IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Kesayanganku


__ADS_3

Hari ini aku memantapkan hatiku untuk pulang kekampung halamanku, kebahagiaan telah menyelimuti sanubariku karena hari ini adalah hari yang sangat aku nantikan.


Pesawat yang membawaku dari Jakarta ke Surabaya landing dengan selamat, pak lek yang sudah tau akan kedatanganku pun menyewa mobil untuk menjemputku, aku sungguh tak menyangka didalam mobil itu juga sudah ada seorang wanita tua yang sangat aku rindukan, siapa lagi kalau bukan mbah Utiku sayang, wanita pertama yang aku kenal dia yang memberikan kasih sayang padaku, membesarkan aku dengan cintanya bahkan dia korbankam semua waktunya hanya untuk mencari nafkah dan menyekolahkanku, dia adalah bidadariku meskipun bukan dia yang melahirkan ku.


"Assalamualaikum bebeb." sapaku sambil memeluk dan menciumi Mbah Utiku di pintu kedatangan domestik dibandara Juanda Surabaya.


"Waalaikum salam cah bagus, piye kabare (Waalaikum salam bocah ganteng, gimana kabarnya)?" tanya nya padaku dengan mata bersinarnya.


"Sae (baik) Ti, Uti gimana, Deka kangen Ti." ucapku sambil memeluk Uti kesayanganku, aku tak sanggup membendung air mataku karena rindu ini terasa sangat berat, tiga tahun aku tak bertemu dengan wanita tua ini dan sekarang aku sangat bahagia karena bisa memeluknya lagi.


"Wis ojo nangis ayo mantuk ( udah jangan nangis ayo kita pulang)." ajak Mbah Utiku sambil mengelus pundak dan rambutku aku masih memeluk tubuh renta nya, aku pun mengangguk, dibelakang Uti ada seorang bapak bapak yang sudah sedikit tua, dia adalah pak lek sebenernya dia hanya tetangga kami, tapi dia sangat baik pada kami bahkan dia lah yang mencarikanku pekerjaan dulu ketika dikampung, menjaga Utiku ketika aku ga ada dan mau merawat sapi sapi yang aku titipkan padanya.


"Pak Lek pripun kabare (paman bagaimana kabarnya)?" tanyaku sambil memeluk pria yang mengantar Utiku untuk menjemputku.


"Baik le, ijek iso boso jowo to (Masih bisa bahasa jawa to)." godanya.


"Teseh saget Pak Lek hahahaha (masih bisa paman)." jawabku sambil tertawa.


"Udah ayo jalan." ajak Mbah Utiku sudah tak sabar ingin membawaku pulang.


Kami pun masuk kedalam mobil Avanza yang disewa Pak Lek untuk menjemputku.


"Habis beli mobil Lek?" tanyaku.

__ADS_1


"Enggak le, ini boleh sewa." jawab nya.


"Kirain lek." godaku.


"Pak Lek belum mikir mobil lah le, adik adikmu masih kuliah satunya lagi SMA, oia hasil tambak semua udah pak Lek setor sama utimu ya, nanti kamu cek ulang saja disana juga sudah ada nota nota nya, sama itu sapi mu sudah ada enam ekor, terus terang pak lek ga sanggup kalau kerja sendiri jadi pak lek minta orang bantu buat ngrumputnya." ucap Pak Lek memberikan laporan pada Deka.


"Kalau dijual buat beli tanah bagus ga ya Lek?" tanya ku.


"Wah bisa itu le, mbak kung mu (Mbah kakung adeknya mbah Uti) mau jual tanah warisannya katanya kalau kamu mau itu saja dari pada dijual keorang lain." ucap Pak Lek, aku pun menoleh ke Utiku dia terlihat sedih.


"Mbah kung siapa pak lek?" tanya ku.


"Itu lo adek angkatnya Utimu yang tinggal diluar pulau." jawab nya, Uti memang tak pernah cerita apapun tentang keluarga kami Utiku terseyum kecut mendengar peryanyaanku.


"Emang Dewa punya mbah Kung Ti?" tanyaku.


"Kok Dewa ga pernah tau." jawab ku.


"Lah ga nanya." dia malah ngeles, dasar nenek tua bisa aja dia.


"Lah."


"Le, kalau kamu mau nanti anterin Uti kerumahnya ya sudah dua puluh taun beliau ga pulang, kamarin kasih kabar katanya dia sakit keras Uti mau negokin Uti kangen." ucap Utiku.

__ADS_1


"Dia mau jual tanah nya itu untuk berobat mungkin Ka." ucap Pak Lek.


"Boleh Lek bayarin aja, kurang berapanya nanti ngomong aja." ucap ku.


"Kamu mau balik lagi ke luar Ka?" tanya Pak Lek.


"Kayaknya enggak pak Lek, aku mau nemenin pacarku ini hehehe." ucapku kembali memeluk bidadari tua ini, Mbah utiku mengelus lengan dan juga mencium keningku membuatku sangat bahagia.


Berita kedatanganku juga sudah sampai ketelinga kedua sahabatku karena yangvsatu sudah menikah dan ikut istrinya, ternyata mereka sudah stanbay dirumah Utiku bahkan mereka berdua masak makanan kesukaanku, sungguh kebahagiaan yang tak ternilai.


Aku turun dari mobil yang membawaku, aku membatu utiku dulu baru membatu pak lek mengangkat koper koperku, kedua sahabatku sudah berada didepan gerbang pintu rumahku.


"Weh kalian udah dimari." sapaku sambil memeluk mereka berdua.


"Iya dong pejuang rupiah harus disambut." goda Wawan.


"Anjay." balasku, Anton hanya tersenyum dalam diam dia terus saja menatapku sambil kulihat matanya yang berkaca kaca, aku berfikir dia mungkin terlalu rindu padaku.


"Ngapa lo nangis kampret, ayang beb dateng bukanya seneng malah nangis." sapaku sambil memeluknya, dia masih diam dan menyusap kasar air matanya, tapi aku tau dia tersenyum.


Kami semua pun masuk kedalam rumah masa kecilku, rumah dimana aku dibesarkan, ada perasaan hangat ketika aku masuk kerumah ini sungguh berbeda bahkan perabot rumahnya juga sudah lumayan lebih baik dari terahir aku melihatnya, aku pun masuk kekamarku dan menaruh koperku, kamar dimana aku mulai berani bermimpi untuk pertama kali, kamar dimana aku pertama kali merasakan jatuh cinta, aku tersenyum kedua sahabatku pun ikut masuk kedalam kamar dimana kita bisa main PS bareng, anehku Uti tak pernah marah jika aku membawa pulang teman temanku, dua malah seneng yang penting aku betah dirumah dan ga kluyuran, kamar ini juga sudah diganti warna catnya menjadi lebih cerah aecerah hatiku, lemarinya juga sudah baru, kasurnya juga pokoknya sudah lebih bagus dari terahir aku disini.


Aku tersenyum dengan kedua sahabat yang setia mendampingiku menikmati kerinduanku pada kamarku.

__ADS_1


IMPIAN DEKA


Bersambung...


__ADS_2