IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
Chapter 83


__ADS_3

...Aku sungguh cemburu, bagaimana cara kau memperlakukan dia, membuat rasa egoisan dalam diriku semakin besar untuk membuatmu hanya mengarah padaku_ Indah...


...«««...


Sudah selesai dengan ritual mandinya, Indah keluar sambil mengeringkan rambutnya, sepasang matanya mencari sosok yang beberapa menit tadi duduk diatas kasur tapi sekarang kemana pergi sosok itu.


"Dimana mas Ghazel, bukannya siap-siap malah pergi" gerutu Indah.


tak ingin ambil pusing, dia langsung keruangan pakaian untuk bersiap-siap.


...«««...


"Mas, apa itu ngak mendadak, kita belum membelikan kado untuk tuan Agung?" Zahra berucap menatap Ghazel.


"Ya, Zel, mama bahkan belum packing, kenapa mendadak sekali?," sambung sang mama.


"Mereka seperti tidak niat mengundang kita Zel, jika tau begini aku beli saja beberapa barang saat aku kem Mall tadi.


"Dengar, acaranya tiga hari lagi, kalian masih ada waktu untuk mempersiapkan semuanya, Aku dan Indah akan berangkat dulu karna itu adalah acara dari orangtuanya, kalian bisa datang besok atau lusa" jelas Ghazel pada mama dan istri-istrinya.


"Boleh aku berangkat barengan dengan kalian?" tanya Lydia pada Ghazel,


"Tidak..." Indah berucap lantang, "Maksudku, lebih baik kau berangkat barengan sama mama, iya kan ma," Indah menoleh kearah mama Karlina mengkode untuk minta bantuan.


"Tapi aku mau azel, lagian sudah lama aku tidak ke Bali, boleh ya?" Lydia merenggek.


Mendengar itu, Indah menahan emosi tangannya mengepal, dia benar-benar cemburu, "Kau bisa pergi nanti, tidak harus sekarang, lagian kau belum siap-siapkan" Indah sebisa mungkin bicara lembut pada Lydia.


"Tidak perlu, aku bisa beli baju disana, iyakan Zel," balas Lydia tersenyum penuh kemenangan.


"Iyaa, tentu apapun untuk kamu" ucap Ghazel mengelus kepala Lydia.


Jelas Indah merasa tidak suka, ia menatap Lydia kesal, "Mas Ghazel!," Indah menatap Ghazel kesal.


"Dia kembali cemburu" ejek Lydia tersenyum remeh.


"Kau!" Indah menunjuk Lydia, "Mama" adu Indah, Karlina hanya tersenyum.


"Indah, kenapa kau menunjuk Lydia?!, turunkan tangan mu" Ghazel menatap tajam Indah.


Naysa yang jengah menatap drama yang diciptakan mertua dan adik iparnya itu, hanya menjeling sinis tak minat.


"Kau membelanya LAGI?" bentak Indah kesal.


"Indah!," bentak Ghazel, dia tidak suka jika istrinya menaikan volume suara didepannya.


"APA?" balas Indah, ia berdiri menatap Ghazel sinis.

__ADS_1


"Sudah kukatakan, untuk tidak bersikap buruk pada Lydia, kenapa kau tidak mengerti juga?"


"Kau yang tidak mengerti, kenapa kau selalu bersikap baik padanya, apa kau begitu menyukainya?, apa kau ingin dia jadi istrimu lagi?, mama liat mas Ghazel" Indah berucap panjang lebar, dan berujung mengadu ke Karlina.


"Apa salahnya aku bersikap baik pada adikku sendiri hah?, dan apa kau gila? bagaimana bisa aku menikahi adikku, astagaa Indah, apa kau tidak mengerti juga?"


"Meskipun dia adikmu tetap saja kau menyu--" Indah langsung terdiam, otaknya tiba-tiba berhenti berfungsi dan kembali memutar ucapan Ghazel barusan.


"adik" gumannya, "ADIK!" teriak Indah nyaring, matanya melotot seakan keluar.


Zahra, sejak tadi menonton, mengulum senyum melihat betapa polosnya Indah.


"Antara bodoh dan polos beda tipis" guman Naysa pelan.


"Hahahhahahahaha....," ketawa Lydia pecah, tubuhnya berguncang hebat merasa geli dengan ekspresi konyol Indah.


"Iya adik, memang selama ini kau mengira apa Indah?" tanya Ghazel dengan nada frustasinya. dia merasa Indah selalu sensitive saat melihat dia mendekati Lydia.


Air mata Lydia sampai keluar, karna keasikan ketawa, "Kakak tau, dia selama ini menganggap aku wanita yang akan kakak nikahi lagi" kekeh Lydia.


"Oh, astagaa Indah" Ghazel memijit pangkal hidungnya.


Indah masih berdiri kaku, dia malu, jika ada jasa menggelamkan manusia dirawa-rawa mungkin Indah akan mengunakan jasa tersebut, rasanya ia ingin menghilang.


'Jadi selama ini, aku cemburu sama adik mas Ghazel, ohh Indah kau sangat bodoh, kenapa aku tidak peka! batin Indah kesal.


Ghazel yang tak mengerti hanha mengeleng kepala, tingkah Indah memang aneh pikirnya.


"Lydia,.kau jadi ikut?"


"Tidak kak," Lydia menolak karna memang tadi dia hanya ingin mengerjai Indah, ide itu terlintas saat dia melihat Indah berjalan kearah tempat mereka duduk, dan ternyata kakak ipar mudanya itu sangat gampang cemburu.


"Kau serius?" Ghazel kembali bertanya untuk memastikan keputusan adiknya itu.


"Aku sangat-sangat serius!" jawab Lydia yakin.


"Baiklah, Naysa, Zahra, apa kalian mau pergi hari ini juga?" Ghazel kembali bertanya pada kedua istrinya.


"Maaf mas, aku tidak bisa hari ini, El masih dirumah sarah, dan bsok aku juga akan kepanti dulu" balas Zahra.


"Aku nanti saja, ada acara arisan, kau duluan saja" balas Naysa. sejujurnya Naysa ingin pergi hari ini, karna ia tidak ingin memberikan kesempatan berduaan Indah dan Ghazel, tapi sialnya dia sudah berjanji akan keacara Arisan.


"Baiklah, kalian akan dijemput oleh Han nanti, aku kekamar dulu" Ghazel langsung beranjak dari tempatnya dan pergi kekamar.


...«««...


Indah memenamkan kepalanya dibawah bantal, ia bahkan sudah tidak peduli lagi jika riasannya berantakan, rasa malunya lebih besar dan seakan ia tak ingin menampakan wajahnya pada orang rumah.

__ADS_1


Ghazel yang baru masuk kekamarnya, cukup kaget melihat bagaimana posisi Indah saat ini, kepala tertutup bantal, kaki begerak tak beraturan, dan dress nya yang terangkat sedikit membuat Ghazel merasa ngelegat aneh di dalam tubuhnya.


"Indah, kenapa kau seperti itu?"


"Jangan bicara padaku, aku sangat malu sekarang," ucap Indah dari balik bantal.


"Malu kenapa?" tanya Ghazel pura-pura tidak tahu.


Indah bangun dan langsung duduk, bayangan-banyangan perbuatan bodohnya terhadap Lydia kembali menghantuinya, pantasan saja saat dimana dan Lydia dekat tidak ada satupun penghuni rumah ini merasa risih, bodohnya Indah.


"Kenapa kalian tidak memajang foto keluarga?, setidaknya dengan memanjang foto keluarga, orang-orang akan tau siapa anggota keluarga siapa yang bukan!" Indah berkata dengan kesal,


"Foto keluarga, tentu saja ada, mereka dipajang diruangan khusus di Mansion ini" balas Ghazel sambil menghampiri Indah, dan dia langsung duduk disamping Indah.


"Kenapa kau tidak memberitahuku??"


"Kau tidak bertanya"


"Setidaknya, kau harua berinisiatif sendiri mas, kau kan tau sendiri jika aku anggota keluarga baru mu, aku jelas tidak terlalu tau siapa-siapa saja keluarga mu, dan saat pernikahan kita Lydia juga tidak ada" ucap Indah merasa frustasi dengan dirinya sendiri.


"Sudahlah, kita berangkat sekarang" Ghazel beranjak berdiri menunggu Indah, yang masih duduk dengan keadaan rambut acak-acakan.


"Berangkat besok aja mas, udah ngak mood, Indah juga perlu bicara sama Lydia, ngak apa-apa kan?" tanya Indah.


"Oke, kalau begitu..."


"Begitu apa mas?" tanya Indah penasaran.


"Peluk saya," Ghazel merentangkan tangan lebar, dengan senyum Indah langsung berhambur dalam dekapan Ghazel.


Ghazel sadar, jelas sadar dengan apa yang dia lakukan, ntah kenapa dia merasa nyaman memeluk Indah, rasanya beban dalam dirinya terangkat bebas.


"Lakukan ini setiap kali saya masuk kekamar" ujar Ghazel disela pelukannya.


"Iya mas," balas Indah, semakin erat memeluk Ghazel.


Memang benar kata orang, batu yang keras akan lulih juga jika disirami air terus, ntah sejak kapan tapi Ghazel yakini jika perasaannya terhadap Indah bukanlah sesuatu yang buruk.


...««Done««...


Bagaimana chapter ini?


Mau nanya nih...menurut kalian sebucin apa sih Ghazel nantinya pada Indah?, kalau misalnya ada konflik dengan mereka setuju ngak?


Yaudah....uci serahkan ratting cerita ini pada kalian, like, komen, dan kasih ratting serta tambahin ke fvrt yaa...


See youu...

__ADS_1


__ADS_2