
Malam semakin larut, semua tamu undangan pun satu persatu berpamitan, tanpa terkecuali pihak keluarga, mereka pun mengantar Arti dan Deka kekamar sweet room yang sudah Deka persiapkan sendiri untuk mereka.
Para keluarga melambaikan tangan mengiringi langkah Deka dan Arti menuju surga dunia mereka, ahhh semoga malam ini tak gagal ya Ak, cemungut oke.
Deka melepas jas pengantinya, Deka memperhatikan istri munggilnya, terlihat ribet dengan gaun panjangnya.
"Siapa lagi yang kasih kamu baju ribet gini han," goda Deka sambil membantu istrinya melepaskan belenggu dari gaun yang membuatnya terlihat sangat cantik dan merepotkan ini.
"Oma Renata kalau yang ini Ak!"
"Kasihan sekali kamu sayang," goda Deka lagi.
"Loh kok kasihan, Arti jadi cantik gini," jawabnya tak menyadari ledekan Deka.
"Cantik sih, kamu terlihat seperti berbie," ucap Deka, Arti pun mengerutkan dahinya bingung.
"Kok Aak tau barbie segala?" tanya Arti.
"Ya tau lah sayang, anak anak Aak mainanya kan begituan, Marsya n the bear, Elsa n Ana, Monna Mauwi, ahhh apa Aak ma, kalau dipanti mereka ngajaknya nonton begituan," jawab Deka, Arti pun tertawa dia menyadari bahwa suaminya ini terkadang lugu dan kocak.
"Istriku aku merindukanmu," ucap Deka, hemmm mulai dah mesumnya.
"Malam ini jangan menolaku ya han!" bisik Deka.
"Tidak suamiku, aku milikmu," balas Arti.
Gairan cinta pun datang tanpa diundang dihati keduanya, lalu apa lagi yang mereka tunggu, malam ini akan menjadi saksi pembuktian cinta mereka, Deka akan menyatukam raga mereka bagaimanapun caranya, dia tak ingin gagal lagi seperti malam pertama mereka.
Deka melepas kencing kancing kemejanya sendiri bahkan Arti juga membatunya meski bibir mereka telah fokus mengecup satu sama lain seolah naluri lah yang menuntun mereka melakukan itu.
Baju mereka telah terlepas satu persatu, membuat Arti sadar bahwa dia belum melakukan ritual khusus yang Deka suka.
__ADS_1
"Aak wait,"
"Kenapa lagi honey,"
"Biasa, lima menit oke," pinta Arti malu malu.
"Ikut," ucap Deka, kali ini Arti mengijinkanya, Arti pun membawa suami tampanya masuk kekamar mandi, saling merasakan hangatnya gemricik air shower membuat mereka berdua kembali merasakan panasnya suasana, terlebih kondisi mereka saat ini tanpa busana.
Deka mengambilkan handuk untuk wanitanya, begitu pula untuknya, Deka tak mengizinkan Arti berjalan sendiri, pokoknya dia tak akan melepaskan Arti apapun alasanya.
Dia membopong tubuh indah itu dan merebahkan dikasur king size pribadinya, Deka kembali membacakan doa khusus itu lagi sebelum menggauli istrinya.
"Apa kamu siap dengan ini istriku?" tanya Deka berusaha mengambil hati istrinya.
"Iya suamiku, lakukanlah," jawab Arti.
Lalu apa lagi yang Deka tunggu sekarang, sang permasuri telah memberikan titahnya, dia pun menurut dan mulai menjalankan tugasnya.
"Honey aku mencintaimu," bisik Deka seiring usahanya menyatukan raga mereka, dan sedetik kemudian dia berhasil, Arti tersenyum puas dengan itu.
Bibir Deka tak tinggal diam mereka terus mengecup dan mengecup, bahkan kalau dilihat bibir mereka berdua terlihat bengkak oleh ulah masing masing pasangan, Deka tak mau menyerah meski keringat telah membasahi tubuh mereka, dia terus berpacu dan perpacu sampai pada titik yang dia mau.
Malam ini sepertinya Deka telah menumpahkan segala dendam pribadi yang ada dihatinya, Arti bisa merasakanya. permainan Deka kali ini terasa sangat lain, Deka lebih terlihat arogan dibanding sebelum sebelumnya, ahhh suka suka kamu aja lah ak batin Arti sambil terus mengikuti alur yang Deka ciptakan.
Meski sudah hampir sepuluh kali ganti posisi tapi belum memberikan tanda tanda Deka kalah, dia masih saja bersemangat membuat Arti merasa lemas.
"Astaga Ak, apa yang kamu lakuka, kenapa jadi begini," batin Arti ingin tertawa, Deka melihat wajah polos itu sedikit tersenyum.
"Jangan tertawa han, aku tak akan mengampunimu," bisik Deka, tuh kan bener dia punya dendam pribadi soal ini padaku.
"Aku mencintaimu suamiku," balas Arti, ucapan terahir Arti serasa menambah semangat tempur Deka, dia semakin gencar melakukan aksinya dan ahirnya leguhan panjang mewarnai aksinya pertanda dia telah mencapai puncaknya, nafas mereka terasa berat, Deka tersenyum penuh kemenangan, senyuman itu disambut pelukan hangat Arti.
__ADS_1
"Terimakasih banyak istriku," ucap Deka sambil menarik selimut yang dari tadi menutupi aksi mereka.
"Sama sama sayang, apa Aak suka?" tanya Arti, Deka hanya mengganguk manja, dia kembali mengecup kening istrinya dan mencolek hidung mancung itu.
"Apakah Aak keterlaluan tadi han?" tanya Deka.
"Banget, biasanya Aak ga sesemangat ini," goda Arti.
"Kamu telah memaksaku untuk melakukan ini honey, jangan pura pura," ucap Deka gemas, "Arti paksa Aak buat nglakuin ini, ucapan aneh apa itu," balas Arti sambil memeluk mesra suaminya.
"Mengelak lagi," Deka tak mau kalah dengan apa yang dia pikirkan.
"Aak ni ada ada aja, kapan Arti suruh begitu," ucap Arti sambil memanyunkan bibir manisnya.
"Serius honey," Deka mulai lagi.
"Kok bisa?"
"Kamu suruh aku puasa hampir sepuluh bulan kan, belum lagi ditambah seminggu kemarin Aak hitung," jawab Deka polos dan apa adanya.
"Bahaha, astaga Ak, jangan bilang Aak tadi balas dendam!" hardik Arti.
"Iya kenapa emang,"
Arti mengelus manja rambut suaminya, "Aku milikmu suamiku, kamu bisa melakukanya kapanpun kamu mau hemm," ucap Arti.
"Berarti sekarang nambah lagi boleh dong," celetuk Deka.
"Hah," ucap Arti terkejut, berarti Arti salah ngomong dong, Deka sudah melancarkan aksinya lagi, Arti tak ada pilihan lain selain menurutinya, Aahh suka suka kamu aja lah Ak batin Arti pasrah.
IMPIAN DEKA
__ADS_1
Bersambung...