IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Halalin


__ADS_3

Lima bulan berlalu...


Usia kandungan Arti sudah memasuki trisemester ke tiga yang artinya sudah masuk bulan ketujuh.


Dia dan suami sengaja tidak ingin mengetahui jenis kelamin anak pertama mereka sekarang, mereka pasrah dengan apa yanh akan Tuhan percayakan untuk mereka, jika periksa mereka hanya mau tau kesehatanya, perkembanganya dan posisi bayinya.


Sejak istrinya mengandung Deka jarang sekali pergi, hanya dirapat rapat penting paling dia datang.


Tapi kali ini dia harus pergi karena harus menghadiri pernikahan papahnya dengan Luna, wanita yang mirip dengan ibunya sekaligus wanita yang mampu menaklukan hati Gibran.


"Han, besok Aak berangkat ya," ucap Deka sambil mengelus rambut istrinya yang berbaring dipangkuanya.


"Ikut," jawabnya, heemmm suamimu ini mau gerak aja kok ga boleh han han.


"Kata dokter kamu jangan terlalu capek sayang," ucap Deka berusaha meredam keinginan istrinya.


"Iya deh, tapi jangan lama lama ya papinya dedek bayi," Arti terlihat lebih manja sekarang saat hamil, maunya ikut aja kemanapun Deka melangkah.


"Enggak honey, habis acara Aak usahakan pulang, oia besok ibu ama Yudha Aak suruh dateng buat nemenin kamu selama Aak ga dirumah,"


"Heeemm suka pasti simusang itu ketemu ceweknya," balas Arti.


"Ya namanya juga udah ada ikatan batin han, pisah itu tersiksa lo han, Aak ingat banget waktu jadi duda rasanya hampir gila han nahan kangen sama kamu," uwu uwu Aak Deka selalu deh pinter bikin ayang beb melayang jauh keangkasa.


"Uwu co cwit na (so sweet) suamiku, gombal tapi," tambah Arti.


"Enggak sayang, kalau soal perasaan Aak ga pernah boong, Aak udah jatuh cinta dari pertama kali ketemu kamu ukthi Arti Cahaya Bening heemmm, serius Aak gemes," ucap Deka tak terima jika dibilang gombal dia pun langsung mengangkat kepala istrinya yang ada dipangkuanya dan mencium paksa bibir menggemaskan itu.


"Ya Tuhan Aak apaan sih," ucap Arti manja.


"Habis Aak gemes," jawabnya cuek seolah sama sekali tak melakukan kesalahan.


Malam semakin larut tapi mereka seakan tak lelah dengan candaan candaan yang membuat mereka semakin saling mencintai, ada aja yang mereka bahas dari keuangan, masa lalu sampai malam pertama yang Arti nangis nangis juga mereka bahas, astaga kalian memang bisa membuat iri.

__ADS_1


.....


Deka meminta Arumi untuk menjemput mertua dan juga calon suaminya dibandara, Arumi tidak tau jika Yudha ikut bersama calon mertuanya karena Deka hanya bilang ibu Tika yang datang.


Benar saja yang dia lihat saat keluar dari pintu kedatangan hanya ibu Tika dengan membawa satu tas kecil saja, maklumlah bajunya sudah banyak dirumah Arti.


"Assalamualaikum," sapa Ibu Tika.


"Waalaikumsalam bude, gimana kabarnya sehatkan?" tanya Arumi sambil memeluk dan mencium ibu Tika.


"Bude baik sayang, kamu gimana sama siapa jemput bude ha?" tanya Ibu Tika.


"Sendiri bude, kan ga jauh lewat tol, tadi mbak Arti mau ikut tapi ga dikasih sama papi" jawab Arumi.


"Ooo, okelah ayo mari kita temui siratu drama itu hahaha, udah kangen bude sama manjanya," balas Ibu Tika.


Arumi tidak menyadari jika Yudha ada dibelakangnya, bahkan saat dia memencet tombol kunci dengan cepat Yudha masuk kemobilnya dan duduk di kursi kemudi.


"Mari bude," ajak Arumi sambil membuka pintu depan.


Dia pun berjalan menuju kursi kemudi, betapa terkejutnya dia ketika membuka pintu mobilnya.


"Aaaaaaagg," teriaknya.


"Aduh sakit kuping mamas dek," ucap Yudha sambil menutup telinganya, Ibu Tika hanya tertawa mendengar candaan putranya, Yudha memang terkenal jahil dikeluarganya, Arti dan ibu Tika sudah tak kaget karena mereka adalah target terempuknya, ditambah lagi sekarang Rumi.


Arumi memukul pelan paha Yudha, bahkan dia terlihat hampir menangis, Yudha pun paham dia segera turun dan memeluk kekasihnya.


"Oh sayang, maafin mamas ya kaget ya?" tanya Yudha, Arumi masih diam dan menahan tangisnya ketika berada dipelukan Yudha.


"Maaf ya, cup jangan nangis," bisik Yudha.


"Mamas nakal," ucap Arumi, tangisannya semakin menjadi, bahkan dia memeluk erat tubuh tinggi Yudha serta membenamkan wajahnya disana, biarin aja kaosnya basah batin Arumi siapa suruh ngejutin tadi.

__ADS_1


"Ssstt, udah ya nangisnya, malu dilihat orang disangkanya kamu mamas putusin nanti," bisik Yudha sambil mengelus rambut panjang Arumi yang diikat separo itu, harum banget rambutnya karena Yudha sempat menciumnya.


"Biarin," balas Arumi mesra.


"Loh kok biarin, masuk yuk malu dilihat orang, ntar kalau mau cium tunggu dirumah oke," goda Yudha.


"Enggak, belum boleh mamas dih," jawab Arumi ketus seperti biasa.


"Lah cium ga boleh tapi peluk peluk," goda Yudha, "Ga sengaja mamas dih," kilah Arumi.


"Bener ga sengaja," goda Yudha lagi.


"Ga tau ah, halalin dulu," balas Arumi malu malu, dia pun berlari kecil menuju kursi penumpang disebelah kemudi.


"Oke siapa takut," jawab Yudha serius.


Arumi pun masuk kedalam mobil, Ibu Tika hanya diam menyaksikan hawa hawa kerinduan yang mulai menyeruak dihati kedua sejoli ini.


Yudha mulai menjalankan mobilnya, mereka saling menutup mulut, mungkin mereka sungkan dengan adanya ibu Tika ditengah tengah mereka.


"Jadi kapan kalian mau ibu ikat ha?" tanya Ibu Tika mengejutkan mereka.


"Besok juga Yudha siap bu," jawab Yudha, Arumi melirik kekasihnya dengan senyuman gemas seperti ingin mencubitnya.


"Beneran udah siap, Rum udah oke belum?" tanya Ibu Tika.


"Rum ngikut maunya mamas aja bude," jawab Rum malu malu.


"Yes buk, besok bisa dihalalin asik," canda Yudha, Rumi hanya tersenyum dan memilih tak menghiraukan kekoyolan calon suaminya.


"Sampai rumah kamu langsung datengin abangnya Rum aja Yud," pinta ibu Tika.


"Siap bu,"balas Yudha, sepertinya Rum berubah pikiran mengenai sekolah dan keinginanya untuk bekerja, Kuliah sambil ngurus suami kan ga papa batinya.

__ADS_1


IMPIAN DEKA


Bersambung...


__ADS_2