IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER 116


__ADS_3

Karina, Zahra, Indah, dan El sedang menikmati acara piknik dadakan yang mereka laksanakan beberapa jam yang lalu. Ide ini tiba-tiba terbesit dalam pikiran Karina.


Di belakang rumah, lebih tepatnya di Gazebo yang tepat berhadapan dengan danau kecil, keempat manusia berbeda usia itu sedang menikmati makanan yang mereka siapkan sebelum piknik.


Rasa sejuk, akibat angin sepoy-sepoy membuat mereka semakin nyaman, di tambah canda dan obrolan ringan tersebut rasanya semakin komplet. Sayang Naysa tidak ada untuk menikmati kenyamanan tersebut.


"Rasa begitu bahagia bisa menikmati suasana seperti ini," ucap Karina membuka obrolan.


Zahra tersenyum, "Mama benar, kenapa kita ngak dari dulu menikmati pemandangan di belakang rumah ini." kekehnya.


Karina mengedipkan mata, sambil melihat kearah depan. "Karena kita terlalu sibuk saat itu," jawabnya.


"Tapi El seling main kesini sama mama Nay," celetuk El, anak itu rupanya menyimak apa yang di omongkan orangtuanya dan neneknya.


Mendengar nama Naysa, Indah lagi-lagi kembali teringat dengan mba nya itu. Sambil mengelus perutnya Indah menatap sendu kearah danau. "Aku merindukan mba Naysa, tapi aku tidak berdaya untuk membawanya kembali."


Karina dan Zahra melihat kearah Indah, "Kadang apa yang kita inginkan belum tentu baik, dan apa yang kita harapkan belum tentu tercapai. Kita harus melihat setiap hal dari sudut pandang yang berbeda, jika hanya mengandalkan sudut pandang kita sendiri semua nya akan terasa benar," ucap Zahra, matanya menatap keatas langit melihat arah awan bergerak.


"Kasihan itu wajar, karena kita sesama manusia memang harus saling mengasihani. Tapi, kita juga tidak bisa selalu mengandalkan perasaan dari setiap masalah. Ada harga yang harus di bayar dari setiap tindakan yang tidak di pikirkan dengan baik-baik."


Indah mendengar setiap Kalimat yang di lontarkan oleh Zahra. Perkataan dari Zahra tidak salah, bahkan sangat bisa di benarkan tapi Indah merasa ini semua berlebihan, Naysa begitu karena cemburu dan itu sifat alami wanita bukan.


"Jika kamu berpikir ini berlebihan, itu salah. Ini sangat tepat. Jika Naysa tidak diberikan hukuman seperti ini, dia tidak akan jera mungkin saja kedepannya dia akan berbuat lebih nekat lagi, kita harus bersikap jahat untuk mengembalikan orang pada jalannya," ucap Karina, seolah-olah tahu isi pikiran Indah.


"Mama dan mba Zahra benar, aku terlalu berlebihan. Maafkan aku merusak suasana piknik kita," sesal Indah.


Karina dan Zahra tersenyum mengiyakan.


"Apa yang kalian lakukan disini?"


Mereka bertiga langsung menoleh ke sumber suara. Seseorang berdiri dengan pakaian modis nya sambil menampilkan senyum terbaiknya.


"Tidak Jen, kami hanya piknik menangkan pikiran," jawab Karina.

__ADS_1


Bibi Jen ber-oh, melihat bagaimana mereka bersenang-senang dengan kenyamanan sedangan putranya dalam keadaan memprihatinkan membuat perasaan dongkol di hati Jen kian membesar.


"Mereka begitu bahagia, aku tak kan biarkan kalian tertawa di atas penderitaan putraku,"batin nya.


"Bibi Jen...bibi Jen?"


"Aah iya, maaf aku tidak mendengar," jawabnya.


"Apa kau ada masalah?, Kau melamun terus?," tanya Zahra khawatir. Bibi Jen seperti dalam keadaan yang tidak baik-baik saja sangat terlihat di wajahnya.


"Kalian adalah masalahnya," batin nya murka, "Tidak Zahra, bibi baik-baik saja. Bibi hanya mengingat apa yang ingin bibi tanya kan tadi," jawab Jen tersenyum.


"Duduklah bi," tawar Indah.


Tanpa menjawab bibi Jen langsung menduduki bagian karpet yang kosong samping Karina.


Ghazel memasuki mansion nya, dia baru saja selesai mengurus tentang berita hoax yang menimpa perusahaannya, dan menemui korban dari penipuan itu, perlu waktu satu jam untuk menyakinkan para korban jika perusahaan mereka tidak ada pernah seperti itu.


Bahkan Ghazel memberikan mereka pekerjaan dengan menjadi buruh pabrik di perusahaan pabrik es cream miliknya. Dan syukur nya mereka menerima tawaran tersebut, dan berjanji menghapus postingan di sosmed atau membersihkan nama baik Ghazel.


Satu masalah selesai, tinggal masalah dengan beberapa perusahaan yang mereka menganggap menjalin kerja sama dengannya padahal tidak pernah Ghazel lakukan, gara-gara hal itu beberapa investor tidak terima.


"Perusahaan Hamura dan Deyoung, dan bi Jen, sisa merek lagi," guman Ghazel.


"Selamat datang tuan," sambut para pengawal di sana. Ghazel mengangguk sebagai jawabannya, tapi matanya tidak melihat mama, Zahra, serta Indah.


"Dimana mama, dan istri saya?"


"Nyonya besar, nyonya Zahra, nyonya muda Indah, serta tuan muda El, sedang piknik di belakang rumah dekat Gazebo," lapor salah satu maid di situ.


Ghazel langsung melangkah menuju kearah belakang rumah setelah mendengar laporan maid tadi, ia merasa senang masalah ini tidak membuat keluarganya terkena dampaknya, Ghazel berhasil menutupi semuanya dari keluarganya.


Dari jauh Ghazel bisa melihat mama, istri dan anaknya sedang menikmati piknik mereka, Ghazel semakin melangkah mendekat, semakin dekat semakin jelas pipi Ghazel tertarik keatas ia tersenyum melihat mereka tertawa bahagia.

__ADS_1


Tapi seketika senyumannya luntur berganti raut dingin tanpa ekspresi saat mendengar suara orang yang ingin dia hindari, karena terlampu kecewa dan benci.


"Bi jen," geramnya.


Hahahaha


"Kau benar, pasti cucu mu nanti akan mirip Ghazel, kau ingat bagaimana dia kecil sangat cerewet makan, dia juga nakal sekali, aku masih tak menyangka jika anak kecil nakal itu sudah sebesar ini," ucap bi Jen menerawang ke depan.


Dia begitu menyayangi Ghazel, tapi rasa sayangnya tertutup dengan keserakahan, dan iri nya.


Ghazel berdiri tepat di belakang mereka, mendengar bagaimana bi Jen membahas masa kecilnya membuat hatinya teriris sakit, dia begitu menyayangi bi Jen, tapi rasa sayangnya di bahas pengkhianatan yang begitu sakit.


"PAPA!!" Teriak El saat menoleh kebelakang, ia langsung beranjak dan memeluk kaki Ghazel.


Teriakan El membuat mereka terkejut, dan langsung menoleh ke belakang melihat kearah El melangkah.


"Azel,"senyum Karlina.


"Mas," serempak Zahra dan Indah, ia menghampiri Ghazel dan menyalami tangan Ghazel.


"Kau datang tanpa suara nak," ujar bi Jen, ikut berdiri.


"Aku tidak perlu suara untuk berada di belakang kalian, kalian sendiri yang akan melihatku,"


"Bagaimana kabarmu nak," tanya bi Jen.


Ghazel menatap bi Jen dengan dingin, "Sangat baik, karena beberapa kekacauan sudah hampir beres ku singkirkan,"


"Kekacauan apa mas?," tanya Indah.


"Hanya kekacauan kecil yang di buat tikus-tikus kecil Ndah, kalian lanjutkan lagi pikniknya, saya akan kerungan kerja dulu," ujar Ghazel. Mereka semua mengangguk mengiyakan, sedangkan bi Jen ia masih terdiam mencerna ucapan Ghazel. Bi Jen menyadari ketidaksukaan Ghazel terhadap dirinya.


Bi Jen mulai merasa gelisah. Dia langsung pamit pergi setelah Ghazel pergi, dia harus memastikan semua pikirannya itu.

__ADS_1


"Apa dia sudah tahu semuanya,?" guman bi Jen dengan wajah pias nya.


__ADS_2