IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Aku Adalah Anakmu


__ADS_3

Seperti biasa Arti membantu suaminya bersiap.


"Beb nanti Arti bareng sama kru ya jalan nya." ucap Arti.


"Emmm padahal Aak pengen sama kamu honey."


"La ini lagi bareng ama Arti." goda Arti.


"Hemmm, istriku." ucap Deka sambil memeluk mesra istrinya, mengecup beberapa kali pipi wanita berhijab ini.


"Aak, mau ketemu ayah lagi han hari ini." ucap Deka.


"Oh ya, aak takut?" tanya Arti.


"Aak ga takut han tapi Aak malah berencana membantunya han." jawab Deka.


"Gimana caranya Ak?" tanya Deka.


"Aak ga tau, nanti Aak mau coba cari tau dulu apa yang sebenernya Ayah Aak butuhin." jawab Deka.


"Yang kuat ya ak, Arti selalu doain yang terbaik buat Aak." ucap Arti sambil memainkan bulu bulu halus disekitar rahang Deka.


"Honey rasanya kalau udah deket kamu gini malas kemana mana."ucap Deka masih bermanja manja, Arti kembali tersenyum " Aak arti pelet.",


"Pelet, emang kamu tau pelet apaan?" tanya Deka, Arti menjulurkan lidahnya.


"Itu melet honey namanya, bukan pelet." jawab Deka sambil menggigit pelan lengan Arti.


"Hehehe, Arti sayang Aak." ucap Arti, duh rasanya tu adem banget kalau istri gue ngomong gitu, Deka kembali memeluk istri cantiknya, dia sangat suka dengan itu rasanya dia selalu mendapatkan keteduhan jika berdekatan dengan wanita yang telah menjadi pemilik utuh hatinya.


......


Vincent masih belum siap ketika Deka menjemputnya.


"Bentar ya Ka, si babang masih mandi." ucap Stella ketika menyambutnya.


"Santai aja non, tapi ga biasa biasanya dia jadi pemalas gini." goda Deka.


"Ga tau gue, setahuku dia sudah begitu." balas Stella dia belum tau jika Deka hanya memancing nya.


"Apaan kagak ah, biasanya doi lebih rajin dari gue kalau soal duit, haaa aku tau." ucap Deka sambil mengetikkan jari jarinya.


"Apaan?" tanya Stella penasaran.


"Ada yang lebih lezat dari itu Ste." jawab Deka.


"Apaan sih, mbulet dah." Stella mulai lelah bicara dengan asisten suaminya.


"Kamu Ste."


"T** lo dasar kodok." umpat Stella sambil berlalu meninggalkan Deka. Deka hanya tertawa melihat kekesalan istri bos nya.


"Haahh, menyenangkan sekali, dirumah ada wanita yang super lugu, disini ada wanita super galak n pemarah ahhh lucu sekali mereka." gumam Deka sambil mengotak atik ponselnya.


Tak lama Vincent pun turun, Deka yang melihatnya pun langsung menyapanya.

__ADS_1


"Siap bos?" sapa Deka.


"Hemm." jawab Vincent, Deka pun beranjak dari duduknya dan membawa file file yang dia butuhkan serta laptopnya tak ketinggalan.


Dimobil..


"lo siap ka?" tanya Vincent.


"Insya Allah." jawab Deka sambil berkonsentrasi dengan jalan yang ada didepan nya.


"Apartemen udah gue pindah atas nama elo, habis resepsi gue elo udah bisa ajak bini lo pindah." ucap Vincent, Deka menatap sekilas ke arah bos nya.


"Bos, soal apartemen aku cuma bercanda doang, kagak serius sumpah dah." ucap Deka.


"Gue tau, anggap aja hadiah pernikahan elo dari gue ama Stella, jangan minta doble gue kepret lo." umpat Vincent, aelah ga laki ga bini hobi bener sih ngumpatin gue, ahhh nasib nasib.


"Kagak bos, itu aja udah lebih dari cukup, ini aja aku ngrasa ga enak lo bos, sumpah seriusan bos aku cuma bercanda soal itu." jawab Deka


"Iye gue tau dibilang, udah ah..pokoknya ntar elo ambil aja sertifikatnya ama pak Jono dia udah urus semua buat elo," ucap Vincent.


"Sumpah bos aku ga tau mesti bilang apa sama bos, bos kelewat baik ama aku ni." ucap Deka.


"Doain aja biar rumah tanggaku baik baik aja dan cepet dapet momongan, udah tua gini belum punya anak hahahaha." canda Vincent, kini Deka percaya bahwa wanita bisa merubah segalanya, buktinya bos nya yang dulu aneh kini berubah menjadi pria sejati saat sudah menemukan tambatan hati yang pas.


"Pasti bos, aku juga mau yang terbaik buat bos." jawab Deka.


"Gue mau modif mobil baru gue, lo jangan bilang bilang ama bini gue ya marah ntar dia." ucap Vincent.


"Loh kenapa bos?"


"Laksanakan bos hahahaha, asik cium bau oli lagi." ucap Deka sambil bercanda, diperjalanan menuju perusahaan Abimanyu Grup mereka terus membahas mobil yang akan mereka rombak penuh sesuai keinginan mereka.


.....


Abimanyu Grup..


"Selamat datang, apakah ini Mr. Vincent from Mexico?" tanya Gibran ayah Deka, Vincent terpana melihat ayah kandung asisten nya, ini tak bisa dipungkiri mereka bukan mirip boleh dibilang kembar


"Yes i am." jawab Vincent


"Apakah anda juga merasa saya mirip dengan asisten anda?" tanya Gibran lagi.


"Ah, Sori." ucap Vincent.


"No problem Mr, mari silahkan duduk." ucap Gibran mempersilahkan tamunya untuk duduk.


Sekertaris Gibran menyiapkan berkas berkas yang bos nya minta untuk meeting kali ini.


"Pak semua sudah siap." ucap Reni sekertaris Gibran.


"Thanks u Ren." ucap nya, Rena pun berdiri di belakang bos nya bersiap kalau kalau bos nya membutuhkan sesuatu.


"Bagaimana kalau kita mulai?" tanya Gibran.


"Silahkan Mr." jawab Vincent, Gibran pun bicara kesana kemari mempromosikan hotelnya, yang membuat Vincent terkejut adalah Gibran juga menawarkan perusahaan nya.

__ADS_1


"Maaf pak Gibran, apa alasan anda ingin menjual semua aset yang anda punya?" tanya Vincent, sebelum Gibran menjawab dia meminta sekertarisnya untuk keluar.


"Why?" tanya Vincent.


"Dia salah satu penghianat disini mr." ucap Gibran.


"Kok bisa apa salah anda, dan mengapa ada mengatakan dia penghianat?" tanya Vincent.


"Disini kebanyakan adalah orang orang kepercayaan istri saya Mr, dan saya lelah dijadikan mainan oleh istri saya Mr, udah lah mending saya jual dan berikan semua uang nya padanya agar dia mau menceraikan saya." ucap Gibran, rasanya sudah tak sanggup lagi menanggung beban ini sendiri, dia tak perduli jika Vincent dan Deka menilainya pecundang, kenyataanya dia lelah.


"Kenapa anda bisa punya keputusan seperti ini, apakah istri anda sama sekali tak menghargai anda?" tanya Deka.


"Tidak anak muda karena pada dasarnya pernikahan kami hanya didasari oleh keinginan nya menikmati harta keluargaku." ucap Gibran.


"Jika anda tak keberatan mau kah anda mengatakan pada kami apa alasan anda begitu takut padanya?" tanya Deka, sepertinya dia lebih antusias mengetahui masalah ayahnya dibanding orang yang akan membeli aset Gibran.


"Dimasa muda aku dijebak olehnya, aku dan kedua sahabatku waktu itu taruhan, siapa yang bisa mendapatkan gadis incaran kami maka dia berhak mendapatkan tiket liburan ke Eropa, aku tak tau jika kedua sahabatku itu bersekongkol dengan Erika, mereka memasukan sesuatu pada minumanku dan ketika aku tak sadar akan perbuatanku aku melakukan hal yang tidak pantas pada gadis itu dan mereka merekam nya, itulah yang mereka jadikan senjata untuk memerasku hingga sekarang." jawab Gibran menceritakan apa yang sebenernya dia hadapi, entah kenapa dia begitu percaya pada kedua pria yang ada didepan nya, dia hanya merasa percaya saja dan itu tak butuh alasan.


"Apa om yakin dia masih punya rekaman itu?" tanya Deka.


"Aku tak tau anak muda." jawab Gibran.


"Apakah om mau mengambil resiko sedikit?" tanya Deka.


"Apa maksudmu?" tanya Gibran.


"Kita lawan istri om sama sama, saya siap membantu om." jawab Deka.


"Aku tidak mengerti maksudmu?" tanya Gibran lagi.


Deka pun mengutarakan strateginya, Gibran dan Vincent mendengarkan nya dengan seksama.


"Kenapa aku tak berfikiran sampai sana, Ya Tuhan bodoh sekali aku ini, dia mempermainkan aku sampai sejauh ini tapi tak pernah sedikitpun aku berfikir untuk membalasnya." ucap Gibran sambil menjatuhkan tubuhnya kesofa, Vincent dan Deka saling menatap, sepertinya otak Gibran sudah kembali kebentuk semula.


"Baiklah aku akan coba ikut rencanamu anak muda." ucap Gibran.


"Kapan saya bisa mulai kerja om?" tanya Deka.


"Kapanpun kamu siap." jawab Gibran.


"Oke, setelah pesta pernikahan bos saya gimana om?" tanya Deka.


"Pernikahan?" tanya Gibran.


"Iya om, bos saya ini pengantin baru dan setelah ini kami hendak terbang ke Bali untuk menggelar pesta beliau, " jawab Deka.


"Wah selamat." ucap Gibran.


"Thanks u," ucap Vincent menyambut uluran tangan Gibran.


"Maaf kalau boleh saya tau kenapa kalian malah mau membantuku, jika tidak ada alasan yang kuat mungkin kalian hanya akan membeli apa yang saya tawarkan?" tanya Gibran menatap curiga, Deka menatap kearah Vincent saat itu Vincent pun seolah menyetujui apa yang hendak Deka ucapkan.


"Karena saya adalah putra anda." jawab Deka mantap.


IMPIAN DEKA

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2