
"Udah makan aku ga mau kamu lemah saat melayaniku malam ini," ucap Deka lagi, Arti menghapus air matanya dan mulai mengambil piring nasinya, Deka tau istrinya gemetar karena takut.
Deka membatu Arti memegang piring itu, Arti meliriknya sekilas.
"Makan yang bener," ucap Deka lagi sambil tersenyum licik.
Arti tak mau menjawab ucapan Deka, dia mulai menyendok nasinya dan memasukan nasi itu kedalam mulutnya.
"Eemmm, pak,"
"Apa,"
"Benarkah yang ada difoto itu kita?" tanya Arti.
"Tentu saja apa kamu pikir aku merekayasanya," jawab Deka.
"Foto itu diambil dimana pak?" tanya Arti berusaha mengingat ingat kejadian itu.
"Di Bali,"
"Apa kita sudah lama menikah?" tanya Arti lagi, Deka menatap wajah memelas istrinya.
"Heem,"
"Kira kira berapa lama kontrak pernikahan kita pak?" tanya Arti.
"Seumur hidup," jawab Deka.
"Emang hutang orang tuaku berapa banyak pak?" tanya Arti lagi, sebenernya Deka ingin tertawa.
"Kamu banyak nanya, jangan bilang kamu lupa!" hardik Deka dengan nada liciknya
"Maaf pak, saya memang lupa," jawab Arti pelan.
"Kenapa bisa lupa?"
"Beberapa bulan yang lalu saya kecelakaan pak," jawab Arti selugu mungkin.
"Aku tau itu orang tuamu mengabariku waktu itu, tapi ilang atau enggaknya ingatanmu bukan urusanku yang aku tau kamu harus tetap membayar hutang orang tuamu dan tetap menjadi istriku seumur hidupmu, rela ga rela mau ga mau paham," Jawab Deka, duh pengen rasanya Arti lempar ni piring kemuka sombong nya batin Arti.
"Emmm, boleh nanya satu kali lagi pak?" tanya Arti.
"Apa!"
"Apakah kita pernah melakukan itu pak?" tanya Arti dengan hati hati.
__ADS_1
"Melakukan apa," Deka pura pura tak mengerti.
"Seperti yang bapak bilang tadi?"
"Emang aku bilang apa?" Deka makin gencar melancarkan kejahilanya.
"Itu loh," jawab Arti sambil meremas remas jari jarinya, jujur Deka ingin tertawa tapi untuk saat ini tak mungkin dia melakukan itu.
"Kita suami istri kan, mana mungkin kita tidak melakukan nya," jawab Deka jujur, ada rasa tak terima sebenernya dihati Arti, tapi mau gimana dia memang melupakan semuanya.
"Berapa kali kita pernah melakukannya?" Arti semakin pemasaran dengan hubungan mereka, Deka tertawa pelan mendengar pertanyaan bodoh istrinya.
"Kenapa bapak tertawa?" tanya Arti merasa dipermainkan.
"Kita menikah hampir dua tahun, jika setiap hari kita melakukannya kamu hitung aja, berjeda jika tamu bulananmu datang," jawab Deka asal.
"Boong, lalu bagaimana dengan istrimu yang lain?" tanya Arti.
"Aku bisa meminta mereka saat kamu libur, ada lagi pertanyaan, oia saat ini aku bosan dengan mereka kamu sudah terlalu lama libur aku mau satu minggu ini kamu melayaniku full tanpa penolakan, mengerti," ucap Deka lagi.
"Apakah harus?" tanya Arti lagi.
"Kamu bisa memilih, bukankah mau sudah tau apa pilihanya, ahhh aku harus kembali kerja oia jangan macam macam, pulang kerja langsung ikut denganku, awas kabur," ucap Deka beranjak dari duduknya dan kembali kemeja kerjanya.
Deka kembali tertawa ketika melihat Arti pergi dari ruangan nya dengan beribu peryanyaan dibenaknya," Ahhh lucu juga dia, biar lupa ingatan juga ratu drama plus oon nya masih aja melekat didirinya," gumam Deka.
Meski berberat hati Arti pun mengikuti keinginan Deka untuk pulang keapartemen yang sengaja Deka beli untuk dia tinggal disini, Deka tak mau terlalu merepotkan keluarga istrinya.
Dimobil Arti masih saja diam, Deka terus saja melirik licik kearah istri lugunya, Ingin rasanya Deka tertawa lepas tapi kasihan juga, astaga istriku sampai kapan kamu oon gini batin Deka.
"Ga usah sok sedih, biasanya kamu juga happy kalau deket aku," goda Deka.
"Arti ga sedih pak, bapak ga suka paksa kan," jawab Arti.
"Kalau kamu nurut ya ga dipaksa," jawab Deka lagi.
"Apakah bapak mau membantu saya mengembalikan ingatan saya?" tanya Arti.
"Tentu saja, kenapa enggak," jawab Deka, apakah pria ini pria baik baik, kenapa dia berubah ubah sikapnya.
"Istri bapak ada berapa?" tanya Arti, duh aku mesti jawab apa ini batin Deka.
"Disurat perjanjian kita kamu ga boleh ikut campur urusan pribadiku bukan, kamu hanya harus melaksanakan tugasmu sebagai istri saja," jawab Deka, Arti kembali sebel pada Deka.
"Dasar egois," gerutu Arti.
__ADS_1
"Suka suka aku lah, aku kaya tampan keren siapa yang bisa menolak pesonaku, harusnya kamu merasa beruntung bisa menjadi salah satu istriku dapat bonus tidur denganku lagi," balas Deka, "Apaan," Arti melirik benci padanya kemudian dia memilih membuang pandangan nya keluar jendela.
Deka memarkirkan mobilnya dipelataran apartemen miliknya, sebelumnya dia sudah memindahkan semua barang barang Arti yang ada diJakarta dan dibawa ke Apartemen nya, Deka berharap Arti akan mengingat sedikit kenangan yang pernah mereka ukir bersama.
"Bapak tinggal disini?" tanya Arti.
"Heemm,"
"Lalu istri bapak yang lain?" tanya Arti lagi sambil mengabsen setiap sudut ruangan tempat tinggal suaminya.
"Mereka dirumah mereka masing masing lah, kamu lupa aku kaya," jawab Deka sombong.
Deka pun menggandeng tangan Arti, saat tangan mereka bersentuhan ada rasa lain yang Arti rasakan, entah apa itu Arti masih belum bisa memahami perasaan nya.
"Pak,"
"Hemm,"
"Bapak seriusan kita suami istri, bapak ga nipu Arti kan, apa yang kita lakukan ini halal kan?" tanya Arti dengan muka memerah karena takut.
Deka pun menyuruh Arti duduk dikursi kerjanya, Deka mengambil surat nikah mereka, "Kamu baca aja, itu asli apa bukan," ucap Deka, dia pun membuka bajunya tanpa malu, Arti menundukan mukanya karena malu, Deka ma cuek aja.
"Pak,"
"Apa, mau ikut mandi?" tanya Deka.
"Enggak, apaan sih,"
Deka tak menghiraukam Arti, dia memilih membersihan dirinya, Arti masih duduk diam dikursinya semula.
Deka keluar kamar mandi dengan baju koko dan sarungnya, beneran ini dia mau sholat bukan kah dia pria arogan batin Arti.
"Mau sholat bareng apa ga?" tanya Deka.
"Mau, tungguin," Arti pun beranjak dari duduknya dan masuk kedalam kamar mandi membersihkan dirinya dan sekalian mengambil air wudhu.
Arti sudah siap dengan mukenanya, tanpa kata mereka pun melaksanakan kewajiban mereka sebagai muslim, ada rasa indah yang Arti rasakan, seandainya hanya aku istrinya pasti aku bahagia, sayang nya dia bukan hanya miliku, batin Arti.
Arti memastikan pendengaranya, Ya Tuhan merdu sekali suaranya ketika mengaji, "masak sih dia doyan wanita, kok kayaknya enggak deh," hati Arti kembali bertanya tanya, "tapi dia sendiri kan yang bilang kalau istri dia banyak,"
"Salim," pinta Deka sambil mengulurkan tangan nya, Arti pun mengambutnya dan mencium punggung tangan suaminya.
"Siap siap aku mau memakanmu," goda Deka sambil beranjak dari tempat nya semula, Deka masuk ke ruang gantinya dengan senyuman liciknya, Arti malah memilih diam dengan mukena masih menempel ditubuhnya, deg degan pastinya, tapi mau ga mau Arti ga punya pilihan, dia harus mengikuti keinginan suaminya bukan jika tidak maka dia harus rela dengan konsekuensi yang ada.
IMPIAN DEKA
__ADS_1
Bersambung...