IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 61


__ADS_3

...ΔΔΔSelamat membacaΔΔΔ...


Indah sudah sampai didepan pintu kamar Ghazel, saat ingin mengetuk matanya tak sengaja melihat sang suami sedang berdiri dibalkon luar lantai 3 tersebut.


Indah langsung saja menghampiri Ghazel, "mas" panggil Indah setelah berdiri dibelakang Ghazel.


"Marah ya?" tanya Indah lagi.


"Buat apa saya marah?" Ghazel langsung berbalik menghadap Indah. "Ya, siapa tau ngambek karna ngak di sambut pulangnya tadi" ucap Indah.


"Enggak, biasa aja"


Indah mengulum senyum, dia tau suaminya itu dalam mode marah berujung ngambek nih.


"Yaudah kalau ngak marah, berati ngak perlu repot-repot di bujuk" ucap Indah tersenyum senang, Indah hendak berbalik pergi tapi ...


Hufppp.. Ghazel memeluknya, "saya ngak suka, saat pulang terabaikan begitu" ucap Ghazel mengelamkan kepalanya di sela leher Indah.


Indah tersenyum, "Maaf mas, tadi asik nonton" kekeh Indah, "Lain kali ngak lagi"


Satu yang mereka ngak ketahui, jika mereka berdua sudah memiliki rasa satu sama lain, meski masih abu-abu, tapi Ghazel merasa tak suka diabaikan oleh gadis dipelukannya itu.


"Yaudah, mandi sana!, bau!" Indah langsung melepaskan pelukkan Ghazel.


Ghazel hanya terkekeh kecil, dia cukup senang Indah sudah mulai lembut dengannya.


Ghazel langsung pergi kekemarnya, dan disusul Indah karna akan menyiapkan pakaian untuk Ghazel.


••••


Zahra sedang duduk ditaman, menikmati suasana sore. Saking menikmati suasana sampai-sampai tak menyadari keberadaan Ghazel.


"Zahra" panggil Ghazel.


"Ehh..mas" senyum Zahra, sedikit terkejut.


Ghazel duduk disamping Zahra, ikut menikmati suasana sore.


"Mas, maaf soal tadi siang" ucap Zahra sendu.


Ghazel tersenyum mengenggam tangan Zahra lembut, "ngak apa-apa" ucap Ghazel.


Zahra tesenyum, entah karna suasana atau apa dia bersandar dibahu Ghazel,


"Tapi Zahra, saya ngak suka diabaikan sama istri saya, apalagi karna film horor" ucap Ghazel lagi, sambil mengecup kepala Zahra.


Zahra terkekeh, lucu rasanya mendengar keluhan Ghazel seperti ini, "Iya mas, besok ngak lagi"


Keduanya terdiam, sambil menikmati senja di sore hari.

__ADS_1


•••


Ghazel sudah siap dengan pakaian kantornya, tadi malam Ghazel tidur dikamar Zahra karna pemintaan El ingin tidur bersama bunda dan papa-nya.


Kondisi El sudah sangat baik, bahkan cederanya sudah baik.


Indah dengan telaten membantu para pelayan menata meja makan, karna kebiasaannya, para pelayan sering melarang untuk membantu tapi Indah seperti biasa menolak, ia kekeh ingin membantu, itung-itung olahraga pikirnya.


"Pagi mami" sapa El yang baru masuk keruang makan, diiring oleh babysisternya, tak lupa Zahra juga baru datang.


"Pagi Indah" sapa Zahra.


"Pagi mba, El" sapa Indah balik.


"Duduk mba" Indah mempersilahkan Zahra duduk, di ikuti oleh El.


Jika kalian pikir kok, Zahra ngak mau bantu didapur jawabannya karna peraturan aneh Ghazel yang melarang istri dan mama-nya masuk dapur, terkecuali INDAH, peraturan dibuat gara-gara puding Naysa saat itu.


Entah kapan peraturan itu dicabut, hanya Ghazel dan Allah yang tau.


Ghazel tiba dimeja makan diikuti oleh Han. Segera duduk, Zahra bagun dari duduknya untuk mengambilkan nasi untuk Ghazel, sedangkan Indah menuangkan air putih. (Enak banget jadi Ghazel(╥﹏╥) )


"Sekretaris Han, mau makan apa?" tanya Indah.


"Han Bisa sendiri Indah" sangah Ghazel, Han yang awalnya ingin menjawab mengatupkan bibirnya, sia lupa tuannya ini pencemburu meski belum peka.


"Han punya tangan sendiri" Ghazel langsung memakan, makanannya, tak lupa Han juga langsung mengambil makanannya sendiri. Han sudah sangat sering ikut makan bersama.


Indah menoleh kearah Ghazel.


"Apa lagi?" tanya Ghazel merasa dilihat.


"Ihh..PD sekali tuan ini" sinis Indah, ia pun melanjutkan makannya.


Sedangkan Zahra, tersenyum senang melihat drama didepannya itu.


•••


Naysa sudah mengemas semua pakaiannya, tekadnya sudah bulat untuk pulang ke mansion Ghazel kembali, masa bodoh dengan hukumannya.


Naysa berjanji akan merubah sikap dan trateginya untuk menyingkirkan Indah.


Apalagi saat mendengar si pelayan Leni jika Indah dan Ghazel kian semakin akrab membuat Naysa semakin terancam.


"Aku akan segera pulang" senyum Naysa saat akan segera keluar dari kamarnya.


Naysa menurunin anak tangga dengan senyuman yang merekah, "Mi,Pi" sapa Naysa saat melihat orangtua nya duduk santai di ruang tengah.


"Kau yakin pulang?" tanya Erna saat melihat koper Naysa yang di bawa oleh pelayan mereka.

__ADS_1


"Iya mi, lagian Nay juga sudah kangen sama Ghazel" senyum Naysa.


"Bagus, lebih kau cepat pulang nak, papi yakin Ghazel juga rindu sama anak papi yang cantik ini" ucap papi Naysa seraya memeluk anaknya


Naysa juga memeluk mami-nya, "Hati-hatiya nak" ucap mami Naysa disela pelukannya. Naysa hanya mengangguk patuh.


•••


"Ku tak bisa mengampaimu, takkan pernah bisa, walau sudah letih aku,...." Indah bernyanyi saat menyiapkan bekal untuk Ghazel.


Hari ini dia tak memasak, pak Budi yang memasak, karna Indah sedang tidak mood, biasalah cewek moodnya mudah jelek. menu pak Budi hari ini sangat enak, rendang sapi, ayam goreng, tak lupa soup kesukaan Ghazel.


"Selesai!" girang Indah sambil mengangkat bekalnya.


Indah siap-siap untuk pergi mengantarkan bekal, hari ini dia akan memakai pakaian casual biasa, polesan make-up tipis menghiasin wajahnya, tak lupa lip-tin sebagai penyegar dibibir nya.


"Lest go!" ujarnya berlenggang keluar dari kamarnya.


Indah sudah sampai ke lantai bawah, saat hendak mengambil bekal Ghazel yang disimpan di meja makan tadi, langkah Indah tiba-tiba terhenti.


Disana berdiri bibi Jen, dengan bersedekap tangan menatapnya tajam, ada kesan tak suka dari pandangannya dan Indah tau itu.


"Permisi bibi jen" senyum Indah saat hendak melewati sang bibi.


Bibi Jen hanya berdecik tak suka, satu yang perlu di ketahui jika bibi Jen akan menjadi sok berkuasa dirumah Ghazel saar mama Karlina tak ada, meski tinggal di belakang mansion, bibi Jen selalu update tentang kehidupan mansion Erlanga.


"Sangat tidak pantas!" ejek bibi Jen, saat Indah melewati dirinya.


"Maaf, maksud bibi?" tanya Indah, menatap kearah bibi Jen, Indah tak pernah takut dengan wanita tua didepanya ini.


"Tidak, hanya saja saya rasa kau sangat tak pantas berada disini, kita sangat berbeda!"


Indah tersenyum,"maaf bibi, saya rasa, saya sangat pantas tinggal disini, karna saya istri Ghazel, dan bibi saya rasa tanpa di sebut bibi tau maksud saya" Indah langsung berlengang pergi meninggalkan bibi Jen dengan tangan mengepal geram.


"Kau akan menyesal gadis inggusan!" bibi Jen langsung pergi, hari ini dia akan menjadi nyonya besar karna Karlina tidak ada.


"Sebentar lagi semua ini milikku" seringai bibi Jen.


•••


"Ayo pak berangkat" ucap Indah pada supirnya.


"Dasar nenek sihir!" omel Indah, dia sangat kesal saat bibi Jen mengatakan dia tak pantas.


Indah pergi kekantor Ghazel dengan perasaan kesal.


Sedangkan Naysa sedang dalam perjalanan kembali ke Jakakarta.


(+_+)(+_+)(+_+)(+_+)(+_+)(+_+)(+_+)(+_+)(+_+)(+_+)

__ADS_1


__ADS_2