
Mobil Ghazel sudah sampai dikediam Agung, tanpa memperdulikan keadaan Indah Ghazel langsung keluar, dan pergi lebih dulu tanpa menunggu Indah.
"Kamu kenapa sih mas?," cicit Indah, airmatanya langsung keluar tanpa permisi, dengan pelan Indah keluar dari mobilnya, dan melangkah memasuki kediamannya.
Saat sudah berada didalam kediamannya, Indah melihat Ghazel duduk single sofa dengan menyilangkan kedua kakinya, terlihat jelas kemarah diwajah suaminya itu.
"M-mas," cicit Indah.
"Duduk!."
Indah mendudukan dirinya disamping sofa Ghazel, aura disekitar mereka mendadak dingin, bahkan Indah tak berani sekedar menatap Ghazel.
"M-mas mau teh ngak?," tawar pelan.
Ghazel langsung menatap tajam Indah, "Jangan pura-pura baik sama saya!," tekan Ghazel.
"Maksu--"
"DIAM INDAH! SUARA KAMU MENGANGGU SAYA!" teriak Ghazel.
Indah tersentak, ia kembali meneteskan air mata nya, Sungguh Indah tidak paham dengan situasi saat ini. Dia memutuskan untuk diam, dan berharap keluarganya cepat datang.
«««
Setelah beberapa menit, mobil Agung dan Han sampai di kediaman Agung, mereka berlari menaiki tangga rumah Agung, begitu juga Ana dan Karlina, mereka semua khawatir dengan Indah.
Anton, Alek, Aurel, dan Lydia, pun langsung berlari masuk, terlebih Zahra bahkan ia sangat khawatir sekarang, sedangkan Airyn dan Naysa berjalan dengan santai, seolah-olah tidak ada yang terjadi.
Sampai didalam, mereka sudah melihat Ghazel dan Indah duduk diam tanpa sepatah kata pun, dan lebih Indah menunduk seperti sedang menangis.
"Ghazel apa yang terjadi?," tanya Karlina langsung.
"Iya Ghazel, apa yang terjadi?," sambung Agung.
"Duduklah," pinta Ghazel, ia bahkan belum menjawab pertanyaan dari Karlina dan Agung.
Mereka semua duduk, menunggu penjelasan dari Ghazel, Karlina dan Ana duduk dikedua sisi tubuh Indah, mereka tau jika Indah sangat takut sekarang.
"Tuan, anda bisa jelaskan sekarang," ujar Han, yang berdiri disamping tempat duduk Ghazel.
"Han, duduklah," pinta Ghazel.
Han hanya mengangguk, dan duduk diujung sofa samping Alex, mereka semua menunggu penjelasan Ghazel.
"Saya tidak ingin basa-basi, mungkin saya akan berpisah dengan Indah," ucap Ghazel tenang, sedangkan yang lainnya terkejut bukan main, terlebih Indah.
Ia langsung menatap Ghazel, seperti terkena hantaman batu besar hati ini mendadak sakit, airmata yang tadi tertahan jatuh bak hujan.
"Apa yang kau pikirkan Ghazel?, mama tidak setuju!" tolak Karlina marah.
"Apa kau sedang ingin menghancurkan hidup adik saya Ghazel?," tanya Alex tak terima.
"Apa Indah melakukan kesalahan?," tanya Agung.
Air mata Indah mengalir deras, "M-mas, ke-kenapa?, a-apa a-aku hiks! Me-melakukan kesalahan?."
"Saya tekankan lagi, saya akan berpisah dengan Indah!," ucap Ghazel tegas.
"GHAZEL!" teriak Ana, "Saya tidak terima ini, kau sangat jahat, habis manis sepah dibuang!, kau memang penjahat!." tunjuk Ana.
Ghazel menyeringai," Bukankah kalian sangat tau jika saya penjahat, tapi mari bandingkan dengan kejahatan putri anda sendiri," ucapnya menatap Indah.
"Apa maksudmu?,"
"Putri anda yang bernama Indah Cristina Ayu ini, sangat licik!,"
"Ghazel!, jaga bicarmu!" bentak Karlina.
"Ma, kau seharusnya membelaku, apa kalian tau dia--" tunjuk Ghazel ke Indah, "sudah berencana akan menghancurkan ku, dengan dalil CINTA nya, dan bodohnya aku sudah termakan dengan rencananya, aku berpikir jika dia benar tulus pada ku, sikap, perhatian, dan ungkapan cintanya ternyata semuanya palsu!," ucap Ghazel geram. Terdapat rasa kecewa dari ucapanya jika mereka paham.
"Mas, a-aku bi-sa jelasin, itu se-semua ti-tidak be-benar!, aku benar-be-benar me-mencintai kamu," ucap Indah terisak.
"Oh ya?, bagaimana dengan ini," Ghazel memutarkan rekaman pembicaraan Naysa dan Indah saat didapur dulu, Semuanya terdiam, bahkan Indah terkejut, tak alihnya Naysa menyeringai senang.
"Bisa jelaskan Indah?," tanya Ghazel menatap tajam Indah, kedua manik mata mereka bertemu, satu mata dengan airmata yang deras, satu mata dengan tatapan emosi yang meluap.
Indah mengeleng cepat, "Itu...itu tidak benar, bun percaya sama Indah, ma, Indah tidak seperti itu," ucapnya menangis.
"Lantas itu apa Indah?," tanya Karlina, menatap Indah, tersirat kekecewaan dimatanya.
"Ma, mama tau Indah kan, Indah sangat men--"
"Saya tidak butuh cintamu Indah, terima kasih sudah mengajarkan arti CINTA untuk saya," ucap Ghazel memotong ucapan Indah.
"Bagaimana Airyn, apa ini yang kamu mau?, saya menceraikan Indah?, terima kasih berkat kamu saya tau kebenaran ini," ujar Ghazel, menatap kearah Airyn.
Dengan cepat Indah menatap kakaknya, yang duduk terdiam di samping Lydia, "Kak Ryn?," ucap Indah tak menyangka.
Mereka semua ikut menatap kearah Airyn, tanpa perduli Airyn malah duduk santai.
"Saya hanya melepaskan adik saya dari monster seperti kamu Ghazel, dan sama-sama," balas Airyn setenang mungkin.
Indah menatap Airyn tak percaya, "Mas, aku bisa je--"
"Dan saya akan mengembalikan semua aset tuan Agung yang saat ini saya kelola, Han tolong urus itu dengan cepat!,"
"Baik tuan," balas Han.
"Indah," Zahra menatap Indah sendu.
Indah menangis, mengeleng menatap Zahra, seakan-akan mengatakan jika dia tidak bersalah.
"Dengarkan aku dulu hiks!," isak Indah kembali menatap Ghazel.
__ADS_1
"Tak perlu!," balas Ghazel.
"Kenapa?, apa aku tak berhak membela diriku?, mas kau selalu tak mau mendengar penjelasanku!, aku mohon dengarkan aku hiks!, setelah kau mendengar baru kau putuskan," Indah menatap Ghazel memohon.
"Kau selalu percaya dengan apa yang tidak semestinya kau percayain!," sambungnya lagi.
"Lantas apa aku harus mempercayai mu nona Indah?," tanya Ghazel sarkas.
"Saya tak ingin berurusan dengan keluarga ini, Han kita pergi," Ghazel beranjak dari duduknya.
"Tidak! Tidak! Tidak!, mas dengarkan aku dulu, jangan pergi hiks," dengan cepat Indah mengejar Ghazel.
"Mama, Lydia, Zahra, Naysa, pulang sekarang!," titah Ghazel tanpa menoleh.
Indah masih mengejar Ghazel, "Mas, dengarkan aku dulu.." mohonnya.
"CUKUP!" Ghazel menepis tangan Indah kasar, membuat Indah terjatuh, tanpa perduli Ghazel langsung pergi.
Dengan cepat Indah berdiri, ia kembali memegangi tangan Karlina yang lewat, "Ma, Indah mo--"
"Mama kecewa Ndah, mama pikir kamu bisa menghidupkan hati putra mama yang mati, mama pikir kami sungguh-sungguh mencintai Azel," Karlina pun langsung pergi dengan airmata kecewanya.
Hiks!
"Mba Zahra," cicitnya.
"Berdoalah Indah, Ghazel sedang emosi sekarang, mba yakin dia akan menjemputmu, percaya pada cinta mu," Zahra mengusap bahu Indah memberikan ketenangan, setelah itu ia pergi.
Naysa tersenyum kecut saat melihat Indah, rencananya berhasil, "Gimana enak?, itu pembalasan dari saya," bisik Naysa.
Indah menatap Naysa tajam, "Padahal gue udah suka sama lo Ndah," Lydia langsung pergi.
"H-han," cicit Indah.
"Saya permisi dulu nyonya muda, saya pastikan semuanya baik-baik saja."
Indah terduduk, kakinya terasa lemas, dia juga ingin pulang, Indah menangis sejadi-jadinya. Ana menghampiri putrinya, ia sedih melihat keadaan Indah sekarang," Bun," ia memeluk Bundanya erat menangis disana.
"Sabar sayang,"Ana membelai rambut Indah, memberikan ketenangan disana.
"Bun ada apa ini?," tanya Bima, ia baru kembali karna harus mengurus pesta yang ditinggalkan oleh mertuanya.
"Loli, sebaiknya cepat urus perceraian Indah dengan monster itu," titah Airyn.
Indah yang mendengar hal itu, langsung melepaskan pelukannya pada bundanya, ia menghampiri Airyn.
"KAKAK!," teriaknya, "APA HAK KAKAK MEMUTUSKAN PERCERAIAN AKU! APA YANG KAKAK OMONGIN SAMA SUAMI AKU! APA?," tanya Indah dengan emosi tak tertahankan.
"Kakak hanya ingin yang terbaik buat ka--"
"Apa yang kakak tau hah!, aku yang tau apa yang terbaik untuk aku! Kau tidak punya HAK!, ingat batasanmu kak!." cerca Indah dengan napas yang mengebu-gebu.
"Indah!" tegur Agung, "Ayah tidak pernah mengajari anak ayah tidak sopan seperti itu."
"Yah, kenapa sih?, kenapa kalian ngak percaya sama mas Ghazel?, dia baik!, dia sangat baik, dia suami yang sangat tanggung jawab!, Indah yang sudah menjadi istrinya sangat beruntung!, dia menghargai Indah yah."
"Dia monster indah!," teriak Airyn. Dia sangat tak terima mendengar indah bicara hak atas apa yang telah ia lakukan.
"Monster?, dia suami aku kak!, dia suami aku!, DIA SUAMI AKU INDAH CRISTINA AYU ERLANGGA!, kalian dengar?" teriak Indah menatap tajam mereka. Semuanya terdiam.
"Rekamanan tadi ap--"
"Iya, itu benar bang, Indah tak menampik itu!, itu rencana dari kak Ryn!, tapi Indah tak pernah ngelakuin rencan itu lagi, karna Indah mencintainya-,"
"Rencana yang dibikin kak Ryn, malah membuat Indah terperangkap dengan cinta itu sendiri, sejak itu Indah benar-benar lupa akan rencana itu, tapi hari ini berkat kak Ryn, Indah.."
"Kau tersiksa disana, jangan bohongi kami!" potong Airyn.
"Tersiksa apa sih kak!, Indah baik-baik saja!, jika Indah tersiksa sudah lama Indah pulang!, kenapa kak! Kenapa kakak seperti ini?, puas sekarang!, puas karna mas Ghazel akan ceraiin Indah, PUAS!," teriak Indah depan Airyn.
"Ayah, ayah, Indah be-benar-be-benar mencintai Ghazel, per-percaya sama Indah," ucapnya mengenggam tangan ayahnya sambil terisak frustasi.
Indah berlari kearah bundanya, "Bun, bund hiks!, bunda bilang Ghazel Indah sangat mencintainya, bunda Indah mohon," tanggisnya.
"Bang Anton, bang Indah sangat mencintai Gahzel, Indah mohon bang, percaya sama Indah," Anton memeluk Indah.
Indah kembali menghampiri Alex,
"Bang Alex, bang Indah, Indah sangat mencintai Ghazel, bang Alex, tolong Indah, telpon Ghazel bilang jemput Indah sekarang."
"Rel, lo percaya sama gue kan, Rel, bilang sama mereka aku mencintai Ghazel, Rel, lo orang yang paling ngerti gue, plis" ia memohon dengan tanggis yang sangat menyedihkan, bahkan terisak keras, hingga terduduk lemas.
Aurel ikut duduk, memeluk Indah, "Aku percaya sama kakak kok," bisik Aurel.
Seakan tuli, Indah kembali berdiri, dan kembali meluapkan isi hatinya,"Kenapa kalian tidak percaya!, kalian lupa pengorbanan Indah, Kak ryn?, kenapa kak, kenapa kakak hancurin hidup Indah untuk yang kedua kalinya? Hah"
"Pertama, Indah rela mengantikan posisi kakak untuk menikahi Gahzel, itu demi keluarga ini juga, Indah harus ngobarnin masa muda, dan masa depan Indah, dan sekarang gara-gara kakak, rumah tangga Indah hancur, hancur kak!"
"Tidak...!Indah ngak mau!, Indah ngak mau!," racaunya terisak, Indah sudah terduduk lemas kembali.
"Baru saja Indah merasa sangat bahagia, sekarang hancur lagi," racaunya kembali, merasa sedih dengan kehidupannya.
Dengan cepat Indah menghapus air matanya, ia berdiri menghampiri Lolita, "Kak loli, tolong telpon sekretaris Han, aku aku bicara dengan nya, tolong,"
Ana menatapa sendu Indah, baru kali ini ia melihat Indah sehancur ini. Bahkan saat menikah dengan Ghazel dulu ia tidak sampai seperti ini. Apa mereka memang sudah sangat jahat itulah pikir Ana.
"Han, tidak mengangkatnya Ndah," ujar Lolita.
"Telpon mas Ghazel,"
"Aku tidak punya nomornya," ucap Lolita.
"Aku hapal, tulislah."
__ADS_1
Lolita hanya mengangguk, ia sangat terpukul dengan apa yang Indah alami sekarang.
"0896xxxxx"
Lolita segera menelpon nomor tersebut.
"Tidak bisa dihubungi, mungkin mereka sudah dipesawat," pungkas Lolita.
Indah termenung, airmatanya sejak tadi tidak berhenti mengalir, "Tidak!, Lolita...pesankan tiket ke Jakarta, sekarang, aku harus pulang," ucap Indah tanpa henti.
"Cepat Lolita!," bentak Indah.
PLAK!
Pipi Indah ditampar keras oleh Airyn, ia sudah jengah melihat tabiat Indah,
"Dia sudah membuangmu!, sadar Indah!," teriak Airyn, ia tak suka melihat Indah seperti gadis bodoh seperti ini.
Indah menatap ****** Airyn, tatapan yang tidak pernah ia tunjukan pada siapapun, "Anda yang membuat suami saya membuang saya!, saharusnya saya tidak pernah mendengarkan rencana sialan anda itu!, Nyonya Airyn saya mohon jangan ikut campur dengan urusan rumah tangga saya!," ucap Indah nyaring, sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Demi tuhan, Saya mohon," tekannya sambil menatap tajam Airyn.
Airyn tersentak mendengar penuturan Adiknya itu, apa yang dia lakukan ini salah?, dia hanya mau yang terbaik untuk Indah adiknya.
"Penerbangan untuk ke Jakarta malam itu sudah penuh," ucap Lolita.
"Bagaimana besok?," tanya Indah.
"Besok jam 11 siang,"
"Pesankan aku,"
Agung sedih melihat putrinya seperti itu,"Indah, sini nak," Agung meminta Indah duduk disampingnya.
Dengan langkah pelan, Indah menghampiri Agung, ia melewati Airyn begitu saja. Indah mendudukan dirinya disamping Agung.
"Apa yah?," tanya nya langsung.
Mereka semua ikut duduk, Bima juga membawa Airyn ikut duduk, ia sangat khawatir akan istrinya itu.
"Dengar nak, sebaiknya kamu jangan kembali dulu, ayah yakin saat ini Ghazel pasti masih sangat marah, ayah takut dia ngelakuin hal yang tidak-tidak pada kamu, ay--"
"Apa maksud ayah, aku harus kesini dan tidak pulang pada suamiku?, apa ayah ingin aku benar-benar ditinggal Ghazel?," tanya Indah, memotong omongan ayahnya.
"Tidak begitu sayang, ayah hanya ingin, kalian sama-sama nenangin perasaan kalian, jika sudah tenang kalian bisa bertemu, bicarakan ini baik-baik, kau jelas tau bagaimana suamimu kan sayang?," tutur Agung.
Indah saat ini sangat sulit berpikir jernih, bahkan saran ayahnya dianggap salah olehnya, "Indah akan tetap pulang!, ayah urus aja kak Ryn!," Indah langsung pergi kekemarnya.
Agung memurus mukanya kasar, ini adalah ulang tahun terburuknya, "Airyn, apa yang ada dipikiran kamu nak?, kenapa kamu tega sama adik kamu?," tanya Agung, menatap Airyn yang terdiam disamling Bima suaminya.
"Airyn, hanya ingin membebaskan Indah yah," jawabnya.
"Bukan membebaskan, kau malah menghancurkan hati Indah Ryn!," sambung Alex menatap Airyn kecewa.
"Aku tidak menyangka adik kecilku sangat mencintai monster itu," ucap Anton tersenyum sendu.
"Sekarang kita pikirkan, bagaimana Indah kedepannya," tutur Ana.
"Ceraikan Indah dengan Gha--"
"KAK AIRYN!" teriak Aurel, sejak tadi ia menahan diri untuk tidak ikut campur.
"Apa kakak sadar, kakak sangat egois!, berkat kak Indah, kak Ryn bisa bebas dari laki-laki yang kakak anggap monster itu! Dan bisa bahagia menikah dengan orang yang kakak cintai!, apa kakak sadar kakak sangat keterlaluan!,
Aurel bisa tahu jika kak Indah sangat mencintai bang Ghazel, dari sikap dan perlakuannya saja sudah jelas kak!, kakak meminta menceraikan kak Indah dan Bang Ghazel, orang yang kak Indah cintai?, bagaimana posisi itu ada dikakak, kak Ryn, apa mau menceraikan bang Bima?, bukankah kakak juga sangat mencintai bang Bima!, dengan itu kakak bisa merasakan hal yang sama dengan apa yang kak Indah rasakan!," Aurel menatap Airyn tajam, ia diam bukan berarti ia tak mengerti.
Airyn diam seribu bahasa, perkataan Aurel menusuk hatinya,"Indah cinta sama Ghazel?, oke fine, kakak setuju soal itu, pertanyaannya, apa Ghazel mencintai Indah?, apa kau mau Indah mencintai secara sepihak?."
"Bang Ghazel pasti cinta sama kak Indah," ucap Aurel mengebu.
"Benarkah?, kenapa dia dengan mudah mengatakan perpisahan?, bahkan pergi tanpa Indah?," sarkastik Airyn.
"Ghazel seperti itu karna dirimu Ryn!," ujar Anton geram.
"Apa kau senang sekarang?, kau lihat bagaimana hancurnya adikmu ryn?, dia seperti orang bodoh memohon sana-sini, bunda mohon nak, biar Indah yang memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya," sambung Ana.
Airyn terdiam, air matanya jatuh, "Ryn hanya mau yang terbaik buat Indah bun, Ryn hanya..."
"Sudahlah, sebaiknya kamu istirahat, kasian bayi dalam kandungan kamu, Bima bawa Airyn kekamarnya," titah Agung.
"Iya yah," Bima pun mengiring Airyn menuju kamarnya.
"Lolita, hubungi saya jika Han menelpon nanti," ucap Agung.
"Baik om," balas Lolita.
Sedangkan dikamar, Indah menangis dengan memeluk pakaian Ghazel, ia sangat merindukan suaminya itu, "Bahkan wangi kamu masih tercium mas," isak Indah.
"Mas, kamu seharusnya dengarin aku," sambungnya dalam tanggisnya.
...««Bersambung»»...
Bagaimana chapter ini?
Menurut kalian Ghazel sama Indah cerai ngak?
Pendapat kalian tentang Airyn gimana?
Sekian lama ngak update, karna demam, buat kalian staysafe ya, jaga pola makan, cuaca lagi ngak baik.
Salam hangat
♥(灬♥ω♥灬)
__ADS_1
Sekian dan terimauang.