
Malam itu juga Yudha dan Uti Tika langsung menyusul kerumah sakit, Uti Tika sangat geram dengan apa yang dilakukan oleh mantan calon besannya.
"Kenapa dia tega sekali Yud sama mbak mu, belum cukupkah mereka menyakitinya dulu, bahkan dikehidupan yang kedua nya ini juga mereka kembali menyakitinya," ucap Uti Tika dalam tangisnya, Yudha yang sedari tadi menahan emosinya pun ahirnya buka suara.
"Kalau dia bukan orang tua, udah gitu perempuan lagi udah Yudha gamparin kali bu," ucap Yudha sedikit menggerutu, dia juga ga mau membuat ibunya malu.
"Ibuk hanya ga habis pikir dek, lalu gimana dengan abangmu tadi apa dia ada?" tanya uti Tika.
"Ada bu, dia peluk mbak terus, abang sebenernya mau ngomong juga, tapi mbak tahan," jawab Yudha.
"Aduh Yud ibuk malu sama abangmu," ucap Uti Tika.
"Ga papa buk, abang pasti ngerti kita kok, ini semua bukan salah mbak," jawab Yudha.
Mereka mengahiri obrolanya, Yudha pun memarkirkan mobilnya dan segera keluar menuju kamar dimana Arti dirawat.
"Bang," sapa Yudha yang melihat Deka duduk termenung didepan kamar inap Arti.
"Heemm," jawab Deka, dia pun langsung beranjak dari duduk nya dan menyambut ibu mertuanya dengan mencium tangan wanita tua itu.
"Kenapa diluar nak?" tanya Uti Tika.
"Arti sedang diperiksa ti," jawab Deka.
"Ooo, Uti minta maaf ya nak karena udah ngrepotin kamu," ucap Uti Tika.
"Jangan ngomong gitu Ti, Dewa yang harusnya minta maaf karena gagal jagain istri Dewa," jawab Deka dengan muka cemas.
Dokter pun keluar dari kamar rawat Arti dan menyapa mereka.
__ADS_1
"Sudah pak," ucap pak Dokter.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanya Deka.
"Kita lihat perkembangan nya besok ya pak, untuk mendarahan di otaknya sudah sembuh hanya ada beberapa titik yang butuh pemulihan, saya hanya minta jaga emosinya saja untuk saat ini," jawab Pak Dokter.
"Baik dok, terimakasih banyak," jawab Deka lagi, kemudian Dokter itu pun pergi meninggalkan kami.
Yudha Uti Tika dan juga Deka pun masuk keruangan Arti, Arti melamun menatap jauh keawang awang.
"Nak, bagaimana kabarmu?" tanya Uti Tika sambil mengelus ramput hitam putrinya, Arti tak merespon hanya air mata yang terus keluar dari pelupuk matanya.
"Jangan menangis sayang, ini semua bukan salahmu," ucap Uti Tika lagi mencoba menenangkan hati putrinya.
"Inikah alasan kenapa mas Anji ninggalin aku bu?" tanya Arti dalam tangisnya.
"Karena Arti ga bisa punya anak kan, karena Arti mandul kan bu," ucap nya lagi, Arti semakin emosi mereka sangat takut jika Arti kejang seperti tadi.
"Sayang kenapa kamu bilang seperti itu, kami semua menyayangimu," Uti Tika tak tahu harus menjawab apa, karena itulah kenyataanya.
"Kenapa ibu ga cerita bu, ibu tau kan Arti ga ingat apa apa, Arti pikir saat ini Arti masih kekasih mas Anji buk," ucap Arti lagi, Arti semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi pada dirinya sekarang.
"Arti juga ga tau kalau Arti sudah menikah dengan pria yang punya banyak istri itu buk, Arti berasa seperti wanita murahan buk, kenapa ibu tega menjual Arti pada pria ini buk?" tanya Arti semakin menggebu, Uti Tika menatap heran ke arah Deka, Deka hanya menggaruk alisnya yang tak gatal, dia juga bingung gimana caranya menenangkan wanita pemarah ini, hemm senjata makan tuan kan.
"Banyak istri, maksud kamu apa nak, Ibu ga punya..???" Uti Tika belum selesai berucap tapi Yudha memotong nya, "Buk, sebaiknya kita jangan ikut campur kalau urusan mereka berdua, ibuk ga mau kan terjadi apa apa!" ucap Yudha memperingatkan, meski bingung plus heran Uti Tika kembali diam.
Deka mendekati istrinya dan memegang tangan wanita yang dicintainya, sayang nya Arti menolak.
"Jangan pegang pegang ih," ucap Arti ketus, seperti biasa Arti menatapnya dengan tatapan permusuhan, membuat hancur perasaan Deka.
__ADS_1
"Han, maaf," hanya itu kata yang mampu Deka ucapkan untuk saat ini.
"Han han, apaan han?"
"Bang Deka emang biasa manggil mbak dengan sebutan honey kan dari dulu," ucap Yudha mengingatkan, Deka malah terlihat seperti kerbau yang dicucuk hidung nya, diam memantung tanpa kata.
"Mulai sekarang jangan panggil aku han han, aku bukan han mu, oia pulang sana aku ga mau jadi salah satu istrimu, aku akan bekerja dan melunasi hutang orang tuaku, aku harap kamu berbaik hati mau menceraikanku," ucap Arti lantang, kali ini dia sama sekali tak memberi ampun pada Deka, Deka menatap Arti dengan tatapan mengiba.
"Mbak, mbak salah paham," ucap Yudha.
"Salah paham apa, dia bilang sendiri kok kalau mbak cuma jadi alat pembayaran hutang bapak sama ibu iya kan, belum lagi pria jelek ini banyak istri, ogah mbak," ucap Arti, rasanya Deka dan Yudha ingin tertawa, marah ahh Deka ga tau harus gimana.
"Han, sori," ucap Deka, jujur saat ini dia juga malu pada Uti Tika, Uti Tika yang bingung dari tadi ahirnya mengerti, kenapa hari itu putrinya nangis nangis dan minta dijinin pisah sama memantunya, ternyata sebabnya adalah akal akalan Deka sendiri. Uti Tika juga paham kenapa Yudha memintanya tidak ikut campur urusan mereka berdua.
"Jangan panggil gitu ih, aku jijik," ucap Arti sedikit emosi.
"Mbak jangan gitu, abang ga seperti yang mbak pikirkan," ucap Yudha berusaha menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Ngapain kamu belain pria banyak istri ini, seumur umur mbak ga pernah mimpi dimadu kamu tau ga, biar mbak mandul juga mbak ogah, mbak ga habis pikir kenapa dulu mbak mau aja nikah ama pria jelek ini," umpat Arti lagi.
"Astaga mbak, ganteng gini masak dibilang jelek," Yudha masih terus berusaha membela abang nya.
"Udah pergi sana, kamu juga jangan dekati mbak kalau kamu masih terus belain pria menyebalkan ini hah, awas besok dateng kesini," ancam Arti, dasarnya Arti memang pemarah, sifat bar barnya selalu siap muncul kapan saja jika apa yang terjadi tak sesuai dengan apa yang jadi prinsipnya.
Deka tak mau berdebat dengan istrinya, dia memilih mengalah dan mengajak Yudha keluar dari ruangan ini.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1