IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Pengorbanan yang Sia Sia


__ADS_3

"Ka kamu balik lagi ga ke luar, ikut dong." ucap Anton.


"Kayaknya enggak bray bosku aja balik ke indo, kalau ke Jakarta mungkin bakalan masih sering kesana, soalnya dia masih mau aku kerja ama dia." jawabku.


"Udah punya pacar belum?" tanya Wawan tiba tiba, jujur aja aku sedikit terkejut dia kan tau bahwa aku pergi demi siapa dan sekarang aku kembali juga untuk siapa.


"Kok nanya nya gitu kan aku balik buat dia bray." jawab ku.


"Ka, kamu serius masih ngarepin dia?" tanya Wawan lagi.


"Ya iya lah janji adalah hutang bray mana berani aku ingkar." jawab ku


"Ka kamu serius?" tanya Anton lagi membuatku semakin bingung.


"Serius lah, besok temenin ngapel ya." ucapku, kedua temanku saling menatap, aku bertambah heran.


"Kalian kenapa?" tanyaku.


"Sebaiknya kamu lupain Vita aja Ka." ucap Wawan pelan, tapi aku masih bisa mendengarnya dengam baik.


"Kenapa?" tanyaku penasaran.


"Dia....." sahut Anton.


"Dia kenapa?" tanya ku bertambah penasaran.

__ADS_1


"Dia sudah jadi milik orang lain Ka." jawab Wawan, ini kah alasan kenapa Anton tadi menangis ketika menyambutku, aku melihatnya lagi dan dia kembali menangis, Aku tau hanya Anton temanku yang tau akan perasaan ku karena dengan nya lah aku biasa mencurahkan perasaanku.


"Kamu pasti boong Wan, kami sudah saling mencintai dan salinh berjanji untuk saling setia dan menunggu, bahkan aku masih menyimpan suratnya dia bilang mau menungguku Wan." ucapku aku pun tak kuasa menahan hatiku, aku mengeluarkan dompetku dan memberikan surat cinta terahir dari Vita agar mereka percaya dengan apa yang aku katakan.


Wawan membaca surat itu kemudian dia berkata, " Anggap dia bukan jodohmu ya Ka, iklaskan semoga kamu dapet perempuan yang jauh lebih baik dari dia bahkan sekarang dia sudah mengandung Ka." ucap Wawan sambil mengelus pundak ku, kalian pasti tau apa yang kurasakan saat ini hatiku hancur, ingin aku berteriak rasa nya pengorbanan ini terasa sangat sia sia, aku seperti ini demi dia aku rela jauh dari keluargaku juga demi dia, aku mencari apa yang orang tua nya mau juga demi dia.


Hah, rasanya aku sudah tak tahan dengan penghinaan ini aku pun meraih jaketku hendak pergi kerumahnya malam ini juga tapi kedua temanku melarangku, mereka mencekal tanganku dan mulai berusaha meredam emosiku.


"Jangan sekarang Ka, ini sudah malam nanti kita dibilang ga ada sopan santun." ucap Anton.


"Siapa yang ga punya sopan santun sekarang An, dia mengingkari janjinya." ucapku sambil memangis mengeluarkan rasa sesak dalam dadaku, jika saat ini tidak dirumah mbah Utiku mungkin aku sudah teriak sekencang kencang nya.


"Dia bilang lelah menunggumu yang tak pernah memberi kabar Ka." ucap Anton lagi.


"Terus yang lelah hanya dia, aku tak berani menghubunginya karena aku takut tak bisa menahan perasaanku untuk pulang An, aku belum punya apa apa yang bisa aku banggakan untuk meminang nya An, kamu tau sendiri kan orang tuanya." jawab ku sambil menangis, hancur hatiku sekarang musnah sudah harapan yang selama ini aku rajut, impianku tenggelam bersama kabar yang barusan aku terima.


"Aku tak tau Wan apakah aku bisa memaafkan nya atau tidak, ini sangat menyakitkan An ingin rasanya aku datang padanya dan bertanya soal ini." ucapku.


"Untuk apa Ka semua sudah terlambat, semua sudah terlanjur nasi sudah menjadi bubuk Ka tak ada yang bisa diperbaiki, kalau kamu dateng kedia kasihan nanti dia bisa goyah, kita laki laki sejati Ka jangan membuat rumah tangga orang lain hancur, cukup kamu iklaskan dan doakan dia semoga dia bahagia." tutur Wawan.


Aku tidak tau bagaimana aku bisa menerima ini, kabar ini sungguh menyakitkan buatku, kubaca lagi surat terahir darinya kemudian aku robek penjadi potongan potongan kecil, aku juga mengeluarkan fotonya dari dompetku kubakar foto itu memakai korek api milik Anton, kedua temanku masih setia berada disampingku, mereka mungkin takut jika aku berbuat nekat, Aku kembali menagis ketika melihat foto orang yang sangat aku cintai menjadi abu.


Kedua temanku sangat mengerti perasaanku, bahkan Anton terua mengelus pundak agar aku sedikit tenang.


"Ka, aku kenalin yang lain mau." tawar Wawan, aku menggeleng rasanya sudah taknada gairah lagi aku mengenal wanita, aku merasa semua sudah sia sia semangatku hamcur seketika, nyawaku berasa hilang separo pikiranku melayang tak terarah aku sama sekali tak bisa berbuat apa.

__ADS_1


"Sabar ya Ka." kembali Anton mengelus pundak ku.


"Insya Allah An, kenapa kisah cintaku seperti ini ya An?" tanya ku pada Anton.


"Bukan jodoh Ka." jawab Anton.


"Aku ga tau An rasanya sakit sekali." jawab ku.


"Kami tau Ka, bahkan ketika kami hadir di pernikahan nya pun dia sempat menanyakanmu." jawab Anton.


"Apa yang dia tanyakan?" tanyaku.


"Kabarmu pastinya dan dia juga memintaku menyampaikan maafnya padamu." ucap Anton.


"Kenapa begitu mudah dia mengingkari janji nya An." ucapku tanpa sadar.


"Kamu tau orang tuanya kan Ka, itu juga salah satu faktornya." kawab Wawan, seketika aku ingat bahwa mungkin ini juga bukan murni kesalahanya, pasti orang tuanya ikut andil dalam hal ini.


"Apa kamu menyesal dengan ini semua Ka?" tanya Anton.


"Aku tidak tau An, aku masih belum bisa berfikir dengan benar." jawabku.


"Kami mengerti Ka, hapus air matamu nanti kalau Uti lihat bahaya." ucap Anton.


"He em." Aku pun menghapus air mataku meski hatiku terasa perih, luka yang aku terima hari ini sungguh membuatku susah berfikir, kedua temanku terus berusaha membuatku tegar dengan candaan candaan khas mereka, aku tetap berusaha tersenyum didepan mbah Utiku aku tak ingin dia tahu akan kesedihan ku.

__ADS_1


IMPIAN DEKA


Bersambung...


__ADS_2