
Hari ini Deka akan menghadapi sidang keduanya, dia akan diberi kesempatan untuk menghadirkan saksi dan bukti yang bisa membebaskanya paling tidak meringankan hukumannya.
Sidang segera dimulai semua duduk dikursinga masing masing, Deka di apitvoleh kedua kuasa hukum nya, dengan Percaya diri jaksa yang akan menuntut Deka pun masuk, tak lama kemudian pun tim hakim juga mulai berada diposisi mereka masing masing.
Deka melihat kearah kursi pengunjung, disana dia melihat ada keluarga kandung nya bahkan oma dan opa nya pun datang memberi dukungan pada Deka, ini merupakan sebuah kejutan untuknya.
Senyum mengembang diatara mereka, hanya hati yang tau saat ini apa yang mereka pikirkan.
Deka agak sedih karena dia tak meliha Vincent dan juga istrinya ada diantara mereka, "Ah pasrah aja lah," batin Deka.
Pak Hakim mengetukan palunya sebanyak tiga kali pertanda sidang dimulai, Deka kembali duduk dikursi pesakitan dan jaksa mulai bertanya, pertanyaan yang sama seperti yang dia utarakan disidang perdana nya.
Dengan tegas Deka pun menjawab pertanyaan itu sama seperti pertama kalinya dia diberi pertanyaan itu, tak ada perubahan sama sekali.
"Jadi anda masih kekeh bahwa anda tidak melakukan kejahatan itu," ucap pak Jaksa mulai memainkan emosi Deka da pengunjung yang mengikuti jalanya sidang.
Tentu saja dari pihak keluarga korban sangat geram dengan apa yang dilakukan Deka.
"Hukum mati saja pak," teriak mereka.
Deka hanya menatap tajam kearah orang itu, kericuhan kembali terjadi saat jaksa meminta hukuman Deka di perberat.
"Nyawa dibapas dengan nyawa," teriak mereka lagi, bahkan salah satu keluarga korban hendak menyerang Deka untung beberapa aparat berhasil menghalanginya.
Terlihat dikursi pengunjung oma Deka menangis melihat apa yang dialami cucu kesayangan nya, "Ya Tuhan berilah petunjukmu," doa Renata oma Deka sambil menangis.
Hakim mengetuk palunya lagi untuk menenangkan arena persidangan, Deka menunduk lesu karena dia belum bisa membawa bukti bahwa dia tak bersalah.
"Bagaimana pembela apakah anda memiliki bukti bahwa klien anda tak bersalah?" tanya pak hakim.
__ADS_1
"Maaf pak kami belum mendapatkan bukti itu," ucap pengacara Deka, Seketika Deka tertunduk lesu banyak sekali pertanyaan dalam otaknya, kenapa Vincent, istrinya dan anak buahnya tak datang apakah mereka tak mendapatkan bukti itu, kenapa mereka membiarkan aku berperang sendirian, dan masih banyak lagi pertanyaan yang berkecambuk dalam diri Deka.
"Baiklah, kami akan membacakan tuntutan jaksa pada anda saudara Dewa Kurnia Sejati, usia 26 tahun asal Gresik Jawa timur, benar?" tanya pak hakim.
"Benar pak hakim," jawab Deka.
"Anda siap mendengar tuntunan untuk anda saudara Dewa?" tanya pak hakim lagi.
"Siap pak hakim," jawab Deka, dia harus menjawab seperti itu bukan mau siap mau ga harus tetep siap.
Suasana ruang sidang kembali hening, pak Hakim terlihat berdiskusi dengan kedua tim dikanan kirinya, entah apa yang mereka bicarakan yang jelas saat ini suasana sidang menjadi sangat tegang.
Muka Deka memerah karena tegang begitupun pengacaranya, dia merasa gagal membela klien nya.
Dikursi pengunjung ada keluarga Deka yang juga tak kalah tegang, "Ya Allah berikan mukzizatmu padaku Ya Allah," Doa Deka dalam hati, didalam hatimya selain kegundahan ternyata dia juga berzikir agar Allah memberinya kekuatan dan keiklasan, agar dia juga bisa lebih tenang.
Deg deg deg begitulah kira kira bunyi detak jantung Deka, jantung itu kembali berdetak kencang, tanganya mulai dingin rasa meriding menyerang seluruh tubuhnya, Zikir dalam hatinya tak pernah dia putuskan hanya Allah lah yang mampu menolong nya saat ini, itulah keyakinannya.
"Saudara Dewa Kurnia Sejati, disini anda didakwa dengan tuduhan penyalah gunaan obat terlarang, pemerkosaan dan pembunuhan terhadap saudari..." belum selesai pak hakim berucap, tiba tiba datanglah seorang laki laki bertampang menyeramkan siapa lagi kalau bukan Joker dan dua anak buah nya datang membawa sebuah laptop dan beberapa berkas ditangannya.
"Tunggu pak hakim, kami memiliki bukti bahwa saudara kami tidak bersalah pak hakim," ucap Joker lantang.
"Siapa kamu berani mengacau jalannya sidang," hardik pak jaksa tak kalah sengit.
"Saya adalah saudara beliau pak hakim, kami bertiga adalah saudaranya," jawab anak buah Joker yang saat itu berpenampilan lebih rapi dari Joker.
"Mereka bohong pak hakim, mereka adalah anak buah penjahat itu," Jaksa itu kembali mengeluarkan suaranya.
Anak buah Deka tak menghiraukan oknum Jaksa sialan itu.
__ADS_1
"Kami mohon pak hakim tolong periksalah bukti yang kami bawa ini, kami mohon pak hakim yang terhormat," pinta salah satu anak buah Joker sok melo dan drama banget.
Itu bukan passion mereka sama sekali, Deka ingin tertawa sebenernya melihat anak buahnya yang sok lembut itu.
"Baiklah kami akan memeriksanya," ucap pak hakim, oknum Jaksa yang merasa dia akan kalah hendak merampas bukti itu, untung kedua anak buah Joker sigap dan segera menghadang nya.
"Apa lo, siap siap aja lo," bisik anak buah ditelinga oknum jaksa yang hendak merebut bukti itu, disini pak hakim menilai bahwa oknum jaksa ini sudah ketakutan akan nasibnya.
Pak hakim mengetukan palunya kembali agar siapapun yang ada diruangan sidang ini tenang dan menghormati jalan nya persidangan.
"Silahkan duduk para saksi," pinta pa Hakim.
Joker dan kedua anak buahnya pun duduk dan disumpah oleh rohaniawan yang ada disana, bahwa bukti yang mereka bawa real adanya.
Pak hakim meminta pada petugas disana untuk memutar video yang dibawa oleh joker dan anak buahnya, disana tampak jelas saat Deka keluar hotel menuju mobilnya, Deka merasa kepanasan karena membuka jas dan juga dasinya, bahkan dia menarik kemejanya hingga kancing bajunya terlepas, Saat masuk didalam mobil Deka meminum air mineral yang diberikan asistenya, tak lama Deka pun tertidur atau mungkin malah pingsan.
Direkaman kedua tepat didepan resort tempat kejadian perkara Deka, saat itu Deka masih didalam mobil dan dia diberi suntikan oleh seseorang yang memakai masker, tak lama ada satu buah mobil datang dan parkir didepan mobil yang membawa Deka.
Tampak disana ada satu orang membopong seorang perempuan yang sudah berdarah darah, barulah mereka juga membawa masuk Deka dengan cara digotong oleh tiga orang, termasuk asisten Deka juga ikut membopong Deka, Deka memperhatikan itu dengan seksama.
Direkaman ketiga, mungkin mereka sudah selesai mengatur keadaan didalam resort, pertama yang keluar resort itu adalah Riko asisten Deka, diiringi oleh tiga orang laki laki, seseorang menancapkan sesuatu benda dtepat ditengkuk Riko, Riko masih sempat menoleh, tak lama dia pun tumbang, sekali lagi dia diberikan suntikan didada kirinya dan rekaman berahir.
Direkaman keempat mereka memasukan tubuh Riko kedalam sebuah karung dan rekamanpun berahir.
Wajah oknum jaksa itu pucat pasi setelah menonton rekaman tadi, dia ingin lari tapi sayang di kanan kiri tubuhnya sudah berisiap beberapa polisi yang siap mengamankan nya.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1