
"Perasaan aku simpan di sini deh." guman Indah, sambil megeledah isi kamarnya.
Alex yang lewat depan kamar Indah langsung berhenti melihat adiknya melemparkan barang sembarangan dan dia pun berdiri di pintu kamar Indah, dengan tanggan di lipatkan ke dadanya.
"Kok di berantakin cil?" tanya Alex yang berdiri tepat di depan pintu kamar adiknya.
"Lagi nyari sesuatu." jawab Indah, terus membokar isi lacinya.
"Nyari apa emang?" tanya Alex lagi.
"Nyari Kar-, eh maksudnya nyari pita rambut." jawab Indah, tersenyum melihat kearah abangnya itu.
Alex hanya mengelengkan kepalanya,berbalik pergi, sebelum pergi "Cepatan, mau ikut ibadah ngak?" ucapnya dan menghilang dari hadapan Indah.
"Dimana sih kartu itu!" umpat Indah kesal, "Udahlah mending pergi Ibadah, tuhan yesus temukan lah kartu penyelamat kami" ucapanya sebelum melangkah perfi dari kamarnya.
...…...
"Udah semua kan?" tanya Anna, sambil melihat satu-satu anggota keluarganya.
"Udah bund" jawab Airyn, tersenyum.
"Mari kita pergi ibadah, berdoa minta kelancaran untuk semua rencana kita pada tuhan yesus, semoga pernikahan Airyn, 5 hari kedepan berjalan dengan lancar Amin" ucap Agung,
"Amin" jawab mereka serempak.
Mereka semua akhirnya pergi ke gereja, untuk melakukan ibadah.
...…...
"Han, jam 1 nanti hubungi Agung," perintah Ghazel.
"Baik tuan, tuan sebentar lagi sholat jum'at." ucap Han, memperingati Ghazel.
"Oke, istirahat kan seluruh karyawan yang laki-laki kita sholat Jum'at berjemaah" ucap Ghazel, langsung meninggalkan semua aktivitas nya.
Seluruh karyawan muslim untuk para laki-laki nya di wajibkan untuk sholat jum'at, begitulah aturan di perusahaan Ghazel, bahkan seluruh cabang perusahaannya mempunyai aturan yang sama.
Saat jam sholat tidak ada yang boleh beraktivitas.
Mereka melakukan sholat di masjid samping perusahaan Ghazel, masjid itu sengaja Ghazel bangun dekat dengan perusahaannya, agar memudahkan mereka untuk pergi sholat.
Masjid itu juga terbuka untuk umum., dalam perusahaan juga terdapat musola tapi kalau jum'at hanya perempuan yang sholat di sana, untuk laki-lakinya di masjid.
Untuk yang beragama non-muslim, juga Ghazel berhenti beraktivitas saat waktu sholat, itu ia terapkan supaya adil.
...…...
Masjid sudah penuh di isi, banyak yang menjadikan sholat ini sebagai kesempatan untuk sekedar bersalaman atau mengobrol kecil dengan Ghazel.
"Assalamaualaikum, nak Ghazel" sapa pak Ustadz yang biasa mengurus masjid disana.
"Walaikumsalam, pak ustadz Adam, bagaimana kabarnya pak, apakah ada kerusakan di masjid ini, jika ada sampaikan saja pak" ujar Ghazel.
Ustadz Adam tersenyum, "tidak ada nak Ghazel, semuanya aman-aman saja," senyum pak Ustadz Adam.
Setelah selesai Khomad, mereka akhirnya sholat Jum'at berjamaah.
...…...
Selesai Sholat dan istirahat mereka kembali pada perkerjaan masing-masing,begitu juga Ghazel dan Han sudah di ruangan.
"Han, jangan lupa hubungan Agung!,dia sampai sekarang belum memberikan ku jawaban" kesal Ghazel.
"Baik tuan, saya telpon sekarang." ujar Han, langsung mengambil handphone di sakunya.
Panggilan berdering menandakan jika telpon masuk, tapi si empuh disana belum mengangkatnya.
"Tuan,tidak di angkat." ujar Han, sambil menekan kembali tanda panggil disana.
Ghazel hanya diam mendengar laporan Han, tangannya sudah mengepal."awas saja di berani mempermainkan ku." ujar Ghazel dengan wajah bak devil nya.
"Aku rasa mereka sangat sibuk tuan." ujar Han, setelah menutup panggilan keduanya, yang tidak mendapatkan respon.
"Siapkan tiket ke Bali besok." ucap Ghazel, berdiri langsung keluar ruangan.
Han, hanya mengangguk, dan mengikuti kemana tuanya itu akan pergi.
...…...
... Agung dan keluarga baru saja sampai di rumahnya, perjalanan cukup padat karna kemacetan, membuat mereka sidikit telat pulang dari ibadahnya. ...
semuanya langsung bergegas masuk kamar masing-masing untuk membersihkan diri.
"Astagaa, kamar ku!" ucapnya lesu, saat melihat keadaan kamarnya yang sangat berantakan. "ck!,kartu itu dimana sih?" kesalnya lagi, ia pun mulai mencari lagi keberadaan kartu tersebut, dan melupakan niatam awalnya untuk mandi.
"Ini kamar kamu, habis kena gempa atau gimana kak?" ucap Aurel yang berdiri di ambang pintu,
"Brisik lo, sana mandi" ucap Indah,
"Cari apaa sih?, perlu bantuan ngak?" tawar Aurel.
"Ngak usah, kamu mandi sana" tolak Indah, dengan fokus masih megeledah kamarnya.
"Yaudah, byee" ucap Aurel langsung pergi kekamarnya.
"Sekretaris Han telpon?" guman Agung yang baru saja melihat notif panggilan tak terjawab di telpon nya. ia pun langsung menekan tombol panggil di yang tertera di layar handphone nya.
"Hallo, sekretaris Han, maaf saya tidak menjawab panggilan anda, tadi kami lagi ibadah" jelas Agung pada orang di seberang sana.
"Iya, kami lagi ada pertemuan, nanti saya telpon kembali" ucap Han, langsung mematikan panggilan.
"Baik. " jawab Agung,panggilan terputus.
__ADS_1
"Pasti Ghazel menanyakan,tentang jawabanku" guman Agung.
"Ayah!" teriak Airyn, langsung menghampiri ayahnya.
"Ada apa Ryn?" tanya Agung.
"Om Fendi ingin bicara." ucap Airyn, langsung memberikan telpon nya, ia pun langsung pergi membiarkan ayah dan papa mertuanya bicara.
"Ada apa Fendi?" tanya Agung.
"Aku ingin bertanya sesuatu" jawab Fendi dari seberang sana.
"Silahkan" ujar Agung lagi.
"Apa kau mengundang Ghazel di pernikahan Airyn dan Bima?" tanya Fendi.
"Hmm..sepertinya begitu, kami sudah bekerjasama Fen, tidak enak jika tidak mengundangnya" tutur Agung.
"Oh, baiklah, aku hanya menanyakan itu saja, sampai bertemu 5 hari lagi" kekeh Fendi, dan langsung mematikan telponya
"Maaf kan aku Fendi, aku bukan teman yang baik" guman Agung,
ia pun pergi mencari Airyn, untuk mengembalikan ponsel anak nya itu.
saat sampai di depan kamar Airyn, Agung mendengar bagaimana bahagianya Airyn akan pernikahanya nanti. Agung diam-diam mendengarkan pembicaraan Airyn dan Lolita.
"5 hari itu ngak terasa, bentar lagi lo jadi istri orang"ucap Lolita pura-pura sedih.
"Alah, lo senangkan, gue pergi" ucap Airyn.
"Eh, tapi ya, gue ngak sabar liat lo pakai gaun pasti cantik banget" ujar Lolita,
"Sama aku jugaa" ucap Airyn tersenyum bahagia.
"Bayangin lo, di atas Altar ya tuhan, akhirnya teman gue laku juga. " kekeh Lolita,
"sembarangan, lo tu yang belum laku, gue mah bentar lagi" ucap Airyn, sambil melemparkan bantal pada Lolita.
"Eh, tapi om Agung, undang Ghazel ngak ya?,kan secara sudah jadi rekan bisnis" ucap Lolita.
Airyn yan awalnya senyum, jadi memasang muka tak senangnya, "gue harap engak, ngak sudi banget, kalau pun dia di undanga gue ngak akan terima jabatan tangan dari orang jahat itu!" ujar Airyn berapi-api.
Agung yang mendengar hal itu, jadi semakin ragu untuk memberitahukan kebenaranya, melihat bagaimana bencinya Airyn pada Ghazel membuat dia semakin kalut.
Agung pun mengetok pintu Airyn, dan masuk
"Ayah masuk" ucap Airyn, melihat siapa yang mengetok pintunya.
"Ini handphone kamu" ucap Agung, memberikan handphone anaknya itu.
Airyn mengambil hp dari tangan ayah nya." sudah selesai bicaranya yah?" tanya Airyn..
"Sudah nak, ayah pergi dulu." jawab Agung, dan segera membalik tubuhnya untuk keluar dari kamar anaknya. tapi langkahnya terhenti saat Airyn memanggilnya.
"Ada apa?." tanya Agung.
"Ayah tidak mengundang Ghazel di pernikahan Airyn kan?" tanya Airyn langsung,
Agung hanya diam, dia tau pasti ini akan di tanyakan Airyn. "Ayah mengundang nya, tapi tidak tau di bersesia pergi atau tidak" jawab Agung.
"Aku harap dia tidak datang!" sinis Airyn.
"Dia rekan kerja ayah, kita harus profesional kan" ujar Agung, dan langsung pergi.
"Loli, monster itu di undang" keluh Airyn, langsung melemparkan dirinya di kasur.
"Biarinlah, lo kan nanti sama Bima" ucap Lolita.
"Iya juga ya!"
...…...
"Yes!,ketemu, tau begini kenapa gue ngak langsung nyari dalam Al-kitab aja dari tadi, kan cape sendiri." kesal Indah, langsung keluar kamarnya, tak lupa ia memasukan kartu itu di dalam cas Hp nya,supaya tidak hilang lagi.
"Indah, sini"panggil Anna.
"Ada apa bund?" tanya Indah, langsung menghampiri bundanya di dapur.
"Tolong antarkan teh ini ke ayah ya,ayah duduk di taman belakang." ucap Anna, sambil memberikan nampan yang berisikan secangkir teh dan kue kering tersebut.
"Oke siap." jawab Indah, langsung pergi.
Ponsel Agung berdering, menampilkan nama sekretaris Han di sana.
"Hallo, sekretaris Han" sapa Agung.
"Ini aku Ghazel, bagaimana keputusan mu? "
"kau belum memberitahukan kepada keluargamu?, jangan main-main dengan ku pak Agung Indra Rauna!" ucap Ghazel dari seberang sana.
Agung kelu tidak bisa menjawab pertanyaan Ghazel, apa yang harus di sampaikan,
"Kau masih bernyawakan disana? " tanya Ghazel.
"Besok saya akan memberikan jawaban saya" ucap Agung.
"Baik, besok saya akan ke Bali," ujar Ghazel, langsung menutup telpon sepihak.
Agung terdiam, "ya tuhan, apa yang harus aku lakukan. bagaiamana ini" keluhnya, sambil mengusap kasar wajahnya.
"Ayah, ini teh nya" ucap Indah yang tiba-tiba sudah berdiri di depan ayahnya. dan langsung menyimpan tehnya di meja samping ayahnya.
"Oh, makasih ya ndah" ucap Agung, tersenyum.
__ADS_1
"Ayah, are you oke?" tanya Indah khawatir.
"yes!," jawab Agung, langsung mengambil cangkir teh dan meminumnya.
"Ayah, kau terlihat sedikit panik, kau benar baik-baik saja kan, semenjak ayah kembali dari Jakarta ayah sedikit berbeda" ujar Indah, yang memperhatikan Agung intens.
Ya selama ini Indah, selalu memperhatikan setiap gerak-gerik ayahnya, dan Indah menemukan sedikit perbedaan dari sikapnya.
Yang tiba-tiba melamun sendiri, makan kadang ngak habis, selalu menyendiri dan banyak kejanggalan dari perilaku ayahnya itu.
Indah bisa mengetahui itu semua karna dia, mahasiswa psikolog, jadi untuk dasar-dasar mengenali itu sudah di luar kepalanya.
"Ayah baik-baik saja ndah, ayah hanya merasa sedikit sedih karna kakak mu akan pergi setelah ia menikah" jawab Agung.
"Okee, kalau ayah ada apa-apa bilang Indah ya, Indah pergi dulu" ucapnya, langsung beranjak dari taman, dan membiarkan ayahnya sendiri.
"Ayah kau berbohong lagi" guman Indah, menoleh kebelakang melihat ayahnya. ia pun langsung pergi kekamarnya,
...…...
"Hallo, bisa bicara dengan pak Ghazel?"
"…"
"Aku dengar kalian akan ke Bali besok, bisa kita bertemu?"
"…"
"Aku mohon"
"…"
"Di cafe VIP,kita bertemu di sana"
...…...
"Siapa Han?" tanya Ghazel
"Saya sudah memesan tiket untuk penerbangan besok tuan, kita akan berangkat jam 7 pagi, dan saya juga sudah memesan hotel untuk kita menginap serta keperluan lainnya. dan besok ada yang ingin bertemu dengan anda." ujar Han tersenyum.
"Kerja bagus Han, atur saja, kita pulang sekarang" ucap Han, langsung berdiri mengambil jass nya yang bergantung dan langsung keluar, di ikuti Han pastinya.
...…...
"Selamat datang tuan" ucap para pelayan yang menyambut kedatangan Ghazel dan Han. keduanya tidak ada yang menjawab, mereka hanya lewat tanpa peduli.
"Azel, kau pulang?" sambut Karlina.
"Assalamaualaikum, ma" ucap Ghazel.
"Walaikumsalam, " jawab Karlina.
"Assalamaualaikum, nyonya" ucap Han, membungkuk.
"Walaikumsalam, Han, kalian berdua sudah makan?, mari duduklah" ucap Karlina, sambil membawa duduk Ghazel dan Han.
"Dimana istri ku?" tanya Ghazel, "biasanya mereka menyambutku" heran Ghazel.
"Naysa di taman belakang, Zahra lagi sama El" jawab Karlina.
"Ghazel" panggil orang itu.
"Bibi Jen," ucap Ghazel tersenyum, "kau suka ponsel baru mu?,kenapa kau jarang pergi kerumah utama ini?"tanya Ghazel.
Bibi Jen hanya tersenyum, "apapun hadiah yang di berikan putraku, aku akan menyukainya" jawab bibi Jen tersenyum.
"Iya apalagi itu secara PERCUMA!" ucap Naysa, tiba-tiba muncul.
Bibi Jen, langsung terdiam mendengar ucapan dari Naysa.
"Ghazel kau sudah pulang?" tanya Naysa yang langsung memeluk Ghazel.
"Jangan bicara seperti itu nay," ucap Ghazel pada istri pertamanya itu.
Naysa hanya diam, "aku berkata fakta, bukan begitu bibi Jen?" ucap Naysa lagi.
"Iya, Ny. Naysa benar" jawab bibi Jen.
"Sudah-sudah, sebaiknya kalian duduk" ucap Karlina mengalihkan suasana mencekam antara Naysa dan bibi Jen.
Han yang hanya diam, melihat interaksi antara istri tuanya dan ibu angkat tuannya itu, Han tersenyum sinis.
Mereka akhirnya duduk, dengan naysa yang di samoing Ghazel.
"Besok aku akan ke Bali, ada urusan bisnis." ucap Ghazel.
"Berapa lama?" tanya Naysa.
"Sampai bisnis ku selesai" jawab Ghazel.
"kalau begitu aku kekamar dulu, Han kau juga istirahatlah" ucap Ghazel, langsung pamit kekamarnya.
Tinggallah Naysa, mama Karlina dan Bibi Jen yang duduk di sana.
tidak ada pembicaraan, "kalau begitu saya permisi dulu" ucap bibi Jen langsung pergi.
"Ck!,dasar" umpat Naysa.
Karlina hanya mengelengkan kepalanya, sejak dulu Naysa tidak cocok dengan bibi Jen, ntahlah apa penyebabnya.
...…...
Next?. 😙
__ADS_1