IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 64


__ADS_3

"Ayolah mas, kau tak perlu membelikan ku toko itu" ucap Indah, Indah sungguh tak ingin merepotkan Ghazel apalagi berutang budi.


"Keluar" ucap Ghazel saat pintu mobil terbuka.


"Indah dengar, kau sekarang istri dari Ghazel, jangan mempermalukan diriku karna hanya sebuah donat, memalukan" ucap Ghazel langsung pergi meninggalkan Indah.


Para pelayan berdiri menyambut kedatangan Ghazel dan Indah, Zahra pun sudah berdiri tersenyum.


"Mba" panggil Indah, berlari kecil memeluk Zahra, "Ada apa?" tanya Zahra sambil mengelus pelan kepala Indah.


"Minta suami mba, untuk batalin pembelian toko donat dong" rengek Indah mengadu.


"Suami kamu juga, toko Donat?"


"Zahra, jangan dengarkan dia, dan tolong bawakan saya minuman dingin, kepala saya ingin pecah" tutur Ghazel langsung meninggalkan ruangan tersebut.


"Yaudah, mba mau ambilin mas Ghazel minum dulu"


"Mba," Indah mengekori Zahra, "masa gara-gara Indah bilang ada toko donat yang lucu langsung dibeliin sama mas Ghazel, kelewatan ngak sih?" adu Indah.


Zahra sedang menuangkan air digelas tertawa lecil mendengar omongan Indah, Zahra berpikir Indah belum tau saja apa saja yang bisa Ghazel lakukan.


"Itu belum seberapa Indah, udah ayo"


Zahra hendak berjalan menuju ruangan Ghazel yang berada dilantai atas, "Belum seberapa gimana?"


"Mba aja waktu ngak sengaja mau bikin panti asuhan kedepan Ghazel, eh besoknya mba sudah dikasih panti asuhan, yang sekarang mba pantau, dan kamu tau El aja dibeliin jet pribadi" ujar Zahra, ia tersenyum mengingat bagaiman terkejutnya dirinya saat dibawa kebangunan yang besar yang bertuliskan Pantia asuhan -Zahra Erlangga-, dan sampai sekarang panti asuhan tersebut masih beroperasi bahkan semakin ramai.


"Apalagi mba yang mas Ghazel kasih?"


"Panti asuhan, toko bunga, sama lahan teh yang di bandung" tutur Zahra


"Astagaaaaaa...serius?"


"Kalau mba Naysa?"


"mba kurang tau, tapi yang mba tau mmm..butik, mall Erlangga, dan klinik kecantikan, hanya itu yang mba tau"


"Mas Ghazel kaya banget ya?, ayah Indah aja belum tuh kasih Indah warisan" ucap Indah pelan, tapi masih didengar oleh Zahra.


Saat pintu lift terbuka menampilkan lorong yang mewah diujung terdapat ruangan kebesaran seorang Ghazel, kiri-kanan sisi pintu di jaga empat orang laki-laki berjas hitam.


"Mba, Indah turun aja, mau mandi" Indah berbalik memasuki lift dan menekan angka 3 di tombol lift.


Zahra tersenyum kepada penjaga yang berdiri di keduan sisi pintu Ghazel.


Tanpa diminta penjaga tersebut membuka-kan pintu untuk Zahra, "silahkan nyonya" tutur penjaga tersebut.


"Terima kasih" ucap Zahra tersenyum, ia langsung melangkah masuk, saat sudah berada di dalam ia melihat bagaimana Ghazel sedang asik berkutat dengan dokumenya.


"Mas, ini air dinginya" ucap Zahra meletakan gelas di meja Ghazel.


Ghazel menoleh, sungguh ia tak menyadari kehadiran istrinya itu, " terima kasih Zahra"


"Sama-sama, Mmm..aku dengar kau membelikan Indah toko donat" ucap Zahra, berjalan kearah sofa dan duduk.


"Iya"


Zahra tersenyum, "Sepertinya kau mulai menyukainya mas"


"Aku hanya berlaku adil, sama seperti kalian"

__ADS_1


"Baiklah, aku permisi dulu, dan jangan terlalu banyak duduk disitu, istirahatlah"


"Zahra, aku perlu pelukan"


Lantas Zahra mendekati Ghazel, dia tau suami nya ini pasti sangat lelah.


pelukan terlepas, dan ia langsung pamit keluar.


•••


"Iya, kau hanya perlu menyambutku nanti"


"Baiklah bang, sebentar lagi aku akan pulang"


"Aku ingin kelur sebentar, aku tutup dulu okee!, bye"


Gadis itu tersenyum senang, libur semester sebentar lagi, dan ia ingin segera pulang.


•••


Para pelayan sedang menyiapkan makan malam, berbagai hidangan sudah siap ditata keatas meja, hari ini mereka masak lebih banyak dari biasanya karna permintaan Zahra, sebab kepulangan Naysa, dia ingin menyambut dengan hati bahagia kepulangan dari madunya itu.


"El mau ayam goreng upin-ipin nanti bun" oceh El sambil keluar dari kamarnya.


"Iyaa, sayang" ucap Zahra, mereka melangkah kearah ruang makan.


Indah baru saja selesai melakukan kegiatan yang setiap wanita pasti sangat malas melakukannya. MANDI. ia sempat ketiduran tadi, untung ada pelayan yang membangunkannya, jika tidak dia bisa terlambat makan malam dan akan kena amuk Ghazel.


Setelah berpakaian Indah menuju meja riasnya, menyisir rambut dan memakai sidikit bb cream malam agak kulitnya tidak kering, tak lupa parfum wangi vanilanya.


Sedangkan disisi lain, Naysa merasa khawatir, ia ingin turun tapi takut, "Bagaimana jika Ghazel menarik ku pergi?, hukumanku bagaimana jika dia marah?" Naysa bertanya pada dirinya sendiri, ia berjalan segala arah.


"Berpikir Nay, oke!, apapun yang terjadi aku haris bisa mengambil hati Ghazel kembali, ingat Nay kamu segalanya" dengan berani Naysa keluar dari kamarnya, menuju ruangan makan, katakan jika Naysa nekat, ia sudah tak peduli lagian ia nyonya utama disini.


"Han ada kencan?" Ghazel kaget mendengar penuturan dari mamanya.


"Ghazel tutup dulu" Setelah mematikan panggilan dari mamanya, Ghazel langsung menelpon Han.


•••


"Siapa lagi?" Han berguman, meraba-raba meja disamping tempat tidurnya.


saat melihat siapa yang menelpon Han sentak terbelelak dan segera duduk.


"Halo tuan, ada apa?, apa terjadi sesuatu?, saya akan segera kemansion, tolong jangan matikan panggilan ini" ucap Han, tanpa henti.


Seberang sana Ghazel memutar malas matanya, Han sangat cerewet pikirnya.


"Datanglah dimansion Han" perintah Ghazel.


^^^"Baik tuan"^^^


panggilan putus sepihak, Ghazel langsung pergi keruangan kebesaranya.


"Han, dia dewasa ternyata" kekeh Ghazel.


*Author: jadi selama ini Ghazel anggap Han masih kecil?


Ghazel: author diam!


Okeee*...

__ADS_1


Indah keluar dari lift, senyum selalu terpancar diwajahnya, bahkan ia sudah merasa nyaman di mansion Ghazel, sampai-sampai sudah lama tidak menelpon keluarganya di Bali.


"Kalian mau kemana?"


"Kami akan memanggil tuan Ghazel untuk makan malam"


"Kembalilah, biar saya aja" Indah lantas masuk kembali kelift.


Sampainya di lantai dimana ruangan Ghazel berada Indah langsung melangkah pelan menuju ruangan Ghazel, disana seperti biasa selalu ada penjanga.


"Apa mereka tidak makan malam?"


Langkahnya kian dekat dengan ruangan Ghazel, "Kalian tidak istirahat makan malam?" tanya Indah pada empat penjaga di kedua sisi pintu Ghazel


"Tidak nyonya"


"Turun dan pergilah makan" perintah Indah.


"Tidak ada bantahan, cepat!"


Keempat penjaga saling lirik, mereka tidak mungkin meninggalkan tempat tugas mereka, apalagi ini ruangan yang paling ketat penjagaanya.


"Maaf nyonya, kami akan makan setelah semuanya aman, silahkan anda masuk" salah satu penjaga membukakan pintu untuk Indah.


Indah menatap mereka tajam, mereka sangat sulit di suruh, padahal Indah hanya memintanya makan.


Indah masuk dengan wajah ditekuk, ia kesal tentu saja, aneh bukan.


"Mas" panggil Indah.


"Kenapa kau disini?"


"Makan malam sudah siap, turun"


"Oh, benarkah?, baiklah"


"Bisa kau suruh para penjaga itu turun untuk makan?"


"Hha?, "


"Indah mereka berkerja"


"Kejam!" tutur Indah, Ghazel menatap Indah heran.


"Akan ada pelayan yang mengatarkan mereka makan, kau tenang saja Indah"


"Benarkah?, kau pasti bohong"


"Terserah!" Ghazel langsung keluar meninggalkan Indah.


Ntah kenapa Indah merasa senang saat mengobrol dengan Ghazel.


••••


**Selamat malam,


Jangan lupa vote, like , komen ya,


^^^Salam hangat^^^


^^^IKATAN cinta istri ketiga^^^

__ADS_1


...Terima kasih sudah mampir♡♡**...


__ADS_2