
"Aak ma," ucap Arti.
"Kenapa, ga sanggup ama syaratnya?" goda Deka.
"Bukan,"
"Lalu?"
"Arti ga tau Ak, apakah Arti masih pantas ngedampingin Aak atau enggak, sedangkan Arti pernah bikin Aak kecewa," jawab Arti, raut wajahnya menggambarkan kesedihan dan penyesalan.
"Aak ngerti han, saat itu kamu kalut kan pikiran kamu hanya tertuju ga bisa ngasih anak ke Aak kan, Aak juga tau kok kekecewaan mu pada mantan kekasihmu yang ninggalin kamu waktu itu datang lagi, iya kan!" tambah Deka.
Arti menatap mata suaminya, "Arti ga tau harus jawab apa Ak, Arti hanya malu sama keadaan Arti," jawab Arti penuh perasaan.
"Jangan malu honey, ini bukan salah kamu bahkan dulu sebelum kecelakaan itu kita juga udah pernah bahas ini, dan waktu itu kita sepakat untuk ngejalani apa yang ada didepan kita sama sama, yang penting hati kita saling menyayangi kan," ucap Deka, Arti membuang pandanganya, dia takut tak sanggup menahan keinginan nya untuk tidak menyentuh Deka.
"Arti tersiksa Ak pisah sama Aak," bisik Arti dalam tangisnya.
"Jangan nangis han, kamu tau kan aku ga sanggup kalau lihat kamu sedih, jangan menguji iman ku sayang, ayo hapus air matamu," pinta Deka, Arti mengerti apa yang Deka maksud, dia pun memundurkan tubuhnya, agar lebih ada jarak diantara mereka.
Arti pun menghapus air matanya,"Apakah selama ini Aak baik baik saja?" tanya Arti.
"Kalau lagi dibengkel mainin mobil ya Aak baik han, tapi kalau lagi sendiri ya sama seperti yang kamu rasa," jawab Deka jujur.
"Arti kangen sama Aak, rasanya Arti hampir gila saat pertama kali ingat Aak, pernikahan kita, saat Aak susulin Arti kerja, saat Arti ulang tahun, saat Aak kabur dari penjara, rasanya kalau cuma menyesal aja ga ada artinya Ak, tapi Arti balik lagi Arti berusaha iklas karena alasan Arti minta pisah kan kuat Arti ga mau jadi beban Aak," ucap Arti kembali menangis, Arti menekuk kedua kakinya dan menyembunyikan wajahnya disana.
"Aak bilang jangan nangis han, plis takut Aak ga bisa nahan ni," ucap Deka lagi memperingatkan, Arti mengintip sedikit muka Deka dengan senyuman menggodanya.
"Jangan nakal honey!" ucap Deka lagi memperingatkan, Arti tersenyum dan kembali menyembunyikan wajahnya.
Suasana seketika hening, Deka masih berperang melawan hasratnya.
__ADS_1
"Ak, Erina Putri Deka kasih Arti ya plis," pinta Arti lagi, siapa tau kali ini dia berhasil.
"Kalau mau anaknya ya harus mau sama papinya lah," jawab Deka kembali dengan nada seriusnya.
"Hah, papi keren amat manggilnya," canda Arti.
"Semua anak asuhku manggil aku papi, keren kan, badan tinggi rambut gondrong macam preman gini," balas Deka dengan candaan khasnya, Arti tersenyum dan menyenderkan kepalanya disisi kursi, menatap Deka dengan penuh arti.
"Dasar narsis," tambah Arti.
"Kenyataan loh,"
"Iya iya, anda memang keren pak bos, Ak mau tau dong gimana awalnya Aak bisa banyak anak gitu," jawab Arti.
"Dulu waktu Uti yang jaga ga tau ya, tapi pas baru baru ini mereka ada yang menitipkan nya langsung pada Aak, minta tolong, alasanya ma banyak ada yang yatim piatu, ga ada yang ngurus, ga ada tempat tinggal, ada juga yang awalnya sengaja dibuang ama orang tuanya kayak Erina, ya Aak ma mau mau aja namanya anak kan bawa rejeki sendiri sendiri, buktinya rejeki Aak ma ada aja, hasil tambak panennya bagus terus, emang Aak udah niatin sih hasil tambak buat mereka," jawab Deka, Arti terus menatap pria tampan nya tanpa berkedip, melihat mulut Deka komat kamit membuat pikiran mesum Arti seketika datang.
"Kenapa ngliatin Aak kayak gitu, aneh ya!"
"Kamu tolak aja!"
"Hatiku tak pernah menolakmu Ak, demi Tuhan kamu masih diposisi sama seperti sebelum kita pisah," jawab Arti, Deka menatap mata indah mantan istrinya, mata itu mengatakan kesungguhan hati pemiliknya, Deka bisa merasakan nya.
"Maukah kamu kembali mendampingiku honey, maukah kamu menjadi ratuku lagi, maukah kamu rujuk denganku?" tanya Deka bertubi tubi.
"Arti mau Ak," jawab Arti tanpa berfikir lagi.
Deka tersenyum mendengar jawaban Arti.
"Nanti aku bilang papa sama oma opa buat nglamar kamu ya han!"
"Harus ya Ak?" tanya Arti.
__ADS_1
"Kali ini aku mau pernikahan kita sempurna han, aku ingin kamu benar benar jadi ratu dalam hidupku, jadi mami dari anak anaku, apa kamu mau?" tanya Deka lagi memastikan.
Arti kembali tersenyum bahagia, mata mereka saling menatap lagi, Arti pun menjawab pertanyaan Deka dengan kesungguhan hatinya. "Aku mau papi dari anak anaku," jawab Arti dengan senyum termanisnya, membuat Deka ingin menciumnya, (Dih belum apa apa uda mami papi aja, belum woy).
"Nanya lagi boleh?" tanya Arti.
"Nanya aja han!"
"Seriusan Aak ga ada pacar?"
"Ga ada han, kalau yang naksir ya banyak anak anak SMA, anak kuliahan yang bikin Aak kesel tu mereka ganjen pakek ngirim ngirim makanan segala kebengkel," ucap Deka merasa ribet.
"Apa Aak makan tu makanan," hemmm kambuh dah dramanya batin Deka.
"Ya enggak lah, kan kamu lihat sendiri Aak kurus gini, kalau Aak tukang makan pasti udah gemuk kaya dulu," jawab Deka, malas rasanya ngladenin ratu drama kalau ngambek.
"Pokonya Arti ga mau Aak makan dari mereka!" hemm gue bilang juga apa, gini ni kalau posesifnya udah datang, kalau udah bilang pokoknya mending diam dah, ga akan habis perkara, Deka bicara sendiri dengan hatinya, Deka hanya tersenyum menjawab omelan Arti.
"Aak, jawab jangan cuma senyum!" makin jadi cemburunya.
"Iya sayang Aak ga akan makan makanan dari mereka, biarin aja Aak kelaperan," Deka mulai jahil, berakting seolah dia pernah makan makanan yang mereka kasih.
"Aak, pokoknya ga boleh ya, janji," Arti kembali dengan sifat posesifnya.
"Asal kamu ga ingkar janji, mau jadi istriku selama lama nya, menjadi bidadari dunia dan ahiratku, Aak ma mau mau aja diatur," jawab Deka enteng.
"Iya Aak Arti janji," jawab Arti, Deka tertawa pelan dia bangga pada dirinya sendiri karena selalu menang jika memasang jebakan untuk Arti.
Ahh... dasar ratu drama, maunya dingalahin terus, ga papa lah mengalah untuk menang batin Deka.
IMPIAN DEKA
__ADS_1
Bersambung...