IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 54


__ADS_3

...54| Hujan...


...Haii..para reader kembali lagi dengan ikatan....


Aku udah baca beberapa komentar dari kalian😊, dan aku senang banget..


Sebelum masuk ke cerita aku mau ngomong, perihal update mengupdate, sebelumnya terima kasih yang udah nunggu cerita aku, aku love banget dehh..


Jadwal update sengaja aku bikin 3x seminggu karna alasannya, ya ngumpulin ide cerita itu yang utama, sama aku juga sibuk kuliah hihi.


Tapi, jadwal itu ngak permanen, alias formalitas aja (biar teratur), bisa aja aku update setiap hari kalau dapat idenya cepat.. karna aku penggen bikin cerita ini semakin bagus dari sebelum-sebelumnya.


...Selamat membaca!!!...


...----------------...


Derasnya hujan dan gemuruh petir tak membuat langkah kaki perempuan tersebut menghentikan langkah kaki, atau sekedar mencari tempat berteduh. Air mata dan hujan bergabung menjadi satu, isak tangis saling bersautan dengan gemuruh petir.


Jika orang yang melihat, pasti tidak ada yang menyangka jika perempuan dengan stelan dress maron itu sedang menanggis.


Kedua tangannya memeluk kedua sisi bahu, pandangan lurus kedepan, rasa perih dari tamparan masih terasa perihnya. Hati? sudah pasti remuk.


Indah. Istri ketiga dari Ghazel sang penguasa dunia bisnis itu sedang terluka hatinya, pandangan kosong, kaki melangkah tanpa arah tujuan. "Gue benci!, gue benci!" isaknya.


"Tau akan sesakit ini, mending gue usah nikah sama tu om-om!" ucapnya masih dalam keadaan menangis.


Jangan lupakan Indah belum hafal seluk-beluk kota Jakarta.


Mobil hitam seketika berhenti didepan Indah, membuat langkah kakinya spontan berhenti. Indah tau mobil siapa ini.


Pintu mobil terbuka, menampilkan sosok yang tak ingin dia lihat, Ghazel.


Ghazel menatap sendu wanita yang di hadapannya, ada rasa menyesal di lelung hatinya, ntah kenapa dia merasa sakit melihat wanita itu menangis dengan keadaan seperti itu.


"Indah.." panggilnya.


Indah langsung berbalik arah, tapi belum melangkah tamgannya sudah di cekal oleh Ghazel.


"Lepas!, saya tak sudi di sentuh anda!" Indah menepis kasar tangan Ghazel.


"Maafkan saya, saya menyesal" ucap Ghazel, yang masih menatap Indah, meski saat ini membelakanginya.


Indah berbali, menatap benci kosong kearah Ghazel, dan berkata, "Penyesalan anda, tidak berarti untuk saya!, anda sudah berhasil membuat saya kembali membenci anda!" tutur Indah.


"Dengarkan penjelasan saya, saat itu say-"


"Saya apa?!, apa saat tadi anda mau mendengar penjelasan saya? engak kan!, mending anda pergi, bicara dengan monster seperti anda tidak ada gunanya!" Indah ingin melangkah pergi tapi lagi-lagi di cekal oleh Ghazel.

__ADS_1


"Saya sudah bilang!, jangan sentuh say-"


huuffff..


Ghazel menarik Indah dalam pelukannya.


"Lepas...lepass!" indah meronta, memukul Ghazel.


"Maafkan saya Indah, sungguh maafkan saya" ucap Ghazel pelan. Oke, Ghazel merasa lemah di hadapan wanita yang di peluknya, ini pertama kalinya dia takut orang membencinya.


hikss..."Kau jahat" hikss..


Indah kembali menangis, runtuh sudah pertahananya.


"Iya saya jahat"


"Kau orang terjahat yang saya temui!" isaknya lagi.


"Iyaa..saya tau"


Indah menangis semakin jadi, dia cenggeng? iya sangat.


"Saya minta maaf Indah, saat tadi saya benar-benar bleng, pikiran saya kacau, melihat bagaimana kondisi El dan Neysa, saya merasa tak berguna karna lalay menjaga mereka, terlebih El. saya sudah berjanji kepada ayahnya untuk menjaga dan melindunginya dengan baik, tapi apa saya lalai." isak Ghazel.


Ghazel menanggis?, Indah sedikit tertekun mendengar isakan Ghazel, ini pertama kali mendengar Ghazel menangis, dan ini juga pertama kalinya Ghazel menangis didepan orang. terakhir dia menangis saat pemakaman ayahnya, itupun hanya Han yang melihat dia menangis.


"Maafkan saya Indah," Ghazel melepaskan pelukkannya, menatap sendu wanita yang saat ini berada di hadapanya, tanganya terulur menghapus airmata Indah yang sudah bercampur dengan air hujan, mereka berdua sudah sama basah payung yang di tangan Ghazel sudah terlempar ntah kemana.


Indah menatap Ghazel, pandangannya semakin memudar dan Brukkk.. Indah pingsan.


Dengan tergesa-gesa Ghazel membawa Indah masuk kedalam mansion mengendongnya ala bridal style, semua pelayan cukup terkejut dengan kedatangan boss mereka.


"Siapkan air untuk membersihkan Indah" titah Ghazel pada pelayan mansion nya.


"Saya tunggu di kamar saya." Ghazel melanjutkan langkahnya menuju lift, menekan angka 3 di sana, dimana langsung mengarahkan langsung kekamar nya.


Dengan pelan Ghazel membaringkan Indah di kasurnya. Ghazel sengaja membawa Indah kekamarnya, dan Indah yang pertama merasakan kasur tidur di sana.


"Maafkan saya Indah." Ntah itu permintaan maaf keberapa kali Ghazel lontarkan.


Pintu kamar Ghazel di ketuk, "Masuk!" titah Ghazel, masuklah pelayan yang memang di khususkan untuk Indah. "Tuan ini airnya, izinkan saya mengompres nyonya dan menganti pakaiannya" tutur pelayan itu sambil menunjukan pakaian dan sebaskom air untuk membersihkan Indah.


"Silahkan," Ghazel beranjak berdiri dari kasurnya, dia langsung masuk kekemar mandi untuk membersihkan dirinya juga.


disisi lain...


Zahra sedang duduk, sambil melihat kearah El, bocah itu masih nyenyak dengan tidurnya, sejak tadi operasi El sudah selesai di lakukan, bagaimana tidak Ghazel meminta Han untuk menghubungi beberapa RS besar dan menugaskan seluruh dokter hebat spealis tulang untuk menangangi operasi anaknya itu, bahkan dengan jentikan jari rumah sakit tersebut sidah menjadi milik dari keluar Erlanga. berlebihan? ini belum seberapa kata sekretaris Han.

__ADS_1


Air mata Zahra tak henti-hentinya menangis.


Sedangkan di ruangan berbeda, terdapat karlina yang sedang menunggu Neysa, menantu nya itu masih terlelap tidur, Karlina merasa sedih melihat keadaan dari menantu nya itu.


Han tersenyum mengerikan, saat tau dalang dari semuanya, "Hahhahaha..Baskara kau sudah berani-beraninya menampakkan batang hidungmu?, aku terima permainan mu" seringai Han, menatap berap foto dan beberapa bukti yang di dapat dari bawahannya.


"Macam dalam tubuhku, perlu makanan" gumannya tersenyum mengerikan siapa saja yang melihatnya.


Ghazel sudah selesai membersihkan dirinya, begitu keluar dia sudah melihat Indah sudah bersandar di kepala kasurnya.


Leni sebagai pelayan khusus Indah, langsung ingin pamit saat melihat kehadiran tuan besarnya, "kalau begitu saya pamit dulu, tuan-nyonya"


"Leni, antar saya kekamar saya" ujar Indah, hendak turun dari kasur Ghazel.


"Kau keluarlah, Indah akan kesini" ucap Ghazel sudah berdiri disamping sisi sebelah kasur.


"Baik tuan" Leni langsung keluar, tak ingin menganggu.


Indah engan melihat Ghazel.


"Istirahat lah" Ghazel langsung membaringkan tububnya di sampimg Indah.


"Saya kembali kekamar!" final Indah, melangkah keluar, tapi saat di depan pintu dengan cepat Ghazel memeluknya dari belakang, "tetap disini Indah" ucap Ghazel.


Indah diam, dada nya bedesir saat dipeluk oleh Ghazel, senyum seringainya terbit seketika, Ngak sia-sia gue pura-pura pingsan, gue yakin om-om ini akan membuang gue, diakan ngak suka di cintai, gue harus buat dia enek sama cinta gue ini-batin Indah.


"Saya punya kamar sendiri!" ucap Indah datar.


Ghazel menghembuskan napas pelan, dan hufff dia mengendong Indah paksa untuk tidur.


"Ehh..! mesum lo om!, lepas gilaa!"


"Tidur Indah" Ghazel membaringkan tubuh Indah, dengan napas tertahan Indah kaget dengan perlakuan Ghazel.


Ghazel kembali membaringkan tubuhnya disamping indah, dia menyimpan guling sebagai pembatas dirinya dengan Indah.


Indah langsung membelakangi Ghazel, dengan pikiran dan perasaan yang campur aduk membuat dia memutuskan untuk tidur.


Tanpa di sadari Ghazel menatap Indah, dengan senyuman seringainya, Kamu akan terjebak sendiri dengan rencana gila mu Indah, kau membuat saya menjadi gila setengah mati -batin Ghazel.


Bersambung,


update jam 16:00 sambungan chapter ini😊😊


jangan lupa like dan komen,


^^^**Salam hangat ^^^

__ADS_1


^^^Ikatan❤**^^^


__ADS_2