IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 85


__ADS_3

...¦Perlu diketahui jika mencintaimu adalah kewajiban yang ingin aku tanamkan dalam hatiku¦ Indah....


...««Selamat membaca««...


Sebelumnya;


Ghazel menarik napas kasar, tangannya mengusap kasar wajah dan rambutnya, dia ingin sekali marah, tapi yang terkapar itu adalah dua wanita kesayangannya.


"Aku akan memberitahu mama" final Ghazel.


...«««...


Ghazel turun menuju kamar sang mama, wajahnya tampak kesal, langkahnya kaki begitu cepat, sapaan para pelayan tidak dihiraukannya.


sampai didepan pintu kamar sang mama, tanpa mengetuk Ghazel masuk begitu saja, membuat wanita paru baya itu terkejut bukan main.


"Ketuk dulu Zel!, kau membuat mama jantungan!," omel Karlina pada putra sulungnya itu.


"Maaf, ma, tapi ada hal penting ya ingin Ghazel sampaikan pada mama," ucap Ghazel, ia berjalan kearah mamanya.


"Apa?, tidak ada masalahkan?," tanya Karlina panik, ia segera berdiri menghadap Sang putra.


"Ikut Ghazel, mama akan tau sendiri!," Ghazel membawa mamanya, menuju kamarnya, ia ingin mamanya melihat tabiat adik dan istrinya itu, saat hendak memasuki lift langkah mereka dihentikan oleh Zahra, "Kalian mau kemana?," tanya Zahra yang kebetulan lewat dan melihat suami dan mertuanya itu.


"Mama, juga tidak tau ra, mending kamu ikut juga," ajak Karlina, Zahra pun memilih ikut dan melihat apa yang terjadi.


Sampainya dilantai tiga, tepat didepan kamar milik Ghazel, dengan cepat Ghazel membuka pintu kamar dan masuk, begitu juga Zahra dan Karlina ikut masuk, betapa terkejutnya Zahra dan Karlina melihat permandangan dua wanita yang terkepar dikasur.


Masih dengan posisi yang sama, bahkan tambah parah, karna setengah tubuh Lydia sudah hampir dilantai, dan kaki Indah berada di tubuh Lydia, mulut mereka sama-sama megangga.


"Lihat!," geram Ghazel.


"Astaga!, mama tidak tahu harus apa?, tapi mereka sangat cocok" senyum Karlina, merasa senang melihat kedekatan putrinya dengan Indah, Karlina merasa Lydia akan betah disini nanti, karna memiliki teman sefrekuensi.


Lydia dulu sempat ngak betah dirumah karna merasa sendiri, dia hanya becengkrama sebentar saja pada yang lainya, hanya Naysa yang betah mendengar ocehan Lydia, kalau Zahra Lydia hanya suka saat membuat kue dengannya, main sama El kadang dia nanggis karna diusilin sama El.


tapi sekarang ada Indah, yang hampir seumuran dengan dirinya, dan inilah yang terjadi.


"Kenapa mereka bisa seperti itu?," tanya Zahra, tak percaya sama apa yang didepannya itu.


"Karna mereka menonton film semalaman!, aku akan memindahkan Lydia kekamar Indah, dan mama sama Zahra urus Lydia, setelah dia bangun suruh dia menghadap aku, untuk Indah Ghazel yang urus!,"


Ghazel berjalan kearah kasur, dan mengangkat pelan tubuh Lydia, "Hahah, Ndah lanjutttttt!" racau Lydia didalam gendungan Ghazel.


"Zahra, tolong bukakan pintu itu," pinta Ghazel, mereka sudah berada didepan kamar Indah, setelah memasuki kamar tersebut, Ghazel langsung melempar Lydia kekasur Indah dengan keras, tapi lemparan tersebut tidak terpengaruh oleh Lydia, bahkan dengan nyamannya dia melanjutkan tidurnya.


"Awasi dia, jika sudah bangun suruh dia menemuiku, paham?"


"Iyaa, sudah sana, biar mama yang mengurus Lydia, Zahra kamu kebawah El pasti nyariin kamu," ucap mama Karlina tersenyum lembut. Sedangkan Ghazel sudah lama keluar dari kamar tersebut.


"Iya ma," Zahra langsung keluar.


"Kamu keras kepala Lydia!, sudah tau abangmu seperti itu masih nekat bergadang!, ntah apa nasib menantuku," ucap karlina pelan.


Karlina pun memutuskan untuk duduk dan akan melanjutkan kegiatan menyulamnya, "Tolong ambilkan perlengkapan menyulamku," perintah Karlina pada pelayan yang baru saja datang kekamar tersebut. karna perintah Zahra.


"Baik, nyonya."


...«««...


Han sejak tadi pusing, karna apa?. Karna jadwal pertemuan dengan beberapa klien batal, gara-gara itu ia harus mengatur ulang semuanya, jika saja tidak pergi ke Bali, mungkin saja Han sudah santai, dan hal itu semakin rumit saat tuannya, Ghazel mengabarkan tidak kekantor hari ini membuatnya kelimpungan, mengurusi dokumen dari berbagai cabang perusahaann mereka.


"Aku bisa mati tua, jika begini terus!" kesal Han, ia menarik rambutnya karna pusing.


"Tuan Han, direktur dari PJ group ingin bertemu," ucap salah satu karyawan yang baru sama masuk keruangannya.


" PJ group tidak punya janji pada kita, kau tau sendiri jika ingin bertemu harus membuat Janji kan Lifa?" balas Han pada salah satu karyawan yang bernama Lifa tersebut.


"Maafkan saya tuan, tapi beliau mengatakan ini sangat pe--"


"Tidak, dia harus membuat janji terlebih dahulu, aturan tetap aturan, dan sekarang aku sangat sibuk, jadi keluar dan sampaikan pada mereka, bila perlu mereka browsur cara membuat janji pada GRE company inu"


"Baik tuan, kalau begitu saya permisi dulu" Lifa langsung pamit keluar.


"Selalu seenaknya saja!" kesal Han.


...«««...


"Buat makanan yang enak, keluarga dari tuan Ghazel akan datang hari ini, pastikan masakan itu enak dan juga Halal," perintah Agung pada pelayannya.


"Apa mereka semua akan menginap disini?" tanya Anna pada Agung.


"Tidak, hanya Indah dan Ghazel, tapi aku sudah memintanya jika sudah datang langsung disini untuk makan malam bersama, setelah itu baru mereka ke apartemen mereka," jelas Agung, dan Anna hanya mengangguk paham.


"Aku akan mengatur persiapan makan malamnya," Anna langsung pergi kedapur akan memantau semuanya dengan baik.


...«««...


"Nghhh..." leguh wanita tersebut, memperbaiki posisi tidurnya agar semakin nyaman, sesekali ia meregangkan kakinya.


"Kepala ku pusing," racaunya pelan.

__ADS_1


dengan pelan matanya terbuka menyesuaikan cahaya yang masuk keratena matanya, Indah merasakan matanya pedas saat dibuka, sesekali ia menarik napas panjang.


"Sudah bangun?" tanya Ghazel tenang, matanya tak lepas dari Indah.


"Aa...!, astaga" Indah dengan spontan terduduk, mendengar suara Ghazel.


Matilah aku! batin Indah.


"Bagaimana tidurnya Indah?, nyenyak?"


Indah mencenggir tersenyum lebar, terdapat ketakutan dalam senyuman Indah, "Jam berapa mas?" tanya Indah masih dengan senyumannya.


"Lihay sendiri, punya matakan?" balas Ghazel judes.


Indah mengambil ponselnya, dan melihat jam berapa sekarang, matanya terbelalak saat mengetahui ini sudah jam 15:18 ia berpikir berapa lama ia tertidur.


"Sudah tau!" tanya Ghazel masih tenang, tapi Indah tau dimata Ghazel sudah ada api yang berkobar-kobar yang siap membakarnya detik ini juga.


Indah tersenyum mengangguk, satu yang baru ia sadari 'dimana Lydia, jika dia bangun lebih dulu matilah aku' batin Indah tertekan.


"Emmm..Mas, dimana Lydia?" tanya Indah memberanikan dirinya.


Ghazel menatap Indah, "Mana saya tau," balas Ghazel.


'Indah tamatlah sudah, katakan goodbye pada dunia ini' Indah kembali membatin.


"Aku mau mandi dulu mas," Indah beranjak dari tempat tidurnya, berlari masuk kekamar mandi.


"Apa yang mas Ghazel pikirkan sekarang?, aduhh...bagaimana jika dia memarahi Lydia nanti, dan aku apa yang akan aku lakukan," racau Indah, "Apa aku pura-pura pingsan saja?" ..."Aaa tidak, itu akan memperkeruh keadaan,"


"Baiklah, untuk sekarang aku mandi dulu," Indah langsung melakukan rutinitas mandinya, sambil berpikir alasan apa yang akan dia sampaikan untuk pembelaan.


...«««...


"Kau sudah bangun?, mama pikir kau sudah mati," sarkas Karlina pada Lydia.


"Apansih ma, gitu amat doa-nya," cemberut Lydia. ia belum menyadari jika ia tidak satu kamar dengan Indah.


"Abangmu, ingin kau menemuinya setelah kau bangun, karna kau sudah bangun, cepat kembali kekamarmu dan siap-siap bertemu dengan abangmu, kau akan dihabisi!" Karlina menakuti Lydia, tanpa menunggu jawaban Lydia, Karlina langsung keluar, tak lupa membawa alay sulamnya.


"Mampus!" Lydia menjadi panik, tak tau apa yang akan dia dapatkan dari kakaknya Ghazel.


...«««...


Indah sudah selesai dengan mandinya, ia juga sudah selesai berpakaian, saat keluar dari ruang pakaian Indah hanya menunduk, ia cukup takut menatap Ghazel saat ini.


"Kenapa menunduk seperti itu?" tanya Ghazel setenang mungkin.


"Tidak," jawab Indah,


"Tidak apa-apa mas."


"Tau kesalahan mu Indah?" tanya Ghazel menghampiri Indah yang berdiri memantung.


Ghazel mengangkat dagu Indah, "J A W A B" ucap Ghazel tertahan.


"Aku tidak sengaja melakukan itu, sungguh." jawab Indah menyakinkan Ghazel.


"Saya tunggu keruangan saya juga," Ghazel langsung pergi.


saat keluar dari kamarnya, Ghazel sudah mendapatkan Han sudah berdiri di samping kamarnya.


"Panggi Lydia keruangan saya sekarang," perintah Ghazel pada Han.


"Baik tuan," Han langsung turun kebawah memanggil Lydia.


Dengan langkah pelan Indah berjalan menuju lift, langkahnya terhenti, "Sebaiknya aku gunakan tangga saja, biar nyampe lantai 4 nya agak lama," ide Indah. ia langsung menuju tangga, padahal sama saja.


"Apa?, kak Azel manggil aku? Han, kau serius?" pekik Lydia.


"Iya, bahkan nyonya muda sudah kesana," jelas Han.


Lydia kelabakan, "Han, kira-kira bang Azel nanti mau ngapain ya?" tanya Lydia takut.


"Saya tidak tau, Nona," jawab Han, benar adanya.


"Aku merasa menjadi penjahat, padahal kita hanya nonton" gerutu Lydia.


"Yang salahnya, kalian sampai bergadang," ujar Zahra.


"Itu tidak sengaja, mba, bantu aku, hooh." Lydia menghampiri Zahra, dan memeluknya.


"Sebaiknya nona cepat," pungkas Han, dengan berat hati Lydia mengikuti Han.


Lydia terus memainkan jari, jemarinya, perasaan takut akan dihukum menjadi sekian besar.


tak terasa saat ini ia sudah berdiri tepat didepan ruangan kebesaran Ghazel, dan itu semakin membuatnya panik.


Han membukakan pintu untuk Lydia, dia mempersilahkan Lydia untuk masuk, dengan perasaan yang campur aduk, Lydia melangkah masuk, suasana semakin mengerikan saat Han menutup pintu.


Disana sudah terlihat Indah sudah berdiri, dengan kepala menunduk.

__ADS_1


"Nona Lydia sudah disini tuan," lapor Han.


"Bang, Lydia...bisa jelasin" renggek Lydia langsung berlari kearah Ghazel.


"Berdiri disitu," perintah Ghazel, saat Lydia ingin mendekatinya.


Dengan berat hati Lydia berdiri disamping Indah, mereka saling melihat dan tersenyum. sempat-sempatnya kalian.


"Jelaskan, cepat!" perintah Ghazel.


"Apa yang akan dijelaskan bang, kita hanya nonton, bukannya mencuri!" gerutu Lydia, menurutnya sangat lebay jika harus seperti ini.


"Dan bergadang sampai pagi?," ucap Ghazel dengan suara dingin.


"Indah?"


"Mmm..Mas, tadi malam kami menonton, awalnya kami nonton untuk menghibur diri, kami, karna tadi malam aku juga sendirian dikamar, jadi aku sangat senang ketika Lydia datang mengajakku menonton film itu, berakhirlah kami ketagihan menontonya, apa salah?" jelas Indah, dengan berani-takut menjadi satu.


"Oh, Indah, apa kau masih kurang jera, laptop mu saya ambil?, apa kau tau sekarang kau bukan lagi seorang gadis single, tapi sudah bersuami, apakah pantas bergadang untuk hal yang tidak penting itu?"


Indah seketika menunduk, "Menonton juga penring bang, itu bisa bikin kita senang" pungkas Lydia, tak terima saat kesukaanya dibilang tidak penting.


"Tetap saja kalian berdua salah, dan harus dapat hukuman" ujar Ghazel.


"Ngak asik!" dumal Lydia.


"Han, bawakan sini laptop Lydia!" perintah Ghazel, dengan cepat Han mengambil laptop Lydia yang disimpan Ghazel dalam lemari.


Lydia lanngsung melotot saat mendengar kata Laptopnya, perasaan panik mulai menguasai dirinya, dia takut jika Ghazel memeriksa laptopnya dan menghapus semua dramanya.


"Bang, jangan, itukan laptop Lydia, Han jangan kasih!" racau Lydia.


tanpa mengindahkan omongan Lydia, Han memberikan laptop Lydia pada Ghazel.


"Bang, ayok dong, jangan gitu yaa, aku janji ngak ngajak kak Indah nonton lagi deh,"


"Ini ngak ada pengaruhnya dengan Indah,"


"Gara-gara benda ini, kalian bergadang!, dan tidur seharian!"


PRANG......Laptop Lydia dilempar oleh Ghazel, Indah langsung melotot, Lydia terduduk lemas.


"Mulai sekarang jangan pernah main laptop!, dan jangan pernah berniatan untuk membeli kembali laptop, jika tidak saya akan menutup semua store yang menjual laptop di Indonesia ini, dan mengambil semua kartu mu Lydia, paham!."


"Dan kamu Indah, pilih berhenti menonton drama, atau kita batal ke Bali, dan satu lagi selama sebulan kau dilarang keluar kamar!, renungkan permuatan kalian"


"Aku akan berhenti menonton, tapi kenapa mas, tega hancurin laptop Lydia?,"


"Bukan hanya laptop Lydia, punya mu juga,"


"Haah!, mas!"


"Bang Ghazel, kejam!, tega tau ngak!, drama Lydia banyak di sana" ucap Lydia kesal, dia tidak masalah jika laptopnya hancur. yang ia masalahkan isi dari laptop tersebut.


Lydia juga udah terbiasa barang-barangnya dihancurkan, dan ujung-ujung nanti bakal dibeli lagi, tapi file dilaptopnya, dimana dia akan dapatkan, belum lagi materi kuliahnya.


"Siap-siap, kita ke Bali sekarang, dan kamu Indah, saya akan bilang pada ayah kamu, jika kamu seperti ini," Ghazel langsung keluar, diikuti Han.


"Indah, udah santai aja, bang Ghazel ngak benaran itu, dia hanya gertak kita doang, lagian kita bisa nonton lewat ponsel kita kan," ucap Lydia tersenyum.


"Tapi Lydia, aku..."


"Udah, Lydia tau kok, bang Ghazel ngak mungkin nyakiti kak Indah," Lydia membawa Indah segera keluar, dan siap-siap untuk ke Bali.


tapi saat keluar, mereka di kejutkan oleh Han, "Tuan Ghazel mengabarkan, jika hukuman sebenarnya nyonya muda, dan nona muda adalah....


"1. Setiap pagi mulai seminggu kedepan, harus menyapu halaman,



Mencuci baju sendiri.


Tidur jam 8 setiap hari, dan bangun jam 4 seriap hari.


Nyonya Indah, harus merapikan kamar setiap hari, begitu juga Nona Lydia harus merapikan kamar sendiri.


5 Semua pelayan sudah diberitahukan untuk tidak mendengar perinta Nyonya muda, dan Nona muda, jika mereka melanggar akan dipecat detik itu juga.


Setelah makan, meja makan dibersihkan oleh Nyonya dan Nona.



Hukuman berlaku sesuai kemauan tuan muda"


"APA!" teriak mereka berdua serempak.


Ghazel yang sejak tadi sembunyi dibalik tembok, hanya tertawa mendengaran pekikan Indah dan Lydia.


...«« Bersambung»»...


Menurut kalian wajarnya hukuman yang diberikan Ghazel?, kalau ngak wajar kalian bisa ngomong langsung sama Ghazel, Uci takut😟

__ADS_1


Mohon like, komen, dan tambah kefavorit ya, agar tau jika Uci update....


Note:, udah ada Kouta nihh


__ADS_2