
.
Setelah selesai makan malam, mereka semua duduk santai di ruangan keluarga, Indah pun ikut duduk meski dai masih sangat cangung dengan semuanya.
"Ndah" panggil Karlina, duduk tepat di samping Indah.
Indah menoleh ke arah mama Karlina,"Iya ma?"
"Kamu kenal Ghazel di mana?" tanya Karlina, yang sejak kemarin sudah penasaran.
Indah, terdiam, berpikir sebentar dia mengingat-ingat kapan pertama kali dia bertemu dengan Ghazel, "Mm…saat pertunangan kakak saya ma" jawab Indah.
Naysa menatap tajam kearah Indah, melihat Indah di perlakukan sangat baik oleh mama mertuanya membuat Naysa sedikit kesal.
"Aku dengar, kau menikah dengan Ghazel karna bisnis saja" ujar Naysa.
"Nay, tidak ada bisnis dalam pernikahan" ujar Zahra.
"Ghazel sendiri yang bilang"
Bibi jen, sedikit tersenyum "Aku rasa yang di bilang Naysa ada benarnya,tidak mungkin Ghazel mau menikahi gadis kencur ini" sarkas bibi Jenl
Indah hanya terdiam, apa yang di katakan oleh Naysa menurut Indah benar adanya, dia dan Ghazel hanya menikah atas dasar bisinis saja.
Karlina melihat kearah Indah, beralih melihat ke arah Naysa dan bibi Jen.
"Jen,aku sangat menghormati mu, terlebih Ghazel,kau bicara seperti itu sama saja meragukan keputusan Ghazel" ujar mama Karlina.
Bibi Jen terdiam, dia meresa tak terima akhirnya berdiri "Saya pamit pulang" langsung meninggalkan mansion utama.
Indah merasa sangat tidak enak, terlihat dari sorotata Bibi jen, sudah menunjukan ketidaksukaanya pada Indah.
Ya tuhan, belum sehari masa iya udah ada yang engak suka -Indah.
"Jangan di pikirin, dia memang seperti itu" ucap mama Karlina. seakan-akan mengetahui isi pikiran menantunya itu.
Indah tersenyum,merasa lega setidaknya ada yang menyukainya disini.
Mereka melanjutkan obrolan mereka, lebih tepatnya menanyai segala sesuatu tentang Indah, bahkan mereka tidak keberatan dengan kayakinan Indah. kecuali Naysa.
"Nyonya muda Indah, anda di panggil tuan Ghazel" ujar Han, yang baru saja datang.
"Saya?"
Han hanya mengangguk, Indah pamit pada semua yang di sana. dan ikut bersama sekretaris Han.
__ADS_1
"Mm..sekretaris Han, boleh saya bertanya" ujar Indah, yang sudah berjalan di belakang sekretaris Han.
"Silahkan nyonya"
"Mmm..dari kedua istri tuan Ghazel, siapa yang paling di cintainya"
"Tidak ada" Han, berhenti di depan ruangan dengan pintu cukup megah. Han membuka pintu, dan mempersilahkan Indah masuk.
Indah yang cukup peka, langsung melangkah masuk keruangan yang di depannya.
Setelah Indah masuk Han juga ikut masuk. Di sana sudah ada Ghazel yang duduk sambil membaca dokumen di tangannya.
"Tuan, nyonya Indah sudah di sini" Ghazel langsung meletakan dokumennya, melihat kearah Indah.
Indah melihat kearah Ghazel. "Ada apa tuan?" tanya Indah.
"Mulai besok kau yang akan melayani saya" ujar Ghazel.
Han memberikan dokumen diatas meja pada Indah, "Ini daftar kebutuhan tuan, serta makanan dan minum yang di konsumsi tuan, nyonya bisa pelajari ini"
"Ini?,sebanyak ini?" ujar Indah, yang melihat daftar yang di dokumen tersebut.
"Keberatan?" ujar Ghazel.
Iya sangatt!!!!!.. "Tentu saja tidak" senyum Indah sedikit terpaksa.
...…...
Menjelang pagi, tepatnya pukul 4:30 subuh Indah sudah terbangun, suara azad yang mengema di sekitar mansion.
"Pasti mereka mau sholat subuh" ujar Indah, sambik mengambil maps yang berisi semua peraturan dan daftar kebutuhan Ghazel.
"Oke pertama bangungkan dia tidur, siapkan jass untuk kekantor, sama siapkan air panas untuk mandi, buatkan teh dengan gula satu sendok teh,-" Indah membaca semua tugas yang di berikan untuknya "fiks mah gue jadi babu:(, dan saat melaksanakan tugas harus sudah bersih!(mandi)." Indah langsung bergegas kekamar mandi untuk siap-siap.
Setelah mandi Indah langsung berganti baju, hari ini dia mengunakan dress dengan motif bunga, moto nya awali semua dengan kebahagian meski itu palsu.
Indah berjalan menuju kekamar Ghazel, kebetulan kamar Ghazel berada di lantai atas kamar Indah, jadi tidak terlalu jauh, kali ini indah lebih mengunakan lift dari pada tangga karna supaya lebih cepat pikirnya.
Sampai di lantai atas, Indah langsung menuju ke kamar Ghazel, "Bisa-bisanya dia bikin kamar sejauh ini" gumal Indah.
saat di depan pintu,Indah diam menghirup napas dalam, "semoga srigalanya belum bangun" guman nya.
tok..tok
"Permisi, om saya izin masuk ya" ucap Indah sedikit teriak.
__ADS_1
Saat pertama masuk, Indah cukup kagum dengan interior dari kamar Ghazel, jujur saja interior dan desain kamarnya, adalah interior yang Indah impika, Simple tapi berkelas..
"Wow!!, betah gue kalau tidur di sini" ujarnya.
"Jangan mimpi!"
Indah langsung kaget, berbaliknke sumber suara.
"Astaga om, kaget!"
"Om?" ulang Ghazel.
"Panggil apa dong, tuan?,"
"Tuan lebih baik!" Ghazel langsung pergi keruangan ganti.
"Tunggu, tadi dia ngak pakai bajukan?" Indah menutup mulutnya. "Mata gue ngak suci lagiii!" teriaknya.
"Brisik!, kenapa kamu kesini?,main masuk-masuk aja!" Ghazel keluar sudah dengan pakaian rapi nya.
"Mau bangunin, siapin baju, sama air mandi tuan"
"Telat..,bangunin saya sebelum subuh, sana keluar, bikin teh" usir Ghazel.
Indah pun langsung bergegas keluar.
"Ck, dasar srigala!" umpat Indah, ntah keberanian dari mana dia berani bicaraa seperti itu, kemarin dia takut, tapi hari ini dia benar-benar.
Indah sudah di lantai pertama, karna masih terlalu jadi penghuni mansion belum keluar kamar, hanya pelayan yang sudah berkeliaran untuk membersihkan mansion. dan di dapur juga sudah ada para pelayan untuk memasak untuk sarapan pagi.
Saat Indah mau melangkah masuk kedapur langkahnya terhentikan.
"Maaf nyonya, ada tidak boleh masuk area dapur" ucap pak Asep.
"Kenapa pak, saya mau bikin teh"
"Peraturan di sini, Nyonya tidak bisa masuk"
Indah heran, sejak kapan larangan untuk pergi di dapur.
"Tapi pak kan sa-"
"Indah, jangan heran memang begitu, pak asep silahkan lanjutkan memasaknya." Zahra tiba-tiba datang.
"Eh mba, maaf tapi Indah ngak ngerti"
__ADS_1
Zahra tersenyum, memgiring Indah untuk duduk di sofa ruangan tengah mereka.
"Indah,gini mba juga kurang paham maksud dari peraturan itu, tapi Ghazel tiba-tiba bikin peraturan itu, jadi kita memang di larang memasak."