
Deka mulai tak fokus dengan pekerjaanya, meski saat ini jarak rumah Arti dengan apartemen yang dia tempati tak jauh tapi rasanya mereka dipisahkan oleh beberapa pulau, jauh banget rasanya.
"Pah, handphone dong mau cek laporan anak anak ni," pinta Deka boong, siapa tau sambil menyelam bisa sambil minum air.
"Papa udah cek semua bisnis kamu, semuanya oke, aman terkendali, anak anak di panti juga sehat semua, jangan alasan kamu," jawab papa Gibran ga mau tertipu dengan akal bulus putranya.
"Aaahhh, papa pelit amat yak," gerutu Deka langsung menjatuhkan tubuhnya disamping papa nya yang lagi konsentrasi dengan laptop dan beberapa berkas disampingnya.
"Pah bentar aja, sepuluh menit deh nanti Dewa bantuin kerjanya!" rayu Deka lagi masih berusaha.
"Ga usah ni udah mau selesai," astaga papa Gibran luar biasa sekali kekehnya.
"Ahhhh papa ma nyebelin, Dewa mau kehotel tempat oma aja," jawab Deka kesal.
"Jangan macem macem kamu, lagi dipingit dilarang juga keluar rumah ngerti, lagian oma opamu kan lagi siapin acara buat kamu, mereka ga ada dihotel tau," jawab Gibran tegas.
"Astaga pa, kalian ma ga ikut ngrasain sesak nya kangen aaahhh," Deka malah menendang nendang kesal diatas sofa, membuat Gibran merasa senang tapi tetap aja cuek.
"Pah,"
"Heemmm,"
"Tante Luna sigle lo pah, mau ga Dewa comblangin?" Deka berusaha meluluhkan pendirian papanya dengan pesona tantenya.
"Jangan macem macem kamu," hardik papa Gibran.
"Kok macem macem gimana, Dewa serius ni," goda Deka lagi, Gibran merapikan pekerjaanya dan beranjak dari tempat duduknya, Deka tak mau putus asa dia pun mengikuti kemana papanya pergi, demi handphone geng.
"Pah,"
"Apa lagi ni anak ih," Gibran mulai tak sabar.
__ADS_1
"Tante Luna cantik lo pa, mirip kan ama bunda," goda Deka sambil tersenyum dan memainkan alisnya.
"Diem kamu, bundamu ga ada duanya pokoknya," jawab Gibran.
"Bunda pasti sedih lihat papa ga bisa move on gini," ucap Deka berusaha meluluhkan hati papanya.
Gibran meneguk air digelas yang dia pegang,"Hati papa milik bundamu jadi jangan yang aneh aneh kamu!" ucap Gibran lagi.
"Iya pa Dewa tau, tapi kan.."Deka tak berani melanjutkan kata katanya karena dia menangkap ada kesedihan dimata pria baruh baya ini.
Gibran kembali duduk di sofa apartemen Deka, "Pah,"
"Apa lagi!"
"Dewa laper pa!"
"Ya tinggal makan sih, tadi udah papa pesenin makan buat kamu," jawab papa Gibran.
Deka masih setia memperhatikam gerak gerik papahnya berharap pria paruh baya ini masuk kekamarnya atau paling tidak tidur lah, "ahhh kalau tidur harapanya tipis papa selalu online," gumam Deka.
Benar saja, Gibran tak memberikan celah sedikitpun pada Deka untuk kabur, membuatnya semakin tersiksa.
....
Disini sepertinya hanya Deka yang gelisah, Arti terlihat lebih sabar menghadapi waktu pingitan mereka.
Kedua oma Deka datang kekediaman Arti untuk mengajak Arti fitting baju yang sudah mereka persiapkan, waktu empat hari bukan waktu yang panjang bagi mereka untuk mempersiapkan pernikahan, untung ini hanya akan nikah, hufff dasar anak anak sekarang maunya yang ekstra aja.
"Wahhh, cucu oma cantik sekali," puji oma Iva ketika membantu Arti mencoba kebaya yang akan Arti gunakan dalam acara akad nikahnnya nanti.
"Makasih oma, tapi apa ini ga kemahalan," ucap Arti.
__ADS_1
"Enggak sayang, oma mau yang terbaik buat kalian," jawab Oma Iva.
"Makasih banyak Oma," jawab Arti.
"Apa yang orang tuamu lakukan untuk putri oma jauh lebih banyak dibanding ini sayang," ucap oma Iva dalam isak tangisnya, Arti pun memeluk wanita tua itu dan menenangkanya.
"Jangan nangis oma, bunda udah tenang disana, yang penting kita doain aja," ucap Arti.
"Insya Allah sayang," jawab oma Iva, mereka pun melanjutkan perjalanan mereka ke tempat Deka, sayang nya Arti tak boleh ikut turun karena mereka memang belum boleh dipertemukan, mereka sungguh tega rupanya.
Oma Renata dan juga Oma Iva turun membawakan baju yang akan Deka kenakan di acara akad nikahnya dua hari kedepan.
"Cepet dicobain, opa nungguin kami dibawah," ucap Oma Renata cuek pada Deka.
"Oma judes amat tumben," rayu Deka.
"Siapa suruh ngerjain oma, nikah maunya cepet cepet," umpat oma Renata lagi, oma Iva hanya tersenyum melihat perdebatan antara sahabatnya ini dengan cucunya.
"Katanya hari itu suruh cepet nikah, giliran Dewa minta dinikahin oma malah marah marah, piye to ma oma," goda Deka lagi.
"Oma bukan marah, oma hanya kesel aja sekali minta ga kasih oma nafas," jawab Oma Renata geram.
"Hehehe, oma cantik deh," ucap Deka sambil mengecup pipi wanita tua ini, dia jadi teringat mendiang Uti Sri, sedih juga tapi Deka selalu mengirim dia terbaik untuk uti tercintanya itu.
Setelah selesai mencoba bajunya, kedua oma nya pun berpamitan, kembali Deka galau karena masih belum berhasil meminta apa yang dia mau yaitu handphonenya, obat rindunya.
Kasihan sekali kau Deka, sekali ga boleh ketemu dikasih tembok tinggi bener hahaha.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1