
Ghazel memasuki ruangan kantornya dengan aura yang tidak mengenakkan, pembahasan tentang Naysa benar-benar merusak mood nya. Tidak ada yang salah dengan permintaan Indah, hanya saja Ghazel khawatir karena ia tahu sifat manusia tidaklah cepat berubah terlebih Naysa, Ghazel sangat mengenal istrinya itu.
Meski ia tahu jika disana Naysa baik-baik dan menunjukan perubahan sikap yang lumayan baik, tapi itu belumlah cukup untuk memulangkannya. Ia harus tegas dalam hal ini.
"Tuan, ini laporan terkait penggelapan dana saat ini" Han meletakan dokumen tersebut di meja Ghazel.
"Apa kau sudah menemukan pelakunya Han?," tanya Ghazel keduanya saling bertatap.
"Saya belum bisa memastikan apakah dugaan saya benar tuan, tapi saya janji akan memberikan kabar baik segera" jelas Han, seperti yang Han ucapkan tidaklah mudah menangkap seekor tikus yang sudah tau akan adanya ancaman untuk mereka. Sejauh ini ada beberapa oknum yang sangat ia curigai tapi itu semua belum pasti.
"Sudah hampir empat bulan, dan belum ada perkembangan?. Mereka yang bermain terlalu bersih atau kinerja mu dan yang lainnya semakin menurun Han?"
"Maafkan saya Tuan," hanya itu yang bisa Han katakan. ingin sekali Han mengatakan jika sebulan terakhir waktunya dihabiskan dengan melakukan hal-hal yang demi tuhan Han tidak ingin lagi itu terjadi dan semua ulah nyonya muda-nya itu istri anda sendiri tuan, ingin sekali Han mengatakan itu. Tapi lupakan, dia masih sayang nyawa.
"Segera beri laporan, dan minta bantulah pada Renzo dan Naka"
"Baik tuan." Han berjalan kembali di mejanya.
...****************...
Hahahaha...
"Lihat ma, sedikit lagi aku bisa menghancurkan Ghazel sialan itu!. Masa-masa bahagianya sudah cukup sampai disini saatnya ia mengalami penderitaan!" ucapnya dengan suara menggema.
__ADS_1
"Mama juga sudah muak dengan mereka semua, tapi Tora apakah kau benar-benar yakin dengan rencana ini?"
"Sejauh ini rencanaku berjalan lancar, kali ini Ghazel akan benar hancur!" seringainya.
Wanita paruh baya itu ikut tersenyum, ia sudah tidak sabar menguasai seluruh harta Erlangga dan menginjak-injak para penghuninya itu.
Tora, pemuda itu sangat berambisi untuk menjatuhkan Ghazel. Padahal berkat keluarga Ghazel ia dan sang mama bisa hidup enak seperti ini, diberikan fasilitas mewah, dan di anggap keluarga oleh Erlangga bukan sesuatu yang biasa tapi sangat luar biasa.
dan Tora tidak puas akan itu semua, ia seakan kalap mata dan mulai serakah dengan semuanya. Ia ingin memiliki semua apa yang Ghazel punya, ia merasa dirinya lebih pantas untuk menyandang semua itu tanpa tahu hal apa yang Ghazel korbankan untuk berada di posisi sekarang.
Erlangga tidak akan sebesar sekarang tanpa Ghazel, mereka memang sejak dulu keluarga terpandang tapi, tidak sebesar ini. Alm. Papa nya memang pebisnis sukses dan hampir bangkrut disaat kematian Papa Ghazel, dan Ghazel saat itu masih usia muda tapi dituntun untuk terjun di dalam zona yang dimana saat itu dia belum pantas untuk masuk ke zona itu, Zona yang pelan-pelan merenggut senyuman di wajahnya, kebebasannya, dan kewarasannya.
Orang lain saat muda bersenang-senang, nongkrong, jalan-jalan, pacaran dan lain-lain, tapi Ghazel harus belajar mati-matian dari pagi ketemu pagi, mengurus perusahan, bertemu banyak klien dan menyakinkan banyak investor untuk percaya akan kemampuannya, bahkan ia sempat di ingin menyerah jika saja tidak memikirkan keluarganya.
Tapi balik lagi, setiap orang punya kualitas dan hidup yang berbeda-beda bukan. Usaha tidak akan mengkhianati hasil, dan inilah Ghazel sekarang.
Tora hanya melihat hasil tanpa melihat usaha dari seorang Ghazel, jika ia melihat betapa sulitnya sosok seorang Ghazel mungkin ia akan berpikir dua kali untuk melalukan tindakan ini.
Bagaimana bibi Jen?, ia hanya berpikir jika itu bukanlah sesuatu yang sulit. Karena ia dulu juga berada di sisi Ghazel bibi Jen merasa jika ia pantas menerima ini semua karena ia yang merawat Ghazel. Pikiran kuno.
...****************...
Ghazel berjalan menuju ruangan pertemuan dirinya dengan Mr. Fang Xiling salah satu rekan bisnisnya dari Taiwan. Ditemenin Han dan beberapa ajudannya, "Han, apakah kau yakin dengan laporan yang kau peroleh itu?" tanya Ghazel disela jalannya.
__ADS_1
"Iya tuan, sekretaris beliau sendiri yang memberi tahu" jawab Han.
"Baik, mari kita dengar langsung dari mereka" ucap Ghazel. Keduanya melangkah menuju ruangan.
"Jadi perusahan Deyoung yang membantu mereka?" ulang Ghazel menatap kearah sekretaris dari rekannya itu, "Iya tuan, perusahaan Deyoung dan Hamura masuk dalam data, saat mata-mata menyelidiki disana Ceo Deyoung Choi do jun dan Hemazaki edo Ceo dari Hamura, menurut laporan keduanya ada hubungan dengan salah satu orang anda" jelas Xiao feng.
"Tapi GRE tidak pernah mengikat kontrak dengan dua perusahaan itu? Kalian tau sendiri kualitas dua perusahaan itu bagaimana" imbuh Ghazel.
"Maka dari itu kami kesini" sambung Fang xiling.
"Ada ini," Choi feng memberikan selembar foto ke hadapan Ghazel, "Apa anda mengenalnya?, dia pernah bertemu dengan Choi do jun saat di Korea"
"Tentu saja aku mengenalnya dengan sangat baik" senyum Ghazel.
"Saya akan investasikan 3% lagi saham saya di perusahaan anda Mr. Fang Xiling, saya harap itu bisa membantu anda saat ini. Terima kasih informasinya"
Kalian tahu pengkhianatan yang paling menyakitkan saat di lakukan oleh orang terdekat kita, benar-benar sakit. Itulah yang dirasakan Ghazel saat ini. Wanita yang sudah ia anggap seperti ibunya sendiri membuat luka begitu dalam di kehidupannya.
Tapi balik lagi, Ghazel harus berlaku adil bukan, dia tidak bisa keluarganya di ganggu seperti itu. Bersumpah akan membalas mereka itulah tekad Ghazel.
Bagaimana bibi Jen dan putranya bisa berlaku jahat seperti itu, oke jika Tora mungkin Ghazel bisa mengerti tapi ini bibi Jen. Ghazel menatap kosong kearah jendela kantornya, pikiran dan perasaannya sedang berperang saat ini saat logika menolah perasaan maka si pemilik tubuh akan merasa sakit. Ghazel dalam titik yang tidak ada sudutnya.
**Akhirnya akun ini bisa ku buka, aku lupa pake email yang mana, dan ternyata aku Login lewat akun Facebook dan baru ingat sekarang.... **
__ADS_1
Mabok nangis...