IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 87


__ADS_3

...««Selamat membaca»»...


...Tidak perlu adal alasan untuk aku mencintai suamiku_ Indah*...


...«««...


Sebelumnya ¦


Mansion Rauna, sudah terlihat dari kejauhan, semakin dekat mobil mereka, semakin jelas pula pendampakan dari mansion tersebut. terlihat sudah ada tuan Rauna berserta istri dan anak-anak mereka menyambut kedatang dari keluarga Ghazel.


...«««...


Tiga buah mobil Ghazel berhenti, tepat didepan Mansion Agung, pintu mobil mereka dibukakan oleh salah satu pelayan, mereka dipersilahkan untuk keluar.


Satu persatu anggota keluarga Ghazel keluar dari mobil. mobil pertama diisi oleh, Ghazel, Indah, Naysa, Zahra dan El. mobil kedua diisi oleh, Karlina, Han, dan Lydia, sedangkan mobil ketiga diisi oleh para pelayan yang sengaja mereka bawa.


Setelah Ghazel keluar, barulah Indah, senyumnya mengembang saat melihat anggota keluarga sudah berdiri diatas mansionnya.


Indah menoleh ke Ghazel, seperti meminta izin untuk naik terlebih dahulu, dan Ghazel hanya bicara, "Sama-sama, tidak sopan jika bertamu dengan tingkah sebrono" ujar Ghazel pelan.


Indah cemberut, apanya yang bertamu, inikan rumah keluarganya, pikir Indah.


Ghazel berjalan terlebih dahulu, menaiki setiap tapak tangga mansion milik Agung mertuanya itu. diikuti oleh yang lainnya, Indah semakin tersenyum lebar dikala langkahnya semakin dekat.


Sampai ditangga terakhir, Indah berdiri tepat disamping kanan Ghazel sedangkan kiri Naysa, " Selamat datang tuan Ghazel, dan keluarga," sambut Agung.


"Terima kasih," balas Ghazel


"Bundaaaa," Indah menghambur dipelukan sang bunda.


"Gimana kabar kamu baikkan nak?," tanya Anna, memegang wajah putrinya, Indah hanya mengangguk sebagai jawaban.


"Ayahhh.." Indah berjalan kearah Agung, dan memeluknya.


"Ayah senang kamu pulang," ucap Agung membalas pelukan sang anak.


"Kak Ryn, hiks.." Indah memeluk sang kakak menyalurkan semua kerindunnya,


"Auliaaaaa....hikss," Indah memeluk sang adik, dan dibalas oleh Aulia yang sejak tadi menanggis.


"Bang An--"


"Indah.." panggil Ghazel, sentak Indah gagal memeluk abangnya itu, padahal ia ingin memeluk semua anggota keluarga.


Seakan sadar situasi Agung dengan cepat mempersilahkan mereka masuk, "Silahkan masuk," ucap Agung, tersenyum ramah.

__ADS_1


Sebelum melangkah masuk, Ghazel menarik Indah untuk berjalan disampingnya, dengan senang hati Indah melakukan itu.


'Jadi ini rasanya bertamu dirumah sendiri?,' Indah membatin.


Sudah masuk dalam kediaman Agung, kini mereka tengah duduk diruangan tamu. beberapa makanan ringan terjadi di atas meja, dan minuman hangat.


Melihat yang tersaji disana adalah kopi panas, membuat Indah merasa tidak enak, karna yang dia ketahui, jika suaminya itu tidak terlalu menyukai kopi.


"Silahkan diminum," ujar Agung.


Mereka pun mengangguk, melihat Ghazel akan mengambil kopinya, Indah langsung menghentikannya, "Mas!," ucap Indah.


Ghazel langsung melihat Indah, yang tadi mereka ingin minum langsung terhenti, apalagi Naysa langsung menyimpan kembali cangkir kopinya. bahkan Agubg dan Anna menatap Indah heran, mereka hanya berpikir apakah putrinya mengira ada racun di gelas itu?.


Seakan mengerti akan tatapan yang dijatuhkan pada dirinya, Indah tersenyum canggung, "Mas Ghazel, tidak terlalu menyukai kopi, Indah akan bikinkan teh, tunggu sebentar!," Indah langsung bergegas menuju dapur, tapi langkahnya terhenti karna suara lain, "Mami!, El juga mau susu!, El kan tidak minum kopi," ucap El dengan malu-malu.


Indah tersenyum, "Oke, El," kembali melanjutkan langkahnya menuju dapur.


"Aku pikir akan ada racun dikopi ini," guman Naysa pelan, melihat Zahra meminum kopi dan tidak mereaksi apa-apa, akhirnya Naysa ikut minum, dia tidak ingin tidak menghargai jamuan orang.


"Pasti Indah sangat merepotkan,--" Agung tersenyum, "anak itu sangat manja, tapi hari ini saya melihatnya bertindak sangat berbeda," ujar Agung senang.


'Sepertinya putriku bahagia,' batin Agung, merasa lega, ia pikir putrinya akan datang dengan kondisi yang mengenaskan, karna jujur agung masih belum yakin dengan Ghazel.


Setelah beberapa saat Indah membawakan nampan yang berisikan segelas teh, dan susu coklat untuk Ghazel dan El.


"Ini mas," Indah menaruh teh tersebut dimeja depan Ghazel, "dan ini untuk El" senyum Indah, ia pun meberikan susu tersebut pada El.


"Maacih mami," ucap El senang, ia pun langsung meminum susu itu dengan terburu-buru.


"Pelan-pelan El," peringat Zahra.


El hanya mencengir senyum.


"Saya sangat senang, kalian mau menyempatkan waktu untuk datang disini," ujar Agung, membuka obrolan.


"Kami juga sangat senang bisa kesini, terlebih untuk hari spesial anda," balas Ghazel.


"Sebaiknya, kita makan malam segera, aku yakin mereka pasti pada kelelahan dan ingin beristirahat segera," ucap Anna, tersenyum kearah mereka semua.


"Baiklah, mari kita keruangan makan segera," ajak Agung beranjak dari tempatnya.


"Bisa saya pakai toiletnya?," tanya Karlina.


"Silahkan Nyonya karlina," balas Anna, toiletnya berada di lorong sana, Anna mengarahkan pada Karlina.

__ADS_1


"Biar Indah yang antar mama, ayok ma," pungkas Indah, Karlina pun langsung mengikuti langkah Indah.


"Kak Indah, Lydia ikut!!!" ucap Lydia mengejar Indah dan mama-nya.


"Ayok!," ucap Agung kembali membawa romongan Ghazel keruangan makannya.


Semuanya sudah duduk ditempat masing-masing, mereka belum memulai makan, karna Indah berserta mama Karlina, dan Lydia belum kembali dari toilet.


Airyn yang sejak kedatangan Ghazel tadi diam, matanya terus menatap kearah Ghazel, banyak sekali pemikiran-pemikiran yang bersarang keotaknya mengenai suami adiknnya itu.


ia bertanya-tanya bagaimana perlakuan Ghazel terhadap adiknya, apakah rencana Indah dulu berhasil?, dan ia menyesal seandainya saja dirinya dulu menikah dengan Ghazel, pasti adiknya itu masih hidup bebas, dan bahagia sekarang.


"Berapa usia kandungan kamu Ryn?" tanya Zahra.


Indah, mama Karlina, dan Lydia sudah datang, "Maaf membuat kalian lama menunggu," ujar Karlina tidak enak.


"Tidak apa-apa nyonya Karlina," senyum Anna.


"Lima bulan, mau masuk enam mba," jawab Airyn tersenyum.


"Kak Airyn, lucu pipi gemuk gitu," kekeh Indah.


"Kau akan gemuk jika kau hamil nanti!," balas Airyn tak terima dikatakan gemuk, ayolah wanita mana yang suka dengan kata gemuk?.


Uhukk....


Ghazel seketika terbatuk, mendengar kata hamil, hal itu tidak pernah dalam bayangan Ghazel.


"Doakan saja, semoga Indahku ini cepat memberikan ku cucu," senyum Karlina, mengelus rambut Indah sayang.


Melihat perlakuan Karlina terhadap indah, Anna sedikit lega, setidaknya putrinya itu mendapat mertua yang benar-benar sangat menyanyanginya. Airyn dan Aurel pernah cerita padanya, jika keluarga Erlangga sangat baik, bahkan mereka diperlakukan sangat hangatnoleh mereka semua, tapi Anna masih kurang percaya, karna belum melihat langsung, dan hari ini terbukti.


Indah hanya membalas tersenyum, matanya sesekali melirik kearah Ghazel.


"Mari kita mulai makannya," ucap Agung.


Mereka semua pun langsung makan, menikmati hidangan yang telah disajikan, sedangan para pelayan Ghazel sudah disiapkan ditempat yang berbeda.


...««Bersambung»»...


Sebenarnya update kamarin, karna keasikan main lupa deh🙈, maaf yaa🙏


Silahkan like, komen, tambah kefavorit...


Jangan lupa follow akun ini juga yaa💅💆

__ADS_1


__ADS_2