IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
Pernikahan Komitmen


__ADS_3

Deka dan Arti sangat bahagia ketika mempersiapkam pernikahan Yudha dan Arumi, bahkan Arti memesankan baju untuk mereka dari butik milik Stella di Jakarta.


Arumi hanya nurut saja dengan keinginan orang orang yang selama ini telah berjasa untuknya.


Arumi sudah siap dikamar rias yang sudah Arti siapkan untuknya, Yudha dan Arumi sepakat untuk menggelar penikahan mereka dengan sederhana, sebenarnya Deka meminta mereka untuk resepsi seperti dia dan istrinya kala itu tapi dengan halus Arumi dan Yudha menolak.


Mereka beralasan bahwa yang penting sah dimata agama dan hukum.


Yudha berhasil mengucapkan janji sucinya untuk Arumi didepan penghulu, tangis Joker pecah ketika memasrahkan adek kesayangaya pada ipar bosnya.


"Bos, titip adek saya ya," ucap Joker disela sela tangisnya.


"Insya Allah bro, udah ga usah nangis masak preman nangis," goda Yudha.


"Iya bos, iya," jawab Joker menurut.


Arti dan ibu Tika membawa Arumi datang kehadapan Yudha, senyum merekah terlihat diwajah Yudha, Arumi juga tersenyum malu malu, Arumi tak tau haruskah dia bahagia atau sedih dengan nasipnya, ahhh pasrah sajalah batin Arumi.


Arumi mencium tangan pria yang beberapa menit yang lalu dinyatakan sah sebagai suaminya.


Yudha pun membalas dengan mencium kening istrinya, tepuk tangan meriah mengiringi prosesi pemasangan cincin kawin dan tanda tangan surat perjanjian suami istri mereka alias buku nikah.


"Dijagain ya," ucap Deka sembari memberikan pelukan pada adek iparnya.


"Insya Allah bang," jawab Yudha, Arti masih setia disamping mempelai wanita.


"Jangan deg degan ga sakit kok," bisik Arti, Arumi pun tersenyum kecut, dia paham apa yang dimaksud kakak iparnya, tapi hatinya ragu apakah dia akan melakukan itu tau tidak, sedangkan dia tau suaminya tak ada rasa cinta untuknya.


Arumi dan Yudha diantar kepelaminan oleh Arti dan Deka, senyum terus menggembang diantara tamu undagan, bahkan Yudha pun bersikap seolah dia sangat bahagia.


Arumi pun sama dia bisa mengimbangi sikap Yudha, dia pun terus tersenyum pada siapapun yang memberikan ucapan selamat padanya.


"Selamat ya Rum, ahirnya kamu malah duluan," ucap bidan Nisa sahabat baik Arumi.

__ADS_1


"Makasih ya Nis, semoga kalian juga cepet disegerkan," balas Arumi.


Nisa dan Rizal pun turun setelah mendapatkan buket bunga pernikahan dari Arumi, semoga kalian bisa langgeng ya Nis batin Arumi mendoakan sahabatnya.


Pesta pernikahan komitmen ini pun usai, Yudha dan Arumi diantarkan dihotel yang sudah Deka perisiapkan untuk mereka.


Didalam mobil mereka hanya diam, tidak seperti sepasang pengantin baru pada umumnya yang memilih mengobrol atau bercanda, ini Yudha malah sibuk dengan ponselnya, dan Arumi sibuk dengan pikiranya.


Tugas pak supir telah selesai, Yudha dan Arumi pun turun dari mobil, mereka disambut khusus oleh orang orang Deka didepan lobi hotel, Yudha bukan manusia tanpa perasaan meski mulutnya diam dia tetap tak membiarkan istrinya kesulitan dengan gaunya.


"Sepatunya tinggi amat Rum!" celetuk Yudha.


"Kata desainernya biar Rum bisa ngimbangi ketinggian mamas," jawabnya lugu. Yudha tak bertanya lagi dia ingin tertawa jika Arumi bicara, dia menilai Arumi sama lugunya dengan saudarinya,


Yudha tak melanjutkan candaanya, dia takut rasa Arumi padanya akan lebih dalam padanya, sehingga Arumi susah melupanya jika waktu pisah mereka telah tiba.


Arumi masih belum tau rencana apa yang ada dipikiran Yudha, tapi dia sudah menguatkan hatinya untuk apa yang akan terjadi didepanya, dia hanya punya satu prinsip hidup matiku milik Allah, jika Dia telah menurunkan rasa cinta ini sebagai ujianku kenapa aku harus mengeluh, toh semua pasti ada ahirnya, batin Arumi pasrah.


......


Arti bingung dengan rasa mules yang aneh menurutnya.


"Ya Allah kenapa aku ini, kalau mau lahiran kan masih dua minggu lagi kata dokter tapi kok mules banget yak" gumam Arti.


Deka saat itu sedang dibengkel, jadi dia sendirian dirumah.


Ibunya sedang dipanti memasak menggantikan sementara mantunya yang sedang bulan madu.


Arti semakin tak tahan dengan rasa sakit diperutnya, dia pun langsung menghubungi Deka, tapi sayang ponsel Deka tak bisa menerima panggilan.


Dia pun menghubungi siapapun yang bisa dihubungi, ternyata Arti menelpon pengantin baru yang baru saja otw dari bulan madu mereka.


"Assalamualaikum mbak," sapa Arumi.

__ADS_1


"Rum perut mbak sakit Rum, ga ada orang dirumah," ucap Arti terbata bata seolah merasakan sakit perut yang hebat.


"Tunggu mbak Rum bentar lagi sampai," jawab Rum langsung menutup panggilan telpinya.


"Pak agak cepat sedikit pak, langsung kejalan mawar ya pak," pinta Arumi, supir taksi itu pun menurut.


"Ada apa Rum?" tanya Yudha.


"Sepertinya mbak mau melahirkan mas, tolong telpon papi, atau siapa saja yang deket," ucap Arumi, Yudha terkejut dengan apa yang istrinya katakan..


Yudha berusaha menghubungi Deka tapi tak bisa juga, sepuluh menit kemudian mereka pun sampai dikediaman Arti, untung pintunya tidak dikunci, Yudha dan Arumi pun langsung masuk, dia melihat Arti lemas tak berdaya sambil menahan sakitnya.


Yudha pun langsung membopong saudarinya dan langsung meminta Arumi membawanya kerumah sakit, "Kamu bawa dia ke Rumah sakit ya Rum, mamas jemput bang Deka. kamu hati hati ya," ucap Yudha kemudian dia mencium kening istrinya.


Arumi berusaha tak memasukan kedalam hati perlakuam suaminya, toh selama bulan mandu tak terjadi apa apa pada mereka, ahhh sudahlah jangan memikirkan itu yang penting antarin mbak kerumah sakit dulu Arumi berbicara dengan hatinya.


Arumi pun meminta supir taksi untuk melajukan kendaraanya ke rumah sakit yang ditunjukanya, sedangkan Yudha memakai sepeda motor milik Deka untuk menyusul iparnya ke bengkel.


Deka kaget dengan kedatangan Yudha yang mendadak, "Pengantin baru cepet amat balik," goda Deka.


"Bang, cepet ganti baju, kita ga ada waktu lagi bini lu mau lairan," jawab Yudha, Deka yang menerima kabar mengejutkan itu tentu saja shock, tanpa berfikir lagi dia pun langsung mengganti pakaianya dan ikut naik motor Yudha.


Yudha membawa motornya dengan kecepatan agak tinggi agar bisa mengejar taksi yang membawa kakak dan juga istrinya.


Deka langsung berlari keruang persalinan, disana sudah ada Arumi yang menunggu mereka.


"Papi, maaf ketuban mbak Arti sudah pecah, dokter memutuskan untuk melakukan tindakan," ucap Arumi gugup.


Bagai disambar petir rasanya ketika mendengar istrinya harus menjalani oprasi untuk melahirkan buah hati mereka.


"Yang sabar bang pasti ratu drama kita bakalan bisa melewati ini, dia wanita yang kuat kok," ucap Yudha berusaha menenangkan abang iparnya, Deka hanya mengangguk lemah, dia terus membaca doa untuk keselamatan anak dan istrinya.


Deka sangat tegang, begitupula Yudha dan Arumi.

__ADS_1


IMPIAN DEKA


Bersambung....


__ADS_2