IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter- 91


__ADS_3

Indah dan Ghazel sudah selesai bersih-bersih, mereka tadi mandi berdua biar cepat kata Ghazel, tapi malah berkebun didalam kamar mandi.


soal pengetukan pintu tadi, Indah dan Ghazel tidak membukakan pintu, memang dasar mereka berdua!.


"Ayok mas, buruan aku lapar nih," ucap Indah tak sabaran, sejak pagi mereka belum sarapan, dan tenaga mereka perlu asupan lagi.


"Memang ngak sakit jalan?," tanya Ghazel, ia sudah berdiri didepan Indah.


"Ya sakit, tapi gimana lagi, pelan-pelan jalannya, ayok!," ucap Indah lagi.


"Saya gendong mau?," tawar Ghazel, ia cukup kasian melihat Indah yang, eem kalian taulah ya, habis cetak gol. Ghazel nya mah segar bugar.


"Engak ihh, nanti pada curiga lagi," tolak Indah, ia pun langsung keluar kamar dengan jalan yang cukup pelan, bagian itu nya nyeri banget.


Ghazel ikut keluar, ia berjalan tepat disamping Indah, tangan kirinya memeluk posesif pinggang Indah, sudah sampai dikepala tangga, "Hati-hati turunnya," peringat Ghazel, "Iya," balas Indah.


"Kenapa ngak buat lift aja sih, turun tanggakan lama!," omel Ghazel, ia sungguh kesal, apalagi melihat wajah Indah yang sedikit menahan sakit, dan itu ulah dia.


"Kamu juga, saya gendong ngak mau!," lanjut Ghazel mengomel.


Indah menghembuskan napas pelan," Udah mas, jangan ngomel mulu," ujar Indah.


Sampai dilantai bawah, Indah dan Ghazel langsung menuju dapur, dan ia meminta Ghazel untuk duduk dimeja makan terlebih dahulu, "Duduk dulu mas, biar Indah siapin makanannya," ujar Indah, ia pun berjalan menuju kulkas melihat apa yang ada disana, "Bikin nasi goreng aja deh," menelognya.


Indah pun mengeluarkan beberapa bahan untuk membuat nasi goreng, seperti; Ayam, bawang putih, bawang merah, sawi, cabe, bakso, dan ikan teri. Karna Ghazel menyukai nasi goreng yang ada ikan terinya.


Indah mengupas bawang putih, dan merah, ia ulek tak lupa memberikan garam dan sedikit micin, setelah dirasa cukup halus, Indah memasukan beberapa cabe rawit, dan ikan teri, Ghazel lebih suka ikan terinya diulek langsung oleh bumbunya.


Setelah semua bumbu halusnya selesai, Indah memotong ayam seperti dadu, bakso dipotong kecil, dan daun sawi. Setelah itu barulah ia menumis semua bumbu, memasukan nasi, cukup untuk dua porsi, ayam, bakso, dan dau sawi juga ia masukan.


Indah juga tak menambahkan kecap, karna Ghazel tidak terlalu suka kecap, setelah dirasa pas, Indah menuangkan nasi goreng di atas piring, dan terakhir tinggal goreng telur ceplok.


"Selesai," girang Indah, ia pun langsung membawakan dua porsi nasi goreng dimeja makan, "Ini mas, nasi goreng teri ala Indah" ucap Indah, seraya meletakan nasi goreng didepan Ghazel.


"Wow!, terima kasih Indah," balas Ghazel.


"Silahkan dicoba tuan," kekeh Indah, Ghazel memasang wajah songgongnya, dan mencoba nasi goreng buatan sang istri.


Indah menatap Ghazel dengan raut piasnya, ia takut nasi gorengnya ngak enak, "Gimana mas?," tanyanya penasaran.


"Lumayanlah, bisa buat kenyang," jawab Ghazel, ia kembali menyuapkan nasi goreng ke mulutnya, "Makan, jangan liat saya terus," ujar Ghazel.


Indah pun langsung memakan nasi gorengnya, "Ihh, Enak!," ujar Indah senang.


Agung hendak pergi kehalaman belakang rumahnya, dan tal sengaja melihat Indah dan Ghazel, sedang makan. Agung pun menghampiri keduanya.


"Kalian baru keluar?," tanya Agung langsung.


"Eh..ayah, ngagetin aja," gerutu Indah.


"Maaf sayang, Ayah tadi.."


"Ada apa, pak Agung?," tanya Ghazel.


"Engak ada apa-apa, cuman kenapa kalian tadi ngak ikit sarapan?," ucap Agung.


Sentak Indah dan Ghazel saling memandang satu sama lain, "Tadi kami habis berco--"


"Nonton drama korea!," jawab Indah cepat, ia tidak ingin Ghazel mengatakan yang sejujurnya, masa iya mau bilang, kita habis bertempur di kasur, kan ngak mungkin.


"Nonton...drama..korea..?, Nak Ghazel juga suka?" tanya Agung tidak percaya jika Ghazel yang dikenal dingin ini juga menyukai drama seperti itu, jika Indah mungkin Agung percaya, karna dari dulu itu hobi Indah.


"Eee...ee..Mas Ghazel, cu-cuman nemanin Indah doang, soalnya Indah yang makas yah," jawab Indah dengan senyuman yang ia paksakan.

__ADS_1


"Pantesan, diketuk pintunya tadi ngak dibukain," ucap Aurel yang tiba-tiba ada disitu.


"Iyaa, Indah maksa saya," pungkas Ghazel, ia masih menyantap makanannya.


"Indah, lain kali jangan gitu lagi, gara-gara kamu Ghazel ngak sarapan," peringat Agung.


"Iya yah, lagian mas Ghazel, udah makan banyak banget tadi ya kan mas?," senyum Indah.


"Iyaa, saya makan, makanan yang manis tadi," ujar Ghazel, Agung pun percaya, ia pamit mau kehalaman belakang rumahnya.


"Lo, nonton drakor apaan? spill dong judulnya," tanya Aurel.


"Drakor nya, lo belun bisa nonton, ini VIP!," jawab Indah asal.


"Pelit banget sih," Aurel langsung menatap Ghazel, ia berencana ingin menanyakan langsung ke abang iparanya itu, tapi belum juga niatannya terucap Ghazel sudah berkata, " Saya tidak tau, apa judulnya," ucap Ghazel.


"Dasar pelit," Aurel beranjak dari saya, ia kesal karna tidak ada yang mau memberitahukannya judul drakor yang ia tanyakan tadi, tapi seakan ingat dengan tujuannya, Aurel berbalik lagi, "Kalian berdua, disuruh cobain baju tuh sama bunda, buag foto nanti," ucap Aurel, terdapat nada kesal dalam ucapannya.


"Iya, thank!" balas Aurel.


Selepas Aurel pergi, Ghazel langsung menatap Indah, "Nonton drakor ya?," ucap Ghazel, menatap lekat Indah.


"Hehe.., ya, masa Indah mau bilang, habis ehm, kan ngak mungkin suami," ujar Indah.


"Terserah kamu, makan dihabisi, jangan mubazir," ucap Ghazel.


"Siap SAYANG," balas Indah, dengan menekankan kata terakhir dengan jelas


...«««...


Ghazel dan Indah, sudah berada diruangan yang Ghazel sendiri tidak tau, mereka diberikan baju pasangan, dan diminta untuk mencobanya, disana juga ada seluruh anggota keluarga Indah.


...


Keluarga besar Ghazel, juga sudah datang, mereka sedang mengobrol santai sambil duduk dimeja yang sudah disiapkan. Semua mata langsung mengarah ke Ghazel dan Indah, saat keduanya memasuki ruangan, banyak yang memuji ketampan dan kecantikan dari keduanya.



Indah mengenakan gaun putih, dengan pemanis tali pinggang hitam, dan tak lupa rambutnya ditata sesimple mungkin, menambahkan kesan cantik pada Indah, sedangkan Ghazel memakai jass hitam, dengan dasi bercorak. keduanya nampak serasi.


"Lihatlah, mereka sangat serasi," puji Lolita.


Tangan Ghazel melingkar pas dipinggang Indah, "Mas, jalannya pelan-pelan," bisik Indah.


"Kenapa?, sakit?," mendengar pertanyaan Ghazel, Indah hanya mendelik sinis.


"Ini gara-gara mas, udah dibilang, jangan gituan lagi, masih aja!," omel Indah. pasalnya sebelum pergi tadi, emm, Ghazel malah ehem lagi sama Indah-nya.


"Siapa suruh godain saya," balas Ghazel cuek.


Tak ingin membalas perkataan Ghazel, Indah hanya cemberut, percuma pikirnya, dia tidak akan menang lawan suaminya ini, Indah jadi berpikir, apakah Ghazel begini juga sama mba Naysa, dan mba Zahra?.


Tanpa mereka berdua sadari, sejak tadi Airyn terus memperhatikan gerak-gerik mereka, tanpa tahu apa yang terjadi, Airyn menyimpulkan, kalau adiknya tidak bahagia, buktinya ia cemberut dan kesal, itulah pikir Airyn.


"Ma, Nay, Zahra, Han, dan jagoan papi El, gimana senang?," tanya Ghazel saat sudah duduk dimeja yang ditempati oleh keluarganya, begitu juga Indah ikut duduk.


"Papi, sama mami, kok ngak telpon El sih?," omel El.


"Pesta yang bagus Ndah, mama suka," ucap Karlina, "Mba juga senang Ndah, mas, karna bisa sekalian jalan-jalan," sambung Zahra.


"Syukurlah, kalau mama, dan mba Zahra senang," balas Indah.


"Nay, kamu happy?," tanya Ghazel, memegang tangan Naysa.

__ADS_1


Naysa tersenyum, " Happy kok Zel, dan aku juga senang," jawab Naysa.


"Tuan, saya ngak ditanyain?," gurau Han, tapi dengan wajah datarnya.


"Tak perlu!," balas Ghazel.


dan mereka semua tersenyum melihat interaksi anatara majikan dan sekretarisnya itu.


"Indah mana?," tanya Ana, karna tak melihat Indah.


"Tuh, sama keluarga Ghazel," tunjuk Airyn dengan dagunya.


Ana melihat dengan tatapan berbeda, terlihat jelas jika mereka sedang tertawa happy, dan Indah putrinya sedang bersandar di bahu mertuanya, Ana cukup merasa kurang suka melihat bagaimana Indah terlihat nyaman dengan mereka.


Ana tidak benci, dia malah bersyukur, tapi malam ini Ana, ingin jika Indah bergabung bersamanya, karna ini ulang tahun ayahnya, dulu Indah sangat dekat dengan mereka itulah isi pikiran Ana.


"Yaudah, ayok," ujar Ana.


...


"Sayang, kamu ngak gabung sama keluarga kamu?, hari ini kan hari istimewa ayah kamu, Ghazel sana," perintah Karlina.


"Ngak apa-apa, Indah tinggal ma?,"


"Ngak apa-apa dong, udah sana, nanti dicariin,"


"Ayok Indah," ajak Ghazel.


Ghazel dan Indah pun beranjak pergi dari meja mereka, dan pergi menemui keluarga Indah.


"Ayah, happy birthday," Indah memeluk Agung erat, "Terima kasih sayang," balas Agung.


"Selamat ulang tahun, pak Agung," ucap Ghazel, memeluk Agung.


"Terima kasih nak," balas Agung.


"Ayah, tidak tiup lilin?," tanya Indah.


"Tidak!, ayah tidak suka, kau tau itu kan," tutur Agung.


"Indah hanya bercanda, lagian tiup lilin tidak diharuskan," balas Indah.


'Sepertinya dia memang pas untuk ku,' batin Ghazel.


"Wow!, kak Ryn, kau sangat cuantikkk!," puji Indah.


Airyn tersenyum, " Kau juga," balas Airyn.


Tak ingin menganggu waktu mengobrol antara Indah, dan saudaranya, Ghazel memutuskan untuk mengobrol dengan beberapa rekan bisnis yang ia kenal.


tapi tengah asik mengobrol, tiba-tiba Airyn menghampiri Ghazel, "Bisa kita bicara?,"


"Tentu,"


...««Bersambung««...


Kira-kira mereka mau bicara apa ya?,


**Jangan lupa; Like, komen dan masukin Rak,


Note: Sorry, upadate nya telat akhir-akhir ini, karna kemarin ada keluarga yang berduka, jadi ngak memungkinkan main hape.


semoga kalian paham.

__ADS_1


Tapi ini udah selesai acara titi harinya, jadi bisa agak free lah**.


__ADS_2