IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Isi Hati


__ADS_3

Mau ga mau Deka harus menuruti keinginan omanya untuk tetap tinggal bersama mereka, hampir sebulan Deka tinggal dirumah opa omanya, kadang kadang dia juga membantu papa nya menyelesaikan tugas tugas kantornya, Deka berasa seperti anak kecil, oma nya sangat memanjakannya belum lagi opa nya yang sering mengajaknya berkebun dibelakang tempat tinggal oma opa nya di Bogor.


"Pah, jangan manjain anak jelek itu," gerutu Gibran pada Luis opanya Deka, dia mulai sebel melihat penampilan Deka yang awut awutan.


"Ganteng ini kok cucu opa," jawab Opa Deka, Deka hanya tertawa mendengar perdebatan bapak anak itu.


"Pah, besok jadi ikut kemakam bunda?" tanya Deka.


"Boleh papa lagi ga ada jadwal juga, papa mau minta maaf sama gadis cantik itu," ucap Gibran.


"Coba kamu ngantor lagi, papa kerepotan ini," pinta Gibran.


"Dewa masih malas pah, bawa aja kerumah nanti Dewa bantuin lagi kayak kemarin," jawab Deka menawar.


"Nikah sana biar semangat!" suruh papa Gibran.


"Dih, papah aja sana yang nikah Dewa ma ogah," jawab Deka sesantai mungkin, bahkan kini dengan santainya dia tiduran dipangkuan oma nya.


"Papa juga ogah," balasnya, "Kalian ini kenapa jadi pada bilang ogah padahal nikah itu enak lo ada yang ngurusin," jawab Renata oma nya Deka sambil mengusap usap rambut cucunya.


Deka dan papanya hanya diam, sejak Deka datang Renata lebih suka masak sendiri, dia ingin memberikan yang terbaik untuk cucu kesayangan nya, terlebih soal asupan nutrisi untuk Deka.


.....


Pesawat yang membawa Deka dari Jakarta ke Samarinda landing dengan selamat dibandara APT Pranoto Samarinda.


"Wah lama papa ga kesini udah keren aja ni kota," ucap papa Gibran sambil melangkah keluar pesawat dan berjalan digarbarata yang menghubungkan pesawat dengan area bandara.


"Keren pah apalagi ceweknya, bikin deg deg an," balas Deka.


"Hemm kayak pernah pacaran sama orang sini aja," goda papa, Deka hanya tersenyum simpul.


" Naik apa kita?" tanya papa Gibran.


"Ada adek Dewa yang jemput pah, tenang aja," jawab Deka santai.


"Adek kamu??"


"Anak almarhum kakung Sarjono pah, mantan supir papa yang nolongin bunda waktu itu," jawab Deka menjelaskan.

__ADS_1


"Oo, nanti kita kemakam mereka dulu ya papah mau langsung kesana, habis itu papah mau ketempat istrinya kakungmu, papah juga mau berterimakasih sama beliau," pinta papa Gibran.


"Siap pak bos," goda Deka.


"Dasar anak nakal," umpat Gibran gemas, kalau boleh jujur Deka lebih nyaman menganggap papanya ini sebagai teman dan sahabatnya dibanding orang tuanya.


Setelah mendapatkan bagasi yang mereka bawa, mereka pun keluar menuju pintu keluar kedatangan domestik, disana sudah ada Yudha yang menunggu nya.


"Hay bang," sapa Yudha,dia juga langsung melempar senyum lebarnya pada mantan abang iparnya.


"Hay brother apa kabar!" balas Deka.


"Baik bang, gimana perjalanan nya?"


"Lumayan lancar, gak delay juga, oia kenalin ini bokap abang, pah ini putra Almarhum kakung Sarjono," ucap Deka memperkenalkan mereka berdua.


Gibran dan Yudha pun bersalaman, "Yudha Mr," ucap Yudha.


"Jangan panggil Mr. om aja, lagian om bukan bule," jawab Gibran sambil menggoda Yudha.


"Maaf om, om kelihatan bukan orang kita." balas Yudha sambil tersenyum malu.


"Berarti abang keturunan Brazil dong, pantesan tampan," jawab Yudha terlihat dia bingung dan berfikir.


"Udah jangan bahas yang enggak enggak, mana mobil, keburu malem ini," ucap Deka sambil membalikan tubuh Yudha dengan candaan nya.


"Siap laksanakan pak bos, itu mobilnya, masih ingat janji abang kan,"


"Iye, astaga ditagih terus gue macam punya untang miliyaran aja," gerutu Deka.


"Harus dong, kan namanya juga usaha bang hahahaha,"


Diperjalanan menuju makam banyak sekali obrolan yang Deka dan Yudha bahas, dari seputar kerjaan hingga cewek pastinya.


Hampir setengah jam mereka berkendara ahinya mereka pun sampai dipemakaman dimana kakung Sarjono dan bunda Yunita dikebumikan.


Saat masuk kearea pemakaman tak sengaja mata Deka menangkap seseorang yang bersimpuh dipusara bundanya, bahkan wanita itu membawa peralatan seperti cangkul kecil dan mulai membersihkan rumput rumput liar, Deka tertegun dan menghentikan langkahnya, Yudha pun demikian.


"Yang mana makam bunda kamu Wa?" tanya Gibran.

__ADS_1


"Itu pah," tunjuk Deka pelan.


"Yang lagi dibersihin itu?" tanya Gibran.


"Iya pah," jawab Deka, suaranya terdengar berubah, Gibran menyadari itu.


"Itu siapa yang bersihin makam bundamu Wa?" tanya Gibran lagi, Deka tak mampu menjawabnya rasanya suaranya benar benar berhenti di tenggorokan nya, wanita yang dia rindukan selama ini ada didepan matanya, sayang nya keadaan antara mereka telah berubah, jika seandainya tidak Deka pasti sudah mendekap erat wanita yang dicintainya ini.


"Itu saudari saya om, mari," jawab Yudha, Yudha tau dan mengerti perasaan abang iparnya.


Gibran pun mengikuti langkah Yudha, Deka pun tak memiliki pilihan lain, meski jantung nya berdetak tak menentu dia pun terpaksa mengikuti langkah mereka.


"Assalamualaikum mbak," sapa Yudha pada Arti, Arti pun menjawab salam itu dan menoleh, "Waalaikumsalam, eh ngapain kamu dimari bukanya hari ini jatah mbak yang bersihin makam?" tanya Arti, Arti masih belum tau jika Yudha datang bersama mantan suami sekaligus mantan mertuanya.


"Iya Yudha tau mbak, tapi Yudha kesini ga sendiri lo," jawab Yudha sambil tersenyum meledek, dia tak sabar melihat reaksi mereka berdua jika bertemu, Yudha melirik Deka yang terlihat salah tingkah.


"Emang kamu ama siapa kesini?" tanya Arti sambil membetulkan hijabnya, Yudha tak menjawab pertanyaan saudarinya, Arti pun berdiri dan menoleh kebelakang, alangkah terkejutnya dia, pria yang dia rindukan siang dan malam ada didepan matanya, bahkan tak jarang dia kangen yang dia rasakan teramat sangat Arti juga sering menangis.


Terlebih kondisi Deka terlihat lebih kurus, dekil dan ahhh pokoknya jauh dari kesan perfeknya seperti dulu.


Deka dan Arti saling menatap membuat Yudha dan Gibran seperti terabaikan, "Eeeheem," Yudha berdehem dan mengagetkan mereka berdua.


"Mbak," Yudha menyenggol lengan Arti.


"Iya," jawab Arti.


"Kenalin ini om Gibran papa nya abang," ucap Yudha, Arti tersenyum dan menangkupkan tangan nya seperti biasa.


"Silahkan om," Arti memberikan jalan pada Gibran untuk mendekati makam Yunita, Arti mengerti tujuan pria ini datang kemari pasti mau mendatangi wanita yang telah melahirkan putranya.


Arti dan Deka masih belum berani saling menyapa, mulut mereka saling diam, mereka sibuk mengatur gemuruh didada mereka masing masing.


Yudha duduk bersebelahan dengan Gibran, menemani pria paruh baya itu berbicara dengan nisan ibu dari anaknya.


Sedangkan Arti berdiri persis didepan Deka, mereka berdua masih tak bergeming, bahkan untuk saling bertegur sapa pun mereka masih belum berani, tak terasa air mata Arti jatuh begitu saja, dia sangat sedih melihat keadaan Deka yang kelihatan tak terurus itu.


IMPIAN DEKA


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2