IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 39


__ADS_3

Pesawat sudah mendarat dengan selamat.


Ghazel,Han dan Indah sekarang sudah berada di bandara Soekarno Hatta.


"Han, dimana mobil kita?"


"Disana tuan" tunjuk Han, kearah mobil hitam mewah di sisi utara bandara, terlihat seorang laki-laki yang berdiri, seperti mencari keberadaan bos nya.


Han menelpn laki-laki tersebut mengabarkan keberadaan mereka.


Dan laki-laki tersebut langsung bergegas masuk mobilnya, melaju menghampiri tuannya.


"Nona Indah,anda baik-baik saja?" tanya Han, yang sejak tadi melihat Indah, diam sambil memeluk patung bunda maria di tangannya, terlihat jelas muka takutnya, habis naik pesawat.


"A-aku ba-baik-baik saja, jangan khawatir" ujar Indah, memaksakan diri tersenyum.


"Saya tidak khawatir dengan anda,tapi khawatir dengan tuan Ghazel, saya tak ingin rasa takut anda menganggu ketenangan tuan saya" ucap Han, pergi kearah mobil, membukakan pintu untuk Ghazel.


Mereka sama saja, apa aku sanggup tinggal di sini, ini pertama kalinya aku ke jakarta. Indah berjalan kesisi mobil, ikut masuk ke dalam mobil.


Setelah membukakan pintu untuk tuannya, Han pun bergegas masuk mobil,duduk di bangku samping pengemudi.


"Jalan" titah Han.


Mobil tersebut keluar dari area bandara, dan melajukan mobil membelah jalanan ramai.


Sepanjang perjalanan,mata Indah selalu melihat keluar jendela mobil, jujur Indah sangat kagum dengan kota Jakarta ini, kota dimana banyak gedung-gendung menjulang tinggi, kota motropolitan, tapi belum beberapa saat mereka sudah di terpa kemacetan.


"Maaf tuan, karna ini weekend jadi area jalan ini macet" jelas laki-laki tersebut.


"Hmm.."


Ponsel Han, berbunyi menampilkan nama Nyonya Karlina di sana.


"Tuan, ny. karlina menelpon" ujar Han, berbalik melihat tuannya.


"Angkat"


Han pun langsung menekan tanda ikon hijau di ponselnya.


"Hallo, nyonya ada apa? apa terjadi sesuatu?" t


"Han…,mana Ghazel, aku ingin bicara, berikan hp mu padanya" ucap mama Karlina di seberang sana


Han pun langsung memberikan ponselnya pada Ghazel, "Tuan, nyonya ingin bicara"


Ghazel mengambil alih ponsel tersebut.


"Assalamualikum, ada apa ma?"


"Walaikumussalam,kau sudah sampai, dimana menantu ku?, kau tidak mengirimi ku foto pernikahan kalian dasar!"


"Iya, kami terjebak macet, maaf Ghazel lupa, sudah dulu, Assalamualaikum" Ghazel mematikan panggilan secara" sepihak. dan memberikan kembali ponsel Han.


...…...


"Dasar anak itu, selalu memutuskan panggilan sepihak" kesal Karlina.


"Gimana ma, udah nyampe?" tanya Zahra yang duduk di sisi kanan mama nya.


"Iya, mereka dalam perjalanan" senyum Karlina.


"Syukurlah."


"Mba, El kok belum pulang?" tanya Naysa yang ikut nimbrung di sana.


"Entalah, Sarah belum mengantarkannya pulang" ujar Zahra.


"Pasti Renzo sengaja berlama-lama sama El"


Zahra tertawa kecil, dia sangat beruntung banyak yang sayang dengan putranya itu, apalagi Naysa mau menerima kehadiran mereka, membuat Zahra senang.

__ADS_1


Tapi entahlah dengan istri baru Ghazel yang ini,Zahra sedikit was-was dengan karakter dan sikapnya nanti.


"Bundaaaaaa!" teriak anak kecil yang berlari masuk keruangan tamu.


"El!,hati-hati jatuh nak"


"El, sini sama bunda nay" Naysa merentangkan tanganya, meminta El memeluknya.


El mengubah arahnya, langsung bergegas kepelukan Naysa.


"Uuuhhh..kangen bunda sama El" ujar Naysa memeluk gemas.


"El jughaa" cengirnya.


"Sore mba, tante, maaf sarah telat antar El pulang" Sarah baru masuk, membawa tas keperluan El.


"Ngak apa-apa Sar"


"Renzo dimana?" tanya mama Karlina.


"Disini tantee!" teriaknya yang baru muncul, membawa beberapa mainan robot baru El.


"Ren,jangan bilang kamu beliin El mainan lagi?" tebak Zahra.


Renzo hanya tersenyum, "Ngak apa-apa mba, sekali-kali" jelasnya.


"Itu udah berkali-kali Ren, ruangan mainan El sudah penuh" ujar Zahra.


"Oh ya, kalian jangan langsung pulang ya, sebentar lagi Ghazel datang, kita makan bersama" ucap Mama Karlina.


"Papa, pulang!, yeeeeyyyyy El kangenn!!" teriaknya senang.


"Iya sayang, papa hari ini pulang" ucap Zahra, sambil mengelus rambut anaknya.


"Siap tan, lagian mau lihat kakak ipar yang baru" cenggir Renzo.


Mereka pun bersama, sambil menunggu kedatangan Ghazel.


Kembali lagi ke Ghazel.


Dan sepanjang perjalanan tidak ada yang bicara sedekitpun.


Sepanjang perjalanan Indah hanya termenung, melihat jalanan.


Mobil mereka memasuki gerbang menuju rumah Ghazel, gerbang dengan tulisan ERLANGGA HOUSE itu di jaga beberapa pengawal,memakai pakaian hitam.


Indah yakin keamanan rumah laki-laki yang sudah menjadi suaminya pasti lah sangat ketat, lihat saja hanya didepan gerbang sudah di jaga 6 orang apalagi di dalamnya.


"Selamat datang tuan Ghazel, dan sekretaris Han" ucap orang itu sambil menundukan kepala nya.


Plang gerbang terangkat, mereka pun masuk.


Masih membutuhkan waktu 15 menit untuk menuju rumah Ghazel, di sepanjang pejalanan menuju rumah Ghazel, banyak rumah dengan ukuran sedang tidak mewah tapi elegan.


Disini penghuninya banyak juga, rumahnya bagus-bagus lagi, ini sih perrumahan Elite. wajar aja sih tuan tanahnya kan manusia itu Indah terkekeh kecil.


Mobil Ghazel sudah sampai di depan Mansion nya, pagar besi menjulang tinggi menutupi area mansion.


Secara otomatis pagar tersebut terbuka, Indah sempat terpaku sesaat melihat bagaimana kerenya pagar tersebut.


Mobil melaju, menuju mansion.


Setelah sampai, Han langsung bergegas keluar mobil, dan membukakan pintu untuk Ghazel. sedangkan Indah masih terpaki melihat Mansion yang besar dan megah di sedepannya itu.


"Keluar!" Ghazel, melangkah keluar dari mobilnya,di ikuti oleh Indah.


"Silanhkan tuan" ujar Han, meminta Ghazel jalan terlebuh dahulu.


Mereka pun berjalan memasuki Mansion, Indah hanya memgekor di belakang Han, sambil memeluk patung bunda maria nya.


"Nona, berjalanlah di samping tuan" ujar Han, memberikan jalan pada Indah.

__ADS_1


Mau tak mau Indah sedikit mempercepat langkahnya untuk menyamai langkah kaki Ghazel.


"Selamat datang tuan" sambut pelayan disana. didepan mereka sudah ada 5 wanita, 1pria yang berdiri dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda.


"Asalamualaikum ma" Ghazel datang salam pada Mama nya, "Bibi jen kaue disini?" Ghazel menghampiri langsumg memeluk nya.


Naysa tersenyum kearah Ghazel, langsung memeluk suaminya itu" aku merindukan mu". melepaskan pelukan.


"Mas," Zahra maju untuk bersalaman.


"Ren kau kesini?" tanya Ghazel.


"Yoi" cengir Renzo


"Papaa!!!" Teriak seorang anak yang baru keluar daei ruang bermainnya.


"El!, jangan lari-lari" peringat Ghazel.


Tapi tidak di gubris El, Dia langsung berlari memeluk papanya itu.


"Hehehe, El rindu" bisik nya pelan. Ghazel hanya tersenyum, mencium pipi putranya.


"Hmm, kau tak ingin mengenalkan gadis yang di belakangmu kak?" tanya Sarah tersenyum kearah Indah.


"Astagaa, kita melupakannya" ucap Karlina, tersenyum, meraih tangan Indah, membawanya kesisi tubuh nya.


"Katakan siapa nama mu?" Sebenarnya mereka sudah tau nama dari istri Ghazel, hanya saja mereka ingin mendengarkan langsung dari mulutnya.


"Perkenalkan nama saya Indah Cristina Ayu" ucap Indah sedikit gugup.


"Nama yang bagus, kamu sangat cantik, saya mama Ghazel, mulai sekarang kau memanggil ku mama oke"


"Saya Naysa, Istri pertama Ghazel, panggil aja mba" ucap Naysa sinis.


"Aku Zahra, kau boleh memanggilku Mba Zahra, dan ini El anak ku" sapa Zahra ramah.


"Aku sarah, istri dari laki-laki yang tidak jelas itu, namanya Renzo" Ucap Sarah sambil menunjuk Renzo.


"Aku bibi jen, ibu angkat Ghazel"


"Salam kenal semuanya" ucap Indah.melihat satu persatu kearah mereka.


"Kalian bersih-bersih lah dulu, kita makan bersama, Indah mama antar di kamar kamu ya" ujar Karlina.


"Aku saja ma, kami permisi dulu" Ghazel menarik tangan Indah, di ikuti pelayan yang membawa kan koper Indah.


"Kenapa mengunakan tangga?" ujar Zahra heran.


Mereka saling menatap, bukannya ada lift? itulah pikiran mereka.


"Mungkin dia ingin berlama-lama" kekeh Sarah.


"Sepertinya Ghazel sangat perduli dengan Indah" Senyum Renzo, melihat kepergian sepupunya itu.


"Saya permisi" Han pun ikut pergi menuju kamarnya.


"Ayok kita duduk, sambil menunggu meraka"


"Ini kamar mu" Ghazel berhenti di depan pintu berwarna putih.


Indah membuka kamar tersebut, dan dia terpukau dengan dekorasi yang begitu megah,"Ini kamar ku?" gumannya pelan.


"Bersikaplah baik depan mama saya, jangan permalukan saya, segera turun untuk makan, meropotkan!" Ghazel langsung pergi dari sana.


"Siapa juga yang mau merepotkan dia, dasar!" guman Indah, "Indah udah rindu aja sama rumah" ujaranya sedih.


"Permisi, nyonya muda, kopernya di simpan dimana?" tanya pelayan itu.


"Simpan di dekat lemari ith saja pak" Indah menunjuk sisi sebelah barat kamarnya.


Pelayan tersebut langsung menaruh koper Indah, setelah itu dia langsung pamit pergi.

__ADS_1


"Sebaiknya aku mandi, bisa-bisa om itu marah-marah lagi" Indah pergi kearah kopernya, mengambil handuk dan lerlengkapan mandi nya disana. setelah dapat dengan apa yang ingin dia ambil, dia langsung meniju kamar mandi.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2