IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 42


__ADS_3

Setelah Zahra menjelaskan perihal larangan masuk dapur pada Indah, satu yang Indah pikirkan bahwa suaminya itu ANEH.


"Biasanya para suami suka di masakkan oleh istrinya tapi tidak kok dia.. eh maksudnya suami kita engak" imbuh Indah.


Zahra tertawa kecil, "Tidak, dia suka di masakan,tapi itu dulu, semenjak beberapa bulan yang lalu dia berubah pikiran, Ghazel hanya mengatakan jika isteinya harus duduk saja, karna sudah ada koki."


"Tapikam mba, jika istri yang memasakan itu bisa menambah keharmonisan loh, seenak-enak nya masakan orang masakan istri jauh lebih baik, katanya bunda begitu."


Mendengar itu Zahra hanya tersenyum, "mba sangat menyukaimu Ndah, mba senang kau menjadi istri mas Ghazel." Zahra mengenggam tangan Indah.


"Indah pikir istri-istri om itu jahat, tapi mba Zahra baik" senyum Indah.


"Om?, kamu manggil Ghazel Om?" kekeh Zahra.


Indah memukul pelan mulutnya, melihat Zahra dan tersenyum canggung " eh, mmm kan dia emang om-om, ma-maksudnya suami Indah" cenggir nya.


"Kamu lucu deh,-" kekeh Zahra "Jangan panggil om, ngak enak di dengar"


Terus panggil apa?, bapak? " nanti Indah ganti deh mba"


"Mba sendiri panggil dia apa?" tanya Indah, penasaran.


"Mba, biasa panggil Ghazel atau ngak mas"


Tanpa mereka sadari jika Ghazel sudah berdiri bersama Han di belakang mereka.


Ghazel jelas mendengarkan semua yang mereka bicarakan, dan ntah kenapa Ghazel hanya diam,biasanya dia akan marah jika ada yang membicarakannya di belakang.

__ADS_1


*Engak tau aja Ghazel dia sering di ghibahin wkwkwk*


"Teh saya mana?" ucap Ghazel, yang sukses membuat Indah dan Zahra terkejut.


"Sebentar lagi sarapannya selesai di buat, mari duduk sarapan" ajak Zahra, dan Indah hanya berdiri terdiam di samping Zahra.


"Ada rapat mendadak nyonya, jadi kami langsung kekantor" jelas Han.


"Benarkah?, kalau begitu Zahra buatkan bekal sarapan mas."


"Mas" guman Ghazel pelan, "Biar Indah yang siapkan Zahra,sebaiknya kau awasi El saja" ujar Ghazel.


Zahra melihat kearah Indah, Indah mengangguk seolah-olah mengatakan biar saya saja Mba.


"Baiklah, kalau begitu Zahra kekamar El dulu" Zahra mendekati Ghazel dan mencium tangannya.


Saat sedang menata bekal, tiba-tiba datang ide jail Indah, dia memasukan banyak saos di dalam roti untuk Ghazel.


"Rasain lo!" seringai Indah.


Tidak ingin membuat Ghazel menunggu lama Indah langsung berlari menuju kerah Ghazel, saat sudah di ruangan utama, Indah langsung memberikan bekal pada Ghazel.


Bukan Ghazel yang menerima tetapi Han.


"Terima kasih" ujar Indah menyindir. karna Ghazel langsung pergi, bahkan Indah belum menyalami tangannya.


"Bodo amat, mending gue makan" Indah langsung pergi keruangan makan, untuk sarapan, "mereka lama banget sih sumpah" omelnya.

__ADS_1


...…...


"Hallo Rel, ada apa?"


"Lo disana ngak di siksa kan Ndah?"


"Belum di siksa, baru 1 minggu juga, masih awal hhehe"


"Bisa-bisa lo ketawa, gue serius, bunda khawatir noh"


"tap kenapa ngak telpon gue"


"Masih kesal sama lo, tapi lo benar fine aja kan?"


"Iya Rel, tapi gue penggen pergi dari sini ngak betah gue, bantu gue kabur dong" ujar Indah dengan suara di buat sedih.


"Ogah gue, suami lo serem."


"Tega lo, udah dulu ye, gue mau makan, salam sama seluruh keluarga"


"Enak ya, udah jadi sultan, okee gue tutup bye.."


".....dasar" panggilan berakhir.


Indah pun melanjutkan acara makannnya, tanpa menunggu yang lainnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2