renggek gadis bersurai panjang itu.
"Lo gila!, ogah gue!," tolak mentah orang itu sambil menepis tangan kasar gadis tersebut.
Jingga gadis berusia 22 tahun, saat ini sedang menepuh bangku kuliah semester 6 di salah satu kampus swasta Jakarta. Anak ke- 2 dari pasangan Herlawan dan Mayang. Bercita-cita menjadi istri dan ibu yang teladan, rajin menabung, berbudi perkerti luhur, soleha dan tentu nya cantik untuk keluarganya kelak.
Siapa sangka Jingga malah terpicut dengan papa dari temannya sendiri.
Naka pria dewasa berusia 33 tahun. Pengusaha sukses di bidang propeti dan electronik.
Bagaimana awal Jingga bisa menyukai Naka ?
Bisakah meluluhkan si Duda dan anaknya?
"Ngak ada namanya menyerah di kamus hidup gue!"
SEMOGA SUKA!!, ditunggu loh mampirnyaa...
Jangan lupa vote, komen, dan like..
Memgejar Cinta Mas Naka, menunggu kalian♡♡
^^^Salam hangat...^^^
__ADS_1
^^^Ikatan cinta istri ketiga♡**^^^