IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Isi Hati (2)


__ADS_3

Gibran menumpahkan segala penyesalan nya diatas pusara wanita yang telah dia hancurkan masa depan nya, wanita yang telah ia renggut kebebasan nya.


Deka menyaksikan sendiri betapa menyesalnya pria paruh baya itu, Yudha baru menyadari jika Gibran dan Dek beda keyakinan, ketika Gibran berbicara dengan kepercayaan nya, tapi Yudha berusaha mengerti.


Gibran telah selesai dengan niatnya, sekarang dia pun memberi waktu untuk putranya, "Wa papah mau kemakam kakung mu dong yang mana?" tanya Gibran pada Deka.


"Itu pah," jawab Deka sambil menunjuk kearah salah satu makam yang ditubuhi rumput hijau itu, "Mari om saya antar," tawar Yudha.


Gibran pun menurut, dia pun mengikuti langkah Yudha.


Deka hendak maju kedepan, Arti pun tak sengaja berbalik, tanpa sengaja tubuh mereka bertabrakan, "Maaf," ucap Arti pelan, Deka hanya diam tak menghiraukan Arti, Deka berusaha menguatkan hatinya agar tak terpancing pada keinginan nya untuk memeluk wanita yang masih bertahta dihatinya, dia meneruskan langkahnya kembali untuk memberikan hadiah pada bundanya.


Arti merasakan kemarahan Deka padanya kali ini, tapi dia berusaha menerimanya, Arti menyadari kesalahan yang telah dia perbuat pada mantan suaminya ini.


Selesai menunaikan niat mereka Deka pun mengambil peralatan Arti dan membersihkan makam bundanya hingga bersih.


"Mbak tadi naik apa kemari?" tanya Yudha.


"Dianter ibu, ibu sekalian nganterin jahitan," jawab Arti.


"Mau dijemput ga kata ibu?" tanya Yudha lagi.


"Enggak, mbak bilang mau naik angkot aja," jawab Arti.


"Ya udah mbak bareng kita aja mendung ni," pinta Yudha, Arti mematap ke arah Deka sekilas, Deka masih saja cuek dan tak mau perduli padanya. Arti masih belum sempat menjawab tiba tiba hujan datang dengan derasnya, mereka pun segera berlari menuju mobil, sialnya baju Arti yang berbahan sifon, jika terkena air daleman nya pun tampak terlihat jelas, saat ini terjadi Deka tak mungkin menutup matanya.


Deka pun membuka jaketnya dan langsung memakaikan nya pada mantan istrinya ini, Arti tak mungkin menolak, dia menyadari keadaannya sekarang, bahkan Deka sempat menatap dada mantan istrinya," Lain kali jangan pakai baju begitu," ucap Deka ketus, seolah tak terima jika apa yang dimiliki Arti dilihat oleh orang lain selain dirinya.


"Iya, maaf," jawab Arti menurut, mata mereka saling menatap lagi, Arti kembali bisa merasakan kemarahan dari mata pria tampan pemilik hatinya ini.


Yudha pun memencet kunci mobilnya pertanda para penumpang boleh masuk kedalam nya, Deka masih membantu Arti memakai jaketnya, kemudian dia pun membukakan pintu untuk mantan wanitanya ini, " Ayo masuk," bisik Deka, "Makasih ak," jawab Arti.


"Duh kenapa kamu manggil aku Aak sayanh, ga tau kah kamu kalau aku sedang melawan hasratku untuk memeluk dan menciumu," batin Deka berperang melawan bisikan hatinya.


"Papah depan aja pah," pinta Deka, dia pun membukakan pintu mobil untuk orang tuanya, Deka pun masuk kemobil dan duduk disebelah Arti, gemuruh dihati keduanya masih susah untuk dikendalikan.

__ADS_1


"Kita langsung pulang ya bang," ucap Yudha.


"Heemm," jawab Deka malas, Yudha menatap abang iparnya dari kaca spion mobilnya, Yudha hanya tersenyum licik, kalian mau sampai kapan pura pura ga saling cinta hah batin Yudha, suasana hening hanya ada suara deru mobil dan keributan air hujan yang menyerbu mobil yang mereka tumpangi.


Arti mencium harum jaket pria yang sedang dia pakai ini, berasa sangat hangat, meski bukan pemiliknya yang memeluknya.


Deka berusaha tenang, bahkan dia membuang pandangan nya keluar, mereka berdua benar benar terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang marahan, Yudha kembali menertawakan pelan mereka.


"Kenapa Yud?" tanya Gibran.


"Oh itu om, Yudha jadi kebayang hujan hujan gini kalau bareng pacar enak kali ya om," sentil Yudha.


"Ooo, kamu lagi ngehalu," balas Gibran, dia masih belum paham dengan apa yang Yudha maksud.


"Iya om, ingat masa SMA anterin pacar pulang pas hujan hujan gini om, persis kayak motor didepan kita itu om, romantisnya ae," tunjuk Yudha sambil menyalakan pembersih kaca yang ada didepan kemudinya.


"Kamu ini Yud, masak pikiranya bisa jauh ampek sana," balas Gibran.


"Hehehehe, maklum namanya juga jomblo akut," tambah Yudha.


"Iya om, boleh kredit sama abang, ini juga belum lunas om hehehe," jawab Yudha jujur, seketika Arti melotot kearah adeknya, tanpa dia sadari keluarganya masih ada sangkut pautnya sama mantan suaminya.


"Ga papa, abangmu uang nya banyak kok hahaha," jawab Gibran.


"Om bener, udah gitu tampan lagi ga kebayang Yudha berapa banyak cewek yang ngatri mau dapetin abang," goda Yudha, Deka hanya diam tak menjawab, sesekali dia juga melirik Arti, begitupun Arti, terkadang mereka juga saling menangkap lirikan masing masing.


"Diem lo, kalau dimari ga ada bokap ama mbak lo udah abang hajar lo," umpat Deka.


"Ampun bos, ane sih siap dihajar asal bantuin modif ni mobil," jawab Yudha.


"Astaga, itu terus dibahas asal bayaranya cocok aja," balas Deka.


"Tenang mas bro, ntar ane minta ibu buat masak yang paling sedap kesukaan abang. mau kan, cukup kan segitu," timpal Yudha, Deka hanya tersenyum dan menjawab. "Curang lo,"


"Kesempatan dalam kesempitan pak bos," sindir Yudha, Deka tau jika Yudha meledaknya.

__ADS_1


Deka tak mau ambil pusing dengan apa yang adek iparnya pikirkan tentang hati dan perasaannya, karena itulah kenyataannya.


Deka memang masih memendam rasa untuk wanita yang kini ada disebelahnya, bahkan jika Arti memberinya kesempatan kedua kalianya untuknya menjadi suami maka Deka tak akan menolaknya, Hahaha IMPIAN DEKA.


Yudha memarkirkan mobilnya tepat didepan rumahnya, sayang hujan kembali lebat saat mereka hendak turun, "Ada payung ga Yud di mobil," tanya Deka.


"Ada bang di bawah mbak," jawab Yudha, Deka pun segera mencondongkan kepalanya untuk meraih apa yang Yudha maksud, bersamaan dengan itu Arti pun juga ikutan hendak merogoh payung dibawahnya, tanpa Arti sengaja kepala mereka hendak bertabrakan, Deka pun segera menoleh dan cup bibir mereka bertemu, Yudha kembali menikmati pemandangan langka itu.


Arti dan Deka menyadari kesalahan mereka, Arti segera menjauhkan kepalanya, tapi tidak dengan Deka," Mbak tolong naikin kakinya, saya ga kelihatan ini," ucap Deka berusaha biasa biasa saja, meski tak dipungkiri bahawa saat ini hatinya merasakan kebahagiaan yang ganda.


Arti pun menurut, dengan memegang erat jaket yang dia kenakan, Arti pun menaikan kakinya.


"Cuma atu Yud," ucap Deka.


"Iya bang, kan mobil pria sigle," jawab Yudha asal, duh jangan nyetil abang terus napa.


"Yudha duluan aja bang yang turun antar om sekalian," ucap Yudha, dia memang sengaja memberi kesempatan mereka berdua untuk kangen kangenan, Yudha ma paham bener dah pokoknya.


Deka yang tak tau akal bulus Yudha pun langsung memberikan payung itu begitu saja.


Yudha masuk kerumah bersama om Gibran dan mempersilahkan tamunya mengganti pakaian nya dikamar tamu.


Tinggalah sekarang mereka berdua yang sedang menunggu kedatangan Yudha untuk membawakan payung untuk mereka.


"Mana Yudha," ucap Deka gelisah.


"Aak dingin?" tanya Arti, hendak membuka jaketnya.


"Enggak mbak santai aja, aku kan laki," jawab Deka kembali ketus seperti tadi, Arti kembali menutup tubuhnya dengan jaket itu, Arti memilih diam karena takut Deka akan menjawabnya dengan nada ketus lagi jika bertanya.


Bukan hati namanya jika pandai berbohong, bukan pikiran namanya yang pandai menipu, mereka merasakan nya sekarang, hati dan pikiran mereka sama sama jujur, sayang nya mulut yang seharusnya mereka gunakan untuk menyalurkanya masih terkunci rapat oleh ego yang tinggi.


IMPIAN DEKA


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2