IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER ¦ 105


__ADS_3

Enjoy guys!


"Saya sudah menyelidiki....- Fakta bahwa nyonya Indah....tidak sepenuhnya salah tuan,"


"Memang benar awalnya nyonya berniat seperti itu, tapi beriring berjalannya waktu Nyonya melupakan rencananya itu."


Naysa sudah gugup setengah mati, dia sempat melupakan Sekretaris gila suaminya itu.


Bagaimana bisa Han tahu segalanya?, Naysa muak dengan fakta itu!. Han bagaikan tombak tertajam milik Ghazel.


Pria dengan segudang catatan hitam misterius itu sungguh membuat Naysa jengah setengah mati.


Naysa tidak ingin hanya karna mulut sialan Han, dia di usir dari mansion milik Ghazel lagi.


"Bagaimana kau tau Han?, apa kau selalu mengikuti Indah?" Naysa bertanya ada rasa tidak suka dari ucapannya itu.


"Bagaimana saya tahu, itu tidak penting!. Saya mengetahui setiap detail keluarga Erlangga, prinsip saya hanya satu, menjaga lindungi."


Ghazel menarik napas kasar, "Han..lanjutkan"


"Nona Airyn... Dia hanya dihasut oleh cerita bualan" Han menatap tepat dimata Naysa.


"Ini.." Han menyerahkan rekaman suara yang berisi percakapan dari Naysa dan Airyn saat di cafe Bali saat itu. "Seseorang mengirimi saya ini, sebagai imbalannya dia meminta jet pribadi"


"Saya sudah lama ingin memberitahukan ini kepada tuan, tapi saat itu tuan menolak karena sibuk."


Ghazel menatap benda pipih yang di ulurkan Han pada-nya. Menatap Han kembali seolah-olah memastikan Ghazel langsung mengangguk.


"Apa saya harus mendengarkan ini?"


"Iya tuan!, karna ini bukti kuatnya" ucap Han mantap sambil menatap Naysa yang sudah kepalang kabut itu.


"Baiklah, nanti akan saya dengarkan. Apa ada lagi Han?"


"Anda tidak ingin mendengar itu sekarang tuan?, bukankah lebih baik ji--"


"Nanti saja," potong Ghazel.


Bagus sayang, dengan ini aku bisa mengambil bukti itu....akan ku pastikan Indah itu tidak kembali lagi rumah ini. Batin Naysa senang. Setidaknya dia masih bisa melenyapkan bukti bodoh itu.


Malam ini aku akan tidur dengannya.


Naysa merasa lebih santai sekarang, "lagian kenapa Ghazel harus repot-repot dengan masalahanya dengan Indah" batin Naysa tersenyum bahagia.


"Bang..." panggil Lydia dan menatap Ghazel.


"Iya ada apa hm?"


"Bujuk mama pulang..." ucap Lydia sedih.


"Pasti.." balas Ghazel.


_____________________________________


Heem...ahh "Wanginya" ucap Indah senang, saat ini Indah sedang menghirup bau parfum dari baju Ghazel.


Katakanlah Indah sedang mengidam saat ini. Sejak kemarin ia sangat ingin mencium aroma tubuh Ghazel, karena keadaan sedang tidak memungkinkan akhirnya baju Ghazel menjadi sasaran Indah.


Baju Ghazel selalu menjadi obat tidur untuk Indah, semenjak hamil Indah merasa jika dirinya hanya suka hal yang berkaitan tentang suaminya itu.


Dari makan, minuman, hingga sabun mandi Indah membeli seperti yang sering Ghazel pakai.


Indah sempat berpikir, apa anaknya begitu menyukai Ghazel?.


Terbaring di atas kasur empuknya, dengan baju Ghazel berada di atas tubuhnya. Indah selalu berandai jika saja...jika saja Ghazel tidak menyakitinya mungkin saat ini Indah akan sangat bahagia, terlebih anaknya karna bisa dekat dengan papi nya.


Indah bisa meminta Ghazel untuk membelikan apapun yang dia ingin makan, tanpa harus merepotkan Aurel.


Tapi itu hanya anggan-anggan.


Indah masih belum bisa memaafkan Ghazel, hatinya begitu sakit. Tapi anaknya sangat membutuhkan sosok seorang ayah kan?.


Lantas apa yang harus Indah dulukan, Ego nya? Atau Anaknya?.


"Aku bingung tuhan, harapan apa yang harus aku minta padamu?." ucap Indah sendu.


"Rasanya begitu menyesakkan"

__ADS_1


__________________________________________


Sesuai yang direncanakan Naysa, malam ini dia akan tidur dikamar milik Ghazel.


Saat kakinya hendak melangkahkan kaki hendak pergi ke kamar Ghazel.


Tiba-tiba ia tersadar, "Ghazel selalu menyimpan sesuatu yang penting diruangan kerjanya kan?" ujarnya.


"Bearti aku tidak perlu tidur dengan dia kan?, akan sulit keluar jika aku satu kamar dengannya. Tapi aku merindukannya...


Ayolah Naysa, bukti itu lebih penting dari rindumu itu, jika bukti itu kau musnahkan, bukankah kau akan punya banyak waktu untuk berduaan dengannya?" Naysa tersenyum senang, bayangan akan keberhasilan rencananya membuatnya terbang seketika.


"Sudah ku putuskan, malam ini aku tidur dikamar sendiri saja" Naysa berbalik kembali kekamarnya.


Sedangkan disisi lain, Han tersenyum menyeringai. "Anda sendiri yang akan membokar kejahatan anda nyonya"


...


Pukul 01:08 Naysa terbangun, ia akan melancarkan aksinya.


Dengan diam-diam ia berjalan, menaiki tangga. Naysa sengaja tidak mengunakan lift karna tidak ingin menimbulkan suara yang bisa membuat siapa saja terganggu.


Sampai kelantai dimana ruangan kerja Ghazel berada Naysa mengendap-endap melangkah hingga tepat berhenti depan pintu berwarna hitam besar.


"Oke Nay, sedikit lagi" gumannya, Naysa membuka pintu tersebut dengan sangat pelan.


Klek.. Pintu terbuka, Naysa menyundulkan kepalanya lebih dulu untuk masuk.


Gelap. itulah yang pertama kali Naysa lihat. Dengan cepat ia menyalakan senter Hp-nya. Jika dia menyalakan lampu ruangan Naysa takut ketahuan.


Melangkahkan kakinya untuk masuk, Naysa menyakinkan dirinya jika ini akan baik-baik saja, dengan jantung yang berpicu kuat Naysa mulai mengeledah setiap tempat diruangan kerja tersebut.


Satu hal yang Naysa lupakan dan tak ia sadari.


Hampir 30 menit Naysa mengeledahi setiap sisi ruangan ini, tapi tidak ia temukan apapun.


"Dimana Ghazel menyimpannya?, Ck! Jika sampai ketahuan matilah aku" ucap Naysa khawatir. Ia kembali melanjutkan pencariaannya.


Hingga...


Clekk.. Lampu ruangan kerja Ghazel seketika menyala. Naysa mematung seketika.


Suara itu...


Naysa menoleh keasal suara, "G-ghazel.." wajah Naysa seketika pucat, rasanya saraf-saraf tubuhnya mati seketika.


Naysa semakin di kejutkan, karena disana bukan hanya ada Ghazel, melainkan ada Zahra, Lydia, Han dan--- Mama Karlina?.


Sejak kapan mertuanya itu pulang, itulah pertanyaan Naysa.


Naysa seperti dihujam ribuan panah, melihat tatapan tajam yang mengarah padanya.


Tatapan, marah, kecewa, sedih, dan tidak percaya. Naysa menunduk takut.


"A-aku bisa je-jelaskan Gha--"


"Saya bertanya, apa kau mencari ini?" Ghazel melemparkan benda pipih itu dihadapan Naysa.


"Ak-"


"JAWAB!" teriak Ghazel.


Naysa tersentak, "I...i..iya" jawab Naysa gugup. Sirna sudah rencana Naysa.


PLAK!


Tamparan melayang ke pipi Naysa, bukan Ghazel pelakunya, tapi Zahra.


"Mba kecewa sama kamu Nay!, kenapa kamu tega hah?" tangis Zahra, ia masih tidak percaya dengan apa yang ia dengar dan lihat ini.


"Bukan hanya Indah, tapi kamu juga menjelekan nama mas Ghazel dengan cerita bohongmu itu, kau membuat suami kita di nilai jahat oleh orang lain Nay! Kamu sadar ngak sih?" Naysa hanya terdiam, tanpa ia sadari air matanya sudah membasahi pipi-nya.


"Hanya demi menyingkirkan Indah, kau merusak semuanya Nay, kau membuat keluarga kita jahat dimata orang!, mba tanya salah Indah apa sih Nay sama kamu?"


"Cemburu mu itu diluar batas!"


Zahra menjauh dari Naysa.

__ADS_1


"Itu semua tidak benar!" elak Naysa.


"Mama sudah menduga, kau dalangnya. Kau orang satu-satunya bahagia di saat Indah menanggis dulu."


Naysa mengeleng membantah cepat.


Ghazel menatap Naysa dengan tatapan yang sulit di artikan.


Dia ingin marah, tapi entah kenapa mood-nya tiba-tiba anjlok tidak berminat.


Biasanya Ghazel akan emosi mengebu-gebu.


Tapi sekarang, ia bahkan tidak minat untuk bicara.


Aku ingin martabak manis batin Ghazel.


"Tuan" Han menyadarkan Ghazel dari lamunanya. "Apa kau tidak ingin melakukan tindakan?" tanya Han.


Naysa langsung menatap Han tajam, " Han! Kau jangan ikut campur! Sialan!" ancamnya marah.


Naysa yakin Han lah yang sudah merencanakan semua ini, dari dulu Naysa memamng tidak menyukai laki-laki itu.


"Saya harus ikut campur, karena ini menyangkut ke stabilan kehidupan tuan Ghazel, saya harus memastikan jika tuan Ghazel selalu nyaman." balas Han tersenyum kearah Naysa.


Ghazel mengaruk pelan kepalanya, "Han..kau urus Naysa, berikan hukuman yang pantas, saat ini aku sedang tidak berselera untuk bicara padanya" Ghazel langsung pergi begitu saja.


Langkahnya terhenti, "Jika kau sudah selesai, carikan saya Martabak manis, isian kacang+keju" perintah Ghazel.


Han yang sudah membuat ancang-ancang ingin bertindak, langsung menoleh kearah Ghazel, what the..dimana jual martabak jam segini? Teriak batin Han.


Sedangkan Karlina, mengulum senyum. Rupanya anakku itu sedang mengidam heh pekiknya.


"Han urus dia, ayoh Zahra, Lydia" Karlina membawa menantu dan anaknya untuk meninggalkan Naysa.


...


Han terkekeh melihat Naysa, "Kau begitu naif nyonya...." Naysa menatap Han tajam.


"Sialan kau!" cerca Naysa


"Bagaimana bisa kau membuat rencana sebodoh itu?, apa kau pikir saya tidak tahu?. Orang bodoh sekalipun akan sadar jika ini hanya tipu muslihat.


"Bagaimana bisa anda begitu percaya diri?, apalagi sampai menyelinap masuk kesini dengan sangat mudah?. Seharusnya kau sadar! Rumah ini saja di jaga dengan sangat ketat, apalagi ruangan ini." kekeh Han.


Bahkan kau lupa jika rumah ini, cctv-nya bisa menangkap omongan."


Naysa terdiam, benar kenapa ia tidak menyadari semua ini lebih cepat."


"Kau tau, untuk masuk keruangan ini diperlukan sidik jari dari tuan Ghazel, aku rasa kau tahu betul terlebih kau cukup lama tinggal disini bukan"


"Kau bajingan Han!"


"Terserah anda! Saya tidak ingin berlama-lama lagi, hukuman apa yang pantas untuk anda?"


Naysa mematung, Han tidak akan mudah memberikan hukuman. Naysa tidak ingin dipulangkan kembali.


"Apa anda harus diusir dari sini?, atau di usir dari nama istri tuan Ghazel?, atau anda di asingkan di pulau lain?, atau..."


"CUKUP! Kau hanya orang asing!" Naysa menunjuk Han dengan tatapan emosi.


Han terkekeh, "Mari kita lihat orang asing ini bertindak, bahkan orang asing ini bisa membuat nyonya utama rumah ini diusir"


"Bajingan!"


"Kau selalu mengusik kebahagian tuan dan nyonya muda, pergilah tenangkan dirimu"


"Kemas semua barang nyonya Naysa" perintah Han pada seseorang melalui earphone nya, setelah itu ia langsung pergi meninggalkan Naysa yang masih terseulut emosi.


"SIALAN!" teriak Naysa.


__________________________________________


Guys! Gimana Chapter ini?


Agak kurang ngefeel ya?


Nanti saya perbaiki.

__ADS_1


Lest likee...


©DreamNight ft CK™


__ADS_2