
Dokter Aska telah berada di kediaman Agung lima menit yang lalu. Dengan telaten ia memeriksa setiap detail keadaan dari Indah.
Di sisi lain, Agung, Ana, Aurel dan Lolita berdiri di tidak jauh dari tempat tidur Indah, menatap cemas ke arah Indah.
Setelah di telpon Aurel tadi, Agung langsung pulang, ia meninggalkan rapat penting dari klien jauhnya. Saat ini kondisi putrinya lebih penting.
Dokter selesai memeriksa keadaan Indah, dengan cepat Agung melangkah menghampiri Dokter aska, disusul oleh Ana, Aurel dan Lolita.
"Bagaimana dok?" tanya Agung dengan raut wajah cemasnya.
Mereka menatap cemas ke arah Dokter, berharap tidak ada penyakit serius yang menimpa Indah.
Dokter Aska tersenyum kecil, "Putri anda baik-baik saja pak Agung," mereka semua menapas lega.
"Hanya saja dia sedikit stress dan kelelahan membuat dia jatuh pingsan, terlebih saat ini dia sedang mengandung membuat kondisinya semakin lemah, tapi dipaksakan oleh nona Indah. Sebaiknya pola hidup nya di jaga." jelas dokter Aska.
Kalimat terakhir dokter Aska membuat semuanya terdiam mencerna dengan baik setiap bait katanya.
"Pu-putri saja hamil dok?" tanya Ana menyakinkan pendengarannya.
"Iya..usia kandungannya sekarang 2 mau jalan ke-3 minggu" jelas dokter Aska, "Selamat tuan Agung" sambung dokter Aska tersenyum ramah.
Setelah itu dokter Aska pamit untuk kembali ke Rumah sakit.
...
Entah ini kabar gembira atau menyedihkan untuk mereka, mereka semua terdiam. Tidak ada yang bicara setelah kepulangan dokter Aska tadi.
Apa yang harus mereka lakukan?, bagaima cara menyampaikan berita ini?, apakah Indah bisa menerima ini?, banyak pertanyaan dan ketakutan yang menghantui isi kepala mereka saat ini.
Terlebih Ana, ia sangat tidak menyangka jika Indah hamil anak Ghazel.
Terima kasih tuhan, setidaknya dengan ini mereka tidak bercerai, semoga saja. Batin salah satu di antara mereka.
"Bagaimana cara kita memberitahukan Indah?" Ana bertanya memandang sendu kearah Indah yang masih tertidur di atas kasurnya.
Mereka semua masih berada dikamar Indah, menunggu sang empu siuman.
"Tinggal sampaikan fakta yang ada bun," Aurel menjawab sesantai mungkin. Lagian ia pikir hal itu tidak terlalu buruk, mau disembunyikan? Tidak mungkin.
Senang atau tidaknya Indah, dia harus menerimanya kan?.
"Bagaimana jika Indah tidak--"
"Itu hanya pikiran bunda doang!" Aurel memotong ucapan bundanya, ketahuilah jika Aurel ikut kesal dengan bundanya saat ini.
"Ayah yang akan bicara," ucap Agung.
"Ssstt..." Indah membuka pelan mata nya. Sebelah tangannya memegang pelan kepalanya yang masih terasa sedikit pusing.
"Kak," sapa Aurel tersenyum.
"Aurel," Indah memfokuskan pandangannya, dapat ia lihat disana ada ayah, bunda berserta Lolita.
Indah hendak ingin duduk, dengan cepat Aurel memegangi kedua bahu Indah, "Pelan-pelan kak" ujarnya.
Indah mengangguk.
"Kenapa ayah ada disini?, aku kenapa?"
Agung maju beberapa langkah, ia mendudukan dirinya didepan Indah, "Masih pusing nak?" tanya Agung.
"Sedikit,"
__ADS_1
Agung mengelus pelan kepala Indah,
"Besok-besok jangan terlalu banyak pikiranya, apalagi sampai pingsan gini, ayah khawatir, dan makan yang teratur" tutur Agung masih mengelus kepala putrinya.
"Emang aku sakit apa yah?" Indah menatap penuh tanya.
Ana menatap Indah lekat, ia berpikir apakah perubahan mood Indah akhir-akhir ini karna sedang hamil?, jika iya berati...
"Kamu ngak sakit nak,"
"Terus, kenapa ayah bicara seolah-olah aku sedang sakit berat"
"Dengarin ayah," Agung menatap lekat Indah, sungguh ia tidak sanggup melihat mata putrinya saat ini. Banyak sekali kesedihan yang tergambar disana. Agung menarik napas pelan, "Apapun yang terjadi ingat kamu masih punya kita, keputusan ada di tangan kamu, tapi ayah harap kamu dapat menerimanya dengan penuh lapang dada"
Indah semakin cemas, pikirannya berkelana entah kemana, ia berpikir apa Ghazel sudah setuju bercerai dengan nya? Tapi kenapa Indah merasa berat hati?.
"Apa.....-"
"Kamu hamil nak,"
"Hamil?.." Bagaikan tersambar petir di siang bolong, mendadak Indah merasa dunia berhenti berputar. Mencerna kata demi kata yang baru saja ia dengar, mata nya menatap dalam mata ayahnya, mencari kebohongan disana, tapi sayangnya, Indah tidak menemukan secuil kebohongan. Ia beralih menatap satu persatu orang disana, dan ia mendapatkan anggukan kecil, dan ekspresi sang bunda menunjukan bahwa semua itu benar.
Indah menarik napas pelan, dan membuangnya dengan berat.
Ini akan menjadi berita bahagianya jika, hubungannya denga Ghazel baik-baik saja.
Ini akan menjadi Anugerah terbaik yang ia dapatkan jika Ghazel disini.
Tapi...kenapa?, kenapa dia hadir disaat seperti ini?, disaat hubungan Indah dan Gahzel sedang berada di ujung tanduk?, apa Indah harus bahagia atau sedih?. Bahkan untuk bereaksi saja, Indah tidak sanggup rasanya.
"Ayah, Indah mau sendiri" ucapnya pelan,
Agung mengangguk paham, ia pun memberi kode pada yang lainnya untuk keluar.
Pintu kamarnya tertutup selang beberapa saat.
Hiks! Pecah sudah tangis Indah. Hiks..
"Heii...nak, mami harus bagaimana?" ucap Indah terisak, mengelus perutnya yang masih rata.
Indah bingung saat ini, "Apa papa kamu mau nerima kamu nak?, mama masih marah sama papa kamu, hiks!"
_________________________________________
Sudah sampai di Jakarta, Ghazel dan Han langsung menuju kekantor utama. Mereka baru saja di beri kabar jika perusahan utama sedang di geledah oleh pihak polisi.
Menurut info yang didapatkan, mereka mendapatkan tuduhan pengelapan data dari pihak rekan kerjanya.
"Baru saja ingin istirahat" guman Ghazel.
...
Sampai di depan kantor, sudah banyak mobil terpakir didepan kantornya.
"Kumpulkan semua pemimpin setiap cabang GRE" titah Ghazel pada Han.
"Baik.."
Ghazel dan Han menuju ruangan berkas, dan pendataan. Disana sudah ada beberap karyawan yanh berusaha mencegah pengerakan petugas pengeledahan.
Bahkan para penjaga kantornya sudah bejejer mencoba menghalangi. Sialnya mereka tidak banyak bisa melawan karna itu bersangukatan dengan hukum.
Kedatang Ghazel dan Han, berhasil menghentikan semua pergerakan mereka.
__ADS_1
Tatapan tajam penuh mengintemigasi, membuat siapa saja bergidik ngeri.
"Kami mendapatkan surat perintah, untuk melakukan pengeledahan dikantor anda tuan Ghazel," ucap salah satu pria yang Ghazel yakini adalah pemimpin mereka.
"Di saat saya tidak ada diperusahaan?,"
"Kami tidak perlu menunggu kedatangan anda, karena ini adalah perintah atasan kami."
"Cari apapun yang ingin kalian cari, rapikan setelah itu" Ghazel meninggalkan mereka dengan pandangan tidak percaya.
Mereka pikir Ghazel akan mengamuk, atau semacamnya.
...
"Anda yakin membiarkan mereka tuan?"
"Mereka hanya mencari kesalahan dari perusahaanku, dan kau tau kesalahan tidak disimpan di tempat terbuka. Semua menutupi kesalah dengan sangat teliti termasuk kita."
Han tersenyum, benar pikirnya. Mereka hanya akan menemukan data Eksternal saja.
"Bukankan mereka akan mengeledah seluruh kantor?"
"Apa mereka sanggup?, " seringai Ghazel.
Jawabannya tentu saja tidak.
"Han, saya rasa kamu bisa urus ini sendiri tanpa campur tangan saya," Ghazel berjalan menuju keruangannya.
"Tentu tuan," balas Han.
Mereka sudah sampai diruangan kebesaran.
Ghazel langsung mendudukan dirinya di bangku kebesarannya.
Hah...lenguh Ghazel menutup sekejap matanya.
Bau apa ini? Ghazel langsung membuka matanya. Ia tidak menyukai bau ruangannya.
"Han..apa kau menganti pewangi ruangan ini?"
Han sedang memainkan tablet-nya langsung mendongkak menatap heran tuannya itu.
"Tidak tuan, ini pewangi ruangan yang biasa pakai." ucap Han. Lagian Han tentu tidak sesantai itu hanya untuk menganti pewangi ruangan ini.
"Kenapa bau-nya sangat tidak enak!, besok ganti!"
Apanya yang tidak enak?, jelas-jelas wanginya sangat menyegarkan begini, batin Han.
"Baik tuan" lebih baik Han mengiyakan saja.
"Wangi yang manis-manis," timpal Ghazel yang berhasil membuat Han spontan menoleh ke arah tuannya itu.
Cukup aneh!...
________________________________________
Setiap adegan + dialognya nyambung ngak?.
Pendapat kalian gimana?
Sekiranya ikhlas untuk like dan komen.
©Dreamnight ft CK®
__ADS_1