IMPIAN DEKA

IMPIAN DEKA
New Normal


__ADS_3

Deka kembali kekehidupanya sebelum mengenal Arti, dia berusaha sebisa mungkin menghapus Arti dari hatinya, dia mulai menyibukan dirinya dengan bekerja dan bekerja.


Deka mulai mengembangkan usahanya dari pengusaha tambak garam, tambak udang dan bandeng, kontrakan dan satu lagi sekarang restauran yang dipercayakan pada adik iparnya, belum lagi dia masih setia menjadi tangan kanan Vincent, Deka benar benar menyibukan dirinya dengan mengumpulkan pundi pundi uang, hebatnya Deka tak pernah lupa mengirim nafkah lahir untuk istrinya, serta kewajibanya sebagai muslim.


Hari ini Deka bersiap menjemput bos tampan nya, karena hari ini adalah jadwal kedatangan Vincent dari London ke Jakarta.


Deka menunggu Vincent dengan pakaian formalnya, dengan gagahnya Deka mendekati pintu kedatangan internasional.


"Kamu dimana?" tanya Vincent disebrang telpon nya.


"Didepan bos takut amat ga dijemput." goda Deka.


Vincent pun datang dengan membawa bagasinya.


"Hay brother." sapa Vincent ketika melihat asistennya yang dengan setia menunggunya.


"Hallo bos makin tampan aja." goda Deka.


"Anjirr." balas Vincent belum lengkap rasanya kalau ketemu Deka ga mengumpat itu ga clik pokoknya, mereka tertawa bersama hingga banyak orang yang menatap heran ke arah mereka.


"Ssttt bos kita jadi pusat perhatian." bisik Deka, seketika Vincent kembali ke mode cool nya.


"Apa sih orang orang ini ga tau apa orang lagi seneng." gerutunya, Deka kembali tertawa pelan karena Vincent terlihat sangat cute dan menggemaskan.


Deka menyusun barang barang Vincent dibelakang.


"Hah, ahirnya." Vincent memakai seltbelt nya, Deka kembali melirik bosnya dengan senyuman khas nya.


"Bos gimana asik ga?" tanya Deka.


"Asik apaan!" jawab nya, dia memang tak mengerti maksud anak buah nya.


"Udah nemu bidadari belum?" tanya Deka, hah masih aja batin Vincent.


"Bisa ga sih ga bahas mahluk aneh itu." Vincent malah kesal dengan ledekan Deka.


"Dih sok marah, kalau disodorin juga dimakan." jawab Deka.


"Gue bukan tipe orang yang hobi nolak rejeki hahaha." jawab Vincet tak kalah gokil.


"Anjay jinjay." balas Deka, mata Vincent melotot anak buahnya sekarang udah berani mengumpat padanya.


"Wahhh, berani sekarang." ucap Vincent.


"Sory bos kelepasan." jawab Deka, kemudian mereka kembali tertawa.


Rasanya senang sekali buat Deka bisa berkumpul dengan Vincent, bos sekaligus sahabatnya.


"Mau kemana bos, langsung pulang apa ke Showroom dulu?" tanya Deka.


"Capek gue, pulang aja kangen ama kasur kesayangan." jawab nya.


"Apartemen apa rumah?" tanya Deka.


"Crewet banget sih, mana aja yang penting bisa tidur." jawab Vincent sedikit kesal, Deka malah tersenyum, aneh makanya rumah jangan banyak banyak, padahal dia sendir rumah nya udah tiga dan dijadiin kontrakan semua, Aak Deka tajir sekarang Vita ga nyesel kamu ninggalin dia.


"Oke." jawab Deka, kemudian dia pun membawa bos nya ke mension milik Vincent didaerah Jakarta pusat.


Deka memarkirkan mobil yang dibawanya dengan sempurna, kemudian kepala pelayan menyuruh dua asisten rumah tangga dirumah Vincent untuk membawa masuk barang barang majikan nya.

__ADS_1


"Ka, gue mau bengkel pribadi." ucap Vincent.


"Ngapain bos di showroom kan udah ada." jawab Deka.


"Oo, ya udah deh ga jadi." jawab Vincent.


"Bos kemarin salah satu perusahaan di Jepang nanyain kapan bos bebas kontrak." ucap Deka berjalan membuntuti bosnya.


"Aku ga mau kerja sama orang lagi, biar hasilnya dikit ga papa aku mau usaha sendiri aja." jawab Vincent .


"Oke baiklah bos ku, kontrakan bos juga udah lumayan kok cukup buat bayar para asisten dimari." goda Deka.


"Kalau buat beli istri?" tanya Vincent.


"Tergantung istrinya yang model gimana bos." ucap Deka, rasanya perih sekali jika bicara soal istri.


"Yang bisa terima kita apa adanya." jawab Vincent, selalu kata itu yang dia ucapkan.


"Ada nanti aku kenalin bos." jawab Deka, padahal dia sudah berencana untuk mempertemukan Vincent dengan Stella lagi.


"Oke, kalau kamu bisa cariin aku istri yang bisa terima aku apa adanya nanti apartemen ku buat kamu." ucap Vincent.


"Janji bos." ucap Deka.


"Iye."


"Wah rejeki anak sholeh." gumam Deka sambil mengelus dadanya.


"Apaan." Vincent mengehentikan langkahnya.


"Kagak bos." ucap Deka tersipu malu, dia hanya ga mau Vincent menangkap akal bulusnya.


"Siap bos, aku ijin jalan jalan ya bos."


"Kemane?"


"Cari istri buat bos lah."


"Nafsu banget mau dapet apartemen." ledek Vincent, dia tau Deka tak mungkin bisa mendapatkan wanita yang dia inginkan.


"Ya kan usaha bos, siapa tau rejeki." jawab Deka asal ceplos, padahal hati nya menggebu penuh samangat.


"Oke, aku kasih kamu waktu tiga hari jika kamu gagal bulan ini ga gajian oke."


"Jika berhasil dapet apartemen." jawab Deka.


"Oke deal." Vincent mengulurkan tangan nya pada Deka, Deka pun menyambut uluran tangan itu dengan suka cita.


Vincent naik kekamarnya dengan tawa meremehkan Deka, Deka tak takut dengan tantangan bosnya karena dia sudah memiliki target dan tinggal membidiknya saja.


........


Seperti hari hari sebelumnya Arti juga sibuk dengan kegiatan nya, mendekorasi pelaminan, kamar pengantin kadang kadang juga event event tertentu, kesana kemari merias pengantin atau artis artis yang sedang melangsung syuting, atau foto priwed, pokok kehidupanya sudah kembali normal lah sejak dia kembali dari kampung halaman nya, dia tidak mau pusing dengan namanya lelaki toh sekarang dia udah jadi istri orang ini, meski hatinya tak menginginkan ini.


"Ste, udah bagus belum?" tanya Arti masih berada diatas steger sedang merangkai bunga bunga diatas kursi pelaminan untuk klien nya.


"Udah oke Ar, sip dah pokoknya kalau udah pakek sentuhan tangan kamu." jawab Stella, Arti sangat suka dengan Stella karena selalu bicara apa ada nya, dia selalu mengatakan kurang jika memang kurang atau dia akan mengatakan jelek jika jelek.


"Oke deh, aku turun ya." ucap Arti.

__ADS_1


"Iya udah sip pokoknya." jawab Stella.


Arti pun turun dari tangga besi itu dan mulai melihat lihat hasil karyanya.


"Semoga klien kita puas ya Ste." doa Arti.


"Amin." jawab Stella, kemudian dia pun merapikan hasil kerja nya.


Stella membuka aplikasi diponselnya, dia melihat ada pesan dari Deka.


Deka, "Ste, ada waktu ga pengen curhat ni."


Stella, "Kapan, kalau besok ga bisa gue ada resepsi."


Deka, " Malam ini bisa ga aku tunggu di Plaza Senanyan ya, di restoran biasa."


Stella,"Oke jam berapa?"


Deka," jam tujuh."


Stela," Tapi antar pulang ya pak."


Deka, "Siap, thanks ya Ste." dalam pikiran Deka dia pasti ga bawa temen.


Stella, " Situ yang bayar."


Deka, " Siap ."


Chat berahir, Stella pun menutup lagi aplikasi ponselnya. Disebrang sana tentu saja Deka tersenyum bahagia, Apartemen bro siapa yang ga mau.


"Ste, laper ni." ucap Arti.


"Ya makan lah." jawab Stella asal.


"Makan yuk?" ajak Arti.


"Masih bisa tahan buat satu jam kedepan?" tanya Stella.


"Ya Ste makan aja masak suruh nunda sih." rengek Arti.


"Mau makan gratis ga?" tanya Stella.


"Mau lah honey dimana?"


"Plaza Senanyan, temen gue ulang tahun mau ikutan kagak?" tanya Stella.


"Ah elo gue tau lo modus, minta gue supirin kan." Arti sudah bisa membaca kelicikan Stella, meskipun pada ahirnya dia menuruti kemauan sahabatnya.


"Hehehe ayolah honey temenin gue." bujuk Stella.


"Baiklah ayok."


"Yes elo emang bebeb gue yang setia honey." Stella kembali menggoda Arti.


Arti memilih tak menghiraukan nya, dia kembalikan merapikan pekerjaan nya dan bersiap pergi untuk menemani sahabtnya.


IMPIAN DEKA


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2