IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 88


__ADS_3

...««Selamat membaca»»...


Setelah selesai makan malam, mereka semua kembali keruangan tamu untuk kembali mengobrol ringan.


terlebih Anna dan Karlina, sudah akrab mengobrol mereka juga saling bertukar resep makanan.


Waktu sudah menunjukan pukul sembilan, Han mengajak Karlina dan yang lainnya untuk kembalu ke apartemen, karna mereka perlu istrirahat, Ghazel sendiri pun menyuruh keluarga pulang untuk istrirahat.


terlebih mamanya wanita paruh baya yang retan kelelahan.


"Kami semua pamit dulu, maaf tidak bisa menginap disini. terima kasih atas hidangannya tadi, dan maaf merepotkan," ucap Karlina, sebelum pamit.


"Tidak masalah, nyonya Karlina, kami sangat senang, dan hati-hati dijalan."


"Besok kesini lagi ya, ma, mba," ucap Indah, memeluk Karlina, dan Zahra, sedangkan Naysa, tidak dulu Indah masih segan.


"Iya sayang, mama pemisi dulu, Zel mama pergi dul" ujar sang mama.


"Hati-hati ma, Han jaga mereka" perintah Ghazel.


Setelah saling berpamitan, Mobil yang ditumpangi oleh Karlina dan yang lainnya pergi meninggalkan halaman mansion Rauna tersebut.


Melihat mobil sudah tak terlihat Indah, Ghazel dan yang lainnya masuk kembali kedalam.


"Ayah, bunz, kak, bang, Indah kekamar dulu ya, yukk mas." ajak Indah,


"Iyaa, kalian istirahatlah," balas Agung, ia tahu jika putri dan menatunya itu pasti juga kelalahan karna perjalan tadi.


Indah tersenyum, ia pun membawa tangan Ghazel untuk mengikuti dirinya, "Ayok mas," ucap Indah.


"Saya permisi dulu," ucap Ghazel pada anggota keluarga Indah.


Mereka semua mengangguk, bagaimana cara Indah tersenyum, mengandeng tangan Ghazel tak lupit dari pandangan keluarganya. "Sepertinya putriku itu menyukai monster itu," kekeh Agung dan semuanya, tak kecuali Airyn.


«««


Sampai didepan pintu kamarnya, Indah langsung membuka pintu dan aroma khas kamarnya tercium, aroma lavender, aroma yang menenagkan, dapat Ghazel simpulkan jika istrinya ini menyukai harum lavender, karna dikamar mereka Indah juga memasang pengharum lavender.


"Masuk mas," ucap Indah, ia sudah merebahkan tubuhnya pada kasur kesayangannya, yang sudah sangat ia rindukan.



"Selain bau lavender, kau juga menyukai warna ungu?, warna janda," guman Ghazel yang masih didengar oleh Indah.


Indah langsung bangun dari tidurnya, dan duduk, matanya menjerling tajam kearah Ghazel, "Enak aja warna janda, asal mas tau warna ungu itu warna yang bisa bikin tenang, lagian mas baeruntung mas orang pertama masuk kamar aku" ucap Indah menaik-naikan sebelah alisnya.


"Masa?, anggota keluarga kamu ngak pernah?"


"Maksudnya, selain anggota keluarga, ihh mas ngak bisa romantis!" gerut Indah, ia kembali membaringkan tubuhnya.


Ghazel melangkah kearah Indah, "Emang romantis gimana?"


"Mas, serius ngak tau?, mas kan udah punya bini 2 dan ngak tau gimana romantis?, K-E-T-E-R-L-A-L-U-A-N." ucap Indah tak percaya, ia menekan kali keterlaluan di akhir kalimatnya.


Tidak terima diremehkan oleh istri mudanya itu..

__ADS_1


Secepat kilat Ghazel sudah mengukung Indah, kedua tangannya menahan bobot tubuhnya, Indah yang berada di bawa Ghazel nampak shock dan gugup, pasalnya ia bisa dengan jelas melihat wajah tampan sang suami tanpa penghalang,


"Napas Indah," ucap Ghazel pelan.


Mata keduanya saling menatap, "Apa ini termasuk romantis?" tanya Ghazel dengan suara pelan.


'Ini bukan romantis, tapi roman-roman gue mati ditatap sedekat ini, meski tubuh ngak nempel tetap aja tuhan, selamatin Indah!' Indah teriak membatin, ini terlalu mendadak, dan terlalu membuat jantungnya lemah.


Seakan terhipnotis dengan tatapan Ghazel, ntah keberanian dari mana, tangan Indah mengulur mengelus waja tegas Ghazel, "Mas ganteng," senyum Indah, seraya helusannya.


Ghazel yang diperlakukan seperti itu, mencoba menahan sesuatu yang selama ini ia tahan, bohong jika ia tidak tergoda selama ini dengan istrinya ini. Dan satu yang paling Ghazel sukai, yaitu detakan jantungnya, sangat mengelikan.


"Indah, saya mau cium kamu," ucap Ghazel menatap dalam mata Indah.


'Elah, kenapa pakai bilang segala sih, bilang iya malu, bilang tidak tapi...' Indah membatin bingung dan kesal.


"Saya perlu izin kamu, karna itu bibir kamu, kalau bibir saya ngak perlu izin lagi," jelas Ghazel.


Indah tersenyum, pipinya merona, "Silahkan" cicit Indah.


Ciumanan itu pun terjadi, atas dasar kemauan masing-masing, Indah memejamkan matanya, sensi yang dulu pernah ia rasakan, kini kembali ia rasakan. dan ciuman Ghazel benar-benar memabukan menurut Indah.


Keduanya sudah salam melepas pengutan, masing saling menatap, posisi mereka juga sudah sejak kapan semakin intim, dengan satu tangannya Ghazel memnahan bobot tubuhnya, agar tidak terlalu memberati Indah, "Mas, mau lagi," cicit Indah,


"Itu ciuman kedua aku ja--"


Cup!!!


"Suka?"


Indah mengangguk malu, pipinya sudah semerah tomat, " Selain pelukan lakukan ini jika saya masuk kamar, mau?" tanya Ghazel.


"I love you mas," ucap Indah.


"Saya tahu," itulah balasan Ghazel, Indah sama sekali tak masalah, ia cukup sedang dengan Ghazel seperti ini.


Dengan berani, Indah memeluk Ghazel, "Saya berat," ucap Ghazel disela pelukannya.


"Ngak apa-apa," balas Indah,


Merasa tidak tega, dengan secepat kilat, Ghazel merubah posisinya, jadilah Indah yang berada diatas tubuhnya, "Dengan ini kamu bisa meluk saya, tanpa harus keberatan," ucap Ghazel.


Indah kembali menelungsupkan wajahnya di curuk leher sang suami, Indah tersenyum bahagia.


"Indah ini ba--," ucapan Airyn terhenti, ketika melihat pemandangn yang tidak ia duga-duga.


"Kak Airyn, " pekik Indah terkejut, saat melihat kakaknya berdiri di amang pintu kamarnya, sentak ia langsung turun dari tubuh Ghazel.


Tak seperti Indah, Ghazel bangun dengan santai, menatap Airyn lekat.


"Maaf, kakak ngak maksud ganggu, kalau begitu kakak pergi dulu," ucap Airyn tak enak, karna menganggu dang adik.


"Ehhh...kak ngak apa-apa, ayok ma--"


"Kakak turun dulu, jangan lupa pintu ditutup" pungkas Airyn tersenyum, ia langsung pergi.

__ADS_1


«««


Bima baru datang setelah mengantar kedua orangnya pergi menemui beberapa kerabatnya, ia masuk langsung disambut hangat oleh oleh istrinya Airyn.


"Indah udah datang?" tanya Bima, sambil duduk diruangan keluarga.


"Udah Bi, kamu mau minum apa?," tanya Airyn pada suaminya.


"Air putih aja Ai," Airyn pun langsung kedapur mebgambilkan segelas air putih untuk suaminya.


sampainya didapur, Airyn melihat bundanya masih berkutat dimeja kompor, "Bunda ngapain?" tanya Airyn.


"Buatin ayah kamu teh jahe, kamu?"


"Oh, ambil air putih buat Bima, bun." ucap Airyn, sambil membuka kulkas mereka. dan menuangkan air dingin dalam botol kegelas.


"Oh ya, Ryn, kamu tolong anterin model baju keluarga kita liatin ke Indah, dia mau model yang gimana buat besok malam," ucap Ana,


"Iya, ma, nanti Airyn kasih liat Indah, Airyn kedepan dulu ya ma,"


"Iya," Airyn pun langsung meninggalkan dapur, dan pergi mengantarkan minuman untuk Bima suaminya.


"Ini minumnya Bi," Airyn meletakan segelas air putih dingin di meja depan Bima.


"Terima kasih Ai," Bima tersenyum, langsung mengambil gelas dan meminum airnya.


"Bi, aku mau kekamar Indah dulu, bunda suruh buat kasih liat model baju dulu ya," Airyn pun langsung bergegas pergi keruangn baju mengambil contoh model baju buat Indah, dan ia langsung berjalan kearah kamar Indah lantai 2.


Ada rasa tak enak saat Airyn mau kekamar Indah, pasalnya sekarang ada Ghazel suami adiknya, Airyn hanya takut menganggu mereka, terlebih Ghazel, ia masih sangat canggung.


Kamar Indah sudah keliatan, Airyn heran kenapa pintunya tidak tertutup, tapi Airyn hanya bepikir mungkin Indah lagi beres-beres, jadi ia memutuskan mempercepat langkahnya,


tanpa mengetuk Airyn langsung berucap, "Indah ini ba--," ucapan Airyn terhenti, ia tidak tau harus bereaksi seperti apa?, adiknya sedang bermesraan dengan Ghazel? 'Apa Indah sudah mencintai Ghazel?, tapi..' batin Airyn bertanya.


Airyn memutuskan untuk segera pergi, meski Indah sudah bilangn tidak apa-apa, tetap aja dia tidak enak. sebelum pergi tak lupa Airyn berkata, "Kakak turun dulu, jangan lupa pintu ditutup," ucap airyn tersenyum. langsung pergi.


Mendengar ucapan kakaknya, Indah sangat malu, "Mas, kak Ryn liat!, gimana?" renggek Indah.


Tak ingin menjawab dan ambil pusing, Ghazel memutuskan untuk mandi, "Saya mau mandi, siapkan baju saya," tutur Ghazel, berjalan menuju kamar mandi Indah.


Dengan pasaan yang campur aduk, Indah memutuskan untuk menyiapkan pakaian tidur untuk suaminya, ia membuka koper milik suami dan dirinya, setelah berpikir beberapa saat akan mengunakan apa Indah memutuskan untuk memakai pakaian tidur warna ungu, sedangkan Ghazel warna abu-abu.


...««Bersambung»»...



Gambaran visual toko Airyn



Gambaran toko visual Aulia


Note: Gambar yang digunakan hanyalah contoh semata, tidak bermaksud apapun, jika ada kesamaan gambar pada cerita lain, wajar karna gambar yang digunakan tersebar luas, sumber gambar pinterest.


Jangan lupa, like, komen dan favorit cerita ini,

__ADS_1


fyi: sebenarnya mau update kemarin malam, cuman ngak tau kenapa!, neveltoon uci bermasalah, ngak bisa update😣. dan pagi ini uci coba lagi, siapa tau bisaa


...««Bersambung»»...


__ADS_2