IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Kejujuran


__ADS_3

Vincent kembali kekamarnya dan melihat Stella tertidur disofa sambil duduk terlihat sangat cute dan menggemaskan.


Vincent mengangkat tubuh indah Stella dan merebahkan nya diranjang king size miliknya, Vincent tak ingin merusak kepercayaan Stella padanya dia pun memilih tidur diruang kerjanya.


.....


Malam semakin larut tapi Deka masih berkutat dengan berkas berkasnya, dia membaca lembar demi lembar kertas kertas yang diberikan Vincent untuk nya.


Mata Deka terbelalak ketika mengetahui fakta bahwa pemilik hotel tersebut adalah kakek kandung nya, dan siapa wanita itu kenapa dia berani sekali menjual adet milik keluarga besar nya.


Dengan berbekal keinginan kuat nya Deka pun menjelajah informasi dengan laptopnya dan mencari info tentang siapa saja anggota keluarganya.


Selama ini Deka masih ragu, dan berusaha melupakan identitas aslinya, tapi saat mengetahui aset kakeknya hendak digadaikan maka timbul rasa penasaran dihati Deka.


Jam dinding nya menunjukan pukul 1 dini hari, dia merasa sangat lapar.


"Duuh laper banget sih?" guman Deka, dia pun keluar kamar dan berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa dia makan, dia sangat terkejut ketika menabrak seseorang.


"Astaga, siapa kamu!"


"Saya Stella." ucap Stella tak kalah terkejut.


Deka pun menyalakan lampu dapur dan benar saja wanita yang dia tabrak barusan adalah Stella.


"Eh, elo masih disini ste?" tanya Deka.


"He em, mau anterin gue pulang ga ka?" tanya Stella.


"Boleh, pak bos mana?" tanya Deka.


"Ga tau gue, pas gue bangun dia ga ada." jawab Stella.


"Oo, paling dia tidur diruang kerjanya." jawab Deka.


"Anterin gue pulang ya Ka." pinta Stella.


"Kenapa emang ini rumah calon elo kan." goda Deka.


"Belum boleh kodok, issh ayolah nyai bisa ngamuk ama gue pulang telat gini, dia pasti nungguin gue." jawab Stella, Dekaemgeritkan dahinya.


"Pliss." Stella memohon pada Deka.


"Udah pamit belum?" tanya Deka.


"Aku udah kirim chat, nanti kalau doi bangun biar dibaca." jawab Stella.


"Oo, oke lah ayo." Deka pun mengambil kunci mobil dan bersiap mengantar Stella.


"Ntar anterin gue sampai masuk rumah ya gaes, bantu jelasin sama nyai oke kalau gue ketiduran ye, pliss." pinta Stella sambil memohon pada Deka.


"Lo kenapa takut banget sama nyai lo itu?" tanya Deka.


"Dia tu udah kayak emak gue banget Ka, dia jagain gue kayak gue adeknya aja, pokoknya gue ga mau bikin dia kecewa." jawab Stella.


"Oke, ntar gue bantuin." jawab Deka, Deka kembali diam membuat Stella curiga.


"Lo kenapa gaes?" tanya Stella.


"Gue kagak kenapa napa cuma agak sakit aja badan gue." ucap Deka.


"Sory gaes kalau tau lo sakit gue ga bakalan minta lo buat anter gue." jawab Stella.


"Ga papa santai aja." jawab Deka, tetap konsentrasi pada kemudinya.


Sesampainya parkiran rusun tempat tinggal Stella, Deka pun menepati janjinya untuk mengantar Stella sampaibdidepan rumah.


Stella membuka kunci pintu rumah nya, ternyata Stella ga boong, dia melihat Arti masih asik menonton Tv sambil menunggunya.


"Sory baby gue ketiduran dirumah dia." tunjuk Stella pada Deka, Arti menatap tajam pada keduanya.


"Iya mbak tadi pas saya tinggal kerja ama pak bos ce Stella ketiduran." ucap Deka membantu Stella menjelaskan apa yang sebenernya terjadi.

__ADS_1


"Lain kali jangan pulang telat." gumam Arti.


"Iya mami sayang, maafkan ya." ucap Stella sambil memeluk Arti, Stella pun berpamitan pada mereka berdua dan masuk kedalam kamarnya.


Deka pun ikutan berpamitan "Aak balik dulu ya sayang." ucap Deka, dia mendekatkan tubuhnya hendak mengecup kening Arti lagi.


"Jangan pulang." pinta Arti, Deka tak menyangka bahwa Arti akan mencegahnya pergi.


"Nanti Stella tau." ucap Deka.


"Biarin." Arti pun menarik tangan Deka, mengunci pintu rumahnya dan mengajaknya masuk kedalam kamarnya.


Deka duduk disisi ranjang kamar Arti, dia bingung harus berbuat apa, Arti masuk kedalam kamar mandinya untuk membersihkan diri dan berganti pakaian, Arti keluar kamar mandi menggunakan baju tidur lengan pendek dan celana panjang, kali ini dia tak memakai kerudung nya, dia mengurai rambut panjang nya terlihat sangat manis sekali.


"Apakah aku bermimpi." batin Deka.


Arti terlihat sangat cuek ketika Deka terus menatapnya.


"Kenapa Aak ngliatin Arti segitunya, Arti serem ya?" tanya Arti.


"Enggak kamu cantik." jawab Deka.


"Aak udah sholat isha belum?" tanya Arti.


"Udah." jawab nya.


"Oke, mau ganti baju apa mau pakek baju itu aja bobonya?" tanya Arti.


"Ini barusan ganti juga kok pas mau anter ce Stella tadi." jawab Deka.


"Ya udah bobo sini." pinta Arti sambil menepuk sisi ranjang nya yang kosong.


Dengan debaran jantung yang susah dikendalikan ahirnya Deka pun merebahkan tubuhnya diranjang empuk milik Arti.


"Aak kenapa, aak takut." tanya Arti ketika melihat Deka hanya menatap kosong pada langit langit kamarnya.


"Enggak, Aak tadi habis dapet info soal keluarga kandung Aak." ucap Deka.


"Belum, hari itu sebelum kita nikah kakung baru kasih tau Aak siapa ayah Aak sebenernya dan tadi sore barusan Aak terima info soal mereka." jawab Deka mulai mau terbuka pada Istrinya.


"Sabar ya Ak semua akan indah pada waktunya, semoga keluarga Aak bisa terima Aak nantinya." ucap Arti sambil mengelus lengan Deka, Deka melirik istri cantiknya.


Arti menarik selimut dan menutupi tubuh suaminya dengan selimut setelah itu dia pun ikutan masuk kedalamnya.


"Aak boleh ga peluk kamu?" tanya Deka. Arti mengangguk.


Arti pun merebahkan tubuhnya berdekatan dengan Deka, bahkan menjadikan lengan Deka sebagai bantal untuknya, Deka mengecup mesra kening istri cantiknya.


Arti menengadahkan wajahnya seolah mengijinkan Deka untuk mencium setiap inci wajahnya.


Deka yang merasa mendapatkan lampu hijau pun tak menyianyiakan kesempatan ini, Deka pun kembali menikmati pipi mulus milik Arti, mengecup kening, pipi, dan kedua kelopak mata wanita cantik ini serta satu lagi yang dia ragu ingin memulainya tapi dorongan kuat hatinya telah mampu menepiskan rasa ragu itu, toh Arti tak menolak nya, dikecupnya bibir pink Arti, Arti masih pasif dia masih diam dan menerimanya Arti hanya mencengkeram kuat kaos yang dikenakan Deka, Deka tau jika Arti masih takut untu memulainya.


"Tidurlah." bisik Deka.


"Sekali lagi maafin Arti ya Ak." ucap Arti.


"Iya Aak udah maafin, tapi jangan gitu lagi ya Aak sedih." ucap Deka sambil memainkan anak rambut istrinya.


"Iya Ak, maaf ya Ak, Aak kalau habis pulang kerja pulang kesini dong." pinta Arti, uwiihhh istri gue kalau udah maunya ga pakai basa basi.


"Hah, serius?" goda Deka.


"Salah ya Ak." Arti merasa malu dengan sikapnya yang terbilang agresif.


"Ga lah sayang masak pengen ngumpul ama suami kok salah, tapi kamu mau ga nunggu sampai Aak bisa beliin rumah buat kamu." ucap Deka.


"Ya kan ga papa Ak sementara kita tinggal disini." ucap Arti lagi.


"Aak mau, cuma kan di rumah ini ada wanita lain selain kamu istriku, Aak ga mau nanti timbuh fitnah oke, kamu paham kan tunggu dia nikah dulu ama pak bosku nanti baru kita bahas soal kita ga papa kan." balas Deka.


"Emang beneran Ak bos nya Aak suka ama Stella?" tanya Arti.

__ADS_1


"He em, kayaknya ga lama lagi mereka bakal nikah." jawab Deka.


"Syukurlah, Stella itu gadis baik Ak cuma nasibnya aja yang kurang baik ibu tirinya jahat banget." ucap Arti.


"Dia cerita apa aja sama kamu Yank?"tanya Deka.


"Semuanya Ak, dari masa kecilnya dia disuruh jualan keliling sama ibu tirinya Ak, kalau dagangan nya ga habis disuruh makan sampai habis Ak," ucap Arti bercerita sedikit tentang Stella sahabatnya.


"Ya Tuhan, ternyata nasibnya lebih parah dibanding aku." ucap Deka.


"Pas papa nya meninggal lebih parah lagi Ak, dia dijual katanya."


"He em, terus ketemu aku sama bos di club." jawab Deka.


"Aak pernah ke club?" tanya Arti sambil menjauhkan tubuhnya, Deka tersenyum dan paham akan apa yang istrinya pikirkan.


"Ya kan kamu tau yank Aak kerjanya apaan, Aak cuma ngikutin bos nya Aak doang, tapi kalau untuk urusan ranjang Aak belum pernah melakukanya."ucap Deka jujur dan apa adanya.


"Aak serius ga boong, Aak berani bersumpah demi Tuhan." hardik Arti sambil menunjukan ketidak percayaan nya pada Deka, Deka hanya tersenyum melihat tingkah posesif istrinya.


"Iya sayang suamimu ini masih orisinil." jawab Deka sambil tersenyum malu.


"Ga percaya pasti boong."


"Enggak sayang periksa aja kalau ga percaya." ucap Deka.


"Gimana caranya kalau cowok kan ga kelihatan, sudah pernah melakukanya apa belum." jawab Arti ga mau kalah.


"Aak belum pernah melakukan nya sayang, Aak berani sumpah atas nama Tuhan." jawab Deka.


"Bener."


"He em, tapi mata Aak sudah ternoda soalnya sering lihat cewek telanjang dan melakukan itu." jawab Deka.


"Dih Aak dosa tau."


"Iya Aak tau itu, habis mau gimana lagi namanya juga kerjaan Aak yang mengharuskkan Aak berada dilingkup seperti itu." Deka berusaha meminta pengertian istrinya.


"Tapi kalau ciuman pernah kan?" tanya Arti masih aja penasaran dengan suaminya.


"Pernah sekali."


"Sama siapa?" tanya Arti dengan wajah mengintimidasi.


"Sama mantan pacar pertama Aak." jawab Deka jujur.


"Jadi bibir ini bekas cewek lain ha, sini Arti bersihin." Arti pun mengelap bibir indah Deka dan mengusap usapnya seperti tak terima jika bibir itu dimiliki wanita lain.


"Bukan kayak gitu cara bersihin nya sayang." ucap Deka.


"Lalu."


Deka pun mengajari Arti untuk memangut bibitnya, Arti pun menuriti saja keinginan licik Deka, mungkin dia tak menyadari kemodusan suaminya.


"Nah udah bersih, awas kalau cium cium cewek lain." ancam Arti lagi.


"Enggak sayang Aak janji, Aak cintanya cuma sama kamu." jawab Deka.


"Arti juga sayang Aak, Ak Arti mau kasih tau sesuatu sama Aak."


"Tentang?"


"Kondisi kesehatan Arti."


"Kenapa kamu kenapa sayang?" Deka pun penasaran akan keadaan istrinya.


"Arti bisa hamil Ak." ucap Arti, Deka menatap tak percaya dengan apa yang barusan istrinya sampaikan, tapi Deka sangat bahagia dengan kabar ini.


IMPIAN DEKA


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2