IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER 117


__ADS_3

Jangan lupa like komen dan Share cerita aku ini ya..


"Kapan Lydia akan pulang ma, aku begitu merindukannya," ujar Indah sendu, Lydia saat ini sedang liburan di negeri ginseng korea bersama temannya sudah hampir dua minggu entah apa yang dia perbuat di sana sampai-sampai tidak ingat pulang.


"Empat atau lima hari lagi, dia mengatakan akan ada konser di idol favoritnya disana. Dia berjanji akan segera pulang," jelas Karlina.


Indah mengangguk mengiyakan, dia tidak bisa bicara banyak. Jika Lydia nanti kembali ia berjanji tidak akan menyapanya, salah sendiri.


"Mama yakin, kau pasti sudah sulit untuk tidur karena perut ini kan," kekeh Karlina.


Indah tersenyum, seketika ia mengelus perutnya itu. Memang benar dirinya sudah sangat sulit tidur, mencari posisi yang enak itu sangat sulit. Miring kiri salah, miring kanan salah, apalagi terlentang Indah sama sekali tidak bisa.


Tapi Indah menikmati semua itu, ia senang bisa merasakan sensasi seperti ini. Untung nya kakaknya Airin merekomendasikan bantal tidur khusus untuk ibu hamil, jadi diri ya masih tertolong berkat bantal itu.


"Iya ma, tapi Indah senang.." jawab Indah menatap mama nya lembut.


"Sebentar lagi masuk delapan kan, apa kau benar-benar tidak ingin mengadakan pesta tujuh bulanan, masih belum terlambat jika mau," tawar Karlina lagi.


Karlina masih berharap Indah mau melakukan pesta tujuh bulanan, tapi Indah selalu menolak, menurutnya doa para keluarga jauh lebih penting dari pada itu. Lagian indah selalu merasa tidak enak, saat Naysa dalam hukuman ngak mungkin dirinya merayakan pesta, rasanya sangat tidak adil.


"Dia dari kalian jauh lebih penting dari pada para tamu yang datang," jawab Indah masih dalam pendiriannya. Indah menolak bukan tanpa alasan, banyak hal yang terjadi di keluarganya, suami dan mba Naysa dalam keadaan sulit dan Indah tau itu. Tidak mungkinkan dirinya meminta hal seperti itu pada Ghazel.


"Mama tidak bisa membantah mu lagi." Indah terkekeh mendengar jawaban mertuanya itu.


"Puding anggurnya sudah siap," ucap Zahra sambil membawa baki yang berisi puding buatannya pagi tadi.


"WAH!," Indah membuka mulutnya saat melihat puding yang Zahra letakkan di atas meja, melihat tampilannya saja sudah tahu jika puding ini pasti sangat enak.


"Kenapa hanya dilihat, makan." Dengan cepat Indah mengambil piring berisi puding, dan memakannya.


Pupil mata Indah melebar, "Enak mba!!," puji Indah sambil memakan puding itu.


"Kau sangat bisa di andalkan jika di dapur Zahra," Karlina tersenyum lembut.

__ADS_1


Zahra tersenyum bahagia saat Indah dan mamanya menikmati pudingnya, ia pun ikut memakan puding tersebut.


...


Tora di laporkan meninggal oleh anak buah Han.


Han langsung ke lokasi saat setelah menerima laporan tersebut. Memasuki gedung tua tempat ia mengurung Tora dengan langkah besarnya.


Han membuka pintu dimana Tora di simpan. Han membuka kain penutup Tora, keadaan yang begitu mengenaskan itulah yang ada di pikiran Han. Tubuh penuh luka, lebam, tubuh biru, dan luka akibat tusukan permainan Han.


"Alat itu menembus jantungnya," lapor salah satu dokter mereka.


"Itulah kegunaan alat itu, Dokter Fras bisa kau urus ma*at ini? Setelah semua selesai bawa di di masjid Karen kita harus mensholat kan dia, akan minta orang daerah ini mengurus pemakamannya," ucap Han. Pemakaman yang layak setidaknya Tora masih mendapatkan itu.


"Baik Han, saya dan yang lainnya akan menyiapkan nya." Han memberikan paper bag pada Dokter Fras, "Kain kapannya," setelah itu ia langsung pergi dia akan mengurus pemakaman Tora di bantu oleh warga yang ia temui tadi.


Sampai di salah satu pemukiman kecil, Han keluar menemui pria paruh baya yang ia temui tadi. "Assalamualaikum, jenazahnya akan segera sampai, apa sudah disiapkan?"


"Wa'alaikumussalam, sudah pak Han, kuburan sudah di gali oleh warga sini, kita hanya menunggu jenazah saja lagi untuk di sholat kan" jawab pak ustadz di sana.


Di Dunia ini uang memegang kendali penuh pikiran manusia, tidak ada yang bisa menolak. Bahkan untuk menjadi abdi negara saja membutuhkan uang yang banyak, karena dengan itu kalian akan masuk. Uang adalah Tuhannya manusia tanpa di sadari manusia sudah berkhianat dari penciptanya.


Han duduk di dalam mobil, ia melakukan panggilan pada seseorang, "Datang ke alamat yang saya berikan jika ingin bertemu putramu untuk terakhir kalinya," ucap Han.


^^^"Apa yang kau lakukan pada putra ku brengs*k!," makinya keras.^^^


"Kau sudah tahu apa yang bisa aku lakukan, putramu sudah tertidur apa kau juga mau menyusul?,"


^^^"Akan ku pastikan kau akan menyesal Han! "^^^


Han memutuskan panggilan sepihak, dia sangat pusing mendengar suara dari perempuan tua itu.


Bi Jen melempar semua barang yang ada di sekitarnya, perasaan kalut, khawatir, takut, dan marah bersatu di hatinya. Dia sudah tahu apa yang sudah di alami putranya itu, Han tidak akan pernah membiarkan musuhnya lepas dengan selamat. Jen tahu, sangat tahu.

__ADS_1


Suara notice ponselnya kembali menyadarkannya, Han mengiriminya video.


Putramu sudah akan di kebumikan.


AAARGHH! TORA ANAKKU!


Teriaknya histeris sambil bersimpuh kelantai. Jen menjerit hatinya begitu sakit melihat bagaimana putranya di perlakukan. Membayangkannya saja sudah sangat menyakitkan.


Jen menghapus airmata ya kasar, matanya merah terlihat jelas kehancuran yang ia rasakan saat ini, ia berdiri, "Ghazel, ini semua pasti perintah dirinya. Kau lupa siapa aku Ghazel, akan ku buat kau merasakan apa yang ku rasakan."


Pemakaman sudah selesai di laksanakan, Han pergi dari sana saat setelah pembacaan doa selesai. Ia akan menemui kaki tangan Jen yang lainnya.


"Pastikan pria tua itu tidak bisa lepas dari sana, bawa dia ketempat biasa." perintah Han melalui ponselnya.


Seorang pria paru baya sudah terikat kuat di kursi, mulutnya di tutup dengan lakban hitam. Ia terus memberontak berusaha melepaskan dirinya tapi semuanya sia-sia.


Han memasuki ruangan yang sudah di jaga oleh bawahannya, ia menyeringai saat melihat siapa yang duduk di kursi tersebut.


"Panji, selamat datang di gedung eksekusi milik tuan Ghazel," ucap Han duduk di depan Panji.


"Apa bawahan saya memperlakukanmu dengan baik?," tanyanya.


"Emm..mmmm," jawab Panji kesulitan.


"Buka penutup mulutnya itu," perintah Han pada orangnya.


"APA YANG KAU LAKUKAN!" teriaknya murka.


"Apa lagi kau bukan menangkap tikus," jawab Han enteng.


Panji menatap geram Han, dia sudah bersembunyi dengan sangat baik tapi bagaimana bisa di temukan oleh anak buah Han.


"Zoe yang memberitahukan kan saya kau ada dimana?," ucap Han seolah-olah tahu apa yang di pikirkan Panji.

__ADS_1


"Tuanku sedang menuju kesini, Jadi nikmati napas mu saat ini," ucap Han.


__ADS_2