IKATAN Cinta Istri Ketiga

IKATAN Cinta Istri Ketiga
CHAPTER 112


__ADS_3

Hal yang paling sulit adalah ikhlas.


Ghazel pulang larut malam, seluruh penghuni mansion ya mungkin sudah tidur terlihat saat ia pulang sudah tidak ada lagi pelayan. Hanya Han dan beberapa orangnya saja.


Ghazel dan Han harus lembur Karena mengurus kekacauan yang di buat oleh Tora, dan untungnya masalah itu sudah hampir kelar tinggal mengurus beberapa persyaratan dengan para korban yang tertipu.


Membersihkan nama baik, sama halnya dengan membersihkan pakaian putih yang kena tinta selalu ada bekas yang terlihat meski sudah di cuci semaksimal mungkin. Itu tidak mudah.


Mungkin orang mengira akan mudah karena itu seorang Ghazel, tapi kalian harus ingat jika Ghazel juga manusia.


"Han, kau boleh pulang istirahat." ucap Ghazel ia meninggalkan Han dan naik menuju lantai atas kamarnya.


"Baik tuan," jawab Han, membungkuk memberi hormat setelah itu ia melangkah keluar. Han butuh kopi untuk menangkan pikirannya.


"Ingat perintah saya, terus awasi tikus itu jangan sampai lengah" perintah Han pada bawahannya sebelum masuk ke mobilnya.


"Siap bos" ucap mereka. Han mengangguk, setelah itu ia pergi meninggalkan mansion Erlangga.


Ghazel membuka pintu kamarnya pelan, tak ingin membangunkan wanita yang tertidur pulas di kasurnya itu, wajah Ghazel sedikit tersenyum saat melihat bagaimana posisi tidur istrinya itu, jangan lupakan perut nya yang membuncit itu begitu mengemaskan.


"Maaf Indah," gimana Ghazel pelan. setelah itu Ghazel pergi ke kamar mandi.


Mata ya awalnya tertutup tadi terbuka secara perlahan, merasa orang nya mulai menjauh, ia menghembuskan napas lega.


"Untung cepat, kalau enggak bisa dimarahin lagi." gumamnya pelan. Indah, ya istri ketiga Ghazel itu baru saja selesai maraton K-drama nya jam 02 dini hari ini. Jika saja Ghazel tau, entah apa yang terjadi.


Menurut ini hanya dengan menonton drama Korea bisa mengembalikan kan mood nya, salah Ghazel yang marah-marah tadi pagi. Tapi satu yang Indah lupa dia sedang mengandung dan dia malah bergadang.


Cklek.


Pintu kamar mandi terbuka, dengan cepat Indah menutup matanya kembali.


Ghazel berjalan kearah tempat tidur mereka, ia menatap lekat istrinya itu, setelah itu ia membaringkan tubuhnya tepat di samping Indah, Ghazel butuh istirahat.


...


Pagi Panti asuhan yang Naysa tempati sedang sibuk, pasalnya hari ini adalah ulang tahun Asima.


Mereka semua berencana memberikan kejutan untuk Asima, sedangkan Naysa sedang berkutat dengan Cake yang ia buat beberapa jam yang lalu bersama Runai.


"Asima menyukai bunga, jadi kita bikin Cake dengan hiasan bunga" ucap Naysa


"Kau tau, kau sangat berbakat Mba Nay, kau bisa membentuk bunga dengan cream itu..sungguh luar biasa" puji Runai menatap takjub Cake yang didepannya itu.

__ADS_1


"Dulu aku sering melakukan ini untuk ayahku"


"Kau tidak buatkan suamimu?"


Tangan Naysa yang awalnya bergerak tiba-tiba berhenti, ingatannya tentang suaminya itu selalu membuat dia merasa rindu, sedih, kecewa, dan menyesal entah rasa apa yang cocok untuk itu semua.


"Semenjak menikah, aku hanya fokus dengan suamiku. Cake, aku jarang membuatnya aaa mungkin tak pernah, suamiku tidak menyukai makanan manis"


"Oh..tapi dia harus melihat bakatmu ini"


Naysa terkekeh, Runai ini begitu banyak bicara. "Aku akan tunjukan nanti, setelah aku di jemput itupun jika masih diharapakan" ucap Naysa dan kalimat terakhir hanya ia sampaikan dalam hati.


"Bantu aku mengisi gelas itu," perintah Naysa, dan langsung di kerjakan oleh Runai.


Naysa menatap bagaimana Runai dengan fokusnya mengisi gelas-gelas air, ia menatap sekeliling panti ini. Naysa merasa sangat hidup di sini, meski tidak bisa di pungkiri dia juga merindukan rumahnya dulu.


"Mba Naysa ada paket" Shani membawa kotak dari luar menuju kearah Naysa, "Dari siapa?," tanya Naysa sambil mengambil alih kardus.


Naysa mencari nama pengirim tapi dia tidak menemukannya, "Dari siapa ini" gumamnya pelan.


"Buka aja mba" Saran Runai, Naysa menatap kedua ya, ia pun mulai membuka kotak.


"Sepertinya ini bukan untukku," ucap Naysa.


Happy Birthday Asima, aku harap kau selalu bahagia.


Isi surat yang ada dalam kotak, mereka bertiga saling pandang, "Ini buat mba Asima, astaga!" pekik Runai heboh.


"Aku rasa ini dari kekasihnya," senyum Naysa. Shani memasukan kembali baju yang ada di tangannya, "Aku akan berikan nanti" senyumnya.


......................


Hari ini jadwal pengecekan kandungan Indah, di temani Karina sang mertua Indah nampak tak sabar ingin bertemu malaikat kecilnya. Sebenarnya Indah ingin mengajak Ghazel, tapi laki-laki itu sudah tidak kelihatan sejak pagi tadi, Indah tahu suaminya itu sangat sibuk.


"Tinggal beberapa bulan lagi, mama akan bertemu cucu mama"


"Indah juga ngak sabar ma,"


Diantar oleh supir keduanya berangkat menuju rumah sakit langganan keluarga Erlangga, memakan waktu kurang lebih empat puluh menit untuk sampai ke sana.


"Ndah, kau dan Ghazel baik-baik saja kan?" tanya Karina membuka obrolan.


Indah menghentikan usapan di perutnya saat mendengar pertanyaan dari mamanya, "Baik ma," jawab Indah sekedarnya.

__ADS_1


Karina menatap Indah lama, setelah itu ia langsung tersenyum. "Mama senang kalian sudah saling mencintai" Indah tersenyum menanggapi.


Indah terdiam, ia berpikir ingin menanyakan perihal Naysa pada mamanya tapi Indah juga takut.


'Apapun jawaban mama, yang penting aku harus mencoba ini'


"Mm...Ma," panggil Naysa pelan.


"Iya sayang, ada apa?"


Indah mengigit bibir bawahnya, ia sebenarnya ragu ingin menyampaikan ini tapi perasaannya meminta dia terus melakukan ini. Indah sudah coba tanya sama Mba Zahra tadi, dan tanggapan mba Zahra cukup membuat Indah puas, tapi masih kurang.


"Soal mba Naysa...mama ngak bisa minta mas Ghazel untuk mengembalikan mba Naysa pulang kesini?, Indah pernah cari di internet tentang panti tempat mba Naysa tinggali, tempat itu berada di pelosok kota Indah takut mba Nay-"


"Dia baik-baik saja Indah, kau tak perlu khawatir"


"Aku tau ma, dia akan baik-baik saja..tapi Indah rasa sudah cukup, ayok bawa mba Naysa pulang" Indah menatap Karina dengan sorot memohon.


"Hanya Ghazel yang bisa memutuskan, kau tahu per-"


"Aku bahkan sudah memaafkan mba Naysa, tinggal beberapa bulan lagi aku melahirkan dan aku ingin mba Naysa ada melihat akan ini" ucap Indah sendu.


"Coba tanyakan pada Ghazel"


"Sudah ma, mas Ghazel malah marah-marah"


Karina mengelus rambut Indah pelan, dia paham akan perasaan menantunya itu. Jika boleh jujur Karina juga mengkhawatirkan Naysa, mau bagaimana pun Naysa adalah menantu pertamanya yang selalu menemani mereka dalam keterpurukan.


Tak dapat dipungkiri jika mansion cukup sunyi tanpa celotehannya.


"Kau tahu, Ghazel pasti akan melakukan yang terbaik untuk Naysa. Mama yakin dia tidak akan menghukum Naysa seberat seperti apa yang kamu pikirkan Ndah."


"Iya tap-"


"Sudah sampai nyonya" Indah mengurungkan niatannya untuk menjawab ucapan mamanya.


"Ayo" Karina keluar, dan di ikuti oleh Indah.


......................


Assalamualaikum...


Done ya, semoga malam ini bisa update lagi.

__ADS_1


Jangan lupa👍, dan 💭 komen ya..


__ADS_2