
Seminggu sudah Deka sadar dari tidur panjang nya, kondisinya juga sudah berangsur membaik, Yudha da pak lek bergantian menjaga Deka, sedangkan istri pak lek dan Uti Tika juga bergabtian menjaga Arti.
Deka sudah tau jika Arti masih belum sadar, setiap hari dia juga menemani istrinya meski dokter belum mengizinkannya lama lama berdiri, dikarenakan kaki sebelah kirinya masih bengkak.
Yudha dengan setia mendorong kursi roda abang iparnya jika Deka ingin bertemu dengan Arti.
Suasana haru selalu menjadi pemandangan Yudha setiap kali dia mengantar abang iparnya keruang ICU dimana Arti dirawat.
Meski susah payah berdiri Deka tetap berusaha mencium kening wanitanya dan selalu membisikan kata cinta agar Arti cepat sadar, dan tau bahwa dia sangat merindukanya.
Dua hari yang lalu opa oma dan papahnya juga datang menjenguknya, Uti Tika dan juga Yudha juga sudah bersua dengan mereka.
Mereka tak bisa berlama lama karena oma dan opa ada jadwal cek up ke Singapura, sedangkan papa Gibran tak bisa meninggalkan pekerjaanya terlalu lama.
Mereka juga sempat berziarah kemakam Uti Sri, meski berbeda keyakinan mereka tetap mendoakan wanita baik hati yang telah membesarkan keturunan mereka itu dengan keiklasan hati mereka masing masing.
Deka sudah bisa menerima kepergian uti Sri dengan iklas dan lapang dada, meskipun begitu dia tetap saja tak mampu menahan air matanya ketika Yudha dan pak lek nya mengantarkan nya berziarah ditempat peristirahatan Uti Sri yang terahir.
"Ti, maafin Dewa ya Ti, kalau selama ini Dewa selalu bikin uti kesel, kadang ga nurut, Dewa juga selalu godain Uti, maaf ya ti," ucap Deka disela sela tangisanya.
"Sabar le," ucap Pak lek Deka yang saat itu juga ada disamping Deka.
"Dewa sudah iklas kok pak lek, sekarang pasti uti udah seneng," ucap Deka sambil menghapus air matanya.
"Udah yuk pasti istrimu udah nungguin kamu, barusan mbak Tika kasih kabar pak lek kalau istrimu sudah sadar," ucap pak lek sambil mengajak Deka beranjak dari tempat duduknya.
"Arti sudah sadar pak lek?" tanya Deka memastikan apa yang barusan dia dengar.
"Iya le istrimu sudah sadar," jawab Pak lek Deka sambil memapahnya keluar pemakaman.
Dipintu pemakaman sudah ada Yudha yang menunggunya dengan kursi roda.
"Hati hati bang," ucap Yudha.
__ADS_1
"Makasih ya Yud," ucap Deka sambil berjalan terpincang pincang.
"Sama sama bang,"
"Mbak mu udah sadar bener!" tanya Deka.
"Iya bang, Alhamdulilah," jawab Yudha, Deka melirik Yudha dia menangkap ada kekhawatiran disana.
"Kamu kenapa Yud, kok kayaknya ga seneng gitu?" tanya Deka.
"Ah abang bisa aja, ga lah masak mbak nya sembuh ga seneng ya senenglah," jawab Yudha menutupi kekhawatiranya.
Yudha dan pak lek membantu Deka masuk kedalam mobil dengan memapahnya, pak lek melipat kursi Deka dan ikut masuk kedalam mobil, Deka terlihat tak sabar ingin sekali bertemu dengan kekasih hatinya.
"Yud,"
"Ya bang,"
"Bisa cepat sedikit," pinta Deka.
Sesampainya dirumah sakit Deka sudah tak sabar ingin segera melihat istrinya dan memeluk manja seperti biasa.
Sudah lima belas hari ini dia tak bersanda gurau dengan kekasih hatinya, meski melihat wajahnya namun Deka masih belum puas, dia ingin selalu bisa menggoda dan bermesraan dengan pemilik utuh hatinya.
Yudha mendorong kursi roda abang iparnya dengan perasaan tak menentu, dia takut Deka tak mampu menerima ujian ini sekali lagi, Yudha takut abang nya ini akan semakin down.
Deka masuk keruangan istrinya dirawat dengan senyuman bahagia, "Assalamualaikum," sapa mereka bertiga.
"Waalaikumsalam," jawab ketiga wanita itu serempak, mereka adalah Arti uti Tika dan juga istri pak lek.
"Han," sapa Deka, Arti hanya menatap heran kearah Deka, seperti tatapan heran bingung dan juga tatapn penuh tanya.
"Mereka siapa buk?" tanya Arti.
__ADS_1
Deg....
Seketika jantung Deka berasa dihantam benda tajam, Ya Tuhan apakah yang aku takutkan sekarang benar benar terjadi.
"Oh, yang kaos crem itu Yudha adek kamu, yang kemeja kotak kotak itu pak lek kamu nduk dan yang dikursi roda itu Dewa suami kamu," jawab Uti Tika menjawab pertanyaan putrinya dengan sehalus mungkin, Arti masih menatap heran kearah Deka, seolah tak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Kok suami buk, kapan nikahnya harusnya Arti nikahnya ama mas Anji bukan sama dia buk," jawab Arti tanpa sengaja air mata meluncur begitu saja dari pelupuk wanita pucat itu.
Dia terlihat tak terima jika saat ini dia menjadi istri pria lain selain Anji kekasihnya yang dia ingat selama ini.
Sakit hati Deka itu pasti, tapi dia bisa apa pada kenyataanya saat ini Arti benar benar lupa akan dirinya.
"Buk, Arti ga mau jadi istri dia buk, dia itu siapa buk Arti mau nya cuma sama mas Anji, Arti sudah berjanji mau sehidup semati sama mas Anji buk, bukan sama dia," ucap Arti sambil menangis menjadi jadi, bahkan dia hendak melepas infusan yang ada ditanganya, Arti menangis histeris beberapa detik kemudian Arti kejang dan pingsan.
Yudha segera berlari meminta pertolongan, untung tim Dokter yang berjaga selalu siaga hingga siap kapan pun dibutuhkan.
Dokter memeriksa keadaan Arti dan menyarankan untuk saat ini yang bisa dilakukan hanyalah menjaga kestabilan emosi Arti agar dia tak memaksakan otaknya untuk bekerja, agar Arti terhindar dari kejang mendadak seperti ini karena sangat membahayakan jiwanya.
"Sebaiknya jangan paksakan sesuatu yang bisa mengguncang jiwanya karena ini bisa saja berakibat fatal untuknya," ucap sang Dokter.
"Apa yang harus kami lakukan dok, haruskah kami menyembunyikan kebenaran ini?" tanya Uti Tika.
"Untuk sementara itulah yang terbaik, besok kami akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut, seberapa parah dia kehilangan ingatan nya, saya minta bapak bersabar ya pak kami tau ini sangat berat buat bapak," ucap sang dokter lagi, kali ini ditujukan pada Deka, Deka hanya menjawabnya dengan senyuman kecut.
Deka tak tau harus bertanya dan menjawab apa, melihat istrinya kejang gara gara menolaknya saja sudah mamlu memporak porandakam perasaan nya.
"Untuk sementara maukah anda menghindarinya dulu?" tanya Dokter.
"Jika itu yang terbaik dok," jawab Deka pasrah.
Deka tak tau harus bagaimana sekarang, dia berasa sudah mati, hatinya remuk perasaan nha hancur, belum kering luka kehilangan wanita yang menjaganya selama ini, dia juga harus merasakan kehilangan jiwa wanita yang mencintai dan dicintainya.
IMPIAN DEKA
__ADS_1
Bersambung...