IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Mereka Keluargaku


__ADS_3

Mereka bertiga menatap Aku dan Arti bergantian, sepertinya mereka penasaram bagaimana aku dan Arti bisa saling mengenal.


"Kok kalian bisa saling kenal gimana ceritanya?" tanya Uti Tika.


"Dia kawan sahabatku buk." jawab Arti.


"Kami juga baru kenal seminggu yang lalu ya kan mbak." tambah Deka.


"Oo," jawab mereka serempak.


"Eemmm Kung, Ti ngomong ngomong makasih banyak Kakung udah jagain bunda nya Dewa sama Dewa juga." ucap Deka kembali berterimakasih pada kedua orang tua yang sudah sangat berjasa padanya.


"Tunggu dulu, bukan nya nama kamu Deka ya, kok sekarang kamu bilang nama kamu Dewa." ucap Arti merasa diboongin.


"Bener Ar kalau dia bilang nama dia DeKa, itu singkatan dari Dewa Kurnia nama dia Deka Kurnia sejati." jawab Uti Tika.


"Iya mbak itu nama saya." jawab Deka tersipu malu, meski sudah dijelaskan tapi Arti masih saja bingung, Deka hanya meliriknya heran.


"Kalau boleh tau siapa yang kasih nama saya ya Kung, unik kedengeranya Deka Kurnia Sejati?" tanya Deka sambil bercanda.


"Yang kasih ya Kakung lah siapa lagi." jawab Uti Tika.


"Mbak Arti juga keren nama nya Arti Cahaya Bening." goda Deka, Arti memukul lengan Deka malas jika ada orang yang meledek namanya.


"Au." Deka mengelus lengan nya.


"Sudah sudah kalian kayak saudara kembar aja, kalian berdua jangan bertengkar oia Dewa kamu masih lama kan disini Uti minta tunggu sampai mbak mu nikah ya." pinta Uti Tika.


"Iya Ti Dewa bakal tungguin mbak Arti nikah, siapa sih yang ga mau makan geratis ya kan Ti." ucap Deka sambil bergelut manja ditubuh Uti Sri.


"Ya udah mbak sebaiknya istirahat dulu, Ar bude sekamar sama kamu ga papa kan biar Dewa pakai kamar Yudha, kamu anterin mereka ya ga papa kan." ucap Uti Tika.


"Ga papa buk, mari bude kekamar saya mari mas Deka aku anter ke kamar Yudha." ajak Arti.


Arti pun membawa Budenya ke kamarnya, kemudian mengajak Deka naik ke lantai dua untuk masuk kekamar Yudha adeknya.


"Masuk mas ." suruh Arti.


"Makasih mbak eh salah onty." goda Deka.


Arti hanya tersenyum dengan godaan ku.

__ADS_1


"Mbak ini kamar siapa?" tanyaku ketika Arti masuk dan menyalakan lampu kamar adeknya.


"Ooo, ini kamar adek ku." jawab nya.


"Oo, dia dimana sekarang?" tana Dewa.


"Dia kerja di Lombok mas." jawab Arti.


"Eemm, mbak boleh ga aku nanya sesuatu?" tanya Deka.


"Boleh tanya aja."


"Mbak tau ga siapa bundaku?" tanya Deka, Arti menggeleng.


"Namanya Yunita mbak, apa mbak pernah dengar?" tanyaku lagi.


"Oo, Almarhum mbak Yunita itu bunda kamu, kalau orang nya aku belum pernah ketemu kan waktu dia ninggal aku baru umur setahun mas, kalau pusaranya Aku tau soalnya tiga bulan sekali aku sering diajak ibu sama bapak ke makam nya waktu belum kerja diJakarta.," jawab Arti.


"Apakah Kakung yang merawat makam bundaku mbak?" tanya Deka.


"Ya Iyalah kan mbak Yunita juga anak bapak ibuk ku, dia anak pertama mereka gimana sih." jawab Arti, Deka malah tersenyum mendengar penjelasan Arti, berarti Arti tak tau cerita sebenernya.


"Makasih ya mbak udah bantu jaga makam bundaku." ucap Deka.


"Siap onty, besok anterin aku ke makam ya." pinta Deka.


"He em, sebaiknya kamu mandi dan makan aku turun dulu ya," ucapnya.


"Iya makasih onty." godaku lagi, dia tak menghiraukan ku dia malah memilih berpamitan pergi.


Sempit sekali dunia ini, aku tak menyangka bahwa wanita yang ku temui beberapa hari yang lalu adalah keluarga angkat ku, apakah setelah ini aku harus mencari tau siapa ayah ku, aku tak tau.


.....


Keesokan harinya..


"Buk, Dewa minta diantar kepusara mbak Yuni." ucap Arti.


"Kamu mau nganterin Ar?" tanya Uti Tika.


"Ga papa buk, biar Arti yang anter." ucap Arti.

__ADS_1


"Kamu udah tau siapa dia?" tanya Uti Tika.


"Udah bu semalem dia udah bilang kalau dia anak mbak Yunita, keponakanku." jawab Arti sambil tersenyum.


"Syukurlah kamu baik baik ama dia ya Ar." ucap Uti Tika.


"Iya bu." jawab Arti singkat.


Selesai sarapan Arti pun mengantarkan ku ke pusara bundaku, wanita yang telah melahirkan ku, wanita yang hidupnya terenggut oleh ku, maafkan Deka bunda batin ku.


Mobil Xenia Silver yang dikemudikan oleh Arti pun sampai di sebuah pemakaman terbesar disana, Arti memakirkan mobilnya di antara mobil para peziarah, entah kenapa hari ini sangat ramai peziarah mungkin karena hari ini adalah hari jumat.


"Mari bude." ucap nya sambil menggandeng tangan Uti ku, sedangkan aku berjalan dibelakang mereka.


"Ini mas makam bundamu." tunjuknya di salah satu makam yang masin terawat dengan rapi.


Aku duduk bersimpuh disana, aku mencium nisan yang bertuliskan Yunita Pertiwi binti Sarjono bahkan nisan nya pun bertuliskan nama Kakung angkatku, Ya Tuhan perasaan apa ini batinku.


"Assalamualaikum bunda ini Dewa putra bunda, maafkan Dewa ya bunda Dewa baru dateng jenguk bunda soalnya Dewa baru tau bunda kalau Dewa anak bunda." ucapku sambil mengelus nisan ibu ku.


Arti memberikanku Al Quran dan menyuruhku menghadiahi bundaku dengan ayat ayatnya.


Berdua kami melantukannsurah Yasin untuk bundaku, suara Arti sangat merdu sekali ketika melantunkan surah itu, tanpabku sadari aku malah memuji wanita yang kini menjelma sebagai tante ku.


"Wa yang sabar ya, bundamu biar tenang disana." ucap Uti, seperti biasa dia selalu mengelus pundak dan rambutku ketika menenangkan ku.


"Iya Ti, bundaku cantik ya Ti." ucap Dewa tanpa sengaja.


"Iya dia mirip banget sama kamu le." jawab Uti sambil terus menenangkanku, Aku masih saja menangis rasanya sesak sekali dadaku, ingin kupukul rasanya dada ini biar sesaknya berkurang, Kulirik wanita berhijab disampingku mulutnya terkunci mungkin dia ingin mencoba menenangkanku tapi dia ga berani terlihat dia selalu meremas gamis yang dia kenakan.


"Udah le pulang yuk, kasihan mbak Arti kan dia mau ambil baju pengantin nya dua hari lagi kan dia mau akad." ucap Utiku.


"Iya ti ayuk." jawab ku sambil berdiri, Arti berjalan didepan kami, ku perhatikan cara jalanya sungguh aneh, dia seperti orang mabuk.


"Ti, itu mbak Arti kenapa?" tanya ku.


"Ee iya le dia kenapa?" tanya Uti, akuvpun segara menyusulnya.


"Mbak, mbak kenapa?" tanyaku, belum sempat dia menjawab dia sudah lemas dan ambruk, dengan cepat aku menagkapnya. Arti pingsan.


IMPIAN DEKA

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2