
Uti Sri masih belum mau kembali ke Jawa, dia masih mau menemani Uti Tika sampai Uti Tika benar benar siap dia tinggalkan.
"Ti, maaf ya Dewa ga bisa lama lama disini soalnya Dewa harus kerja." ucap Deka berpamitan dengan Uti Tika, Uti Tika malah menatap dan memeluk Deka dengan tangisnya.
"Makasih banyak ya le atas semua bantuanmu untuk keluarga ini." ucap Uti Tika, dalam hati Arti jika bukan karena balas budi dia juga ga mungkin baik kali bu sama kita. batin Arti semakin benci pada Deka.
"Duh sama sama Ti, oia Ti nanti kalau butuh apa apa telpon aja." pesan Deka.
"Enggak le, kamu kalau lagi ada perjalanan kesini mampir ya atau kalau ada waktu kunjungilah pacar tuamu ini." jawab Uti Tika sambil bercanda, soalnya Deka kalau menyapa Uti Tika dan Uti Sri dengan mengatakan bahwa mereka berdua adalah pacarnya.
"Pasti pacarku kalian terbaik." ucap Deka sambil tersenyum tanpa beban.
"Hay sayang serius ni ga mau ikut pulang?" tanya Deka sambil memeluk Uti Sri.
"Nanti, Uti masih betah disini kamu baik baik ya dirumah." jawab Uti Sri sambil memeluk cucu kesayangan nya.
"Siap pacarku." jawab Deka dengan candaan khas nya.
Lebay banget sih, suara hati Arti masih menyimpan kebencian akan Deka.
"Udah siap bang." ajak Yudha.
"Oke." jawab Deka mengambil ponsel dan jaketnya.
Selesai berpamitan Deka pun segera keluar rumah dan masuk kedalam mobil, Yudha sudah siap dikursi kemudinya, dengan terpaksa Arti pun ikut mengantar Deka kebandara, dia tak mau melukai perasaan bude dan juga ibunya secara terang terangan, Arti tak mau mereka tau hubungan seperti apa yang dia dan Deka jalani, dia juga sudah siap duduk dikursi penumpang bagian belakang.
"Bang, kayaknya ahir bulan ini kita udah bisa buka." ucap Yudha.
"He em, kamu atur aja." jawab Deka, meski tak mengerti dengan apa yang Deka dan adeknya bicarakan Arti masih saja mendengarkan apa yang mereka bicarakan.
"Bang kalau punya kenalan cewek mau dong dikenalin hahaha." canda Yudha, berusaha memancing kecemburuan kakak perempuan nya, sayang nya Arti menunjukan ekspresi biasa biasa saja.
"Iya nanti kalau ada." jawab Deka setenang mungkin.
Sebenernya kalian ini suami istri apa bukan sih, batin Yudha tapi dia paham bahwa Deka masih belum bisa meluluhkam hati kakak nya.
"Bang, misalnya nanti kita udah jalan abang sering sering ajarin Yudha ya." pinta Yudha, ajarin apa sih batin Arti kepo.
"Ya tanya aja apa yang kamu mau tau kalau aku tau ya nanti aku coba jelasin." jawab Deka.
"Abang stay dimari kan?" tanya Yudha.
"Belum tau Yud, ya tergantung bos lah dapet kontraknya dimana." jawab Deka.
__ADS_1
"Mau dong ikut."
"Nanti pacarmu (Uti Tika) sama siapa kalau kamu mau ikutan aku ." jawab Deka, Yudha paham dengan kata pacar yang diucapkan Deka.
"Kita bawa aja bang hahahaha." ucap Yudha.
"Ya kalau mau dibawa kalau ga masak ya dipaksa." jawab Deka, Arti tau dia Deka menyindirnya tapi dia tetap ga perduli.
Hampir setengah jam mereka berkendara ahirnya mereka pun sampai di bandara.
"Ah, sampai bang." ucap Yudha.
"Iya Yud, sampai ketemu lagi ya." ucap Deka.
"Siap bosku, hati hati ya."
"Oke." jawab Deka.
Yudha turun dan membantu menurunkan koper Deka, Arti masih cuek dan tak menghiraukan Deka.
"Mbak, ini nafkah buat kamu pin nya 15****." ucap Deka menyerahkan gold card dan juga kartu namanya pada Arti, bukanya menerimanya Arti malah melepar kartu itu kearah dasbor mobil, Deka hanya dian dan melihat istrinya lewat kaca spion, sudahlah tak ada gunanya lagi berdebat dengan nya, yang penting aku sudah berusaha menjadi baik untuknya, Deka pun turun dari mobil itu tanpa kata apapun terucap dari bibirnya.
Dia memilih mendekati Yudha yang setia menjaga kopernya, Deka tersenyum dan memeluk adek iparnya sebagai salam perpisahanya.
"Oke, sampai ketemu lagi titip pacar pacarku (UtI Tika dan Uti Sri) sama istriku ya." ucap nya sambil melepaskan pelukanya.
Deka tak mau melihat kebelakang lagi, dia memantapkan pikiranya untuk melangkah, berusaha menerima perlakuan istrinya dengan keteguhan hatinya.
Pasrah saja semua akan indah pada waktunya, batin Deka.
....
Sebelum Yudha masuk kemobil Arti sudah mengambil card dan juga karu nama Deka dan memasukan kartu itu kedalam tas nya, dia ga mau Yudha tau apa yang dia lakukan pada Deka, dia malas jika di cramahi pleh adek yang sok dewasa menurutnya.
"Mbak ga pindah depan?" tanya Yudha.
Arti diam tak menjawab, padahal dalam hatinya dia ga mau mencium aroma Deka yang masih menempel di jok mobilnya.
"Kalau ditanya ya jawab atuh mbak, heran dah marah mulu." gerutu Yudha.
"Bawel banget sih." ucap Arti.
Yudha melihat wajah kakak perempuan nya lewat spion, Yudha tak ingin membuat Arti semakin kesal dia pun memilih untuk diam.
__ADS_1
Diperjalanan pulang mobil mereka terjebak macet, ternyata didepan mereka sedang ada iring iringan pengantin yang sedang menyebrang jalan, Yudha tak sengaja melihat mempelai pria yang terlihat tampan dengan baju pengantinya, mata nya terbelalak ketika melihat siapa yang menjadi mempelai pria nya.
"Mbak, bukan kah itu bang Anji?" tanya Yudha.
Mendengar nama mantan kekasihnya disebut Arti seketika tersadar dari lamunanya, dia pun melihat kearah kerumunan orang yang dimaksud adeknya, Arti lepas kendali dia ingin turun dan melabrak meraka, untung saja Yudha segera menangkap tangan nya.
"Mbak sudah jangan permalukan dirimu." bentak Yudha, tapi Arti masih saja berontak dan ingin berteriak memanggil Anji.
"Mbak, stop jangan seperti ini." bantak Yudha kemudian dia membekap mulut kakaknya.
"Dia sudah jadi milik orang lain mbak, mbak juga kan sekarang pasangan hidup mbak itu bang Deka bukan bang Anji." Yudha mengingatkan agar kakaknya mengerti.
"Apa maksudmu pasangan hidupku laki laki itu hah, aku tak pernah menggapnya suamiku kamu dengar." bentak Arti, seketika Yudha paham bahwa selama ini Arti selalu menyakiti perasaan Deka, Yudha paham betul sifat kakak perempuan nya., Yudha kembali melajukan kendaraan nya karena mobil dibelakang nya terus membunyikan klakson.
"Mbak, jangan bilang mbak sering nyakitin bang Deka?" tanya Yudha, Arti diam tak menjawab tapi Yudha tau apa jawaban kakaknya dari tatapan kebenciannya.
"Istigfar mbak, Astaghfiruallah Yudha ga nyangka wanita yang aku anggap sholelah mampu menyakiti hati pria baik seperti bang Deka, dia suami mu mbak emang apa kurang nya abang mbak?" tanya Yudha.
"Dia ga ada kurang apapun, dia hanya bodoh saja mau menikahi wanita mandul sepertiku." jawab Arti sesuai dengan kata hatinya.
"Mbak." Yudha masih belum mengerti dengan apa yang kakak perempuan nya ini pikirkan.
"Dia hanya pura pur baik Yud, dia hanya mau balas budi dengan keluarga kita karena telah menolong ibu dan juga dirinya, jika tidak mana mungkin dia bisa sebaik ini, cih aku tak percaya." ucap Arti, sungguh Yudha tak menyangka jika kakak perempuan nya akan berucap seperti itu.
"Astaghfiruallah mbak, pikiran itu dari mana datang nya?" tanya Yudha masih tak habis pikir.
"Kenyataan ngapain ditutup tutupi." balas Arti.
"Mbak ga semua yang mbak pikirkan itu benar, ga semua orang itu kayak bang Anji." ucap Yudha masih berusaha mengingatkan Arti.
"Memangnya apa salahnya dia tulus kok padaku." Arti masih saja membela mantan kekasihnya.
"Kalau dia tulus mbak dia pasti bakalan nikahin mbak lah dan berjuang bersama mencari kesembuhan untuk mu mbak, tapi apa dia malah mutusin tali kasih kalian kan, dan sekarang malah menikah dengan wanita lain." ucap Yudha.
"Seandainya orang tuanya ngijinin dia juga bakalan nikahin aku lah." Arti masih tak mau kalah.
"Mbak Ya Tuhan, Yudha ga bisa ngertiin mbak serius." ucap Yudha putus asa.
"Emang nya aku minta kamu buat ngertiin aku, enggak kan aneh." Arti masih berada dilingkup kemarahannya, Yudha merasa percuma mengingatkan seseorang yang tidak paham akan keadaan yang ada didepan matanya, Yudha hanya berharap suatu hari nanti Arti akan mengerti dan sadar siapakah orang yang terbaik untuk nya.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1