
Semua orang sudah berkumpul dimeja makan, hanya Deka yang belum keluar dari kamar.
"Abang belum keluar buk?" tanya Yudha pada ibunya, Arti hanya diam tak berani menjawab.
"Belum panggil sana keburu dingin makanan nya," jawab Uti Tika.
"Mbak panggil gi adek mbak atunya tu!" suruh Yudha (Kurang ajar bener ni anak, awas aja batin Arti gemes).
Arti tak menjawab dia pun segera pergi ke kamar tamu yang menghadap ke samping rumah, Arti mengetuk pintu kamar dimana Deka berada.
"Bentar," jawab Deka langsung berjalan menuju pintu dan membuka nya.
"Ada apa!" ucap Deka.
"Disuruh makan sama ibu," jawab Arti sedikit gugup, Deka tau jika Arti gugup menghadapinya.
"Heem," jawab Deka, dia pun membuka pintu lebar lebar, keluar kamar dan mengikuti langkah mantan istrinya ini.
Mereka duduk bersebrangan, membuat Yudha mengeluarkan sifat jahilnya.
"Bang, kesini kenapa ga bawa udang sih, Yudha kangen pengen makan udang jawa," ucap Yudha.
"Hisst, kamu ini bikin malu aja," bentak Arti.
"Ga apa lah, abang kan baik," balas Yudha tak mau kalah.
"Abang dari Jakarta kemarin Yud bukan dari Gresik, nanti deh abang kirim kalau pas panen," jawab Deka sambil menyuapkan nasinya.
"Jadi pengen main lagi ke Jawa Deh, yang jaga tambak masih si Joker Dkk bang?" tanya Yudha lagi.
"Masih," jawab Deka singkat, (ah Aak masih berteman dengan para preman itu batin Arti).
"Mereka itu lucu tapi serem ya bang hehehe," ucap Yudha.
"Joker begitu gara gara istrinya meninggal karena melahirkan, sedihnya berlebihan, stres berlebihan anak masih bayi ga punya siapa siapa," jawaban Deka serasa meremas dada Arti, (maaf Ak, maafkan Arti batin Arti kembali bergejolak).
"Kasihanya, la anak nya sekarang ama siapa bang?" tanya Yudha penasaran.
"Ada dipanti, dia bilang ga mau kasih anak nya ibu tiri mending diurus sendiri katanya, jadi kalau dia kerja atau pas keluar kota kirim udang ikan gitu ya dititipin ke panti kalau dia libur ya anaknya diajak jalan, cakep lo anak nya lucu menggemaskan," Deka menceritakan anak anak yang ada disekeliling nya dengan antusias membuat yang mendengarnya ikutan bahagia.
"Abang sekarang tinggal dimana?" tanya Yudha, aist cerewet sekali sih batin Arti, tapi jujur dia juga pengen tau mantan suaminya ini stay dimana, secara Arti tau rumah Deka ada dimana mana.
__ADS_1
"Dikampung Yud, kemarin sebulan aku main dirumah oma di Bogor, kadang juga tidur dirumah papa, bujang kemana aja ga ada yang nglarang," jawaban Deka kembali menggores hati Arti.
"Ga yakin Yudha kalau abang masih jomblo!" pancing Yudha.
"Kepo!" jawab Deka lagi, ahhh Arti gagal dapetin info tentang mantan suaminya sekarang.
"Move on bang move on, cewek didunia ini ga cuma satu, ditolak ya cari lagi bener ga om," ucap Yudha lagi, Gibran hanya tersenyum.
"Iya ntar abang move on santai aja Yud, ntar juga dapet kalau ga ya urus yang ada aja," jawaban Deka terdengar seperti seseorang yang benar patah hatinya.
"Bang, kemarin Yudha dapet kabar abang nambah anak ya?" tanya Yudha, kali ini Arti bingung apa yang tidak dia ketahui soal mantan nya ini.
"Iya Yud, cewek cantik bener, ga abis pikir abang ama orang tuanya, main buang aja padahal yang belum dikasih pengen banget dikasih," jawab Deka, (anak dibuang, cewek, cantik apa maksudnya? batin Arti kembali bertanya tanya).
"Kalian ngomongin apa ini?" tanya Uti Tika penasaran dengan obrolan Deka dan Yudha.
"Abang habis dikasih anak buk sama orang, duren kita ini selain banyak uang tajir dia juga banyak anak buk, sekarang anak abang ada berapa bang?" jawab Yudha sambil menggoda abang nya, Deka hanya tersenyum mendengar ucapan Yudha.
"Beneran nak kamu ngadopsi anak orang?" tanya Uti Tika penasaran juga tentang mantan anak mantunya ini.
"Nerusin ngurus panti milik Uti Sri ti Dewa, Alhamdulilah sekarang ada sekitar 15 anak eh ga ding ada 16 kayaknya, bulan lalu nambah satu baby lagi," jawab Deka alasan, padahal dulunya dia yang punya ide bikin panti dan Uti Sri menyetujuinya.
"Iya Ti, Alhamdulilah sedikit batu mereka yang kurang beruntung," jawab Deka, rasa bangga tiba tiba menyeruak disanubari Arti, ahh Aak kamu memang luar biasa.
"Kapan itu ada Wa, kok papah ga tau, kamu ini semua kok jadi serba rahasia?" tanya Gibran malah ikutan penasaran dengan sisi lain putranya, Deka hanya tersenyum mendengar ucapan papahnya.
"Iya Uti juga penasaran kapan panti itu ada?" tambah Uti Tika.
"Pas baru pulang dari sini kami baru ngomong ngomong soal itu ti, Uti sangat suka anak anak kan pada dasarnya, dia pengen punya panti sosial dari dulu cuman ga ada dananya, pas Dewa ada rejeki lebih ya udah bantu aja anak anak yang butuhin tempat tinggal, makan sekolah kasih sayang dan Alhamdulilah ti melihat mereka tersenyum itu bikin hati Dewa juga ikut merasakan kebahagiaan yang mereka rasa," jawab Deka berusaha menjabarkan perasaan nya tentang apa yang dia lakukan sekarang.
"Alhamdulilah semoga doa anak anak itu selalu mengalir untukmu nak!" ucap Uti Tika.
"Amin, Insya Allah ti," jawab Deka menghentikan makannya.
"Loh kok udahan, nambah lagi atuh," pinta Uti Tika.
"Udahan Ti makasih, Dewa kenyang," jawab Deka sambil meminum air yang ada didepannya.
Yudha mengajak Gibran berbincang bincang diruang tamu, Uti Tika menyiapkan teh dan beberapa cemilan untuk mereka, Deka mendekati Arti yang sedang mencuci piring.
"Mbak," Deka mulai mau membuka suaranya.
__ADS_1
"Hemm, apa Ak!" jawab Arti pelan, terdengar sangat syahdu dihati Deka.
"Handphone sama dompetku masih ada dijaket, tolong mbak ambilin dong biar piring nya Deka yang cuci," ucap Deka berusaha mengembalikan keadaan seperti sebelum mereka menikah.
"Ini tinggal dikit bisa nunggu bentar kan," balas Arti.
"Iya deh, Deka tunggu," jawab Deka, tapi Deka tak mau pergi dari tempat Arti mencuci piring, dia malah membatu Arti membilas piring yang Arti sudah bubuhi sabun.
"Ga usah, biar Arti aja," ucap Arti.
Deka tak menghiraukan ucapan Arti, dia mambantu mantan istrinya ini dengan senang hati.
"Ak, Aak jelek sekali berapa bulan ga potong rambut?" tanya Arti sedikit ketus.
"Ngapain cakep cakep ga ada yang mau ini," jawab Deka tak kalah ketus.
"Apa Aak jarang makan, Aak kurus banget," ucap Arti lagi sambil melirik sebel kearah Deka.
"Apa perdulimu, aku mati juga kamu ga perdulikan, kamu benci kan sama aku ngapain nanya nanya makan apa enggak," tambah Deka, Arti melirik kesal kearah Deka, Deka pun membalas lirikan itu, mata indah Arti berkaca kaca membuat iba Deka.
"Loh kok nangis!"
"Tau ah," jawab Arti ketus dan meninggalkan tempat cucian piring itu dan masuk kekamarnya," Ahh, salahku dimana, bener kan yang barusan aku omongin, cepet banget sih marahnya, rambut panjang bikin dia marah, kurus bikin dia marah juga, ahhh aneh dasar wanita pemarah," gerutu Deka, dia ga menyadari bahwa Arti sudah kembali dn berada dibelakang nya sekarang.
"Biarin Arti tukang marah," ucap Arti yang berdiri tepat dibelakang Deka, membuat Deka terkejut.
"Aduh, kaget Aku," ucap Deka sambil berbalik dan mengelus dadanya, Arti kembali menatapnya dengan tatapan permusuhan.
"Apa perduli Aak, Arti mati juga Aak ga perduli kan ini dompet sama handphone Aak, jaketnya buat Arti!" ucap Arti, Deka ingin tertawa mendengar ucapan mantan istrinya ini.
"Enak aja jaket mahal itu," goda Deka.
"Bodo, Aak udah kasih kan tadi," balas Arti dengan nada ketusnya seperti biasa.
"Kenapa cuma jaketnya yang kamu mau, orang nya aja ni ambil," goda Deka lagi, Arti malas meladeni godaan Deka, dia malah memilih meninggalkan pria koyol yang menjengkelkan sekaligus bisa membuatnya tersenyum bahagia ini.
Arti tersenyum bahagia ketika tau Deka mengikuti langkahnya, mereka takut yang lain mencurigai mereka, untuk menghindari itu mereka pun ikutan nimbrung diruang tamu untuk bercuap cuap dengan yang lain.
IMPIAN DEKA
Bersambung...
__ADS_1