
Gibran berpamitan terlebih dahulu karena banyak pekerjaan yang tidak bisa ia serahkan pada asistenya, sebelum pergi Gibran memberi pesan pada putra semata wayang nya.
"Kalau masih cinta kejar ampek dapet, jangan mau nyerah kamu kan tau waktu dia minta pisah apa masalahnya, papa rasa masih bisa diperbaiki, papa tau kalian masih saling mencintai," ucap Gibran.
"Insya Allah pah, papa restuin kan jika Dewa balikan lagi sama mbak mantan?" tanya Deka lugu.
"Asal kamu bahagia aja nak, yang penting bisa bawa kamu menjadi pribadi yang lebih baik, papa ma boleh boleh aja," jawab Gibran, Deka pun merasa lega.
Deka tak bisa mengantarkan papanya kebandara karena mobil Yudha telah dia obrak abrik kemarin, dicopotin sana sini bahkan Gibran pun ikut andil didalam nya. terpaksa Gibran pun naik taksi ke bandara, Arti sudah meminta Yudha mengantarkan mantan papah mertuanya itu dengan mobil miliknya, tapi Gibran malah menolaknya alasanya tak mau menyita waktu mereka yang lagi asik mengotak atik mobil Yudha.
"Ah, papah naik taksi aja nak, biarkan mereka senang," ucap Gibran, sebelum pergi dia pun memeluk wanita yang pernah menolong gadis yang dicintainya dan juga anaknya, serta memberikan sedikit tanda terimakasih untuk Uti Tika, meski menolak Gibran tetap saja memaksa.
Hubungan keluarga ini terlah lama terjalin sebelum ini, meski sempat tertutup oleh sesuatu yang tidak mengenakan tapi kini kembali menjadi hubungan yang membahagiakan.
Deka dan Yudha kembali bermain main dengan mobil Yudha, gelak tawa selalu menghiasi waktu mereka disana, Yudha yang koyol Deka yang gokil membuat suasana terasa menyenangkan ketika melihat mereka bersama.
Arti memperhatikan mereka dari jendela kamarnya, "Dia mau belepotan tetep aja tampan sih," gumam Arti, dia tersenyum sendiri ketika melihat Deka asik dengan pekerjaanya.
Arti membuka gorden jendelanya, duduk manis diranjang nya dan menikmati pemandangan langka ini, untuk menutupi aksinya Arti sengaja menyalakan laptop didepanya, tapi matanya lebih sering melihat keluar jendela.
Ah Arti kamu seperti anak ABG yang lagi kasmaran aja.
........
"Bang, berasa ga?" tanya Yudha.
"Berasa apaan!"
"Abang ada yang nglihatin tu dari tadi," goda Yudha.
"Siapa!"
"Kekasih abang lah, mbak mantan,"
"Mana, ngawur kamu!"
"Dih, ga percaya!"
Dasarnya Yudha adalah manusia super iseng yang ada dibumi ini, dia pun mulai memainkan ponselnya, alih alih mengambil gambar bodi mobil, dia pun lebih mengarahkan kameranya ke kamar Arti yang tak jauh dari tempat mereka mengotak atik mobil Yudha.
"Ni bang, lihat aja," Yudha menyodorkan ponselnya.
"Doi jadi ga pernah kesalon sekarang, lebih suka dirumah ada abang ni," goda Yudha, cekikikan.
"Jangan suudzon ntar kedengeran orang nya marah lagi," ucap Deka membalas apa yang Yudha pikirkan.
"Dasar wanita pemarah," umpat Yudha, "Gengsi aja digedein, cinta bilang aja cinta sok sok an ga perduli hah, malas Yudha lama lama," Deka hanya tertawa mendengar omelan Yudha.
"Awas aja Yudha kerjain ntar," ancam Yudha.
Deka terus saja bekerja dia tak perduli dengan apa yang Yudha rencanakan, belum sempat memikirkan rencana apa untuk mengerjai Arti, Yudha malah melihat kaki Deka terluka, "Astaga bang, abang berdarah," seru Yudha, Arti yang mendengar seruan adeknya langsung meloncat dari ranjang nya.
"Mana!" tanya Deka.
"Itu bang," tunjuk Yudha, Yudha pun membantu Deka menggulung celananya, benar saja darah segar mengucur deras dari betis Deka.
Arti yang baru datang langsung berlari kearah Deka dan melihat luka dibetis mantan suaminya
"Dia kenapa Yudha!" seru Arti, Yudha dan Deka saling menatap, ahhh dia memang ratu drama, jika khawatir ya begini ini, kelewatan lebay.
"Aku ga papa mbak, cuma kegores dikit," jawab Deka.
__ADS_1
"Kegores dikit kegores dikit darahnya banyak gini, sini!" ucap Arti sambil marah marah dan menggandeng paksa Deka ke teras belakang rumah mereka, Deka pun hanya manut saja.
"Yudha ambilin kotak P3K," pintanya sambil menekan luka dikaki Deka, Yudha pun segera bertindak, jika tidak ratu drama ini pasti akan membentaknya.
"Gimana sih bisa luka gini, apa apa ga mau hati hati," omel Arti, Deka bingung harus jawab apa dia memilih diam takut salah nanti kalau ngomong.
Yudha datang membawa kotak P3K yang Arti mau, dengan cekatan Arti mengobati luka itu.
"Ahhhh, perih mbak," eluh Deka.
"Makanya hati hati, heran dah dari dulu selalu semaunya sendiri," omel Arti lagi, Deka kembali menatap Yudha, Yudha hanya menertawakan wanita aneh ini sambil melipat tangan nya.
"Oke, baiklah," jawab Deka menyerah.
"Udahan main mobilnya, Arti ga mau Aak terluka lagi," ucap Arti, Deka kembali menatap Yudha, Yudha hanya mengkodenya untuk nurut.
"Tapi itu masih berantakan han, Aak janji deh hati hati," Deka mencoba mengalah, (duh han Aak kata yang paling Arti nanti dari bibir Deka).
"Janji," Arti memberikan kelingkingnya pada Deka.
"Iya janji," Deka menyambut uluran kelingking itu dengan kelingkingnya.
Arti pun membereskan peralatan P3K nya, dan kembali mengancam Yudha, "Jagain dia awas kalau sampai luka lagi," umpat Arti.
"Dih siapa elo, elo bukan siapa siapa nya dia lagi woy, sadar sadar," jawab Yudha, ucapan Yudha malah menyulut emosi Arti.
"Dia memang bukan siapa siapaku puas," jawab Arti marah, dia pun memilih pergi meninggakan dua pria menyebalkan yang berhasil membuatnya malu, Deka tau jika Arti menangis saat berkata seperti itu
"Yud jangan bikin dia marah terus lah kasihan!" pinta Deka tak tega jika melihat wanita yang disayanginya ini terluka hatinya.
"Yudha ga ngerti ama kalian, gengsi digedein pada," jawab Yudha ikutan marah, "Pada kenapa ni orang hah, pusing aku," gumam Deka, ikutan beranjak dan melanjutkan pekerjaannya.
........
"Ga papa Yud, ibu percaya mereka bisa jaga diri kok," jawab Uti Tika sambil memakai setlbelt nya.
"Oke deh, semoga semua membaik ya bu, Yudha tau mereka masih saling sayang bu, hanya gengsi aja," ucap Yudha.
"Sebenernya bukan gengsi Yud, rasa saling ingin memiliki diantara mereka masih tinggi, cinta diantara mereka juga masih utuh, hanya tunggu waktu yang pas aja ," jawab Uti Tika.
"Mbak tu orang lucu ya buk, jiwanya kekanak kanakan sekali hahaha," ucap Yudha.
"Ya ibu dulu sama bapak juga gitu," ucap Uti Tika sambil tersenyum mengingat masa masa mudanya bersama almarhum suaminya, Yudha tak melanjutkan kata kata nya, dia takut wanita tua disebelahnya ini akan menangis jika ingat kekasih hatinya.
.....
Arti duduk sendirian di ruang tamu rumahnya, diatas meja udah ada laptop yang menyala, ahhh dia masih sama seperti dulu jika senggang dia pasti suka nonton tutorial cara make up, dan akan mempraktekan nya sendiri diwajah cantiknya.
"Hay ngapain," sapa Deka sedikit membuatnya terkejut.
"Biasa, Arti lagi belajar, Aak mau makan sekarang apa ntar?" tanya Arti, Deka pun duduk disisi wanita cantik ini.
"Aak lagi ga pengen makan han, loh kok kita jadi han aak lagi sih," ucap Deka sambil mengacak rambutnya sendiri.
"Ga papa, ga ada yang nglarang ini," tambah Arti.
"Beneran ga ada yang nglarang, ntar kalau aku panggil kamu honey ada yang marah," goda Deka.
"Ga ada serius, atau malahan Arti nanti yang kena marah pacar Aak," balas Arti.
"Pacar apa, ga ada," jawab Deka lagi.
__ADS_1
"Aak masih betah aja sendiri," ucap Arti.
"Siapa bilang Aak sendiri, ada aja temen masih ingat teman Aak yang kamu bilang serem serem itu kan, lah itu mereka setia nemenin Aak," jawab Deka lagi.
"Makanya Aak jadi ikutan serem sekarang, potong napa Ak rambutnya," pinta Arti.
"Kalau kamu mau jadi istri Aak lagi, Aak mau potong rambut," jawab Deka sambil bercanda.
Arti hanya tersenyum manis.
"Cari yang bisa kasih Aak anak lah, Aak kan tau Arti ga bisa kasih Aak keturunan," jawab Arti serius.
"Kalau soal anak Aak ga butuh istri han, buktinya tanpa ada istri anak Aak banyak ada 16 sekarang," jawab Deka.
"Aak seriusan punya anak sebanyak itu?" tanya Arti, kenapa sih dia kalau nanya selalu lugu batin Deka sambil melirik manja pada wanita yang ada disebelahnya.
"Serius lah, apa lagi yang paling bontot ini, Aak kasih nama Erina putri Deka cantik banget anaknya, mau lihat," ucap Deka sambil membenarkan posisi duduknya.
"Boleh, mana Ak coba lihat," Arti pun ikutan antusias.
Deka membuka laman diponselnya, disana ada beberapa foto anak anak yang kini berada dalam asuhanya.
"Yang mana Ak anaknya?" tanya Arti.
"Ni, waktu pertama kali Aak jemput warung dimana dia ditinggalkan, sekarang udah segini, cantik kan!" ucap Deka.
"Wahhh, cantik banget, kasihanya ae anak cantik gini kok dibuang, Arti mau Ak kalau dikasih, kasikan Arti aja ya Ak, pliss," pinta Arti sambil memohon dan menangkupkan tangannya pada Deka, Deka hanya cuek dan mengigit kuku kukunya, sepertinya otaknya sedang merencanakan sesuatu.
"Enak aja," jawab Deka sambil meminta kembali ponselnya.
"Pelit," ucap Arti merajuk manja.
"Pelit piye to, itu anak manusia mbak bukan barang," jawab Deka mulai menjalankan aksinya.
"Arti serius Ak, Arti balikin deh mobil Aak tapi kasih anak itu buat Arti ya, Arti janji bakalan jagain dia seperti anak Arti sendiri, plis pak bos Arti mohon," pinta Arti lagi.
"Hah, kamu selalu tau kelemahanku han, beneran mau anak itu?" tanya Deka serius.
"Mau Ak!"
"Tapi ada syaratnya!"
"Apa!"
"Mau ga dulu," tambah Deka.
"Apapun itu," balas Arti, dia yakin bahwa Deka tak akan memberinya syarat yang memberatkan nya.
"Serius mau jadi ibu dari anaku?" pancing Deka lagi, Arti masih belum menyadarinya sepertinya.
"Mau,"
"Bener,"
"Oke besok kita nikah," ucap Deka spontan, Arti hanya melongo mendengar ucapan Deka.
otaknya masih belum konek rupanya.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1