
Pesona asisten Vincent ini memang tak bisa dipungkiri, ketampanannya memang mampu menggetarkan hati siapapun yang melihatnya termasuk kaum hawa.
Deka sudah siap menyambut para tamu yang diundang bos nya untuk menghadiri pesta pernikahan yang gelarnya disalah satu hotel ternama di pulau Dewata.
Disana juga ada bos PJTKI yang merekomendasikan Deka saat itu, "Hay kamu masih setia kamu ama pejatan tangguh itu." sapa pria yang sangat berjasa bagi Deka.
"Makasih pak, Alhamdulilah masih, silahkan masuk pak silahkan menikmati pestanya." ucap Deka sambil mengantar tamu bosanya masuk ke ruang pesta pernikahan.
Deka tak menyangka bahwa diam diam Vincent juga mengundang Gibran dan juga opanya Luis dan juga Oma nya Renata.
"Om." sapa Deka.
"Iya ini om, ini opa sama oma kamu." ucap Gibran sambil mengenalkan Deka pada orang tuanya, Renata dan Luis terus menatap lekat pada wajah Deka, mereka hampir tak percaya dengan apa yang dia lihat.
Terlebih Renata dia sangat kangum dengan kemiripan putranya dan juga anak muda yang Gibran bilang dia adalah putranya.
"Apakah pria tampan ini yang kamu ceritakan pada mama kemarin Gib?" tanya Renata.
"Iya ma, itu dia." jawab Gibran.
"Oh my god, ini luar biasa Gibran mama tak menyangka punya cucu tampan seperti ini, dia persis sekali sama kamu Gibran Ya Tuhan, (Renata masih saja terpana dengan kemiripan mereka berdua, mereka lebih seperti kakak adek dibanding ayah anak), apakah ibumu ikut anaku?" tanya Renata, dia masih terpesona dengan mereka kemiripan berduan.
"Tidak nyonya, bunda ada dirumah." jawab Deka, melihat antrian tamu yang menunggu giliran ahirnya Renata pun berkata "Oh, oke maukah kamu setelah pesta ini kita berbincang bincang oma pengen ngobrol sama kamu nak." ucap Renata.
"Insya Allah nyonya," jawab Deka.
"Kamu muslim?" tanya Renata.
"Iya nyonya saya muslim," jawab Deka.
"Oke tak masalah," Renata Luis dan juga Gibran pun masuk diacara pesta milik Vincent.
Pesta berlangsung sangat meriah, para tamu bergantian memberi ucapan selamat pada kedua mempelai bahkan paman dan bibi Vincent pun datang jauh jauh dari Mexico untuk menjadi saksi yang diucapkan Vincent dan Stella tadi.
Sayang nya Stella tak mengundang keluarganya, karena dia tak mau ibu tirinya hanya merusak suasana pesta nya, ibu tiri Stella memang tak ungin Stella bahagia, Vincent pun tak ingin kebahagiaan istrinya kembali diusik oleh ibu tiri istrinya.
Deka mendekati Arti dan berbisik padanya, "Han, mau ketemu papa ga?" tanya Deka.
"Mana sayang, beliau datang?" tanya Arti.
"He em." jawab Deka.
__ADS_1
"Tapi aku masih tugas honey, boleh ga tunggu pengantin masuk." jawab Arti.
"Mereka kan lagi duduk han, bentar aja yuk." pinta Deka.
"Aku bilang asiatenku dulu ya."
"Oke deh." jawab Deka, sambil menunggu Arti ijin pada asiaten nya
Deka dan Arti pun berjalan mendekati keluarga biologis Deka.
"Han, itu mereka." bisik Deka.
"Yang dasi biru itu abangmu ak?" tanya Arti.
"Bukan, itu papaku." jawab Deka.
"Hah." Arti malah bengong karena terkejut, Deka malah tersenyum, Arti menarik tangan Deka mengajaknya menjauh
"Loh, kenapa han katanya mau ketemu mereka?" tanya Deka bingung dengan tingkah istrinya.
"Aku minder han, mereka kelihatan tajir." ucap Arti.
"Emang iya?" tanya Arti.
"Ga percaya, kamu tau ga hotel tempat kita pesta ini punya aak." ucap Deka.
"Serius Ak?" tanya Arti sambil melotot ke arah Deka.
"Kena prank," jawab Deka, padahal Deka ga boong kemudian mereka pun tertawa bersama.
"Heemmm Dasar, Arti udah takut ni Ak, emm Ak seriusan tadi yang dasi biru ayah aak, bukan abang Aak?" tanya Arti masih penasaran.
"Papa ku han, yang jelas lah masih muda soalnya pas bikin aku juga masih SMA kan," ucap Deka, Arti mengerutkan dahinya.
"Maksud Aak?"
"Ya masak aku cerita dimari han, kamu ini entar kedengaran orang malu aku," jawab Deka.
"Iya deh, dirumah aja ntar," ucap Arti.
"Han, kamu pinter banget bikin pelaminan mau dong dibikinin kayak gini," goda Deka.
__ADS_1
"Mau dibikinin kayak gini emang mau kawin lagi," ucap Arti sambil cemberut.
"Ya enggak lah bersanding nya ya sama kamu istriku," jawab Deka sambil melirik manja kearah Arti , Arti tau Deka ingin tapi Arti tak mau menaggapinya dia hanya menjawabnya dengan senyuman.
........
Pesta pernikahan yang digelar Vincent dan Stella pun telah usai pertanda Deka pun bebas tugas, Renata dan Luis serta Gibran pun mengundang Deka kekamarnya.
"Duduk nak," ucap Renata, dia malah memperlakukan Deka seperti anak kecil, Deka jadi ingat perlakuan uti Sri padanya.
"Makasih nyonya," jawab Deka.
"Kok panggilnya nyonya terus sih, panggil aja oma, opa," pinta Luis, pria tua itu terlihat masih gagah.
Deka hanya tersenyum malu.
"Usia mu berapa sekarang nak?" tanya Luis.
"25 tahun opa," jawab Deka.
"Berarti lo punya anak waktu masih umur 17 tahun Gib," ucap Luis.
"Yes pap," jawab Gibran sedikit takut.
"Gila lo Gib." umpap opa Luis.
"Dimana bundamu nak, apakah dia baik baik saja oma mu gimana sekarang?" tanya Luis lagi.
"Bunda sudah meninggal waktu melahirkan saya opa, dan soal oma opa dari bunda saya tidak tau," jawab Deka jujur sambil menundukan kepalanya.
"Tunggu bukanya kemarin kamu bilang bundamu baik baik saja," ucap Gibran.
"Bunda yang merawatku yang om tanyakan kan bukan yang melahirkan aku kan," sanggah Deka.
"Ya Tuhan Deka aku kira kamu paham maksudku papa." ucap Gibran sambil menjatuhkan tubuhnya disofa, terlihat penyesalan yang mendalam disana.
Deka masih diam, suasana menjadi hening mereka berempat terlihat sangat terpukul, tapi tak dipungkiri bahwa mereka sangat oenasaran dengan cerita Deka, Mereka ingin mendengar bagaimana Deka lahir dan dibesarkan.
IMPIAN DEKA
Bersambung....
__ADS_1