
Deka diarak oleh warga ketika berada di TKP bahkan dia sempat ditimpukin batu oleh warga sekitar, Deka tak perduli matanya tetap waspada, telinganya masih terjaga, beruntung dia adalah tersangka tunggal jadi dia bisa berkonsentrasi dengan apa yang ada disekeliling nya.
Anak buah Deka juga sudah bersiap, tim pengacara dan juga orang orang yang sudah siap membelanya juga ada disana, Vincent pun ada tapi dia memilih berada dimobil, Deka memang melarang nya untuk mendekat.
Penyidik yang bekerja sama dengan Erika terus menekan nya agar menuruti jalan cerita yang mereka buat, Deka hanya diam dan kadang menertawakan karangan cerita penyidik.
"Jangan terlalu yakin pak penyidik yang terhormat, saya tau siapa yang membayar anda, anda lihat orang orang yang menatap anda," gertak Deka dalam bisikan nya, terlihat oknum penyidik itu gemetar pertanda dia paham apa yang Deka ucapkan, Macan dilawan.
"Heh, kamu kira aku takut dengan mu!" balas oknum penyidik yang memimpin jalan rekontruksi itu.
"Kita lihat saja nanti, karangan ceritamu itu atau kebenaranku yang akan menang," balas Deka tak mau kalah.
Deka mulai memainkan kecerdikanya melalui matanya, dari ujung matanya dia menangkap seseorang yang membawakan minum padanya saat diruang rapat malam itu.
"Jo, kaos abu abu jaket crem topi coklat," Deka berbisik pada salah satu anak buahnya yang menyamar menjadi warga masyarakat disana.
"Siap bos," jawab anak buah Deka, separo dari mereka pun bertidak setelah mendapat arahan dari ketua geng milik Deka, pengacara Deka masih sibuk mempelajari jalan rekontruksi yang dibeberkan oleh oknum penegak hukum itu.
Deka tidak fokus di sana, dia lebih memilih fokus pada orang orang yang mungkin dicurigainya.
"Jo, jaket hodie warna marun," Deka kembali memberi petunjuk, "Siap bos," anak buah Deka langsung tanggap.
Rekontrusi kejadian itu ahirnya berahir, dengan keadaan tangan masih diborgol dan wajah tertutup masker Deka pun tetap mengikuti arahan para oknum penengak hukum yang hendak mengadilinya.
Deka tersenyum licik didalam mobil tahanan yang membawanya, "Pak boleh saya lepas maskernya enggap ni pak," pinta Deka.
"Buka aja," jawab salah satu polisi yang ada disamping nya.
"Ga enak ya pak jadi tersangka," Deka mulai memancing salah satu polisi yang diyakininya bukan anak buah Erika, dia tau yang siapa saja yang bisa dibayar oleh wanita rubah itu, jangan lupa Deka pernah mempelajari kejujuran seseorang dari gestur tubuhnya.
__ADS_1
"Makanya jangan melakukan kejahatan kalau ga mau jadi tersangka," jawab nya.
"Saya aja ga bisa ngarang cerita sebagus tadi lo pak, soalnya baru kali ini saya mendengar dongeng yang indah seperti itu," balas Deka menyindir dua orang yang ada didepan nya.
"Kamu jangan cari perkara lagi, mau dihajar lagi," jawab salah satu dari orang bayaran Erika, Heemm kena lo batin Deka.
"Seriusan bapak, orang saya aja ga sadar waktu itu, saya aja ga tau kalau saya ada disana, kan harusnya saya ada di Victori hotel pak, kalau pun misalnya saya boking cewek kan saya bawanya kesana, ya masak iya saya pingsan kena obat bisa bawa mobil ke resort yang jauh dari hotel tempat saya menginap, ada ada aja bapak ni," ucap Deka sambil bercanda, kali ini dia mencoba memancing emosi kedua oknum polisi itu.
"Jangan banyak ngomong kamu, kalau kamu merasa benar buktikan saja dipengadilan jangan bikin drama disini," ucap oknum itu lagi kembali merasa terpancing dengan apa yang Deka katakan.
"Ya kan hanya berusaha menceritakan apa yang saya alami pak, disini saya ga menganggap kalian polisi pak, lebih pada manusia yang bisa mengerti masalah manusia lain!" balas Deka sekonyol mungkin.
"Sudah sudah, kamu kan udah ada pengacara lebih baik kamu ceritakan kronologi yang kamu tau pada pengacaramu, kalau sama kami percuma kami kan hanya menjalankan tugas dilapangan bukan dipengadilan," jawab polisi yang ada disebelah Deka.
"Saya boleh jujur ga pak?," tanya Deka pada polisi yang ada disebelahnya.
"jujur saja," jawabnya
"Kasihan kenapa?"
"Otak dan hati mereka ga singkron pak?" jawab Deka.
"Diam kamu!" bentak oknum polisi yang ada didepan, penilaian Deka tak meleset, dia pasti merasa karena emosinya sudah terpancing.
"Iya pak saya diam, astaga saya kan hanya menyuarakan hati saya pak," jawab Deka kembali memakai maskernya dan tersenyum tanpa beban.
.....
Anak buah Deka tak diragukan lagi kehebatanya, dua orang yang dia curigai pun berhasil diamankan, Vincent sendiri yang mengadili mereka.
__ADS_1
"Kalian tau siapa kami?" tanya ketua geng bimbingan Deka.
"Tidak bos," jawab nya.
"Bagus jika tak tau," ucap anak buah Deka, dan plaaakkk bug bug tamparan dan tendangan mengarah pada pria berjaket hodie itu.
"Berapa kalian dibayar untuk menjalankan tugas kalian?" tanya Joker(julukan untuk ketua geng milik Deka).
"Hahahaha, lebih baik aku mati dari pada jujur pada kalian cih," jawab Pria berjaket hodie itu dengan berani.
"Terlalu enak buatmu untuk mati, " balas Joker dan buggg kembali dia menghadiahi pria itu bogem mentah diperut nya.
"Joker," panggil Vincent yang masih duduk santai dikursi kebesaran nya.
"Tanyakan padanya dimana asisten sialan itu," bisik Vincent ditelinga Joker, "Siap bos," jawab Joker, kemudian kembali dia menghajar dua anak buah Erika yang masih setia pada bos diikutinya.
Lama Vincent memperhatikan dua anak buah Erika yang sama sekali belum mau mengaku, Vincent memberi perintah pada Joker untuk tetap menjaga mereka dan selalu berjaga jaga, Vincent memiliki cara lain untuk mendobrak kekuatan Erika, Vincent pun memilih keluar dari gudang penyedraan itu dan memilih terbang lagi ke Jakarta untuk menemui ibu tirinya, Vincent berharap dengan uangnya dia bisa mengajak ibu tirinya untuk menjebak Erika.
***
Diapartemen pribadi Vincent...
Arti terus menangis sambil berdoa untuk keselamatan suaminya, dia sangat sedih dan ikut merasakan betapa sakit suaminya menggunakan baju bertuliskan tahanan itu.
Arti menerima pesan suara dari Deka lewat ponsel Vincent, Deka mengatakan bahwa dia sangat mencintainya, dan Deka juga berharap Arti tetap percaya padanya.
Meski suara itu hanya berdurasi sekitar 1 menit tapi sudah cukup mampu membalut kerinduan nya, ingin rasanya Arti terbang ke Bali dan menemui suaminya, sayang nya Deka melarang nya karena itu bisa saja membahayakan nyawanya.
Lawan Deka kali ini tak main main, dia mampu menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuanya, termasuk menghabisi lawan nya.
__ADS_1
IMPIAN DEKA
Bersambung...