
"Rumi, dimana Erina?" tanya Arti.
"Lagi bobo mi dikamarnya," jawab Arumi.
"Ohh, belum mau dijemput kan ama orang tuanya?"
"Papi belum ijinin orang tuanya ambil mi, soalnya surat suratnya belum lengkap, bu kepala panti juga ga berani main kasih," jawab Arumi sesuai dengan apa yang dia tau.
"Kamu ga usah panggil aku mami mami, panggil aja mbak, kalau kamu mau panggil pria narsis itu papi ya panggil aja dia begitu, lagian umur kita juga ga beda jauh kan," ucap Arti.
"Ga papa mi!" tanya Arumi.
"Ga papa, lagian kamu pantesnya manggil dia abang bukan papi, dih dasar," omel Arti.
dia tak menyadari jika suaminya ada dibelakangnya, Arumi hanya tersenyum geli.
"Jangan jatuhin harga diri papi terus mi, tadi sama Loli sekarang kamu pengaruhi Arumi pula," ucap Deka pura pura marah, "Habis narsis ga ketulungan," jawab Arti tak kalah sengit.
Deka pun mendekati pacar tuanya, "Hay pacar tuaku, masak apa?" tanya Deka sambil memeluk manja mertuanya.
"Ikan asam manis balado telur sama sayur sob, mau makan udah mateng ni?" ucap Ibu Tika.
"Rumi lihat aja, semua orang dipacarin, dari Loli ibuk ku ga tau besok siapa lagi, hati hati kamu jangan terperdaya olehnya," ucap Arti memperingatkan Arumi, seolah dia tak ingat bahwa dia pun tergila gila pada Deka dikehidupan nyata ini, Arumi hanya tersenyum melihat tingkah konyol suami istri ini.
"Nanti aja bu bareng anak anak, oia Rumi orang tua yang mengaku ibuk bapaknya Erina udah datang lagi belum?" tanya Deka.
"Belum pi, kayaknya hari ini tes DNAnya keluar, kalau surat lahir dari rumah sakit udah mereka berikan kemarin," jawab Arumi.
"Oooo, itu mami mu mau ketamu katanya, mana dia?" tanya Deka.
"Dia bobo pi," jawab Arumi sambil sibuk menyiapkan piring untuk adek adeknya.
"Wa, Ibuk mau ngomong!"
"Boleh, mau ngomong apa buk,"
"Si Arum kalau ibu minta boleh ga?" tanya Ibu Tika, Deka bingung dengan maksud ibu mertuanya, Arumi yang mendengar pembicaraan mereka hanya diam.
"Maksud ibuk?" tanya Deka.
"Maksud ibuk buat adekmu si Yudha," Deka hanya menatap tak percaya pada ibunya,.
__ADS_1
"Wah Rum, ibuku sudah terpesona sama kamu ini, kamu ga mau jadi mantunya?" goda Deka, Arumi hanya tersenyum meski hatinya masih merasa ingin bilang belum mau.
"Rumi terserah papi aja, yang menurut papi baik aja tapi kalau boleh Rumi minta, Rumi masih mau nerusin kuliah," jawab Arumi, Deka bisa menangkap kekhawatiran anak ini.
"Kami ga paksa Rumi, kalian kenalan dulu aja untuk masalah kuliah gampang yang penting kamu mau dan iklas, kalau ga repot nanti," ucap Deka, sepertinya dia juga mau yang terbaik untuk mereka.
"Iya Rumi papimu benar, kami ga maksa kok, kamu mau ga ketemu sama adekku dulu?" tanya Arti mencoba membantu niat ibuknya.
"Baiklah mbak kalau cuma ketemu Rumi mau," jawab nya.
"Oke, nanti papi atur pertemuan kalian, kalau ga ada klik kamu jujur aja Arumi, jangan takut nanti papi juga pasti nanyain dia juga, intinya kami disini ga mau main paksa," ucap Deka.
"Iya pi," jawabnya malu malu.
.......
Sebulan berlalu sejak pembicaraan itu Arumi sering tak bisa tidur, fikiranya sering ga konsen, entahlah rasa penasaranya terhadap calon suaminya semakin menjadi ditambah dia telah mendapat kabar bahwa Yudha siap mempersuntingnya padahal bertemu pun belum.
"Bantu aku mantapkan pikiranku Tuhan," gumam Arumi sambil memeluk guling kesayanganya.
"Jika aku menolak bagaimana dengan semuanya, papi, bang Joker mbak Arti bude Tika semua baik Tuhan, tapi Arum masih pengen sekolah," semakin hari Arumi hanya memikirkan perjodohanya dengan Yudha, ahh sudah lah jika ini yang terbaik pasrahnya.
......
"Arumi gadis baik han, semoga mereka jodoh," jawab Deka meyakinkan istrinya.
"Beneran dia adeknya Joker Ak?" tanya Arti tak percaya.
"Beneran emang kenapa?"
"Abangnya serem gitu adeknya cantik banget, putih, hidung nya bulu matanya lentik astaga, perfec gemes Arti pengen dandanin dia deh," ucap Arti sambil tertawa bahagia.
"Joker ganteng lo kalau mau cukur ama itu mukanya dirawat, lihat aja si Tio cakep kan," ucap Deka lagi.
"Iya juga ya," heemmm kumat oon nya.
"Eh Ak, kata ibuk Yudha pengen lihat calon istrinya ," ucap Arti.
"Ya udah suruh dateng aja, nanti kalau ga suruh taaruf aja dulu atau mau diakadtin juga ga papa, nanti setelah Rumi lulus baru diresmiin," ucap Deka memberi saran.
"Mana yang baik aja lah Ak, ikut maunya mereka aja," jawab Arti.
__ADS_1
Arti melangkah hendak mengambil minum tiba tiba mata nya berkunang kunang hendak pingsan untung Deka segera menangkapnya.
"Ya Allah han, ada ada apa sayang?" tanya Deka khawatir, dia pun langsung membopong tubuh mungil istrinya, rasa khawatirnya makin bertambah ketika Arti memenjamkan mata seolah menahan sesuatu yang hendak keluar dari tubuhnya, Deka pun mengambilkan segelas air putih untuk Arti.
"Ga tau Ak, beberapa hari ini kepala Arti rasa sakit terus, harusnya kan cek upnya bulan depan lagi ya kan," ucap Arti, sambil memegangi perutnya yang mual dari tadi.
Arti langsung beranjak dari pembaringanya dan berlari menuju kamar mandi, karena dmsudah tak tahan,Deka tak diam saja dia pun mengikuti istrinya kekamar mandi, "Huek huek," Arti pun mengeluarkan seluruh isi perutnya.
"Astaga han, kamu belum maem kah atau salah maemnya?" tanya Deka, Arti menggeleng.
Arti kembali lemas, Deka pun memapahnya lagi, dan membawanya duduk disisi ranjang, "Ak pengen cium aroma Aak," ucapnya.
"Hah," Deka hanya melonggo mendengar permitaan aneh istrinya, tapi dia tak mungkin menolak, Deka hanya diam saja ketika istrinya menariknya dan menciuminya dari leher kadang tak jarang ciumnya sampai keketiak, ingin rasanya dia tertawa tapi takut ratu drama ini akan marah.
Arti memeluk erat suaminya dan menghentikan aksi cium ciumnya "Udah han?" tanya Deka.
"Udah," ucapnya masih dengan suara lemahnya karena masih merasa lemas, dia pun memilih berbaring.
"Ak baju Aak yang Aak pakek tadi siang mana?" tanya Arti.
"Ada dikranjang baju," jawab Deka.
"Tolong ambilin boleh," pintanya.
"Buat apa han, kan kotor," ucap Deka.
"Ayolah Ak ambilin jangan nanya terus," pinta Arti lagi suaranya makin melemah, Deka pun tak ingin berdebat diambilnya baju yang Arti mau dan memberikanya pada istrinya yang menunggunya sambil meringkuk seperti bayi.
Arti menerima baju itu dan memeluknya, Deka hanya melihatnya heran kenapa lagi ni ratu drama, "Kedokter yuk han," ajak Deka, dia hanya menjawabnya dengan gelengan kepala.
"Masih sakit ga?" tanya Deka khawatir.
"Enggak, udah enak sekarang," jawabnya sambil menutup separo wajahnya dengan baju bekas pakai Deka.
"Ga bauk han bajunya?" goda Deka.
"Enggak ini harum, kalau Aak ga ada baunya enakan ini," jawabnya, Deka tertawa pelan sambil mengigit bibirnya, agar Arti tak dengar jika dengar pasti akan marah padanya.
Deka mengelus punggung istrinya, tak lama terdengar nafas teratur Arti pertanda dia sudah tidur, Deka pun mencoba mengambil baju kotor itu sayangnya Arti memegangnya sangat erat, ahirnya Deka pun menyerah dan membiarkannya.
IMPIAN DEKA
__ADS_1
Bersambung...