IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Dasar Cowok


__ADS_3

Arti dan Deka diantar kekamar pengantin oleh Yudha disini Yudha kembali menggoda keduanya.


"Santai aja bang, nanti Yudha tutup telinga," Deka menonjok lengan adeknya, "Diem lo kampret," umpat Deka, ga tau apa ini rasanya lebih ekstrim dibanding pernikahan pertama, batin Deka, tak dipungkiri saat ini Deka kembali deg degan, tapi tidak dengan Arti dia terlihat lebih santai, toh ini memang yang dia inginkan, iya kan. Arti tak menghiraukan candaan suami dan adeknya, dia memilih masuk kedalam kamarnya.


"Yudha titip wanita pemarah itu ya bang, sekarang dia bukan tanggung jawab Ibuk dan Yudha lagi," ucap Yudha.


"Siap, Insya Allah," jawab Deka yakin.


"Selamat malam bang, selamat bersenang senang," Yudha meledek dengan suara sengaja dikerasnya, Deka hendak menonjoknya lagi tapi sayang Yudha udah duluan berlari meninggalkannya.


Saat lari Yudha malah menabrak tante Luna yang masih berbincang dengan ibu nya.


"Aduh," pekik Luna terkejut dan mengelus lengannya.


"Yudha kamu ini apa apan, udah gede masih main lari larian aja," gerutu Ibu Tika.


"Maaf mbak, eh tante, eh Unni," jawab Yudha gugup, wanita ini hanya tersenyum padanya.


"Iya tak apa," jawabnya dengan senyum manisnya,"Duh manisnya," gumam Yudha, ibuk Tika malah melotot padanya, ah Yudha malah terpesona dengan senyuman manis itu.


"Yudha, ibu boleh minta tolong antar mbak Luna ke hotel, tadi kesini nganterin kado titipan Oma Iva, ibu suruh nginep sini ga mau, katanya kasihan ama oma Iva," ucap Ibu Tika membubarkan lamunan Yudha.


"Boleh bu, mari mbak Luna saya antar," jawab Yudha sekaligus mempersilahkan Luna mengikuti langkahnya, Luna pun berpamitan dengan Ibu Tika dan beberapa kerabat dan tetangga yang masih stanby dikediaman Arti.


Yudha membukakan pintu mobil untuk tamu ibunya, "Silahkan mbak!" suruh Yudha.


"Makasih bang," jawab Luna, alamak aku dipanggil bang, emang umur dia berapa sih batin Yudha kepo.


Yudha mulai memaju mundurkan mobilnya agar bisa keluar dari parkiran, "Nginepnya dimana mbak?" tanya Yudha.


"Di hotel xxxxxxx bang," jawab Luna, kemudian dia diam lagi.


"Oke!" suasana kembali hening karena Luna hanya diam dan memperhatikan jalanan.


"Mbak Luna ni kalau diurut siapanya abang?" tanya Yudha mulai ehem ehem.


"Sepupunya mbak Yunita bang," jawabnya singkat.


"Ooo, kok bisa sekarang yang jagain Oma, emang mbak Yunita ga ada saudara lagi ya?" tanya Yudha lagi.


"Ga ada bang, beliau anak tunggal," jawab Luna lagi.


"Usia mbak Luna masih muda sekali saya rasa," ucap Yudha sedikit bercanda, cie babang Yudha berani ya sekarang deketin cewek.

__ADS_1


"Iya, saya anak dari adeknya tante Iva yang paling kecil bang," jawab Luna lagi, obrolan mereka makin seru, karena Yudha semangat bertanya dan Luna pun dengan senang hati menjawabnya.


"Ooo, pantesan sepertinya kita seumuran!" ucap Yudha, Luna malah tersenyum.


"Loh kok senyum, bener kan," tambah Yudha setengah bercanda.


"Enggak lah tuaan saya, sekarang saya 28," jawab Luna.


"Seumuran mbak saya dong, ga apalah beda dikit," ucap Yudha, Luna hanya tersenyum.


"Emang mau ngapain kok bilang ga papa beda dikit!" tanya Luna penasaran.


"Kali aja mbak jodoh saya," jawab Yudha asal, dasar pria gila batin Luna.


"Boleh kan saya deketin mbak Luna, ada yang marah ga?" tanya Yudha lagi, kali ini Yudha bener bener gercep (gerak cepat), Luna tak menjawab dia memilih tak menghiraukan ucapan dan pertanyaan Yudha.


Jika boleh jujur Yudha teramat penasaran dengan wanita yang ada disebelahnya, dia begitu pendiam menurut Yudha, sikapnya yang tenang membuat Yudha semakin penasaran, "Ahh nanti cari info tentang dia lewat abang ah, kali aja dia masih sendiri dan kami bisa berjodoh," batin Yudha sambil tersenyum simpul.


Yudha menurunkan Luna didepan lobi hotel," Makasih ya bang," ucap Luna.


"Sama sama, boleh minta nomer handphone nya?" tanya Yudha, bener bener kodok ni bocah.


"Buat apa?"


"Kali aja nanti saya butuh sesuatu, atau sebaliknya mungkin!" balas Yudha.


Setelah selesai memberikan nomer ponselnya ahirnya Luna pun berpamitan turun.


.......


Dikamar pengantin...


Arti sudah melepas semua hiasan kepalanya ketika Deka masuk, Deka tak mau mengganggu langsung wanitanya, dia memilih duduk disisi ranjang seperti biasa, seperti dulu kalau dia menunggu Arti bersiap.


"Loh Aak kok malah duduk diem, ga mau ganti baju?" tanya Arti sambil beranjak dari duduknya dan mendekti suaminya.


Aneh sekali Deka hanya diam tak menjawab ucapa istrinya, dia malah menatap aneh kearah Arti.


"Aak kenapa kok malah ngliatin Arti kayak gitu!" Arti berdiri mematung didepan Deka, karena dia sendiri juga heran kenapa suaminya jadi pendiam gini.


Deka menarik tangan wanitanya pelan dan lembut, memaksanya untuk duduk dipangkuannya, "Han, apakah aak mimpi!" tanya Deka, Arti tertawa pelan menertawakan isi pikiran suaminya.


Arti tak menjawab pertanyaan Deka dengan suaranya, dia memilih mencium kening suaminya, "Berasa Arti cium ga!" goda Arti.

__ADS_1


Deka tersenyum nakal, "Enggak!"


"Loh," Arti pun mencium nya lagi dipipi.


"Udah berasa kan kalau sekarang?"


"Enggak, belum!" jawabnya lagi masih dengan nada datar, Arti malah mengerutkan dahinya bingung.


"Modus ni," ucap Arti masih setia dipangkuan suaminya.


"Boleh kan Aak modus?" loh kok Aak jadi melo gini batin Arti, dia pun tersenyum manja.


"Sejak Aak ucapkan janji sehidup semati kita Aak berhak penuh atas istrimu ini sayang," jawab Arti apa adanya, Deka pun kembali tersenyum mendengar wajaban manis istrinya.


"Aak suka modusin kamu," canda Deka jujur, dia memang begitu, Arti mengalungkan tanganya keleher Deka dengan manja.


"Tapi kenapa aneh ya, Arti selalu nyadarinya telat," ucap Arti tersenyum malu malu, mata mereka saling menatap, Deka tak ingin berbicara lagi hatinya hanya ingin selalu menatap wajah wanita yang selama menganggu pikiranya.


"Aak mau mandi duluan apa Arti?" tanya Arti hendak beranjak dari pangkuan suaminya.


"Bareng!" pinta Deka manja, dan kembali menahan tubuh Arti agar tak menjauh darinya.


"Bantuin lepas kebayanya dulu!" astaga kalian sweet banget sih, Deka pun membantu Arti melepas baju kebayanya yang super ribet.


"Kancing nya kecil kecil amat han," ucap Deka.


"Ini oma Iva yang pilihin plus beliin, mau dibayar ama ibuk ga boleh tau ak," ucap Arti, mereka berdua masih sibuk mengurus kacing kancing kecil itu.


"Ga papa oma Iva uang nya banyak ini hehehe," dasar Deka bisa aja jawabnya.


"Dih Aak, beliau kan udah sepuh bukanya kita yang kasih malah ngabisin uang nya," ucap Arti cemberut.


"Nah udah, astaga Aak jadi mikir gimana cara bikinya itu!"


"Kalau masang gini ya mudah lah,"jawab Arti sambil melepas baju beratnya ini, dia segera menggambil kaos yang ada dilemarinya.


"Loh kok malah pakek kaos katanya mau mandi bareng!"


Arti tertawa mendengar ucapan suami nakalnya, "Aak aja dulu malu Arti!" Arti mendorong kuat kuat suaminya agar lebih dulu masuk kekamar mandi.


Bukan Deka namanya kalau kalah melawan lawan nya, "Wait wait wait,"


"Kenapa?" Arti tak menyadari jika Deka menjebaknya, tanpa kata Deka langsung membopong Arti dan membawanya kekamar mandi, mau ga mau Arti pun mengikuti apa yang suaminya mau, ahhh kalian memang selalu sweet.

__ADS_1


IMPIAN DEKA


Bersambung....


__ADS_2